
Momo menatap suaminya yang baru saja selesai membersihkan diri, tercium aroma wangi sabun cair yang baru saja di buka sebelum tadi masuk ke kamar mandi.
"Kenapa menatapku seperti itu, terkagum-kagum dengan ketampanan ku ya." Lais tertawa.
"Jangan kepedean deh, kenapa ada makhluk hidup seperti kamu sih mas. Menyebalkan sekali," menutupi wajahnya dengan bantal.
"Tapi buktinya kamu terkagum-kagum kan." Mencolek pipi Momo.
"Jangan kepedean lagi deh, habis berapa banyak sabun tadi. Jangan boros-boros kenapa," omel Momo yang kemudian bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Lais kebingungan, dia sedang butuh pakaian tapi kenapa sang istri tidak mengambilkan pakaian untuknya, justru sang istri malah hawatir dengan sabun mandinya.
"Apa aku tidak penting?" tanya pada diri sendiri.
Momo sibuk melihat satu persatu peralatan mandi yang baru saja di buka oleh Lais, banyak sekali penggunaan dia dalam satu kali pemakaian.
"Pantas saja jika di rumah banyak stok bahkan sampai kardusan, ternyata seperti ini pemakaian dia." Momo kemudian keluar dari kamar mandi.
Tubuh suaminya belum berganti pakaian, saat ini dia hanya menggunakan jubah handuk saja.
"Tidak ada baju untukku sayang?" Lais mendekati istrinya.
"Tidak ada, pakai itu saja untuk menutupi tubuhmu mas. Lagian kenapa baju kamu semua berada di ranjang pakaian kotor tadi!" Momo masih saja ngedumel.
Momo membenarkan ranjang tidurnya dan segera menyibakkan selimut, ia masih marah dengan prank yang suaminya perbuat.
Lais yang di acuhkan istrinya pada akhirnya membuka jubah handuknya dan langsung ikut masuk ke dalam selimut. Momo yang merasakan ada lingkaran di perutnya langsung menepis dengan kuat.
PPLLAAKK.
"Aww... sakit sayang, masa iya suaminya di siksa seperti ini malam-malam. Apa tidak ada rasa kasihan padaku sayang." Memelas.
"Tidak ada, sewaktu mas menyakiti aku apa ada rasa kasihan, mas pikir mas yang tidak perhatian padaku waktu itu aku tidak terluka apa, sakit mas. Di tambah lagi kalian asik sendiri dan membiarkan aku bersedih usai operasi waktu itu," ketus Momo mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Maafkan aku sayang." Mengusap-usap hidungnya yang bagus ke leher Momo.
Momo yang masih marah langsung mencubit keras hidungnya.
"Aww... sakit sayang, ampun." Lais menahan tangan Momo yang akan mencubit area yang lainnya.
"Rasain, makanya jangan buat orang kesal kenapa, enakkan hidungnya aku pencet seperti ini, apa masih kurang keras." Momo menambah tekanannya di hidung Lais.
"Ampun, lepas dulu kenapa. Apa mau aku bernafas melalui mulut, sakit sayang," suara Lais sedikit menggema lantaran hidung masih saja Momo sita.
"Sudahlah dari pada tambah kesel, lebih baik aku keluar saja dari kamar ini." Beranjak pergi namun di tahan oleh Lais.
"Jangan pergi sayang, aku tidak bisa tidur tanpa kamu," protesnya.
"Terserah, bisa tidur enggak. Lagian aku sudah terbiasa tidur sendiri tanpa kamu mas." Kesal Momo berlalu pergi.
Akhir-akhir ini Momo selalu tidur sendiri setiap malam. Ia merasa sakit dan kesepian, di tambah lagi pikirannya yang bercabang kemana-mana. Daysi yang melihat Momo keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga langsung menghentikannya.
"Kalian sudah baikan?" tanya Daysi.
"Belum Ma, aku mengantuk. Selamat malam ma!" pamitnya berlalu pergi dan masuk ke dalam salah satu kamar tidur tamu.
