ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
229. Desa Pesantren


__ADS_3

Selamat berpuasa, boleh kan menghalunya tambah. Asalkan tidak tidak menyinggung yang ada plusnya.


Selamat membaca dan terimakasih.


***


Makan malam.


Lais menyuapi Princess sedangkan Momo menyiapkan makanan di piring Lais, malam ini Princess sangat manja pada kedua orang tuanya. Ia bahkan tidak mau pisah sedikit pun dari Lais dan Momo. Momo mengiyakan saja dari pada nanti malam Lais macam-macam lagi saat tengah malam.


Beberapa hari lagi sudah memasuki bulan suci Ramadhan yang artinya bulan di mana turunnya Al Quran sebagai petunjuk umat manusia. Dan sebagai pembeda antara yang benar dan yang batil atau tidak benar.


"Mas bulan puasa tahun ini jadi ke desa Pesantren?" Tanya Momo yang memulai pembicaraan.


"Jadi jika kamu baik-baik saja saat dekat denganku!" sambil tersenyum dan melanjutkan kegiatannya menyuapi Princess.


Suara langkah kaki mengejutkan Lais dan Momo, ternyata Papa dan Mamanya mengunjunginya. Kemarin-kemarin saat mereka berdua ada masalah Ksatria dan Daysi tidak ikut campur dalam masalah rumah tangganya, mengingat mereka menikah pada usia yang sangat matang. Pasti bisa mengatasi masalah mereka sendiri tanpa campuran orang tua.


"Papa... Mama...." Ucap barengan Lais dan Momo.


Ksatria dan Daysi tersenyum. Mereka berdua menyambut uluran tangan dari anak-anaknya, rasanya sangat damai sekali. Semoga Lais tidak ceroboh dan menyebabkan kehilangan seorang bayi, karena Ksatria dan Daysi beberapa hari yang lalu mendengar dari salah satu karyawannya yang terkena musibah lantaran ada pihak ketiga di rumah tangganya.


"Hai Princess cantik." Sapa Ksatria dan langsung mengendong Princess.

__ADS_1


"Grandpa," Princess tertawa di dalam gendongan Ksatria.


Ksatria terkagum-kagum dengan kepintaran dan kecantikan Princess, seperti putrinya dulu saat kecil. Ksatria merasa bersalah lagi jika mengingat masa lalu, berapa buruknya ia merawat putrinya sampai-sampai ia mengabaikan keberadaan Sindy. Andai waktu dapat di putar kembali ia tidak mau menyia-nyiakan itu dan memperbaiki nya. Meski Sindy sang putri tidak membahas apa pun itu tapi jika di lihat dari sikap dan sorot matanya, terpancar kesepian di hidupnya. Apalagi jika ia melihat kedua orang tuanya yang lebih perhatian pada suaminya Cheval, pasti rasa kesepian dia muncul lagi secara alami.


"Pa... Ma... ayo ikut makan sekalian, tadi Momo membuat masakan ini." Menunjuk masakan Momo.


Daysi dan Ksatria yang hafal dengan masakan sang putri langsung mengiyakan saja lagian masakan Momo tidak dapat di ragukan lagi rasanya, pasti sangat enak dan nikmat. Sejak di bangku SMA Momo sudah pandai masak ini itu melalui ajaran sang almarhum Aurellia bundanya Momo.


"Aa dan Sindy tidak ikut kemari kenapa Ma?" Momo mengambilkan nasi untuk Daysi dan Ksatria.


"Inre sakit, dia demam tinggi dari sore tadi makanya tidak ikut kemari!" Daysi menerima piring yang di berikan Momo.


Makan malam hari ini sangat nikmat tanpa ada masalah yang membuat hati dan pikiran panas dan emosi secara bersamaan.


Hari pertama puasa.


Lais memandang koper yang di bawa Momo, kenapa hanya koper kecil sepertinya tidak menginap hari ini.


"Sayang kita tidak menginap?" Lais membantu merapikan bagasi mobil.


"Tidak, kita cuma jalan-jalan kemudian sore nanti kita mendengarkan ceramah sebelum kita berbuka puasa, setelah sholat Tarawih kita kembali. Lagian perutku juga tidak terlalu nyaman jika banyak bergerak!" jawab Momo dengan santai.


