
Di dalam mobil.
Momo dan Princess bernyanyi sambil menunjuk ramainya jalanan ibu kota. Sedangkan Lais memutar musik yang sesuai di nyanyikan oleh istri dan anaknya, sambil menari-nari Princess bernyanyi gembira. Mulai dari Balonku Ada Lima, Bintang Kecil, Pelangi Pelangi dan lainnya juga.
Suara Adzan sudah mulai berkumandang dimana-mana saat di perjalanan tadi ada beberapa orang yang membagikan takjil, untuk membatalkan puasa.
"Mas berdoa, terus minum air putih dulu." Momo menyodorkan air putih dalam botol.
"Terimakasih sayang," Lais berdoa untuk membatalkan puasanya dan segera meminum air putih sebagai pembuka nya, setelah itu kurma dua biji ia makan.
Princess juga ikut berbuka dengan makan buah kurma yang biji nya sudah di hilangkan terlebih dahulu oleh Momo.
"Enak sayang kurma nya?" Momo menyuapi lagi mulut Princess.
"Enak Mama!" Jawabnya gembira riang.
Lais yang di kursi kemudi menatap dengan tatapan iri dan cemburu sekali pada putrinya, segitu mempesonanya sang putri.
"Suaminya di lupakan nih." Ketus Lais memanyunkan bibirnya bagian atas.
"Iya," Momo sengaja berucap, ia menguji suaminya dan hitung-hitung meluapkan kekesalannya pada sang suami tadi, yang begitu tega pesan makanan online padahal dirinya bersusah payah memasak tadi, meski hasilnya cuma sayur bening, sambal tomat dan beberapa lauk saja.
"Tega banget sama aku yang." Lais menempelkan tubuhnya di pintu mobil sambil menatap orang berlalu lalang di sekitar ia memarkirkan mobilnya di area parkir taman.
"Biarin, kamu juga tega kan sama aku mas. Sebel tau gak mas, sudah di masakin dengan tulus dan banyak cinta di setiap adukan dan potongan sayur dan bumbu, eh... malah beli makanan online. Meski pada akhirnya aku yang makan sih," Momo sedikit salah tingkah dengan ucapannya barusan.
Marah pada sang suami lantaran membeli makanan dari luar, tapi dirinya sendiri yang menghabiskannya juga.
"Nah... itu kamu sendiri yang makan juga, terus masih mau marah lagi gara-gara pesanan makanan online yang kamu habiskan sendirian dan menyisakan sedikit untukku." Lais mengunyah makanan yang ada di tangannya.
"Ya itu kan bawaan si bayi mas, aku kan gak salah di sini. Lagian kalau tidak aku turuti makan ini itu nanti ileran lagi bayinya, masa iya anaknya seorang Lais Erdana Khan dan cucu dari keluarga Mahendra serta Malik terkenal ileran kan gak lucu padahal keturunan dari dulu gak ada yang ileran," Momo tidak mau kalah juga.
__ADS_1
Haduh sepasang suami istri ini, sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau kalah pembicaraannya satu sama lain, kaku dan alot. Ibaratkan kulit lembu yang di bersihkan lalu di keringkan, kemudian langsung di konsumsi tanpa proses pemasakan terlebih dahulu. Seperti ini lah sifatnya.
Princess hanya menonton perdebatan kedua orang tuanya sambil memakan roti rasa coklat.
"Papa... Mama...." Princess memanggil orang tuanya, secara otomatis mereka berhenti berdebat dan menatap putri kecilnya yang sedari tadi terabaikan keberadaannya.
"Iya sayang," kompak balasan Lais dan Momo.
"Ayo pulang, Princess mengantuk Papa Mama." Princess mulai menguap, terlihat mata kecil dan bulat itu mulai memerah dan berkaca-kaca.
"Sini, Mama gendong dalam pangkuan Mama. Biar nyaman tidurnya Princess." Momo menawari sang putri, namun Princess menggeleng cepat.
"Tidak usah Mama, tempat Princess luas untuk tidur. Biar Adek bayi juga tidur kalau Princess tidur sendiri," Princess merebahkan diri di jok belakang kemudi, yang sudah di sulap sejak Princess bisa merangkak untuk mempermudah pergerakannya.
