ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
193 S2


__ADS_3

Dukungannya jangan lupa. Like, rate bintang lima dan favorite ya.


Terimakasih banyak.


***


Lais yang menunggu Momo di depan rumah, tanpa sengaja ia melihat mobil Filan masuk ke dalam pekarangan rumah Momo.


"Apa dia ada hubungan dengan Momo atau mereka berpacaran. Hah... aku kalah telak, sudahlah aku pergi dulu saja lagian sudah ada Filan yang menjemputnya." Lais segera pergi meninggalkan tempat tersebut dengan motor kesayangannya.


Momo yang tidak sengaja melihat kepergian Lais dari rumahnya ia kecewa, kemudian pandangannya jatuh pada seseorang yang tak lain adalah Filan, cowok play boy dengan sejuta pesonanya.


"Ngapain kesini, buat orang lain salah paham saja." Omel Momo.


Filan tertawa, "dia lagi, apa dia masih tidak berani menemui kamu secara langsung lagi?" diselingi tawa meledek.


"Gara-gara ayah, ngapain kamu kesini pagi-pagi?" Dengan ketus Momo bertanya.


"Menemui kamu lah, masa iya menemui istri orang, ada-ada saja kamu ini Momo!" Filan membukakan pintu mobil.


Momo berjalan mendekati mobil milik Filan, bukannya masuk justru Momo melewatinya saja dan acuh tak acuh.


"Hey... tunggu masa iya pria setampan aku membukakan pintu untuk gadis secantik kamu di biarkan saja." Sedikit berteriak.


"Aku tidak peduli, lagian aku punya mobil sendiri," Momo masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.


"Kaku banget jadi cewek, apa tidak ada lemah lembutnya sedikit saja untukku." Filan menutup pintu mobilnya dan bergegas pergi ke kampusnya sendiri.


"JANGAN MIMPI." Teriak Momo dari dalam mobil lalu ia tutup kaca mobilnya tersebut.


Universitas Kebangsaan.


Sindy pagi ini mengendarai motor kesayangannya, ia menolak di hantar suaminya dengan alasan ingin lebih mandiri saja. Cheval sedari tadi mengikuti sang istri dari belakang, ia memastikan Sindy aman sampai tujuan.


"Wah... pak Cheval semakin tampan saja ya, apalagi keluar dari mobilnya. Ketampanannya meningkat, tumben tidak barengan dengan adik perempuannya, apa jangan-jangan pak Cheval sudah punya kekasih dan adiknya baru saja di samperin oleh kekasih pak Cheval, jika iya kasihan sekali dia." Berucap cukup keras saat Sindy baru saja memarkirkan motornya.


"Fitnah lebih kejam dari kenyataan hidup, dasar mulut mercon, petasan, bom atom yang gak di jaga biar gak meletus di sembarangan tempat." Menggerutu sambil melewati beberapa orang yang membicarakan dirinya.


"Anggap angin lalu saja, dari pada tambah kesal. Pagi-pagi mood jelek kan tidak lucu." Sindy masuk ke dalam kelasnya.


Walaupun Sindy berjalan santai dalam hatinya ia mendengus kesal sekali. Sebegitu populernya suami tampannya.

__ADS_1


"Cih, sabar-sabar." Sindy tidak menghiraukan teman-temannya yang selalu membicarakan Cheval yang ini yang itu, mengajarnya enak gak monoton dan lain sebagainya terlontar dari ucapan para mahasiswinya.


Hari ini Cheval tidak mengajar di kelas Sindy, ia mengajar di kelas lain.


Toko buku.


Sindy menatap satu persatu buku-buku yang tertata rapi di rak buku dan juga ada beberapa yang tertumpuk di atas meja.


"Cara memiliki bayi sendiri???" Sindy mengambil buku tersebut.


"Hey buku apa-apaan ini masa iya ada cara seperti ini, lengkap sekali bahkan. Sampai-sampai aku malu sendiri membacanya, sungguh sial hari ini."


Sindy segera mengembalikan buku tersebut di atas rak tempat semula ia menemukan buku tersebut.


"Kenapa tidak jadi di ambil dan mempraktekannya sayang." Bisik Cheval tepat di telinga Sindy.


Seketika bulu kuduk Sindy merinding mendengar ucapan yang sangat-sangat menakutkan di dengar telinga normalnya.


