ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
220. Sabar


__ADS_3

Masih di Rumah Sakit tempat Princess di rawat inap.


Princess hanya tersenyum.


"Papa sama mama kenapa, apa gara-gara Princess tadi malam. Maaf mama... papa." Princess yang sudah mulai paham langsung menatap wajah ke dua orang tuannya dengan sedih.


"Sayang, kamu berbicara apa sih. Tidak kok Princess, Princess boleh kok mencari mama kandung Princess bahkan jika setiap hari pun mama izinkan," jawab Momo dengan berat hati.


Momo tidak rela jika ada mama lagi selain diri nya di hidup Momo, akan tetapi ia tidak mau egois biarlah luka ini ia tampung dan rasakan sendiri, meski Princess bukan anak kandungnya akan tetapi ia sudah menganggapnya sebagai putri kandung, karena ia putri dari laki-laki yang ia cintai semenjak SMA dulu.


"Mas, aku ke toilet dulu ya." Momo meletakkan buah yang baru saja ia kupas untuk Princess.


"Iya," Lais menatap langkah kaki Momo yang baru saja pergi menuju ke toilet. "Princess, makan buah dulu ya." Lais menyodorkan buah apel pada Princess.


Princess segera membuka mulutnya karena ia ingin cepat sembuh dan bisa pergi ke sekolah, kemudian biar dia bisa pergi ke rumah tante Sindy dan bermain di sana.


"Pintarnya anak Papa."


DDRREETT


DDRREETT


Lais menatap kearah meja yang ada di samping Princess berbaring, ia menatap ponsel Momo yang di tinggalkan tadi olehnya.


"Telpon siapa sih itu?" Lais menatap layar ponsel tersebut yang tertera nama Filan di layar itu.


"Ada hubungan apa sih Momo dengan Filan, haahh... jadi curiga kan sama Filan dan Momo. Jangan-jangan sewaktu Momo menolak di periksa waktu itu karena dia dekat dengan Filan dan tidak mau ketahuan. Pantas saja Momo selalu sembunyi-sembunyi saat ada telpon. Aku menatap Momo yang baru saja keluar dari kamar mandi."


Sebelum Momo keluar dari kamar mandi Lais lebih dulu memandikan ponsel Momo ke wastafel.


"Ada apa sih mas, kenapa menatapku seperti itu. Tadi sewaktu di toilet aku mendengar ponselku ada telpon, siapa yang telpon mas?"


"Filan, ponselmu sudah aku cuci tuh di wastafel dan tidak akan ada Filan lagi yang menelpon, sepertinya kamu ada hubungan baik dengannya selama ini, pantas saja sewaktu kamu sakit kamu tidak mengizinkan aku untuk menghubungi Filan dan memeriksa mu!" jawab Lais dengan kesal.


"Eehhh... bukannya Momo meminta maaf padaku dia malah tersenyum sangat lembar dan mengambil ponselnya yang baru saja aku cuci di wastafel."


"Kalau cemburu bilang saja tidak usah mencuci ponselku ini, aku tidak mau tau kami harus ganti yang baru mas." Ucap Momo melempar ponselnya pada Lais dengan kasar.


"Jadi kamu benar-benar ada hubungan dengannya?" ucap Lais dengan nada sangat marah.


"Momo tidak menanggapi ucapan ku sama sekali, apa gara-gara semalam ia sakit hati dan langsung mencari pelarian. Heemm... nasibku tidak mujur. Tetapi Momo istriku aku tidak mau ada orang lain sebagai sandaran hatinya selain aku."


Langsung saja Lais menarik tubuh Momo ke dalam pelukannya dan tidak mau melepaskannya.


"Princess kamu diam sebentar di situ, papa dan mama ke toilet sebentar." Ucap Lais langsung mengajak Momo masuk ke toilet.


"Mas... apa-apaan sih kamu, ini di rumah sakit mas," ucap Momo berusaha memberontak dari Lais sang suami.


"Aku tidak peduli dengan penolakan Momo saat ini, aku harus menghukumnya saat ini."


"Diam lah." Lais langsung menghabisi dan mengabsen seluruh bibir dan mulut Momo.


Usai berciuman di dalam toilet Lais melanjutkan aksinya di dalam toilet, Momo berusaha memberontak namun sia-sia saja. Lais sang suami tetap pada pendiriannya dan menyalurkan emosinya pada Momo, namun meski ia tersulut emosi Lais melakukannya dengan lembut dan lelaki sejati.