"Ya sudah kalau begitu sayang." Momo membenarkan seat beltnya.
Betapa bangganya Lais, mendapat anugerah seperti ini, sebagai suami dan orang tua.
"Iya mas, lagi pula aku juga capek mas. Pinggangku rasanya juga mau rontok dan lepas dari tubuhku ini!" Jawabnya memijat sedikit pinggangnya.
Lais tidak tega melihat sang istri kesakitan lagi saat mengandung buah hatinya.
Di dalam kamar.
Princess berada di kamarnya sendiri bersama Lala yang menjaganya.
"Sayang, apakah masih sakit pinggangnya." Mengusap lembut pinggang Momo.
"Lumayan sih mas, tapi sudah lega karena aku sudah minum air putih tadi," Momo mencari sandaran yang pas untuk merebahkan tubuhnya.
"Kalau sakit, bilang sakit saja sayang jangan di tahan." Lais masih mengusap pinggang Momo dan sedikit menekannya agar tidak sakit lagi pinggangnya.
__ADS_1
Kediaman Keluarga Malik.
Pagi yang cerah ini, Sindy sedang memeriksa beberapa berkas yang berada di tangannya ia mulai bingung dan panik dengan apa yang ia lihat. Apa tidak salah nih dengan lembaran kertas yang ia baca dan terima dari Momo.
"Benarkan desainnya seperti ini Momo, yakin tidak salah pilihan?" Sindy mencoba bertanya, pasalnya Momo tidak suka dengan karakter tokoh Marvel selama ini.
"Iya yakin Sindy, sepertinya bagus deh dengan karakter itu. Apalagi jika ada miniatur di sekeliling kamar!" Jawabnya dengan mantap dan yakin 100 persen. Sedangkan Sindy yang di mintai tolong ragu sekali bahkan keraguannya sampai min 100.
Tapi kemudian Sindy mengiyakan saja dari pada nanti Momo menangis lagi seperti yang di ceritakan Lais. Momo yang mendengar Sindy menerima keinginannya langsung berhamburan ke tubuh Sindy dengan gembira dan lebih bersemangat lagi.
"Beneran bisa buat, ah... kamu memang kakak aku yang luar biasa serba bisa dan pintar." Bergelayut manja di lengan Sindy.
Sindy hanya menghela nafas dengan keanehan dan kekonyolan Momo saat hamil, andai ada yang merekam kejadian ini pasti momen ini adalah momen yang tidak akan di lupakan oleh Momo saat pertama kali mengandung anaknya.
"Dasar adik manja, jika ada perlunya panggilnya kakak jika tidak panggilnya nama. Dasar bumil." Mengusap perut Momo yang terlihat sedikit membuncit.
"Biarin, lagian ya baru kali ini aku manja. Apa salahnya sesekali tantenya di buat kerepotan, Inre saja suka akan punya adik," Momo mengusap-usap perutnya.
"Cih... lebay banget lagi." Gumam lirih Sindy dan berjalan menjauhinya.
Dari pada di dekatnya dan di suruh ini itu semaunya sendiri.
"Sindy sayang, kenapa berjalannya mengendap-endap?" Pertanyaan Cheval membuat Sindy terperanjat, ia terkejut.
"Aa, aku terkejut nih!" Menebah dadanya beberapa kali.
"Lagian kamu sih sayang, kenapa berjalannya seperti itu. Seperti habis maling aja." Cheval menggeleng-geleng kan kepalanya dengan sikap yang Sindy tampilkan. Bukan konyol tapi terkesan aneh di lihat kelakuannya.
"Sudahlah dari pada jadi ikut-ikutan aneh aku ke kamar mandi deh, bersih-bersih dulu." Cheval langsung menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.
Momo masih asik dengan kegiatannya, selain menonton Drama Chinese ia juga memakan camilan kerupuk sagu. Ia tidak akan menghabiskan satu toples tapi hanya mencicipi sampai habis.
__ADS_1
"Aku tidak menghabiskan kripik ini, aku hanya mencicipinya saja." Menutup kembali tutup toples tersebut.