
Restoran Ayam Bakar.
Cheval memesan menu ayam bakar yang paling popular di kalangan anak remaja dan orang tua, ternyata menu di sini selain porsinya jumbo harganya terjangkau. Satu ayam utuh tidak sampai seratus ribu rupiah totalnya.
"Waw... enak nih." Sindy yang melihat ayam bakar yang baru datang langsung memotongnya sesuai keinginannya.
Cheval hanya keheranan dengan nafsu makan sang istri. Apa benar istrinya tidak sedang mengandung, pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Cheval. Apalagi jika melihat pemandangan saat ini.
"Kenapa sih Aa melihatku seperti itu, ayo temani aku menghabiskan ayam ini." Sindy menyuapi Cheval ayam bakar yang sudah ia ambil dan di celupkan ke dalam sambal tomat, kesukaan Cheval.
"Enak, aku mau lagi," Cheval membuka mulutnya dengan lebar.
Sindy terpesona dengan tingkah manja sang suami pada dirinya ini. Sungguh sangat menggemaskan perilakunya.
"Sudah dulu ya Aa, aku masih lapar ini." Memasukkan suapan besar ke dalam mulutnya.
Cheval diam-diam merekam moments seperti ini, sangat jarang sekali melihat Sindy yang makan seperti orang kerasukan saja.
Usai makan di restoran, Cheval mengajak Sindy untuk mengunjungi Rumah Sakit untuk memeriksakan keadaan Sindy, mulai dari cek ini dan itu. Ternyata hasilnya tidak terjadi apa-apa, hanya nafsu saat datang bulan. Biasanya nafsu makan perempuan akan meningkat saat seperti ini jika di lanjutkan badan akan semakin berisi dan mengembang pesat seperti balon udara.
"Sindy jangan makan terlalu banyak, aku tidak mau kamu terbang ke langit dan tidak kembali. Seperti balon yang di lepas ke udara." Mencubit pipi chubby Sindy.
"Aa nyumpahin aku gendutan gitu, Aa tidak cinta lagi jika aku gendutan. Ya sudah jika Aa tidak cinta dengan aku yang seperti ini," Sindy mengalihkan pandangannya menatap jendela.
"Ehh... bukan seperti itu sayang, em... oke deh aku minta maaf sebagai gantinya kamu boleh minta sesuka hatimu, boleh menyuruh aku bernyanyi atau merias diriku layaknya badut." Cheval memperlihatkan jari kelingkingnya untuk membuat janji dengan Sindy.
"Baiklah, karena Aa memaksa aku iyakan dan jangan salahkan aku jika Aa nanti malu sendiri," Sindy sudah memikirkan matang-matang rencana apa yang akan ia buat, kesempatan langka harus di gunakan sebaik mungkin jangan di sia-siakan.
Cheval hanya tersenyum getir, menahan akibat dari ucapan dirinya barusan. Siap-siap mental demi sang istri tercinta, semoga jika nanti memiliki bayi ibunya tidak meminta hal yang aneh-aneh.
Malam hari.
__ADS_1
Cheval merenggut sambil memonyongkan bibirnya yang menggoda.
"Yakin aku kamu suruh keluar dengan pakaian seperti ini, aku ini laki-laki loh masa iya pakai pakaian daster begini punya siapa lagi ini." Cheval mencubit lengan daster yang seret di lengan atasnya.
Badan Cheval memang atletis dan bagus, dengan menggunakan daster seperti ini tubuhnya sangat tertutupi akan tetapi bagian lengan dan betis kaki tetap menonjol.
"Kalau tidak mau ya sudah, tidak apa-apa," Sindy berlalu pergi.
Cheval menarik nafas dan hembuskan dari mulutnya berkali-kali. Sindy yang sudah menuruni anak tangga hanya tersenyum dan tertawa geli dalam hatinya, sang suami begitu penurut padanya.
"Sindy dari tadi mama lihat dari atas sampai bawah kenapa wajahmu sangat bahagia sekali?" Daysi menatap keheranan sang putri yang di tanyai masih saja tersenyum-senyum sendiri.
Cheval yang baru turun dari lantai atas menahan malu bukan main, bagaimana bisa laki-laki tulen pakai daster yang identik emak-emak karena coraknya untuk orang berusia senja.
