ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
150 S2


__ADS_3

Jangan lupa pencet tombol like, favorite, rate bintang lima ya biar aku semangat up lagi dan lagi


***


Pagi hari.


Karena hari ini hari libur setelah wisuda kemarin Sindy sedang menikmati harinya di taman, Cheval yang sudah berangkat ke kampus untuk mengajar karena tugasnya sebagai asisten dosen.


"Sindy, ayo bermain golf. Kenapa kamu hanya menciumi bunga-bunga itu saja, ayo kalahkan ayah." Ucap Sacha yang baru saja datang.


Sindy melihat kesana kemari tetapi tidak menemukan sosok Momo yang biasanya di ajak kesini pagi-pagi seperti ini.


"Momo tidak ikut, tidak usah di tanya. Ayo temani ayah bermain golf, jika kamu menang boleh kamu minta apapun." Sacha menuju ke lapangan golf.


Sindy yang seakan mendapatkan kejutan langsung menyetujuinya, setidaknya misi untuk menyatukan Lais dan Momo dengan cara ini salah satunya yaitu mengalahkan Sacha.


Sekitar 1 jaman permainan berlangsung. Ksatria yang sudah berada di hotel kini melonggarkan dasi yang bertengger di lehernya.


"Pa...." Daysi membawakan bekal padahal ini masih pagi.


"Eh... mama ini masih pagi loh ma, kenapa mama membawa bekal sih?" Ksatria membuka bekal yang ternyata isinya hanya manisan cermai. "Manisan, tapi papa sudah tidak ingin mengkonsumsi manisan ini ma, mama kan tau sendiri papa menghindari gula berlebih."


"Iya mama tau, tetapi mama ingin papa menemani mama untuk makan manisan ini, please ya pa," menciumi rambut Ksatria yang sangat harum.


"Haahh... beginilah jadinya kalau cinta sangat besar pada istrinya, semua yang ia mau pasti di turuti. Baiklah aku akan menuruti keinginan kamu sayang." Ksatria mencicipi manisan yang sudah lama ia rindukan.


"Bagaimana pa, apakah enak manisan cermainya?" Daysi menyuapi mulut Ksatria.


"Enak, rasanya masih sama dengan yang dulu. Mama buat sendiri atau membelinya di toko, eemm... rasanya papa tidak mau berhenti memakannya, ini benar-benar sangat nikmat," Ksatria terus saja membuka mulutnya lebar-lebar padahal buah cermai hanya sebesar kelereng saja.

__ADS_1


Daysi tersenyum melihat sang suami yang begitu lahap makan buah tersebut.


"Jangan cuma melihat terus, mau aku suapi?" Ksatria menyodorkan satu buah, tetapi bukannya di suapi dari tangan melainkan dari mulut.


Seketika Daysi memelototkan matanya. Ksatria terus saja melanjutkan aksinya tanpa peduli yang lain, padahal pintu ruangan pribadinya belum Daysi kunci dan masih terbuka, sedari tadi para karyawannya berlalu lalang melewati ruangannya. Daysi mencubit lengan Ksatria agar melepas pagutannya.


Ksatria mengusap area di sekitar bibir Daysi, "maaf ya, habisnya nikmat sekali rasanya manis bercampur asam dari sini." Menjilat ibu jarinya sendiri.


Daysi yang melihat kelakuan nakal sang suami hanya bisa menahan malu saat berjalan keluar dari hotel, semoga perbuatan Ksatria tidak membuat jadi bahan gibahan para karyawan Royal Malik.


"Kenapa itu wajah jadi memerah?" Ksatria menunjuk semburat merah di pipi Daysi.


"Mana ada warna merah, jangan mengada-ada deh pa!" jawab Daysi sedikit gerogi.


Panti Asuhan Cinta Anak.


Sore hari.


"Kakak tampan." Teriak beberapa anak panti pada Cheval.


Cheval dengan ramah langsung menyambut keceriaan anak-anak di panti tersebut.


"Kak Sindy, boleh tidak kakak Cheval jadi suami masa depan Dea?" menatap netra Sindy.