Lais hampir terlupa jika sang istri sedang berbadan dua, sebenarnya Lais sudah melarang istrinya untuk berpuasa tapi Momo ingin melakukannya, jika bisa di lanjutkan jika tidak ya tidak di lanjutkan. Takut terjadi apa-apa pada kandungannya, Momo sangat-sangat bersyukur setelah kejadian beberapa bulan lalu Allah begitu baik dan memberikan kepercayaannya lagi untuk merawat dan membesarkan seorang bayi yang sedang berkembang di dalam rahim.

__ADS_1


Desa Pesantren.


Desa yang begitu asri dan bagus untuk di nikmati, banyak orang dari luar kota yang mengunjungi desa ini. Kenapa desa ini di sebut desa Pesantren karena mayoritas penduduknya hidup di pesantren. Hanya untuk warga sini yang boleh masuk pesantren, kenapa ada budaya seperti ini bukannya orang yang ingin masuk ke pesantren boleh saja. Kono katanya ini sudah turun temurun ada beberapa kejadian di luar nalar saat ada warga dari desa sebelah masuk ke pesantren ini ada kejadian mistis, sungguh aneh jika di cerna oleh akal pikiran yang sehat.


Momo dan Lais tidak percaya dengan desas desus dari beberapa warga yang membicarakan pesantren tersebut, apalagi ini bulan suci Ramadhan. Bukankah lebih baik berbicara yang baik-baik tanpa mengumpat dan menghujat apa pun dan siapa pun.


Momo dan Lais menemui Bapak Kyai yang ada di sini sebelumnya ia bertanya pada salah satu ustaz yang ada di sini. Bertanya asal usul Desa Pesantren ini.


Bapak Kyai menerangkan semua tanpa ada satu pun yang di tutupi, memang dulu benar apa adanya di tempat ini selalu terjadi hal mistis padahal sering mengadakan pengajian dan kirim doa hampir setiap hari, bukannya mereda namun malah menjadi-jadi sampai banyak korban yang kehilangan nyawanya dan ada beberapa yang akal sehatnya jadi gila.


Jadi siapa pun yang ingin masuk ke pesantren ini harus berpikir ulang berkali-kali jika ingin masuk, tapi lucunya hanya penduduk desa ini yang tidak terkena musibah.


Lais menggenggam erat jari jemari Momo, menguatkan sang istri. Semoga kunjungannya ke desa ini tidak salah, banyak sekali warga yang berkunjung. Bahkan saat ini mendengar ceramah Kyai yang enggan di panggil namanya, jadi semua penduduk tidak tau nama Kyai yang menjadi pemimpin Desa Pesantren.


Setelah seharian berada di Desa Pesantren Momo bernafas lega. Kini mereka pulang dan menuju kediaman Erdana Khan.


"Bagaimana? Apa kamu suka pertama hari puasa ke Desa Pesantren?" Lais masih fokus dengan kemudinya.


"Suka, banyak pelajaran yang di ambil salah satunya menghargai budaya Desa Pesantren!" Momo menyuapi Princess dengan buah kurma.


"Betul sekali sayang, budaya seperti ini patut di hargai. Meski kita banyak budaya tetapi kita seiman, sebenarnya sangat bagus Desa Pesantren itu tapi sayangnya penduduk dari Desa lain tidak dapat masuk ke Pesantren, apalagi ilmu Agama yang di ajarkan benar-benar tidak ada yang melenceng dari Sunah Rasul, termasuk makan dengan duduk dan mengunakan tangan tanpa peralatan sendok di tambah lagi larangan memakan makanan panas secara langsung supaya kita terhindar dari hilangnya keberkahan, terus mengubah aroma dari air, dan narasi dari Abi Sa'id Al-Khudri juga menjelaskan larangan meniup makanan panas agar cepat dingin itu mengindikasikan sifat serakah seperti setan serta tidak sabaran." Lais mengingat ceramah tersebut.


Selain itu makanan yang di tiup mengandung banyak bakteri yang dapat menimbulkan penyakit. Juga menunjukkan sifat menjijikkan atau jorok.

__ADS_1


Lais dan Momo mendapatkan pelajaran tambahan dari kunjungannya ke Desa Pesantren.


__ADS_2