ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
57 Kedai kopi Abang


__ADS_3

Siang hari.


Daysi yang baru keluar dari mobil yang di antar oleh Asep kini tersenyum ramah kepada karyawan Ksatria, banyak orang yang terkejut dengan penampilan Daysi yang mengenakan dress selutut dan menggunakan heels tidak terlalu tinggi dan tas mahal yang ia menenteng tas jinjingnya di tangan kiri sementara yang kanan membawa bekal.


Daysi memencet kata sandi untuk masuk lift pribadi Ksatria, karena ia tau jika menggunakan lift umum pasti lama mengingat ini waktu makan siang. Saat keluar dari lift pribadi Ksatria, Daysi terkejut saat ada pria tampan yang baru saja keluar dari ruangan Ksatria.


TTOOKK... TTOOKK....


"Masuk tidak di kunci." Jawab Ksatria yang tidak melihat siapa yang masuk pikirnya Sacha kembali masuk ruangannya dan membual di depannya lagi.


"Ada apa Sacha, mau minta uang muka lagi," Ksatria tidak melihat orang yang ada di depannya.


"Iya, aku butuh uang banyak untuk membelikan pakaian dan mainan untuk anak-anak panti sore nanti," Daysi meletakkan kotak makan siang Ksatria dengan keras.


Tidak habis pikir Ksatria tidak melihatnya bahkan menyebutkan nama orang lain di kira minta uang muka. Ksatria seketika mengeluarkan senyum mautnya padahal 3 detik yang lalu raut wajahnya masam dan dingin.


"Niatnya mau bawa bekal, eehhh malah di suguhkan uang muka lagi." Daysi memonyongkan bibirnya seperti ikan kekurangan oksigen.


Ksatria tidak tinggal diam ia mendekati Daysi dan memberikan sensasi luar biasa di bibir Daysi yang berhasil membuat Daysi melototkan matanya. Daysi memukul dada bidang Ksatria karena kali ini sentuhan di bibirnya begitu kuat.


"Aahh... pasti bengkak ini, dasar ganas." Sindir pelan Daysi yang hampir tak terdengar oleh makhluk hidup.


Ksatria menarik pipi chubby milik Daysi sampai-sampai Daysi mengeluh kesakitan.


"Sakit tau, besok-besok aku gak mau menghantar makanan lagi." Menyilangkan kedua tangannya di depan perut.


"Aku lapar ayo suapi aku, hari ini ada banyak pekerjaan. Aku tambah lapar lagi saat mendengar ocehan darimu," diiringi senyum termanis. Dan mengambil laptopnya yang ada di meja lalu kembali duduk di sofa sebelah sang istri.

__ADS_1


Daysi yang hampir kesal lagi di buatnya kini mendadak sirna saat Ksatria tersenyum begitu manis dan menggoda iman.


"Haahh... aku kalah kalau seperti ini terus, senyumnya membuat hati langsung meleleh. Pantas saja banyak yang mengejar-gejar dia." Dalam batin bergumam sambil menyuapi mulut Ksatria.


Setelah makan siang Daysi tidak di izinkan pulang oleh Ksatria, Ksatria memintannya untuk tetap tinggal dengan alasan yang bermacam-macam. Ada macetlah, sopir sudah di suruh pulang, taxi lagi pada demo, mobil lagi di servis dan nanti sore baru selesai selain itu untuk menyemangati saat berkerja dan lain sebagainya yang di ucapkan Ksatria.


Daysi mengalah dan diam di sofa sambil memainkan game virtualnya, sesekali ia tertawa saat melihat kelucuan kucing peliharaannya di ponsel.


Ksatria mengerutkan dahinya saat mendengar tawa lirih Daysi saat menatap ponselnya, setidaknya Daysi mau berlama-lama di ruangannya sambil menemani hari kerja saat ini.


Sore hari.


"Aku bosan, ayo pulang perutku berdemo sedari tadi." Daysi mengangkat tas jinjingnya.


Ksatria meraih pergelangan tangan Daysi dan menghentikan langkahnya. "Kita makan di luar ya, sekalian kita berkencan," di selingi senyum.


Saat di dalam mobil.