Sindy yang mendapatkan tatapan sendu dari anak kecil itu hanya menganggukkan kepala saja, anak kecil tersebut berumur sekitar 11 tahun nan lebih. Sangat cantik dan penuh semangat.


"Dea yang cantik dan pintar ini, bukannya tidak boleh tetapi kakak yang kamu sebutkan tadi suami kak Sindy." Dengan ramah Sindy menjelaskan.


Sindy mengira gadis tersebut akan bersedih namun tidak gadis tersebut tetap ceria bahkan setuju sekali dengan ucapan Sindy.

__ADS_1


"Jadi kakak istrinya kak Cheval, aku setuju. Apa di dalam perut kakak ada adik bayinya?" menyentuh perut Sindy. Sindy menggeleng dengan cepat.


"Belum ada bantu doa ya biar cepat-cepat ada adik bayi di dalam sini!" Sindy berdiri dari duduknya dengan gadis tersebut.


Sebenarnya ketakutan terbesarnya ialah tidak bisa memberikan keturunan pada suaminya, sudah 2 tahun pernikahan ini meski awalnya hanya menggunakan obat penunda kehamilan lantaran masih SMA, tetapi sekarang sudah tidak mengkonsumsi lagi obat tersebut.


"Sayang, kenapa gelisah. Apa kamu tidak bahagia berada di sini, di sini tempat mama di besarkan dulu loh sayang. Sayangnya pengasuh mama sudah wafat semua." Cheval menyentuh kedua pundak Sindy.


"Aku bahagia Aa bahkan sangat bahagia, usai dari sini mampir ke warung pinggir jalan yang ada di perbatasan kota ya," Sindy mengalihkan kegelisahannya.


Setelah berkunjung dan menyapa orang panti, Cheval dan Sindy berpamitan pulang. Saat berada di perjalanan Sindy memberanikan diri bertanya pada sang suami yang masih berkonsentrasi mengemudi.


"Aa, jika aku tidak bisa memberikan Aa keturunan apa Aa akan meninggalkan aku dan mencari wanita lain." Memainkan jari jemarinya sendiri.


"Sayang, dalam keadaan apapun Aa tidak akan pernah meninggalkan kamu, meski kita belum di beri anugerah memiliki seorang bayi dalam perjalanan pernikahan kita, cinta dan sayangku hanya untuk kamu seorang Sindy," meraih tangan lembut Sindy dan menciumnya.


Sindy berusaha menaruh keyakinan penuh pada sang suami, jika takdir membuat dirinya bisa bersama sampai akhir hayat maka dengan senang hati pasti menerimanya jika tidak mungkin belum jodohnya.


Warung pinggir jalan.


Banyak menu yang terpajang rapi di atas meja, mulai dari ayam bakar, geprek, kecap dan lain sebagainya.


"Kamu mau yang mana sayang, apa perlu aku ambilkan." Cheval mengambil piring plastik yang sudah di sediakan warung ini.


"Tidak perlu Aa, aku ini saja cukup," jawab Sindy dan segera duduk di kursi plastik.


Biasanya tempat ini sangat ramai di jam segini, tumben-tumbenan tempat ini sepi hanya beberapa orang saja. Cheval duduk di samping Sindy, tiba-tiba tangan Sindy menyomot lauk yang ada di atas piring Cheval dan memakannya dengan segera.


"Kebiasaan buruk, tadi di tawari tidak mau katanya itu saja dan sekarang malah mengambil punya Aa." Cheval mulai makan.

__ADS_1


"Aku tidak tau tadi jika ada jeroan ayam yang aku suka masakannya, Aa kan juga tau sendiri aku suka sekali dengan makanan itu apalagi yang di goreng dengan rempah-rempah yang sangat terasa seperti ini, eemm... nikmat sekali Aa rasanya. Benar-benar tidak ada tandingannya di sini," mengunyah dengan penuh di dalam mulut.


Cheval menatap sekilas dan melanjutkan acara makannya dan tidak memperdulikan Sindy yang sudah berdiri dari duduknya dan mengambil lauk kesukaannya.


__ADS_2