Lais yang berada di kamar merenungi nasib, mau menyusul Momo tapi dirinya terjebak seperti ini, hanya punya celan* dala* saja yang lainnya sudah masuk keranjang lantaran sudah kotor sekali.
"Nasib-nasib, suami rasa duda malam ini." Lais menyandarkan kepalanya di ranjang.
Pagi hari.
Momo menyiapkan pakaian untuk suami yang paling mengesalkan dalam hidupnya.
"Ikhlas gak sih sayang, kenapa modelnya seperti baju kamu. Apa tidak bisa memilih yang lain lagi." Lais menggunakan kaos dan bokser bermotif bunga-bunga seperti sedang di pantai saja.
"Adanya itu, jika tidak mau ya silahkan pakai itu saja yang tertinggal. Lagian pakaian mas yang kemarin masih belum kering," Momo merias sedikit wajahnya dengan pelembab wajah.
"Iya tidak apa-apa, dari pada aku telanjang keluarnya." Lais pasrah jika nanti dirinya di tertawai orang satu rumah.
__ADS_1
"Lucu juga di kerjain sedikit," gumam lirih dari luar kamarnya.
Ruang makan.
Momo ikut bergabung dengan lainnya untuk sarapan pagi. Lais yang mengenakan pakaian bermotif bunga membuang jauh-jauh rasa malunya pagi ini.
"Selamat pagi, Papa... Mama... dan semuanya." Sapa Lais dengan senyum terpaksa menahan malu.
Semua orang bertanya-tanya, apakah mereka berdua sudah baikan dan akan pergi ke pantai pagi ini.
"Kalian berdua sudah baikan dan akan pergi ke pantai hari ini. Ide yang bagus ayo kita ke pantai." Ksatria dengan semangat berucap.
"Iya, betul kita lama tidak ke pantai. Ayo... ayo saja kalau Mama," Daysi juga bersemangat.
'Apa-apaan dengan semua orang ini, siapa yang mau ke pantai. Aku tadinya mengerjai sedikit suamiku dan bukan berarti akan ke pantai dengan pakaian tersebut, sudahlah terserah pikiran mereka apa saja.' Momo mendengus kesal.
Lais yang duduk di samping Momo menggenggam erat tangan kirinya.
"Ke pantai oke, sekalian menyegarkan pikiran." Ajak Lais pada Momo.
"Baiklah," pasrah sudah Momo jika seperti ini.
Pantai.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam lebih menuju pantai, cuaca panas pas sekali untuk menikmati akhir pekan dan kebetulan hari ini hari Sabtu. Biasanya pemuda akan berkencan dengan pasangannya masing-masing, mengingat sekarang jaman moderen yang pasangannya cari sendiri atau memilih sesuai kriteria masing-masing.
"Hari ini sangat cerah, Aa kita pergi ke sana yuk dengan Inre membeli sesuatu." Sindy mengajak suaminya pergi ke tempat penjual ikan bakar.
Sedangkan Ksatria dan Daysi bermain dengan Princess sebelumnya dengan Inre juga namun Inre ikut dengan orang tuannya.
"Princess." Menyentuh rambutnya dengan lembut.
"Ada apa Grandma?" Princess mendekati Daysi sambil memeluk ke dua kakinya.
"Princess makan dulu ya!" Daysi sebenarnya ingin bertanya namun ia urungkan mengingat Princess masih kecil, ia tidak mau membebani pikiran seorang anak kecil.
Momo menatap deburan ombak dan beberapa orang yang sedang bermain layangan.
"Hidupku seperti orang yang memegang benang itu, lihatlah ia memegang dengan erat benang itu dan takut jika semakin jauh ia mengulur benang itu semakin jauh layang-layang itu terbang." Momo meratapi kesedihannya sendiri.
Ia tipe kal wanita yang akan menyembunyikan ribuan luka sendirian tanpa orang lain tau. Ia tidak mau memperburuk keadaanya sendiri, maka dari itu ia menyimpan rapat-rapat semuanya.
"Maafkan aku," pelukan hangat melingkar dengan erat di perut.
"Untuk?" Momo pura-pura tidak paham, ia ingin tau juga suaminya mau berbicara seperti apa.
