
Like, rate bintang 5.
***
Dhela yang sedari tadi berpura-pura tenang kini mulai mengeluarkan sifat aslinya, suka iri dengan milik orang lain.
"Pulang saja kalau begitu." Dhela mengelap bibirnya.
Apartemen Sindy Cheval.
Sindy sudah siap-siap untuk mengajar sore nanti. Sedangkan Cheval masih berada di kampus.
"Berangkat saja dulu deh, menunggu Aa sepertinya akan terlambat." Hendak membuka pintu namun Cheval sudah berada di depan pintu yang hendak memutar gagang pintu dan berakibat Cheval jatuh tersungkur.
BBRRUUGGHH.
Cheval meringis kesakitan badannya terutama bagian wajahnya.
"Aa." Langsung membantu suaminya untuk berdiri dan menuju sofa ruang tamu.
Hidung milik Cheval sampai memerah dan ada sedikit air mata dari pelupuk matanya. Sakit hidungnya, tidak dapat di pungkiri. Sekuat apa pun laki-laki jika hidungnya kepentok lantai porselen pasti akan merasakan kesakitan, untung saja jamurnya tidak berdiri tadi jadi terselamatkan dari malapetaka di hidupnya.
"Sakit sekali ya Aa?" membantu mengompres hidung suaminya.
"Ya lumayan sayang, apa kamu mau mencobanya. Enak loh rasanya panas bercampur denyut ngilu begitu!" Cheval memegang kompres tersebut.
"Aa... bercandanya gak lucu Aa, kalau aku sih tidak mau mencobanya. Cukup Aa saja yang merasakannya, kalau aku tidak. Jadi penonton saja lebih enak dari pada mempraktekkannya." Sindy terlupa jika dirinya hari ini ada kelas mengajar les pada murid-muridnya.
Semua murid yang menunggu Sindy langsung mengirimkan pesan singkat, namun tidak kunjung ada jawaban dari Sindy lantaran tas Sindy berada di ruang tamu sedangkan sekarang, dirinya dan sang suami berada di dapur dan jauh dari jangkauan ponselnya.
"Bagaimana, apa Bu guru Sindy akan mengajar hari ini?" tanya salah satu murid Sindy yang bernama Putra.
"Tidak tau!" jawab Putra yang mendadak lesu tak bersemangat.
"Semangat dong bro." Kenzo yang sudah baikan kini berpura tidak apa-apa padahal dalam tubuhnya ia tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Tidak ada ibu guru cantik yang mengajar, hampa hati ini," Putra langsung kembali seperti sebelum mengenal Sindy.
Dia sering membuat ulah dengan bolos sekolah, bahkan untuk les tambahan saja ia tidak mau. Putra memang seperti itu, dia salah satu anak perusahaan kertas yang berada di Surabaya. Tapi meski ia sering bolos, otaknya tidak dapat di pungkiri, dia sering ikut lomba baik nasional maupun internasional.
"Kenapa sih lo, santai aja jika Bu Sindy hari ini tidak mengajar masih ada untuk besok kan." Kenzo mulai memasukkan satu persatu bukunya kembali.
"Oke lah, ayo pulang," jawabnya sudah keluar dari kelas tersebut.
Sindy yang baru ingat jika dirinya ada jadwal mengajar les sore ini langsung melihat ponselnya ada 20 panggilan tak terjawab dan puluhan pesan dari murid-murid tersayangnya.
"Sebegitu sayangnya dengan guru baru, sampai-sampai di tanyai terus oleh murid didiknya." Cheval cemburu sekali.
"Aa..., tidak boleh seperti itu. Lagian mereka baik ko tidak bandel seperti rumor yang beredar di sekolahnya," Sindy meyakinkan suaminya jika murid-muridnya baik-baik.
Cheval mengacak rambut Sindy, "kamu itu baru di dunia mengajar murid, kamu belum merasakan yang lainnya. Bagaimana menghadapi murid yang susah di atur bahkan gara-gara sikapnya yang arogan kita terkena imbasnya." Cheval cukup pernah merasakannya meski pada akhirnya murid yang sedikit sulit di atur itu terkena hukuman, bahkan di skor beberapa hari lantaran perbuatannya sudah sangat keterlaluan.
Sindy mengangguk paham.
"Iya aku paham Aa tentang itu, tapi mereka berubah seratus delapan puluh derajat sejak aku mengajarinya dengan baik," Sindy meletakkan ponsel pintarnya di atas meja.
"Baiklah, karena kamu mengajarinya dengan penuh cinta dan keikhlasan makanya kamu mendapatkan balasan yang baik." Cheval menciumi pipi Sindy.
Momo yang penasaran langsung mencari informasi tentang Lais, dan benar saja berita itu.
"Hah... padahal aku sudah belajar melupakannya, tapi tau-tau ada berita seperti ini. Apakah dia laki-laki seperti ini, kenapa aku menjadi sangat asing dengan Lais yang sudah berubah, seperti bukan Lais yang aku kenal."
