ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Nasib anak di keluarga Malik-Mahendra


__ADS_3

"Princess kamu menginap saja, biarkan Dilan pulang dari pada kamu nanti terluka." Momo menasehati Princess dan juga memberikan sebuah selimut tebal dan halus pada tubuh Princess.


"Mama jangan mengungkit-ungkit lagi dong, kesannya aku jahat sekali pada kakak," Dilan tidak terima. Tapi nyatanya memang benar adanya, anak laki-laki seusia Dilan ini memang membahayakan sekali untuk kaum wanita seperti Princess contohnya.


"Bukannya itu kenyataan Dilan, jika waktu itu Mama tidak memukul kamu pasti sekarang Princess terluka atas tindakan bodo* kamu." Momo berusaha dengan baik mengingat-ingat kejadian itu, kejadian yang tidak pernah di harapkan datang menghampiri putri kesayangannya ini.


Princess yang berusaha lupa kini teringat lagi. Padahal dengan susah payah ia melupakan semua kejadian demi kejadian itu, tapi kejadian memalukan itu masih saja membekas di benak dan hatinya rasanya sakit sekali di perlakuan seperti wanita jalan* wanita murahan seperti wanita malam. Ia meremas kuat gaun yang ia kenakan, tanpa di minta air matanya lolos begitu saja.


Wajah Princess seketika murung kembali. "Aku ke kamar dulu, selamat malam Mama." Pamitnya beranjak pergi.


Princess yang berada di kamar menangis tersendu-sendu sendiri. Sakit bukan main rasanya, semua kejadian itu tidak bisa ia hapus sama sekali dari memorinya.


"Apa seperti ini nasib anak seperti aku yang di besarkan keluarga ini." Princess yang lelah menangis akhirnya tertidur dengan gaun yang masih menempel, ia tidak pernah mengenakan softlens jadi sewaktu-waktu dalam keadaan darurat seperti ini, matanya tidak ada masalah apalagi sampai ia tertidur gara-gara kelelahan menangis dan pikirannya berat selalu.


Princess lupa untuk mengunci pintu kamarnya, seorang Laki-laki masuk ke dalam kamarnya.


"Cup... selamat malam calon bidadariku dunia akhirat." Dilan pergi dari kamar Princess usai mencium kening kakaknya dan memberikan selimut tebalnya pada sang pujaan hati, meski kemungkinan besar tidak dapat memiliki raganya.


"Maaf kak, maafkan atas kebodohanku ini kakak." Dengan pelan-pelan Dilan menutup pintu kamar Princess lalu beranjak pergi.


Pagi hari.


Sarapan di kediaman Mahendra terasa sunyi dan hampa, Princess yang ceria kini kehilangan nafsu tertawanya. Dilan yang biasanya mengajak Princess mendebatkan porsi makan yang dia makan kini juga tidak ada.


"Sampai kapan kalian akan diam-diam an seperti ini?" Lais mulai geram sendiri.


Princess segera menutup sendok.


"Pa aku pamit berangkat ke kantor sebentar lalu nanti ke hotel juga sebentar." Princess mencium punggung tangan Lais Papanya dan Momo mama tercintanya.


Dilan yang masih makan sebab tadi malam menginap di tempat ini seolah acuh juga, ia lebih membiarkan Princess untuk menenagkan beban pikirannya sebab ulahnya yang lancang kepada kakaknya.


"Bagaimana, kamu pilih berjuang mendapatkan restu agar bisa bersama Princess atau tetap melanjutkan perjodohan dengan Inre Malik anaknya kakak angkat kamu juga?" Lais membuka percakapan kepada Dilan.


Dilan menatap sekilas.


"Aku tetap pilih kak Princess, meski aku tau tidak bisa memaafkan lagi kelakuan aku di tambah ikatan darah ini!" Jawaban tegas Dilan berhasil membuat sendok yang di pegang Lais bengkok.


"Terserah kamu, yang terpenting kamu di larang keras ada rasa dengan Princess sekaligus ia adalah kakak kamu, ingat itu" Lais sudah kalah dari sang putra angkatnya ia marah dan kecewa dengan sikap egois Dilan.


Kenapa watak wanita itu menurun ke Dilan putra angkat keluarga Malik.