"Melukai hatimu, terimakasih kamu mau berlapang dada dan menerima aku yang seperti ini!" Lais melonggarkan pelukannya.
Ada rasa kecewa saat Lais melepas pelukan nya. Momo sekuat tenaga tetap tersenyum, badannya sedikit kurusan.
''Kenapa tubuh istriku kurusan, apa dia lagi menguruskan badan. Bukannya aku menyuruh untuk menggemukkan badannya?'' Lais bertanya dalam hatinya sendiri.
Momo yang melihat ekspresi suaminya yang sedikit kecewa setelah menyentuh tubuhnya, membuat Momo sadar diri.
''Aku tau aku bukan wanita sempurna mas, tapi dengan sikapmu seperti ini membuat luka di hatiku menganga mas.'' Momo menghela nafas dengan sangat berat.
Ia berjalan menjauh dari sang suami, antara sanggup atau tidak jika suatu hari nanti benar-benar tidak ada kebahagiaan lagi. Tapi untuk sekarang ia berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan rumah tangganya. Meski ia tau ujian dalam pernikahan selalu ada dan nyata.
Momo memilih bermain dengan pasir yang ada di pantai, seorang anak kecil menghampirinya. Sepertinya umurnya hampir sama dengan Princess.
"Tante, mau beli ini." Tawar anak kecil yang menyodorkan dagangannya, ia berparas tampan dengan kulit hitam manis.
"Boleh, berapa?" tanya Momo tersenyum ramah.
"Sepuluh ribu tante, untuk tante cantik aku diskon kalau orang lain harganya lima belas ribu!" jawab pria kecil itu.
"Wah... benarkah, kamu manis sekali nak." Momo mengacak-acak rambut anak kecil tersebut.
"Tentu saja aku manis, ibuku saja melahirkan ku dengan penuh perjuangan sendirian," dengan berani ia bercerita.
__ADS_1
"Melahirkan sendirian? ayah kamu kemana nak?" Momo semakin penasaran.
"Ayah!" jawabnya menggeleng. "Ayah sudah di Surga bersama kakek dan nenek," sambil tersenyum memberikan makanan ringan.
Momo menerimanya dan membeli 5 buah dan memberikan uang dua ratus ribu pada anak kecil tersebut.
"Tante ini kebanyakan, nanti Emak mengira aku mengambil uang orang lain jika sebanyak ini." Hendak mengembalikan namun di tolak oleh Momo.
"Jangan, buat beli lauk yang enak ya untuk Emak di rumah," Momo meyakinkan anak tersebut.
"Baiklah tante cantik, apa Tante sudah menikah. Kenapa dari tadi Om itu menatap aku seperti itu, dia terlihat galak sekali Tante jangan mau ya jadi istrinya?" tanyanya polos menunjuk Lais yang menatap anak kecil itu dengan iri.
Momo mengacak rambut bocah tersebut. "Yang kamu sebutkan Om galak itu memang suami tante!"
"Benarkah?" terkejut. "Tante tidak cocok, masa Tante baik seperti ini dapat Om seperti dia, galak." Bisik nya lirih.
Momo hanya tertawa geli dengan ucapan polos anak tersebut. Sebelum Lais marah-marah anak kecil itu lebih dulu lari dan menyebutkan namanya Kiano.
"Apa dia sangat menarik, sampai-sampai aku lihat kamu sangat menyukainya?" Lais memeluk tubuh Momo dengan erat.
"Iya, dia menarik sekali. Selain ceria dia juga tampan!" Momo masih memuji-muji laki-laki lain.
"Aku cemburu dengan laki-laki itu, apa aku harus berubah menjadi anak kecil supaya menarik perhatianmu." Menempelkan dagunya di atas kepala Momo.
Momo tertawa, mendengar ucapan konyol suaminya. Dengan anak kecil saja cemburu, lucu sekali.
"Mengapa tertawa, apa dengan menertawakan ku kamu bahagia sayang?" pertanyaan Lais membuat kebahagiaannya mendadak sirna.