Momo menutup ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
Hari ini hari yang melelahkan untuk Momo, baru kali ini pekerjaannya bertumpuk-tumpuk sampai-sampai ia lembur sampai jam 9 malam.
"Nanti setelah selesai aku beli nasi goreng saja, sepertinya enak menikmatinya." Momo berusaha sepenuh hati mengerjakan tugasnya. Usai mengerjakan tugasnya yang menumpuk Momo menutup komputer yang ia gunakan dan mengunci komputer tersebut.
Saat di perjalanan Momo menatap kesana kemari, saat di perjalanan ia melihat Lais sedang membonceng seorang wanita. Terlihat mesra dan romantis sekali, hati Momo berdenyut ngilu saat melihat pemandangan ini. Untung saja Momo berada di dalam mobil yang kacanya tidak terlihat dari luar, siapa pemilik mobil tersebut.
"Apa dia kekasihnya. Semoga bahagia kamu Lais." Momo melajukan kemudinya.
__ADS_1
Lais yang sedang membonceng wanita yang tidak ia harapkan kehadirannya ingin sekali membuangnya di tengah jalan.
"Bisa lepasin pelukanmu enggak, kalau itu tidak kamu lepaskan aku buang kamu ke jalan raya." Ancam Lais yang langsung di lepaskan oleh Aura.
"Iya... iya..., begitu saja marah. Kamu harus tanggung jawab dengan bayi yang ada di perutku ini," Aura menunjuk perutnya yang sedikit berisi.
"Dia bukan anakku, buat apa aku harus bertanggung jawab. Lagian ya yang memaksa malam itu kamu bukan aku." Lais tidak sanggup mengingat kejadian dimana ia kehilangan kesuciannya sebagai laki-laki.
Sesampainya di tempat tujuan, lebih tepatnya hotel. Lais meninggalkan Aura sendirian di tempat itu, entah apa yang di kerjakan Aura. Lais tidak peduli, yang ia pedulikan masa depannya yang sudah hancur menurut dirinya sendiri. Selain berita tentang dirinya yang hancur ia juga memikirkan cinta pertamanya.
"Bagaimana caraku berbicara dengan Momo nanti jika kami bertemu kembali. Nasib malang orang tampan kenapa seperti ini." Lais menatap dirinya di spion kaca motornya.
Untung saat berbicara tidak ada orang yang lebih tampan dari dirinya, jika ada pasti ia langsung malu bukan main. Lantaran ia berucap dengan tingkat kepercayaan diri yang tingginya melebihi dirinya sendiri.
Momo berhenti di suatu tempat yaitu di tempat penjual nasi goreng, sudah lama sekali ia tidak ke sini terakhir ia kesini dengan Lais, itupun saat masih bersama dulu sewaktu awal masuk kuliah.
"Bertahun-tahun lebih sudah berlalu ternyata, mencintai orang dalam diam memang sakit. Apalagi melihat kenyataan yang ada dan real di kehidupan nyata, sakitnya tuh di sini." Menyentuh perutnya bagian kanan, lebih tepatnya bagian hati.
"Neng mau pesan berapa nasi gorengnya?" pertanyaan penjual nasi goreng membuat Momo sadar dengan lamunannya.
"Eh... maaf kan saya pak saya tadi sedikit melamun. Pesan satu ya pak, nasi goreng Jawa saja!" jawab Momo yang sedikit merasa canggung dengan si penjual.
"Bapak merasa tidak asing dengan neng, apa neng pernah kesini?" tanya si penjual.
"Pernah pak, eemmm... lebih tepatnya empat tahun yang lalu!" jawab Momo sambil tersenyum.
"Pantas saja tidak asing, oh ya neng teman eneng yang laki-laki itu sering kemari loh neng." Ucap lagi si penjual.
"Siapa?" Momo pura-pura lupa.
"Itu!" jawabnya menunjuk Lais yang baru saja datang.
Momo langsung menatap arah dimana si penjual nasi goreng tersebut menunjukkan. Hati Momo berdetak keras serasa mau lepas dari dadanya. Sudah lama ia tidak melihat Lais secara langsung di dunia nyata.
"Lama tidak bertemu, ternyata ia sedikit berubah eh... bukan sedikit tapi banyak berubah, dari tatanan rambut dan cara berpakaiannya. Semakin tampan dan memikat saja." Dalam hati Momo sangat memuji-muji Lais.
__ADS_1
"Momo." Sapa Lais yang langsung duduk di samping Momo. Momo sedikit menggeser tempat duduknya.
"Iya, aku pergi dulu ya. Pesannan ku sudah jadi," jawab Momo berlalu pergi. Lais hanya menatap kepergian Momo, ia tau pasti Momo sudah melihat berita hebohnya itu.