Sepertinya perjodohan sudah tidak mempan lagi di dunia modern ini. Lebih baik segera menghubungi keluarga Besar Malik untuk memberikan kompensasi pada Dilan dan berharap saja Dilan masih bisa berkerja di hotel maupun di apartemen atau bidang usaha lain milik keluarga Malik lainnya.


Keluarga Malik yang mendapat berita jika acara pernikahan di batalkan langsung kecewa sekali kenapa perjodohan gagal, ya mau bagaimana lagi ia meminta kompensasi untuk sebagai gantinya. Lais tau konsekuensinya dan dengan memberikan sebuah mall milik pribadinya pada Inre yang mau di berikan pada Princess kini harus beralih nama menjadi milik orang lain gara-gara permasalahan serumit ini.




Keesokan harinya.


Princess masih terlelap di dalam balutan selimut tebalnya, semalam Dilan menunggu sang pujaan hati.


"Apa tidak ingin bangun Kak Princess manisku." Dilan menyentuh dahi Princess.


Princess hanya menggeliat tanpa membuka matanya dan enggan untuk membukanya jika yang ia lihat hanya kenyataan yang pahit.


"Dilan, sejak kapan kamu disitu. Bukannya tadi malam kamu pulang?" Princess masih menguap tapi ia tutupi dengan tangan kanannya dan sedikit panik.


"Aku tidak jadi pulang kak Princess!" Dilan menyodorkan air putih.


"Terimakasih Ilan, aku mau mandi keluarlah dari kamarku." Princess melipat selimut yang ia gunakan, Dilan mengangguk sambil tersenyum manis.


Dilan tidak dapat meraih Princess kembali.


"Maaf kak." Dilan keluar dari kamar tersebut dengan perasaan tidak bisa di jabarkan, antara sedih dan juga seperti di tolak mentah-mentah.

__ADS_1


Saat berada di hotel hanya ada keheningan di ruangan Dilan Malik, bahkan sekretarisnya tidak berani menegurnya.


"Pak ... bos, sebenarnya ada rapat pagi ini. Bagaimana pak bos jadi rapat atau tidak?" Tudou.


Dilan langsung memberikan tatapan mengerikan pada Tudou yang berani mengganggu pikiran kacaunya.


"Baik, saya permisi dulu pak bos." Tudou berjalan cepat meninggalkan ruangan tersebut.


Princess sedang berada di sebuah restoran, maklum saja tanggal muda dan baru gajian maka dari itu ia berani makan di tempat ini selagi jomblo dan belum menikah jadi tidak akan berebut dengan anak-anaknya.


"Apa seenak itu makanannya?" tanya seseorang yang tiba-tiba mengambil makanan Princess yang ada di piring ukuran besar, ia dengan berani memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya sendiri.


"Dasar pencuri!" Princess mengetuk kepala Liu Lian yang tiba-tiba datang dengan mengambil makanannya.


'Oh... makananku yang malang, padahal itu yang paling enak kenapa harus di makan orang lain. Hu... hu... hu... nasib-nasib.' Princess menatap malas Lian yang hari ini tampil berbeda, tidak seperti sebelum-sebelumnya.


"Jahat, ganti nggak." Sambil menyodorkan garpu tepat di wajah Lian.


Lian jadi merasa bersalah tapi benar-benar enak makanan itu.


"Oke... oke... aku ganti, sebentar ya," Lian menuju kasir untuk meminta pesanan yang sama tapi minta hanya bagian makanan yang banyak parutan keju mozzarella serta mayonaise yang banyak itu.


Saat makanan datang Princess tersenyum sangat manis, berapa teduh dan nyamannya wajah Princess di nikmati mata. Seperti suguhan pemandangan wisata alam bebas saja andai wajah teduh itu ada dalam diri wanita yang ia cintai selama ini, tapi rasanya itu tidak mungkin ada dan terjadi.


"Lama tidak bertemu ya, bagaimana kabarmu?" Lian menampilkan senyum imutnya.


"B aja, gak ada yang luar biasa!" jawab Princess terdengar cuek sekali.


"Kenapa jadi sedingin ini, apa baru saja putus cinta. Sepertinya iya." Godanya sambil tertawa renyah.


"Sok tau kamu, kalau iya kenapa," Princess langsung memakan semua yang ada.


Liu Lian tersenyum, sepertinya benar-benar putus cinta terlihat dari senyum yang dipaksa dan juga mata yang tidak ada pancaran kebahagiaan, mungkin cintanya kandas karena restu yang tidak ada.