Sekitar 10 menit Momo dan Lais keluar dari kamar mandi dan sebelum keluar Momo membersihkan dirinya tanpa mandi, mengingat ini rumah sakit bukan kediamannya begitu juga dengan Lais, sebelum menemui putri kecilnya yang di tinggal sendirian tadi.


Momo masih dalam keadaan malu sekali, apalagi saat Princess menatapnya seolah Princess tengah memergokinya padahal dalam kenyataannya tidak, bahkan Princess tidak tau sama sekali.


"Mama, kenapa pipi mama merah." Princess menunjuk wajah Momo yang bersemu tersebut.


"Tidak apa-apa sayang, mama sedang ke panasan makannya pipi mama memerah. Bukannya tadi Princess tau jika mama ke toilet, berarti mama sedang memperbaiki riasan mama yang tidak tebal ini," Momo beralasan.


Justru alasan Momo barusan membuat Momo terskak mat oleh putrinya.


"Bukannya mama tidak memakai riasan pagi ini?" sambil menyentuh pipi Momo yang polos tanpa make up, akan tetapi tetap glowing lantaran sederet perawatan yang ada di rumah.


Lais yang tadinya tegang kini ikut tertawa juga, bagaimana tidak niatan sang istri membuat alasan justru mematikan ucapan mamanya.


"Aa... haa... haa..., Princess jangan menanyai mama kamu lagi. Kasihan itu pipinya tambah merah seperti tersengat lebah." Lais masih saja tertawa sambil menunjuk wajah Momo yang tambah memerah.


"Tapi pa, kenapa wajah mama tambah merah. Apa mama sakit?" Princess menyentuh dahi Momo.


Lais hanya menepuk jidatnya, sungguh banyak pertanyaan yang Princess tanyakan maklum saja umurnya dia ingin tau segala hal yang melebihi anak-anak seusia nya. Benar-benar bibit unggul Lais Erdana Khan.


Momo menghela nafas panjang, ia tidak akan semalu ini jika bukan karena ulah Lais yang cemburuan seperti tadi.

__ADS_1


"Mas jangan lupa ganti ponselku dengan yang baru." Momo mengingatkan sang suami.


"Tidak bakalan aku ganti jika masih berhubungan dengan Filan," jawab Lais menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapan tajam Lais di balas tajam juga oleh Momo.


Princess yang terabaikan lagi hanya mengamati kejutan apa yang akan ia dapat dari pertengkaran kecil kedua orang tuanya ini.


"Papa... Mama... apa belum selesai?" Princess meminum susu kotak.


Momo dan Lais yang tadinya saling marah kini langsung berubah saat seorang anak kecil memanggil mereka dengan nada lembut dan menggemaskan sekali.


"Eehh sudah kok sayang," Momo mengusap surai rambut milik Princess yang lembut dan lebat. "Mama usapkan ini ya, biar rambut Princess yang cantik dan hitam ini tambah cantik." Momo segera membuka minyak rambut khusus untuk Princess.


Princess tertawa saat Momo sedikit memijat rambutnya, rasa geli dan nyaman bercampur menjadi satu.


"Mama... sudah ampun mama, geli leher Princess." Princess terjingkat-jingkat di ranjang rumah sakit ini.


Kondisi Princess sungguh luar biasa dia cepat sekali pulih, mungkin efek kasih sayang banyak orang ke pada dirinya sehingga membuatnya begitu cepat sembuh, bahkan bintik-bintik merah mulai reda padahal tadi pagi masih parah.


"Sayang, suka sekali menggoda Princess." Lais menyentuh lengan Momo.


"Ee... hee... hee..., gara-gara Princess lucu dan menggemaskan makanya aku tidak tahan jika tidak menggodanya sekali saja," Momo memasukkan minya tersebut ke dalam tas kecil milik Princess.


"Aku keluar dulu beli makanan ya, mau aku belikan apa kalian." Lais berpamitan pada Momo dan Princess.


Dengan kompak mereka berdua menggelengkan kepalanya. Lais mengiyakan saja nanti setelah membeli makan ia akan ke minimarket dekat rumah sakit untuk membeli sesuatu.


Saat berjalan di koridor rumah sakit ia berpapasan dengan Filan. Rasa canggung menyelimuti keduanya.


"Lais, ehh... tunggu ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu ini penting." Ucap Filan di belakang Lais.


Lais langsung menatap Filan.


Kantin Rumah Sakit.


"Ada apa tidak perlu basa basi lagi, kamu mau berbicara apa denganku jika tidak penting aku pergi sekarang." Lais hendak pergi namun di halangi dengan beberapa kata.