"Sejak kapan Aa disini?" menatap dari atas ke bawah tubuh suaminya, apa benar yang ia lihat masih suaminya.


"Sejak kamu masuk toko ini dan membaca beberapa halaman itu!" Cheval mengambil buku tersebut dan langsung menuju kasir.


Sindy langsung membuang muka. Sindy lebih dulu keluar toko buku dan menjalankan motornya, Cheval yang baru saja mengantri dan membayar di kasir menjadi frustasi saat istri tercintanya pergi tanpa pamit.


Cheval langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan nya. Ia benar-benar tidak tau dimana istrinya sekarang ini, sudah sampai rumah atau mampir membeli makanan.


Di rumah.


Cheval langsung masuk dan menuju dapur untuk mencari segelas air minum segar untuk melegakan tenggorokannya.


"Ah... segarnya air kelapa ini." Cheval menatap layar ponselnya.


Tidak ada pesan atau panggilan masuk dari istrinya, ia kemudian mengetik beberapa pesan dan beberapa kali menelpon Sindy namun tidak ada tanggapan sama sekali.


"Kemana sih kamu sayang?" Cheval bergegas menuju kamarnya.


Ada suara gemercik air dari dalam kamar mandi, kemudian pandangannya jatuh pada ponsel yang berada di atas meja dekat tempat tidur.


"Hah... sudah di rumah, tapi motornya tidak ada di garasi tadi, apa mungkin aku salah lihat." Sambil garuk-garuk kepala dan mulai kebingungan sendiri.


"Tapi perasaan tidak ada deh tadi motornya di garasi, coba aku cek deh motor Sindy." Cheval menuruni anak tangga dan menuju garasi mobil.

__ADS_1


Sepeda motor kesayangan istrinya terpajang nyata di depannya, ia berkali-kali mengucek-ucek matanya seraya tidak percaya. Tadi sewaktu ia memarkirkan mobilnya tidak ada motor Sindy.


Sindy yang berendam tidak peduli, lagian ia pulang juga tidak kesorean.


Tok.


Tok.


Tok.


Ketukan kecil di pintu kamar mandi membuyarkan Sindy yang sedang menikmati busa-busa di bath tub.


"Sindy, kamu di dalam sayang?"


"Iya Aa, ada apa. Aku belum selesai Aa, nanti kalau sudah selesai baru aku bukan Aa pintu kamar mandinya!" jawab dari dalam.


Selesai mandi.


Pertanyaan dari sang suami langsung di lontarkan.


"Darimana tidak usah berbohong pada Aa?" menatap tajam istrinya.


"Ya dari toko buku, sengaja pulang sedikit lambat karena menikmati jalan raya!" Sindy mengeringkan rambut panjangnya.


"Aku sangat menghawatirkan kamu sayang, maafkan Aa yang kemarin malam melukaimu dengan membiarkan kamu merasa sedih dan bersalah, Aa tidak bermaksud seperti itu. Sungguh." Genggaman erat Cheval rasakan dari istrinya.


"Tidak apa-apa Aa," senyum terpancar di kedua sudut bibir Sindy.


Cheval ingin sekali memeluk erat tubuh sang istri, ia benar-benar bangga pada Sindy.


"Aku mencintai kamu sayang, sangat mencintaimu. Apa boleh Aa memelukmu sekarang?" Cheval merentangkan kedua tangannya.


"Tidak mau, Aa mandi dulu sana baru boleh peluk aku. Enak saja mau peluk!" Sindy memalingkan wajahnya.


"Siap, Aa segera mandi sekarang." Beranjak pergi ke kamar mandi dengan gembira ria. Hatinya berbunga-bunga, seperti mendapatkan angin segar malam ini.


"Mandi yang bersih kemudian bersenang-senang dengan bidadariku yang cantik."


Mandi malam ini terasa sangat nikmat sekali. Cheval menggunakan sabun mandi secara berlebihan sekali, bahkan sampai terjatuh-jatuh di lantai sabun tersebut. Mungkin saking bahagianya ia tidak melihat lantai yang licin dan pada akhirnya ia tergelincir jatuh di lantai.


BBUUGGHH.

__ADS_1


"Aww... pantatku." Berusaha bangun dengan tergopoh-gopoh membasuh pantat dan kakinya yang banyak sabun, kemudian ia mengenakan jubah handuk dan keluar dari kamar tersebut.


__ADS_2