Ddrreett


"Pacar kamu?" Lian semakin penasaran.


"Mantan, gak usah kepo deh!" Princess segera memasukkan ponselnya di tas kecil kesayangannya.


"Kenapa gak di baca pesannya, siapa tau penting pesannya." Lian berusaha mengingatkan saja.


"Gak penting, tiap hari ketemu juga," Princess menyudahi makannya dan beranjak pergi. "Jangan lupa bayar pesananku yang tadi juga." Sambil melambaikan tangannya.


Lian tersenyum lebar.


"Dasar tidak punya urat malu, tapi menggemaskan." Terkagum-kagum sendiri.


Princess duduk di salah satu halte yang tidak jauh dari tempatnya makan di restoran. Rentetan pertanyaan iya terima di pesan singkat di ponselnya, tentu saja dari Dilan yang mengirimkan siapa lagi yang akan kepo setiap gerak gerik Princess jika bukan Dilan adik super posesif nya seorang.


"Hay... cantik, sendirian saja." Goda seseorang yang menurunkan satu jendela kirinya sambil menampilkan senyumnya yang menawan.


"Dasar posesif," Princess membuka pintu mobil yang bagian jok belakang.


"Eh ... ko masuk belakang sih, sini duduk di depan dengan aku." Dilan menunjuk kursi di sebelah kemudinya.


"Tidak mau," jawabnya sambil melipat kedua tangannya di depan perut dan menunjukkan wajah malasnya.


"Ayo lah kak .., jangan marah begitu. Masa iya aku menjemputmu tapi kamu manyun seperti itu." Dilan memberikan coklat kesayangannya.


"Biarin, lagian kamu ini kenapa sih posesif seperti ini. Aku tidak nyaman Ilan, jika kamu seperti ini terus lebih baik aku iyakan sekolah jauh sesuai yang Kakek sarankan waktu itu," ancamnya sambil mengingatkan Dilan.


Dilan jadi teringat kejadian itu.


Helaan nafas Dilan terdengar berat dan tidak rela.


"Baiklah kak Princess jika itu yang membuatmu nyaman, aku akan berusaha untuk tidak menggangu pribadimu lagi. Tapi ingat kak aku akan terus mengejarmu dengan cara yang baik dan tulus serta setia padamu saja kakak, ingat kata-kata ku ini."

__ADS_1


Dilan kembali fokus mengemudi di jalan raya yang padat dan lancar.


Dilan menjadi murung gara-gara ulah perasaannya sendiri, sepertinya ia tidak akan dapat berdekatan lagi dengan Princess kesayangannya itu.


Dilan tidak seperti dulu yang membukakan pintu lagi, Dilan sudah berbeda tidak sama lagi. Princess menatap kepergian Dilan, memang benar ya kata orang setelah kehilangan baru terasa di dada jika orang itu pergi.


"Sudahlah ini memang yang seharusnya terjadi di antara kita berdua, selayaknya saudara tanpa ada rasa." Princess mengendong tas kecilnya seraya membuka pintu mobil tersebut.


Momo Malik Mahendra yang baru saja datang langsung merangkul lengan Princess Erdana Khan putrinya.


"Kesayangan Mama kenapa kamu terlihat bersedih dan murung, jangan bilang kamu kencan dan di ganggu oleh dia?" menunjuk putranya yang baru masuk ke dalam rumah.


"Tidak Ma, lagian Princess sedikit tidak enak badan makanya Princess sedikit murung tuh ... lihat sudah bisa tersenyum bukan!" menjawab dengan berbohong, sakit hati maksudnya atau tidak enak hatinya.


"Baiklah jika memang tidak enak badan, ayo istirahat dan Mama buatkan makanan kesukaan kamu." Ajak Mama Momo pada Princess.


Dengan senang hati Princess mengiyakan tawaran sang Mama, lumayan untuk mengurangi pekerjaannya memasak malam ini.


Sore hari.


Princess menyiram bunga yang ada, tentunya dengan Mama Monique/Momo.


"Princess ..., jika cinta dengan Dilan adik kamu bilang saja, jangan di pendam dan sakit sendirian. Jika kamu kurang yakin bagaimana jika pertunangan dengan Inre berlanjut, kamu setuju nak." Momo menyarankan putri yang ia rawat sejak kecil.


