
Cheval pasrah sudah, lagian sebentar lagi memasuki bulan suci Ramadhan. Hitung-hitung mencicil puasa, menahan lapar dan nafsu.
"Apa kamu mengantuk sayang?" meletakkan kepala Sindy di pundaknya. Namun Sindy bergeser ke paha Cheval dan menatap langit yang kebetulan cerah dan banyak taburan bintang dan planet di angkasa.
"Sedikit Aa, tapi anak-anak masih asik bermain. Aku tidak bisa tidur dengan tenang sebelum mereka tidur lebih dahulu!" Sindy menatap putrinya yang sedang bermain dengan kedua orang tua Sindy dan bermain dengan Lais, Momo serta putrinya Princess.
"Tidurlah sayang, nanti Aa gendong ke dalam tenda. Biar anak-anak Aa saja yang menghendel, aku tau kamu lelah seharian ini." Meyakinkan sang istri agar lebih dulu tidur dari pada dirinya.
"Terimakasih Aa," Sindy memejamkan matanya, namun belum terpejam suara deburan ombak mengejutkannya.
Sindy duduk dan langsung menatap air laut yang naik turun.
"Kenapa bangun sayang?" Cheval meraih tangan Sindy dan menggenggamnya dengan erat.
"Tidak apa-apa Aa, cuma terkejut saja!" Sindy menikmati momen romantis ini.
Inre mendekati kedua orang tuanya, dan menengahi mereka. Cheval mendengus kesal, momen yang jarang seperti ini terganggu putrinya.
"Sudah selesai bermainnya nak?" Sindy membenarkan anak rambut Inre.
"Sudah Mama!" jawab bocah gembul sambil duduk di pangkuan sang papa.
Lais dan Momo masuk ke dalam tenda dengan Princess begitu juga dengan Daysi dan Ksatria, tapi sebelum itu Momo dan Daysi lebih dulu membereskan kekacauan nya setelah acara bakar-bakar tadi.
Liburan seperti ini sangat mengesankan untuk di nikmati siapa pun dan kapan pun itu, asalkan dengan orang yang ia cintai dan sayangi.
"Momo sayang, nanti saat bulan puasa kita pergi ke desa Pesantren yuk, hitung-hitung menambah wawasan dan juga pahala." Ucap Lais yang membuat Momo sangat kagum pada suaminya.
Pelukan hangat dari tubuh Momo membuat Lais sangat menyukainya. Lais membalas pelukan Momo.
"Bagaimana, setuju tidak?" Ulang Lais menanyai istrinya.
"Setuju mas, kemana pun mas mengajakku pergi saat bulan suci Ramadhan aku tetap mengiyakan, lagian itu baik dan supaya berkah pernikahan kita ini!" jawab Momo membuat Lais sangat sangat beruntung di pertemukan istri seperti dia.
__ADS_1
Lais juga tidak menyangka jika Momo yang sekarang bukan Momo yang dulu, ia terlihat sangat dewasa dan bijaksana. Sungguh wanita yang luar biasa, ia mampu menerima masa lalu suaminya dan bahkan menerima putrinya seperti anaknya sendiri.
"Terimakasih sayang, sudah menjadi istriku dan bidadariku." Pelukan dan ciuman Lais berikan di dahi Momo dengan penuh kasih sayang serta cinta yang sangat luar biasa.
Keesokan harinya.
Mereka semua menikmati matahari terbit di pantai tersebut, matahari sangat bagus dan indah untuk di nikmati. Rasanya tidak mau pulang ke rumah jika di suguhkan pemandangan yang begitu menakjubkan, Yang Maha Kuasa memang Maha Sempurna.
"Bagus sekali ya pemandangannya." Lais mengarahkan kamera kepada Momo.
Semua orang tiba-tiba berkumpul dan ikut berfoto, mau tidak mau Lais menekan ponselnya dan ikut ber-selfie. Poto ini akan menjadi kenang-kenangan terbaik dalam sejarah hidup ini.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Lais saat sudah berada di rumah.
"Suka, foto ini sangat bagus dan cantik. Tapi...," Momo tiba-tiba bersedih, ia teringat kedua orang tuannya yang sudah kembali Kepada Yang Maha Kuasa.
"Sayang, jangan bersedih. Ayo kita doakan bersama ke makam Ayah dan Bunda nanti sore." Ajaknya sambil menenagkan hati istri tercintanya.