"Apa kamu tidak tau Momo menyembunyikan sesuatu," ucap Filan yang sukses membuat Lais memelototkan matanya.


BBUUGGHH...


"Momo sedang mengandung, apa kamu tidak tau." Filan bersikap tenang dengan perlakuan kasar yang Lais tunjukkan.


"Momo mengandung apa itu benar," Lais tersenyum lebar tetapi tidak untuk Filan, ia turut prihatin dengan kondisi Momo kedepannya. "Berapa minggu usianya?" Lais mencoba memastikannya.


"Belum ada 4 minggu, tetapi ia sedang mengandung ekoptik yang artinya hamil di luar kandungan, jika sudah stadium akhir bisa kehilangan nyawanya, jika masih awal dengan bantuan pengobatan. Kamu sebagai suaminya bujuklah dia untuk segera operasi!" jawab Filan berlalu pergi.


Lais dunianya hancur dalam sekejab, pantas saja Momo selalu menahan perutnya yang sakit dan beralasan jika itu hanya maagnya yang kambuh saja.


Rasa lapar di perut Lais hilang begitu saja dan berganti rasa hawatir yang sangat luar biasa pada sang istri. Lais segera kembali dari kantin dan makanan yang ia pesan langsung di bungkus saja.


CCKKLLEEKK


Momo terlihat baru saja menidurkan Princess dengan cara menepuk pelan pantat Princess dan mengusap lembut surai rambut hitam milik Princess.


"Momo... sayang...." Ada sedikit air mata di pelupuk mata Lais usai meletakkan makanan yang dari tadi ia tenteng ke atas meja.


"Iya mas, ada apa," Momo meletakkan tubuh Princess dengan hati-hati.


Momo berjalan mendekati sang suami.


"Kamu sedang mengandung sayang, apa itu benar?" mengusap perut datar Momo.


"Iya mas!" jawab Momo tertunduk sedih.


Lais langsung memeluk dan menenagkan sang istri, ia juga tidak sanggup sebenarnya dengan cobaan seperti ini apalagi ini adalah anak pertama mereka setelah menikah.


"Kita berobat ya, kemudian kita program jika tubuh kamu sudah membaik dan pulih." Lais menagkup kedua pipi Momo.


"Iya, maaf aku tidak bermaksud menyembunyikannya sayang aku cuma takut kamu kecewa dan merasa gagal memiliki seorang anak," Momo mulai meneteskan air mata.


"Sayang, jangan berbicara seperti itu, memang aku menginginkan seorang anak darimu tetapi apa gunanya jika kamu mengandung dalam keadaan seperti ini, kamu menderita dan dia juga menderita. Apalagi aku yang menyaksikannya, jadi aku mohon mau ya melakukan pengobatan demi kesehatan kamu." Mencium kening Momo.


"Iya," menambah pelukan erat di tubuh Lais.


Usai drama kecil di Rumah Sakit lebih tepatnya di ruang rawat Princess. Kini pasangan suami istri segera mengurus semua keberangkatan untuk penyembuhan Momo.

__ADS_1


"Sabar ya sayang." Mengacak-acak rambut Momo.


"Iya dan pasti aku selalu sabar mas menghadapi kehidupan ini," jawab lesu Momo.


"Kamu selalu menjadi orang baik Lais, aku bahagia bisa mengenalmu bahkan sekarang aku menjadi istrimu, rasanya seperti mimpi saja. Semoga ini tidak mimpi dan benar-benar nyata, apa aku salah jika aku ingin bersamamu hingga tua nanti." Momo masih saja menatap wajah tampan Lais yang sekarang sedang fokus dengan laptopnya.


Beberapa hari ini pekerjaan Lais memang sangat memupuk sekali di tambah ia akan menemani Momo untuk berobat ke Singapura pasti pekerjaannya berlipat-lipat lagi.


"Mas aku keluar sebentar ya." Momo meringis kesakitan pada perut bagian pinggul. "Aww... mas," Momo menahan sekuat tenaga perutnya yang sakit.


"Sayang, kamu harus kuat ayo." Lais langsung mengendong tubuh Momo dan langsung menuju rumah sakit umum untuk mengobati kehamilan ekoptik.


Sesampainya di dalam mobil Lais langsung meletakkan tubuh Momo di samping kemudinya. Tetapi sebelum berangkat Lais sudah menyuruh salah satu suster rumah sakit untuk menjaga putrinya di ruangan VIP.