"Nanti saja Ma, lagian Dilan juga butuh waktu untuk memperbaiki diri," Princess tersenyum sangat manis sekali demi menutupi luka hatinya.


"Jangan di tunda Princess, jika nanti Dilan tak berjodoh dengan Inre bagaimana, lebih baik di lanjutkan saja. Bukannya mama berniat jahat tapi ... kalian sedarah beda ayah dan kalian tidak dapat menikah." Momo mengantisipasi adanya pihak ke tiga dari hubungan anak muda yang belum mengerti apa-apa ini.


"Jika dia berjodoh dengan Inre dan itu yang Allah atur untuknya aku setuju sekali ma, makan aku siap Mama jadi pendamping pengantin wanitanya. Tapi jika bukan Inre jodohnya harus bisa ikhlas melihat dia bahagia Mama dengan yang lain tentunya, kalau jodoh tidak akan kemana Ma," Princess berpikir secara dewasa.


Meski ia tau saat ini ia egois dan tidak mementingkan perasaan Dilan yang tulus meminta maaf dan menunggu kesiapan hati Princess.


"Baik, jika itu keputusan dari kalian berdua. Mama harap kalian segera berbaikan lagi seperti dulu sayang." Momo segera menuju dapur untuk membuatkan makanan yang sepesial kali ini.


Di kamar Dilan Malik


Dilan menatap foto yang ia pegang, foto dirinya dengan Princess kakaknya.


"Kak." Sambil menciumi potret tersebut.


"Aku sangat mencintaimu, maukah kamu menjadi pendampingku kak?" tanyanya pada foto yang ada di layar ponselnya.


"Tapi kenapa kamu sampai detik ini tidak memberi kepastian, apa kamu melepaskan aku kak untuk orang lain yang lebih membutuhkan aku?" Dilan memegang dadanya yang teramat sakit, sudah susah move on di tambah lagi hidup satu atap dengannya.


1 bulan kemudian.


Dilan memutuskan untuk berkerja di perusahaan lain sambil kuliah tentunya, ia tidak mau bergantung lagi dengan keluarga Malik maupun Mahendra, ia ingin berdiri di kakinya sendiri tanpa embel-embel keluarga besar di kota ini.


"Nak Dilan sangat baik dan hebat dalam menjalankan bisnis, dalam waktu beberapa hari ini saja perusahaan kami mulai bangkit sedikit demi sedikit." Ucap Alam laki-laki paruh baya.


"Terimakasih atas pujiannya Pak, tapi semua itu terjadi karena produk di perusaan Bapak sendiri saya hanya membantu ide yang baru saja," Dilan tersenyum.


Alam tertegun dengan Dilan Malik, masih muda dan masih kuliah tapi memiliki bakat yang luar biasa.


"Tuan Dilan, apakah anda sudah memiliki seorang istri atau kekasih?" Alam penasaran dengan kehidupan pribadi anak muda yang tepat di depannya itu, jika putrinya tidak hilang pasti ia memiliki niatan untuk menjodohkannya.


"Belum ada Pak, tapi sebentar lagi pasti dia jadi istri saya!" jawabnya menatap Princess yang duduknya tidak jauh dari dirinya.


"Benarkah? apa dia sangat cantik seperti nona yang ada di samping anda?" Alam sedikit terpesona dengan kecerdasan dan kecantikan Princess, meski kagum bukan berarti suka dan ingin memiliki ya.


"Anda benar sekali, dia calon istri saya. Maka dari itu saya selalu bersama dia!" Dilan meraih tangan kanan Princess dan menggenggamnya.


"Wah selamat tuan Dilan ... selamat sekali lagi." Alam merasa sangat bahagia.


'Kenapa aku merasa ia ada kemiripan dengan putriku yang hilang tapi apakah benar dia putriku yang hilang itu, dia mirip sekali dengan almarhum Ibu mertua dan sedikit mirip istriku. Ma ... aku sepertinya menemukan putri kita yang hilang ma, hilang dua puluh tahun yang lalu Ma.' Alam tersenyum bahagia dalam hati.


Semoga saja takdir mengatakan iya kedepannya, jika ada kesempatan ia ingin mengetahui apakah iya benar Princess putrinya yang hilang itu atau hanya kebetulan saja nama yang sama dan wajah yang hampir serupa itu.

__ADS_1


__ADS_2