Daysi hanya fokus menatap luar cendela matanya menatap setiap bangunan yang menjulang tinggi dan pohon-pohon yang tumbuh di tepi jalan yang sangat terawat.


"Apa pohon itu akan tetap di situ dan di perhatikan kehidupannya?" menatap Ksatria sebentar yang tengah fokus dengan kemudinya.


"Iya, kota saat ini mementingkan penghijauan dan keindahan suasana kota, agar kota tidak di pandang buruk karena asap kendaraan!" Ksatria melajukan mobipnya dengan kecepatan rata-rata.


"Bukan itu yang aku ingin dengar Sat, adai kamu tau." Resahnya dalam hati, "aku takut jika suatu saat nanti pohon itu tergantikan dengan pohon yang lain dan lebih menarik." Daysi berusaha menetralkan suasana hatinya.


Ksatria menatap seklias. "Kita mau kemana Daysi?"

__ADS_1


"Ke pasar pecah aja, aku mau mampir ke kedau mobil Abang." Daysi fokus menatap arah jalan.


Hawa dingin menusuk tulang, seperti ada balok es yang sedang mendesak dan mengurangi oksigen kehidupan karena udara semakin berkurang, lalu Daysi menoleh dan langsung tersenyum.


"Boleh yaaa..., sekali ini saja besok-besok juga ya. Lagian Abang kan temanku buka siapa-siapaku." Masih menyunggingkan senyumnya.


Ksatria masih menatap tajam, helaan nafas panjang terdengar. "Baikah, untuk bidadariku tercinta.


Pasar Pecah.


Daysi langsung keluar mobil ketika ia sampai di pasar pecah, tanpa menuggu Ksatria yang memarkirkan mobil. Ksatria segera menyusul karena ia tau tempatnya karena pernah mengikuti beberapa kali saat Daysi menghampiri Abang di pasar pecah.


Daysi tengah asik memesan langsung tanpa di sadari bahwa Ksatria sudah ada di belakangnya, Abang hanya memberi kode jika suaminya di belakangnya. Namun Daysi mengabaikan keberadaan Ksatria, Ksatria yang di abaikan memilih duduk dari pada berdiri terus dan buang-buang tenaga. Inilah salah satu sifat Ksatria yang tidak bisa di rubah meskipun ia sangat mencintai wanita yang singgah di hatinya jika wanita itu tidak menggangap keberadaanya ia tidak akan maju lagi dan hanya berdiri di tempat.


Setelah selesai memesan minuman kesukaannya kopi arabica 2 cangkir Daysi tersenyum saat membawa nampan. Ksatria hanya menatap sekilas.


"Apa sudah selesai berbicaranya, sepertinya sangat menyenangkan bercakap ini itu dan membiarkanku berjamur di kursi ini?" sindir Ksatria pada Daysi.


"AA... HAA... HAA..., mana coba aku lihat kalau berjamur," sambil menarik telapak tangan Ksatria. "Tidak ada yang berjamur!"


"Otak aku yang berjamur gara-gara menunggumu sambil berpikir kamu mengabaikanku." Ksatria segera menyeruput kopi arabica yang baru saja sampai.


Ada beberapa camilan yang mengenyangkan, terlihat dari tampilannya. Ksatria dan Daysi memakan makanan tersebut sambil melempar senyum dan saling menyuapi. Betapa romantisnya dua insan yang sedang di mabuk asmara tersebut.


Abang hanya mengelus dadanya berharap segera memiliki kekasih agar dirinya tidak galau gara-gara jomblo.


Tak terasa makanan dan kopi yang di pesan telah habis, bahkan lampu-lampu mulai menyala. Karena pasar pecah ini buka 24 jam, jadi wajar pasar ini tetap ramai pengunjung berbagai macam makanan dan kuliner di sini tempat dan pusatnya, yang lain lewat.

__ADS_1


Ksatria yang melihat senyum bahagia Daysi ia ikut tersenyum dan menikmati acara romantisnya ini. Ksatria sengaja melepas jas dan kemejanya agar orang-orang tidak banyak membicarakannya, untung ia dan Daysi selalu menggunakan masker jadi aman di tambah lagi topi untuk menutupi rambutnya.


__ADS_2