Suster Lala yang mengasuh Princess juga sudah sampai karena ia juga selalu stay meski hari ini sedikit terlambat lantaran ada masalah serius di dalam hidup pribadinya. Meski dia selalu siap siaga di manapun Princess berada, Lala seperti agen mata-mata saja meski berbadan kecil dan tingginya tidak lebih dari 157 cm namun ia sangat lincah dalam hal bela diri dan melindungi orang-orang yang memerlukan bantuannya, bahkan dulu Lala juga terkenal di kalangan masyarakat di desanya dulu.


Kembali ke Lais dan Momo.


"Sakit." Ucap lirih dari mulut Momo sambil memejamkan matanya.


Lais sungguh sangat terluka, wanita yang ia cintai menderita sendirian andai saja ia bisa merasakan seperti yang Momo rasakan ia lebih baik yang terluka dari pada sang istri yang terluka.


Lais mengusap perut Momo dengan perlahan berharap rasa sakitnya berkurang sedikit dan tidak menyiksa Momo terus-terusan. Sungguh kasihan sekali nasib Momo, baru hamil pertama namun kehamilannya seperti ini. Mungkin ini belum rezeki untuk memiliki anak sendiri.


"Apa masih sakit sayang?"


"Iya, sedikit berkurang mas!" Momo menatap sang suami.


Meski mulutnya berucap demikian namun pada kenyataannya tidak yang ada di dalam perut, bukannya mereda justru bertambah sakit dengan sentuhan tangan Lais yang masih saja menyentuh perut rata milik Momo.


Sesampainya di Rumah Sakit umum Lais langsung mengendong tubuh Momo dan meletakkannya di brangkar yang di bantu oleh suster rumah sakit tersebut. Momo langsung saja di bawa ke ruang operasi karena pendarahan sudah terjadi.


"Maaf pak, apa bapak suaminya?" tanya salah satu suster yang berada di luar ruangan operasi.


"Iya saya suaminya sus, tolong panggilkan Dokter untuk menyelamatkan istri saya sus!" jawab Lais sangat cemas.


"Dokter sudah datang pak, mari lengkapi semua persyaratan operasi pak." Sang suster mengarahkan Lais untuk mengikutinya.


Tidak butuh waktu lama Lais sudah menyetujui persyaratan yang ada dan Momo segera di tangani. Untung pengambilan tindakan dengan cepat sehingga Momo selamat dari maut yang mengancamnya saat ini. Usai di operasi Momo di pindahkan ke ruang rawat pasien.


Lais menanti sang istri selesai di operasi.


Suara deringan ponsel membuyarkan ketakutan Lais di depan ruang operasi. Usai menerima panggilan tersebut Lais memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celananya.


Lampu operasi belum padam yang artinya operasi masih berjalan.


Taakk...


Taakk....


Suara kaki menuju tempat Lais menutupi kedua wajahnya. Lais langsung menatap ke orang yang baru datang.


"Lais bagaimana keadaan Momo, apa dia baik-baik saja. Tadi sewaktu aku mengunjungi Princess kata suster Lala, Momo kamu larikan ke Rumah sakit ini. Bagaimana keadaanya?" tanya Aura yang baru saja datang.


"Dia ada di dalam, operasinya masih berjalan!" jawab Lais tanpa menatap Aura yang sudah menyentuh pundak Lais.


Ksatria dan Daysi yang baru saja datang langsung menatap ketidak sukaan nya pada Aura.


"Lais." Sapa Daysi mama mertuanya.


"Mama," langsung memberi salam pada Ksatria dan Daysi.


"Apa belum selesai operasinya?" tanya Ksatria yang duduk di kursi.


"Sepertinya sebentar lagi pa!" Lais menjawab dengan hawatir dan terus saja menatap pintu ruang opersi.


Lampu padam yang artinya operasi sudah selesai. Saat Dokter keluar banyak pertanyaan yang di tanyakan oleh Lais dan Ksatria bergantian. Dokter menjawab pasien baik-baik saja dan akan segera di pindahkan ke ruang rawat.


Ruang rawat.


Momo masih saja memejamkan matanya. Aura juga masih setia menemani Momo yang masih belum sadarkan diri pasca operasi yang barusan terjadi.


Ksatria dan Daysi duduk di sofa sambil mengawasi gerak gerik Aura, apakah dia menggoda sang menantu cerobohnya atau tidak.


Pelan-pelan Momo membuka matanya, Lais yang berada di samping tidurnya Momo tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Mas." Mata Momo tertuju pada Aura yang berada di samping Lais.


__ADS_2