
Daysi mematung dengan perkataan Okta barusan. Segera Daysi menuju ruangan untuk pesta pertunangan. Tidak sengaja Daysi melihat suaminya dengan wanita cantik.
"Ini orang, playboy tingkat tinggi. Berganti pasangan lebih cepat dari pada berganti pakaian." Gumam Daysi dalam hati.
Okta yang baru saja sampai langsung menyuruh Daysi mengemas bagian atas, karena semua orang berada di bawah untuk menikmati acara penutup.
Riri yang tadinya tersenyum dengan Abang berubah marah saat Abang memilih mendekati Daysi. Semua orang yang menatap Daysi mengepalkan tangannya.
Walaupun Abang hanya tukang bersih-bersih, akan tetapi pesonanya tidak kalah menarik dengan Ksatria dan Okta.
Okta mengepalkan tangannya, serasa gagal sebelum maju.
"Aku tidak akan menyerah, demi kamu Daysi." Okta segera ke atas menyusul Daysi dan Abang.
Ksatria masih dengan sifat cueknya acuh tak acuh. "Benar-benar wanita murah** sana sini mau." Umpatan Ksatria dalam hati.
Okta segera menyuruh Abang untuk turun begitu juga dengan Riri. Hati Riri berbunga-bunga dengan perintah Okta barusan. Terlihat jelas Riri mengikuti kemanapun Abang berjalan.
Alangkah terkejutnya Ksatria saat tidak sengaja menatap Daysi yang sedang di pegang pundaknya oleh Okta.
"Apa-apaan ini, kenapa semua orang tertuju kepadanya sih. Apa unggulnya dia sih?" tanyanya dalam hati.
Ksatria segera membonceng Mega keluar daru ruangan tersebut, sebelum keluar Ksatria mengucapkan selamat kepada pemilik acara. Kemudian Ksatria mengajak Mega menuju parkiran mobil.
"Aku hantar kamu pulang." Tanpa membukakan pintu mobil untuk Mega.
Mega tersenyum kecut dan langsung masuk mobil.
"Ada apa sih dengan dia, tidak biasa-biasanya dia memiliki mood yang jelek?" dalam batin Mega.
Ksatria menghantar Mega ke apartemennya.
"Turun." Ucap Ksatria singkat, tanpa melihat wajah Mega.
"Kamu kenapa sih? aku salah apa?" Mega mendekat dan mencium pipi Ksatria singkat dan kemudian keluar dari mobil Ksatria.
Ksatria mengambil tisue dan mengelap bekas bibir di pipinya. Ksatria meremas kuat tisu tersebut.
"Dasar, tidak punya urat malu." Ksatria melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
Saat berada di club, Ksatria meminum beberapa gelas saja. Mengingat ia masih ada perlu dengan seseorang.
Suara deringan ponsel terdengar. Ksatria segera mengangkat ponselnya. Tertera nama Boby.
"Ya..., hallo. Ada apa?"
"Boss, orang-orang yang boss suruh untuk menyelidiki sudah mulai bergerak. Mereka melaporkan jika Paman Rio anda..." belum selesai berbicara sudah di potong oleh Ksatria.
"Jangan pernah kamu menyebut pria baji*** itu dengan sebutan itu (Paman Rio) di depanku. Setelah apa yang ia perbuat kepada orang tuaku." Ucap tegas Ksatria.
"Baik boss, apa boleh saya lanjutkan yang tadi?" tanya Boby.
"Lanjutkan!" Ksatria mendengar semua ucapan Boby, tidak ada satupun yang tertinggal.
Ksatria mengepalkan tangannya, saat tahu nyawa adiknya terancam di LN sana.
"Aku harus melindungi Aurellia, aku tidak ingin kehilangan adikku. Dari mana orang-orang itu tahu jika aku memiliki adik. Atau jangan-jangan berita itu. Yaa... pasti berita itu. Aku harus mengubah penampilan Aurellia." Ucap Ksatria menuju keluar club malam tersebut.
Ksatria yang baru saja sampai rumah mencari keberadaan Ria. Ria masih stay walaupun ini sudah pukul 12 malam.
"Ria, beritahu aku dimana Aurellia tinggal. Saat ini nyawanya dalam bahaya?"
"Apa kamu tidak berencana memberitahuku? aahhh sial, jika bukan karena rekaman itu." Ksatria berlalu pergi.
"Haaahhh selamat," menebah dadanya berkali-kali, "untung mbak Aurellia sangat pintar, jika tidak tamat sudah riwayatku, hiks..." Ria menuju dapur dan mengambil minuman.