Momo menggeleng. "Aku sedih menertawakan kamu!" jawabnya kembali menatap birunya lautan.
Ada beberapa perahu nelayan yang berada di tengah laut, bukan tengah tapi dekat dengan pantai. Rasanya ingin sekali menaiki perahu itu, tapi jika naik perahu itu apa akan tenggelam dari sini terlihat tidak kuat.
"Kita naik perahu itu yuk." Ajak Momo menatap suaminya.
"Ayo, tapi kita izin dulu sama yang lain. Jika tidak mereka akan hawatir sekali," jawab Laia langsung menarik lembut tangan Momo.
"Semoga menjadi kisah yang tak terlupakan dan berkesan dalam kehidupan ini. Aku bahagia dengan kisah ini, suami idaman dari aku duduk di bangku SMA kini nyata menjadi milikku." Momo menatap tangannya yang di genggam erat suaminya.
Saat berada di atas perahu, hanya ada Lais dan Momo saja selain pak nelayan pemilik perahu ikan tersebut.
"Kamu suka?" menatap mata Momo yang berkaca-kaca bahagia.
"Iya, baru kali ini aku melihat dan merasakan langsung naik perahu nelayan dan sekarang sedang menabur jaring ikan di lautan untuk menangkap ikan!" jawabnya dengan menatap jaring ikan yang di taburkan ke lautan.
Tak terasa hari kian gelap, Lais dan Momo menyudahi acara romantisnya di perahu nelayan.
"Apa sudah puas, ayo pulang sepertinya kita di tinggal sendiri." Lais hanya menebak saja tapi ternyata tidak, keluarga besar Malik benar-benar peduli sekali dengan pernikahan dan tidak akan meninggalkan orang yang usia pernikahan yang sangat rentan tersebut.
"Papa... mama... belum pulang?" Momo bertanya saat semua orang mendirikan tenda dan menyalakan api untuk acara bakar-bakat di tepi pantai.
"Belum, kami semua menunggu kalian. Kita bakar-bakar saja dulu dan jika nanti kemalaman kita pulang besok pagi saja ya!" Daysi berbicara dengan lembut.
Momo langsung ikut bergabung saat mendengar acara bakar-bakar di tepi pantai seperti ini. Begitu juga dengan Lais yang ikut memasang tenda dan menyiapkan beberapa peralatan yang sepertinya baru saja di pesan dari toko.
"Apa kalian setiap pergi keluar kota selalu seperti ini siap siaga?" bisik lirih Lais pada Momo.
"Tidak, dan baru kali ini seperti ini. Mungkin tadi pesan online yang barangnya langsung di hantar sampai tujuan!" Momo menyiapkan bumbu yang di perlukan untuk acara bakar-bakarnya ini.
Semua orang sangat bahagia dengan cerita cinta ini, sepertinya perjalanan cinta tidak seburuk apa yang di pikirkan dulu sewaktu masih sendiri dan belum memiliki pendamping hidup yang sempurna.
Malam ini benar-benar menginap di tenda masing-masing, banyak canda dan tawa saat liburan seperti ini. Lagu di nyanyikan secara bersamaan dengan petikan gitar yang di bawa oleh Cheval. Suara merdu Cheval sangat bagus untuk di nikmati.
Setelah bernyanyi, Sindy memberikan ciuman singkat di pipi suaminya.
"Kenapa hanya sebentar ciumannya, kurang lama sayang." Manjanya pada Sindy.
"Tidak, itu saja sudah lebih dari cukup hari ini," Sindy segera bergegas menjauhi suaminya dan mengambil beberapa potong ayam dan seafood yang sudah di lumuri bumbu rahasia yang hanya Daysi yang tau.
Sedangkan Momo dan Lais sedang bermain dengan Princess dan Inre, mereka membuat bayangan dari api unggun, seperti burung, laba-laba, gajah, rusa dan yang lainnya. Keseruan ini ternyata membuat Ksatria dan Daysi tertarik dan ikut bergabung meninggalkan dua manusia yang sedang mendebatkan masalah ciuman di pipi yang hanya singkat seperti angin lalu saja.
__ADS_1