
Like, bintang 5 dan fav ya.
***
Ksatria mengomel sendiri lantaran sang putra mengemudinya seperti di kejar-kejar hantu saja. Pukulan demi pukulan Cheval terima di lengan dan pundaknya.
"Kenapa sih Pa, ada yang aneh atau Aa memacu mobilnya kurang cepat?" pertanyaan konyol Cheval lontarkan.
"Apa tidak bisa pelan sedikit, nyawa Papa seperti ada tuju saja!" protesnya sambil memegang pegangan dia atas pintu mobil.
"Memang Papa, papanya kucing sampai-sampai ada tuju nyawa dalam tubuh."
"Tidak ada, makanya itu jangan mengorbankan diri, belum juga melakukan hal yang sangat mengesankan di dunia ini," Ksatria sudah membayangkan bisa pergi ke Timur Tengah.
"Baiklah papa, Aa akan pelan-pelan ya melajukan mobilnya." Cheval melajukan sekitar 50 kilometer perjam lantaran berada di kawasan perkotaan.
"Nah seperti ini dong, baru aman dan nyaman menikmati suasana jalan," Ksatria seperti anak kecil yang di ajak jalan-jalan oleh orang tuanya.
Hotel Royal Malik.
Para pria tampan dari keluarga Malik langsung menjadi sorotan para wanita dan beberapa laki-laki yang kagum dengan parasnya yang tampan dan menawan.
"Selamat pagi." Sapa karyawan yang berpapasan dengan Ksatria dan Cheval.
"Pagi," jawab lembut Cheval.
Ksatria hanya mengangguk dan melambaikan tangannya saja.
Hari ini hari yang sangat melelahkan untuk para suami, hari ini mengira rapat penting hanya sebentar ternyata sampai sore.
"Huh... hari yang melelahkan ternyata, tadi papa bilang tidak sampai sore tapi dalam kenyataan sampai sore bahkan mataku ini kenapa tumben-tumbenan mengantuk sekali, apa gara-gara rapat ini." Cheval memasukkan semua berkas-berkas yang perlu ia pelajari di rumah.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Cheval yang sudah selesai mengemasi barang-barang langsung membuka pintu, rasanya dalam dada seperti orang pertama kali bertemu, senam jantung berpacu begitu keras.
"Sayang." Cheval menyapa istrinya yang sedang membawakan bekal untuk makan sore ini.
"Untuk Aa, makan dulu Aa terus nanti kita berkencan. Sudah lama Aa tidak mengajakku berkencan di malam hari," Sindy duduk di sofa dan meletakkan makanan di atas meja.
Ia membuka tas kecil yang ia bawa, berbagai macam lauk menjadi satu di dalam satu wadah.
"Apa tidak salah sayang ini lauknya, kenapa banyak sekali sedangkan nasinya cuma satu porsi saja?" Cheval duduk lebih dekat dengan istrinya setelah meletakkan kembali tasnya di atas meja kerja.
"Tidak salah Aa, ini benar ko. Lagian aku ingin makan lauknya saja, maka dari itu aku bawa banyak lauk dari pada nasinya!" Sindy mencicipi lauk yang ia bawa.
"Bagaimana rasanya, enak tidak. Masa iya tampilannya bagus begini rasanya aneh masakannya." Cheval mencicipi masakan tersebut, ia terdiam dan tidak melanjutkan kunyahan nya.
"EENNAAKK...," teriak bersamaan.
Mereka berdua menghabiskan menu makannya sore ini, meski ia sering di bawakan bekal oleh istrinya. Namun kali ini berbeda, jika kemarin-kemarin masakan Mala kalau sekarang masakan istrinya sendiri.
"Kamu baru mencoba menu baru ini?" Cheval mengelap bibirnya dengan sapu tangan.
"Memang istriku berbeda dari yang lain, ayo kita pulang lagian kita mau berkencan." Menggenggam erat tangan Sindy.
"Aa malu," Sindy berusaha melepas tangannya.
Pasti para pegawai sangat iri dengan Sindy, sudah cantik dapat perhatian lebih dari sang kakak.