Ksatria memijat kepalanya. Memikirkan rencana selanjutnya, untuk mencari kelemahan orang yang bernama Rio (Paman Ksatria).
Ksatria menyuruh orang-orang berjaga dengan ketat di sekitar rumahnya. Takut jika Rio meletakkan bom lagi.
Ksatria mengingat masa lalu.
Waktu itu kedua orang tuanya akan pergi naik haji dengan menggunakan pakaian ihram, setelah kedua orangtuanya masuk mobil. Tiba-tiba mobil tersebut meledak di depan matanya. Kedua orang tuanya tewas dalam tragedi tersebut.
Tanpa sengaja Pamannya ada di situ dan menertawakan Ksatria, dan mengejeknya dengan kata-kata yang seharusnya tidak di ucapkan.
Sakit hati yang teramat dalam yang di rasakan Ksatria, Ksatria tergolong anak ber-IQ tinggi. Di usianya yang belia dia bisa paham dengan orang-orang yang berusaha melukainya.
Dan sebab itulah Ksatria menjadi pendendam. Ksatria yakin betul jika kematian orang tuanya berkaitan dengan Rio Pamannya. Dan sampai sekarang Ksatria tidak pernah menganggap Rio bagian dari keluarganya.
__ADS_1
Mata-mata orang kepercayaan orang tuan Ksatria, menangani masalah ini dengan rapi. Karena Ksatria masih kecil. Sementara menggantikan hotel yang sudah berdiri megah di tengah-tengah kota.
Ksatria mulai memikirkan apa rencana selanjutnya.
"Aku harus bergerak lebih cepat, jika tidak rumah ini bisa jadi targetnya, aku tidak bisa kehilangan kenangan di sini bersama Aurellia adikku."
Daysi yang baru pulang, langsung menuju kamar Ksatria. Daysi terkejut saat Ksatria tiba-tiba menyalakan lampu.
"Masih ingat pulang?" tanya Ksatria kejam.
"Apa aku tidak boleh pulang?" berbalik menanyai.
"Sekali lagi kamu berani berucap seperti itu, aku akan benar-benar merobohkan panti asuhan itu." Mengancam Daysi. Dengan mencengkram dagu Daysi.
"Silahkan anda hancurkan tempat itu, aku akan meminta Relli mengembalikan ginjal ku!" Daysi membalas ucapan Ksatria. Ksatria melepas cengkraman nya.
"Dasar wanita murah**, dengan pria mana saja mau. Apa kamu tidak ingat memiliki suami?" ucap Ksatria marah-marah.
Daysi hanya menatap sekilas dan berlalu pergi.
PPPYYAARR....
Ksatria membanting vas bunga di sebelahnya. Ksatria memijat pelipisnya, rasanya mau meledak kepalanya.
Ksatria yang lelah dengan pikirannya sendiri tertidur di sofa kamarnya, sedangkan Daysi tidak ada di kamar Ksatria dia lebih memilih masuk ke kamarnya sendiri.
"Dasar laki-laki egois, menghina orang seenaknya. Kamu pikir aku wanita lemah yang mudah di tindas? kamu salah pak Ksatria yang terhormat. Aku tidak selemah itu." Daysi kemudian mandi dan membersihkan diri.
Setelah mandi Daysi menatap layar ponselnya dan bermain game sebentar sebelum tidur. Daysi tidak bisa tidur karena perkataan Ksatria yang masih menggema di telinganya.
"Apa aku serendah itu. Aku tahu jika aku hanya butiran pasir yang tidak sebanding dengan berlian. Lebih baik aku besok berangkat pagi. Aku merindukan adik-adikku dan Umma Inayah." Daysi segera menarik selimut dan memejamkan matanya.
Pagi-pagi sebelum Subuh Daysi bangun dan menyiapkan bekalnya. Mbok Yati yang melihat Nona Mudanya melakukan tugasnya sebagai Istri tersenyum.
"Dengan begini aku bisa melepaskan Aden (Ksatria) dengan tenang. Tuan dan Nyonya aku suatu hari akan menyusulmu ke Surga. Aden pasti bahagia dengan Nak Daysi. Dia begitu baik dan telaten." Gumam Mbok Yati.
Daysi yang di tatap Mbok Yati langsung menanyai Mbok Yati.
"Ada apa Mbok? kenapa Mbok menatapku seperti itu?" tanya Daysi.
__ADS_1
Mbok Yati hanya tersenyum.