PPUUFFTT
Daysi menahan tawanya, anak laki-lakinya berdaster. Untung wajahnya tidak mengenakan Make up jika iya pasti terlihat cantik sekali.
"Oke..., semangat berjuang demi istrimu. Tetapi Aa ada masalah apa sampai-sampai kamu harus berpakaian seperti ini?" Daysi menatap daster yang di kenakan Cheval dengan cermat dan teliti.
"Hhuuff... gara-gara Aa bilang Sindy jangan makan terlalu banyak nanti bisa terbang seperti balon udara, terus dia marah dan tidak mau lagi denganku. Kan sakit sekali ma... perasaan Aa di jauhi Sindy, Aa sudah terlalu bucin dengan Sindy ma!" jawab Cheval memeluk tubuh sang mama.
"Kenapa putraku jadi selebay ini, apa semua orang jatuh cinta akan menjadi bodoh. Apalagi dia laki-laki ampun deh." Gelisah Daysi menepuk-nepuk pundak Cheval.
Sindy hanya memutar bola matanya dengan malas saat mendengar curhatan yang begitu di buat-buat.
"Apa belum selesai dramanya apa perlu tambah sekenario biar cerita ini tidak tamat begitu saja dan menggantung seperti gantungan pakaian?" Sindy mengeluarkan secarik kertas dari laci dan pulpen berwarna biru.
"Eehh... sudah selesai ko istriku sayang!" bermanja-manja pada Sindy.
"Dasar bucin akut seperti papa." Daysi menatap sang suami yang baru saja selesai bermain golf sendirian.
__ADS_1
"Kenapa jadi papa di sangkut-sangkut kan, papa berbuat apa sih sampai kamu bilang seperti itu pada papa ma." Merangkul pinggang Daysi.
"Pa... malu di lihat anak-anak," keluh Daysi pada Ksatria.
"Malu kenapa, katanya tadi aku bucin akut dulu. Memang benar papa sangat bucin apalagi banyak laki-laki yang mencintai mama." Mencium pipi Daysi dengan gemasnya.
Daysi hanya malu dengan kelakuan suaminya barusan.
"Ciye... yang lagi mengenang masa muda." Ledek Cheval berlalu pergi sebelum sang papa mengomelinya lagi sambil menarik tangan Sindy.
"Dasar anak-anak ngeselin," Ksatria menatap tajam kepergian anak-anaknya.
"Sudah-sudah pa, tenang jangan marah-marah itu tidak baiklah bisa membuat hati terasa panas dan penuh dendam." Daysi berusaha menenagkan sang suami.
"Ayo kalau begitu, papa lapar sekali setelah bermain golf sendirian. Tetapi papa puas tidak ada yang bermain curang saat bermain sendirian," Ksatria tersenyum lebar dengan bangganya.
Kalau bermain golf sendirian pasti bisa menang tanpa ada saingan bukannya dari dulu permainan yang di lakukan sendiri itu entah dengan cara jujur atau tidak jujur bisa menang. Daysi hanya menganggukkan kepala dari pada nanti ia kesusahan keluar dari kamar lagi.
"Eehh... Aa Sindy jangan di habiskan ayam kecapnya. Papa juga mau makan itu." Sambil menunjuk ayam kecap yang tersisa 3 potong saja. Ksatria langsung mengambil piring yang berisi 3 potong ayam. "Cintaku... eemmuuaahh...," Ksatria duduk di kursinya.
Daysi tersenyum lebar, sebegitu sukanya sang suami dengan ayam kecap buatannya sedari dulu Ksatria tidak mau ayam kecap buatan asisten rumah ataupun beli di restoran. Katanya lebih nikmat buatan istri di rumah dari pada buatan orang lain, rasanya hambar tanpa bumbu cinta dari si pembuatnya.
"Apakah enak pa?" Daysi mengambilkan nasi hangat untuk Ksatria.
"Enak ma, besok buat lagi ya!" sambil mengunyah daging ayam.
Cheval dan Sindy sangat bahagia melihat kemesraan orang tuanya ini.
***
Hallo kakak-kakak boleh juga ya mampir di karyaku yang lainnya, cek profil ya.
__ADS_1