
Sindy yang sudah pulang dari jam 2 siang tadi merasa hampa, biasa nya sang kakak selalu ada dan membual ini itu sampai telinga nya malas mendengar. Mala yang baru saja membuat kan jus melon heran kenapa nona muda nya gelisah tidak seperti biasa nya.
"Non Sindy ada apa, saya lihat dari tadi non seperti nya sedih dan gelisah." Meletak kan satu gelas jus di meja samping tempat Sindy duduk termenung.
"Tidak ada apa-apa mbak Mala, tenang saja. Cuma kapan ya papa mama pulang hari ini?" meminum jus tersebut.
"Seperti biasa non, pasti malam lagi. Apalagi kata mama non ada proyek pembangunan apartemen," Mala tersenyum kemudian berpamitan untuk memasak buat makan malam.
Mala berkerja memasak sendiri semenjak mbok Yati di panggil oleh Sang Maha Pencipta 10 tahunan yang lalu. Mala memang mengabdi di kediaman Malik ini karena keluarga ini lah yang menolong sewaktu dirinya di tipu dan di fitnah menggelap kan uang milik bang xx di kota ini. Jadi sebagai balas budi Mala mengabdikan diri nya di kediaman ini sudah ada sekitar 20 tahun ia berkerja di sini. Sudah sering Ksatria maupun Daysi menyuruh nya untuk berlibur ke kampung halaman nya namun ia tidak mau lantaran keluarga tersisa nya tidak mau menerima lagi kehadiran nya karena membuat malu. Orang tua Mala sama seperti Daysi sudah meninggal.
Cheval yang baru pulang langsung menuju dapur untuk memanas kan makanan buatan Momo yang super lezat di lidah nya. Ia bangga pada Momo meski pun ia suka belanja dan manja tetapi ia pandai memasak.
"Aa Cheval, sedang apa. Dan itu makanan dari mana seperti nya Aa sangat suka." Mala menyiapkan secangkir teh hangat.
"Oh... ini dari Momo mbak Mala, ia pandai memasak loh mbak ternyata dan makanan nya sangat enak, cobalah mbak Mala." Cheval memberikan satu sendok pada Mala. Mala dengan ragu-ragu menerima dan mencoba nya ternyata rasanya memang sangat enak.
"Enak Aa Cheval, ini enak sekali," mencuci bekas sendok yang ia gunakan barusan.
"Benarkan, ya sudah aku makan dulu ya mbak Mala perut sudah berdemo ini." Mengambil nasi hangat.
__ADS_1
Ayam asam manis buatan Momo memang luar biasa perpaduan yang sangat pas untuk di santap. Sindy yang sedari tadi mendengar percakapan di dapur antara Cheval dan Mala hanya tersenyum kecut. Untung ia tidak di dapur bisa-bisa ia di banding kan dengan Momo apalagi jika mama dan papa nya tau.
Makan malam.
Ksatria melonggar kan dasi nya dan di bantu oleh Daysi. Ksatria yang sudah lapar langsung menuju ruang makan, Ksatria mengrenyit kan dahi nya saat makanan masuk ke dalam mulut nya. Cheval yang baru datang langsung menyalami sang papa dan mama begitu juga dengan Sindy yang baru saja selesai mengerjakan tugas rumah nya.
"Cheval, Sindy segera duduk. Ini masakan siapa, apa kamu Aa yang masak rasanya luar biasa enak. Bener ngak ma?" menatap sang istri. Daysi menganggukkan kepala nya.
"Momo yang masak bukan Aa, tadi Aa juga terkejut ternyata Momo pandai memasak bahkan rasanya seperti masakan chef terkenal saja!" Cheval memuji Momo terus-terusan di depan sang papa dan mama.
Sindy hanya mencengkram erat sendok dan garpu nya, rasa nya selera makan hilang sekejab. Sindy hafal setelah ini diri nya pastiakan terpojok lagi. Kemarin saat ia menang lomba lari Ksatria dan Daysi bahagia namun sesaat karena Cheval memberikan berita bahagia jika diri nya sudah dapar beasiswa S2.
"Iya," Sindy meletak kan sendok dan garpu nya. "Ma... aku tidak lapar aku mau masuk ke kamar dulu," Sindy segera lari dari ruang makan dadanya sesak sekali.
Di dalam kamar Sindy mengunci pintu nya agar ia bisa meluap kan emosi dan tangis yang ia pendam bertahun-tahun lama nya. Rasa nya tidak adil untuk diri nya.
"Kenapa aku bisa iri dengan saudara-saudaraku, bukan nya Agama Islam melarang kita untuk iri dengan saudara kita. Tetapi apa aku tidak boleh iri untuk mendapat kan pujian dan kasih sayang orang tuaku sesaat, kenapa hanya dia yang dapat sementara aku sering di abaikan." Sindy memukul-mukul dada nya yang sesak karena tagis nya saat ini.
Di ruang makan.
__ADS_1
"Ma... hantar makanan untuk Sindy seperti nya ia belum makan dari tadi, apa kamu sudah melihat Sindy makan Aa?" Ksatria masih mengunyah makanan nya.
"Belum pa kalau makan malam!" Cheval meminum air putih.
Daysi yang sudah selesai makan mengetuk pintu kamar Sindy berkali-kali namun tidak ada jawaban dari Sindy dan pada akhir nya Daysi kembali turun dan meletak kan makanan ke dapur.
"Mbak Mala, ini mbak makan saja dari tadi kamar Sindy aku ketuk tidak di buka seperti nya ia sudah tidur malam ini." Daysi bergegas meninggal kan dapur.
Daysi kembali ke ruang makan. Sang suami dan putra nya baru saja menyelesaikan makan nya. Ksatria bertanya apa Sindy sudah makan namun yang di dapat belum makan karena pintu tidak di buka dan seperti nya ia sudah tidur.
Cheval merasa heran kenapa jam segini Sindy sudah tidur biasa nya ia akan tidur jam 10 atau 11 malam. Rasa nya sangat aneh jika pukul setengah 8 sudah tidur. Cheval segera menuju kamar Sindy dan mencoba membuka nya namun nihil pintu di kunci dari dalam.
"Sindy buka, ini Aa Sindy, buka pintu nya. Aa mohon." Mengetuk pintu berkali-kali namun tidak ada hasil nya.
Cheval mencari kancing atau jepitan untuk membuka pintu kamar Sindy dan setelah berusaha keras akhir nya pintu terbuka, Cheval terkejut melihat barang-barang Sindy berantakan tidak karuan. Ia melihat Sindy termenung di balkon dengan pandangan kosong nya.
"Sindy... Sindy...," menepuk pundak Sindy. Langsung saja Sindy tersadar dan kembali menetes kan air mata, Cheval terkejut saat melihat mata bengkak Sindy.
Cheval mendekap nya dalam pelukan, Sindy meronta dan menangis agar Cheval melepas kan dekapan tubuh nya, tetapi tidak ia lepas dan membiar kan Sindy menangis puas di pelukan nya.
__ADS_1