"Mereka cocok ya jadi suami istri." Ucap salah seorang karyawan.
"Hus..., jangan keras-keras nanti jadinya fitnah. Mereka kan putra dan putri pak bos, mana bisa menjadi pasangan suami istri," bisik nya pada teman sebelahnya sambil mencubit pelan lengan sahabatnya yang berbicara tidak terkendali itu.
Sindy yang merasa di bicarakan langsung menarik tangan suaminya dengan paksa, sebelum ia berkencan dengan istrinya Cheval terlebih dahulu menelpon sopir untuk menjemput papanya.
"Papa bagaimana, tadi kata mama Aa pergi barengan dengan papa?" Sindy masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tenang saja tadi Aa sudah mengirim pesan pada pak sopir untuk menjemput papa!" Cheval memasangkan seat belt. "Tadi kenapa melepas genggaman tangan Aa, sini aku hukum." Langsung memberikan sentuhan terhangat dengan bibirnya.
Sindy yang sudah terbiasa dengan sikap suaminya seperti ini tidak membalasnya, jika di balas pasti ia menuntut lebih dari berciuman.
"Sudahkan, ayo jalankan kemudinya. Padahal tadi sewaktu di sini aku menyuruh pak Beben untuk pulang, malah sekarang kembali lagi kesini." Sindy memperbaiki rambutnya.
"Benarkah, Aa tidak tau dan tadi pak Beben langsung otw kesini jawabnya," Cheval melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
Sindy hanya menatap sang suami dan bingung harus menanggapi apalagi.
"Aa kita mau kencan dimana?"
"Dimana ya enaknya," sambil memikirkan tempat yang romantis namun tidak membuat kantong menangis, "Aa ada satu tempat yang bisa romantisan, selain full AC dan tempatnya bagus dan semua pemandangan dapat kita nikmati bersama!" Cheval sudah berangan-angan tempat tersebut secara matang.
"Dimana sih Aa, jangan buat aku penasaran deh." Sindy bergembira. "Tapi sepertinya ada yang tidak beres deh dengan ucapan Aa, firasat ku buruk ini." Gumamnya.
Sesampainya di tempat tersebut Sindy langsung tersenyum masam, rasa kecewanya memuncak. Dia pikir akan di ajak ke tempat yang romantis seperti kebanyakkan orang-orang berkencan pada umumnya.
"Disini Aa tempatnya, di atas jembatan. Aku pikir tempatnya tidak disini." Nada bicaranya sangat kecewa.
"Kamu ini, ayo ikut Aa jangan pasang wajah masam seperti itu sayang, nanti suami tampanmu ini dilirik orang lain loh," Cheval menunjuk salah satu tempat yang kosong.
Tepi sungai yang banyak sekali pemuda pemudi yang berkencan. Mereka semua menikmati santapan di dekat tempat tersebut, banyak sekali kios-kios kecil di tepian sungai.
"Mau makan apa, nasi bungkus mau atau nasi goreng itu?" menunjuk penjual nasi goreng.
"Mau Aa, tapi kita pesan satu porsi saja!" Sindy menunggu sang suami yang mengantri.
Banyak yang bertanya apakah sudah menikah atau belum, dengan senyum mautnya ia menunjuk Sindy yang sedang duduk tidak jauh dari tempat tersebut.
"Banyak pengagum dimana-mana, memang suamiku ini tipe semua orang. Tapi sayangnya sudah sold out." Sindy meminum es yang baru saja di bawakan oleh Cheval.
"Betul sayang, kalau masih gak segera aku sold out kan pasti kamu yang sold out duluan," mencium kening Sindy.
Betapa romantisnya keluarga kecil ini, semoga tidak ada yang mengusik ketenangan rumah tangganya. Meski tidak banyak cinta yang terlontar setidaknya sikap dan perilaku mencerminkan betapa mereka saling mencintai satu sama lain. Mereka saling suap menyuapi setelah pesanan datang.
__ADS_1
"Buka mulut Aa, ha... mm." Masuk mulutnya sendiri.
Cheval yang membuka mulutnya kecewa sekali, wajah super imutnya keluar dari persembunyiannya.