"Iya mas, aku ke dapur dulu ya mas perutku lapar," pamitnya langsung menuju dapur.
"Suster Lala, jika nanti Mama punya adik bayi berarti Princess jadi kakak dong?" Tanya Princess menatap Lala.
"Iya dong, jadi karena non Princess akan menjadi kakak. Tidak boleh menangis lagi, biar adik non Princess cepat besar dan bisa di ajak bermain!" jawab Lala membuat Princess bahagia.
"Ye... Princess punya adik bayi, kalau punya adil bayi Princess mau yang laki-laki tidak mau yang perempuan, jika perempuan Princess punya saingan." Jawab Princess seperti orang yang sudah paham.
"Kenapa tidak mau perempuan, bukannya adik perempuan bisa di ajak bermain bersama seperti ink?" Tanya Lala sambil menggoyangkan boneka Barbie nya.
"Pokoknya tidak mau suster Lala, Princess tidak mau berbagi Mama!" jawabnya membuat Momo yang baru datang terkejut.
Putrinya tidak mau adik perempuan, jika suatu saat ia mengandung dan melahirkan bayi perempuan. Apakah Princess akan membenci dan tidak menyukai kehadirannya.
"Sabar Momo, ingat Princess hanya anak kecil. Pasti saat ia tau akan menjadi kakak ia tidak akan mempermasalahkan jenis kelamin adiknya, baik perempuan atau laki-laki." Momo menyapa Princess.
__ADS_1
"Princess sayang." Membawakan satu piring yang berisi camilan sehat.
"Mama," Princess langsung berdiri dan berlari memeluk Momo.
Momo sangat terharu dengan sikap yang di tunjukkan dari putrinya itu, meski bukan lahir lewat rahimnya. Akan tetapi Momo menganggap Princess sebagai putri kandung yang teramat ia sayangi dan cintai dalam hidupnya.
Lais yang baru selesai membersihkan tubuh ikut masuk ke dalam ruang bermain Princess, sedangkan Lala keluar dari ruangan tersebut atas perintah Lais untuk meninggalkan Princess.
Benar-benar keluarga harmonis dan sangat baik, penuh cinta.
Suara deringan ponsel Lais membuyarkan keromantisan ini, Lais menatap malas ponselnya. Kenapa di jam seperti ini dan momen dengan keluarganya terganggu lagi dan lagi.
"HALO APA." Teriak Lais di ponselnya.
Seseorang yang menelponnya sangat terkejut bukan main, sampai-sampai ponselnya jatuh ke lantai dan pecah.
"Sial, jatuhkan. Mati pula ponselnya."
Kembali ke Lais.
Lais masih saja berteriak dengan ponselnya, sehingga ia jadi tontonan Princess dan juga Momo.
"Ma... Papa kenapa, kenapa teriak-teriak dengan ponselnya. Apa suara Papa tidak apa-apa atau telinga Papa sakit ya Ma, sampai-sampai Papa seperti itu?" tanya Princess dengan polosnya.
Momo ingin sekali menertawakan pertanyaan Princess. Tapi jika di jawab pasti ia tanya lagi dan lagi tapi jika tidak di jawab sama juga, tanya terus menerus.
"Tidak apa-apa sayang, Papa kamu!" Jawab Momo.
Princess tetap curiga dengan sang Papa. Ia pun berjalan mendekatinya.
"Papa kenapa?" menarik baju Lais. Lais langsung berjongkok dan menatap sang putri dengan senyum yang sangat lebar, serta mengacak-acak rambut Princess.
"Papa tidak apa-apa sayang!" Lais mengendong tubuh Princess di lengannya sambil menciumi pipi Princess kanan dan kiri dengan gemasnya. "Cantiknya anak Papa," melanjutkan menciumi sang putri.
__ADS_1
"Ternyata aku juga iri dengan anak kecil, padahal jelas-jelas Princess putrinya dan sekarang putriku juga. Tapi rasa iri ini kenapa menghantui hidupku, apa aku akan bahagia dengan Lais atau sebaliknya. Aku juga ingin kisah cintaku baik dan tidak gagal di tengah jalan, aku ingin bahagia." Momo tersenyum melihat pemandangan ini.
Lais yang baru sadar jika dirinya mengabaikan istrinya. Ia langsung menghampiri Momo dan menciumnya juga, Momo sempat menghindar namun lengan kokoh Lais menariknya dengan kuat sehingga pipi Momo jadi sambaran bibir lembut Lais.