
Masih saja Lais tersenyum-senyum, tapi tidak dengan Momo yang kesal.
Lais menatap wajah Momo dengan gemasnya, sang istri tengah marah hatinya.
"Sayang coba kamu perhatikan pakaianku dengan yang ada di vidio, apakah sama dan kamu cari juga pakaianku yang sama di video tersebut." Ucap Lais sambil menunjuk video dan foto yang ada di layar ponsel Momo.
Momo yang baru sadar hanya menatap pakaian yang Lais kenakan sedari pagi.
"Apa dia tidak percaya, matilah aku."
"Bohong, kamu kan berduit tebal bisa jadi pakaiannya sudah kamu buang tadi sewaktu pulang ke rumah, hu... hu... kamu jahat Lais. Seharusnya aku tidak mau kamu ajak menikah kemarin." Momo kembali menangis sesenggukan.
"Begitu sensitif perasaan Momo sekarang, aku tau kesedihannya saat ini. Kemarin kita menikah dan sekarang aku secara tidak sengaja melukai hatinya." Batin Lais ikut menangis.
"Sayang stop jangan menangis, video dan foto itu sudah sangat-sangat lama bahkan sebelum kamu berkerja di perusahaan Momo, kemudian setelah kejadian itu makanya ada larangan tidak ada yang bisa masuk kecuali orang kepercayaan ku yang membersihkan tempat itu," Lais berusaha meyakinkan Momo sebisa mungkin sambil memeluk tubuhnya dan mengusap punggungnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Iya, ya sudah aku mau cuci muka dan temani aku ke makam Ayah dan Bunda kemarin kita belum kesana karena kamu mendadak menikahi ku." Ucap Momo dingin.
Lais hanya menghela nafas panjang, istrinya mulai dingin. Cobaan rumah tangganya baru di mulai, ayo mulai bertempur Lais, kamu saja bisa menaklukkan bisnis sampai kemana-mana produk jam milikmu masa menghadapi rumah tangga yang kamu bangun sendiri tidak bisa.
"Aku mau ganti pakaian dulu." Momo menatap Lais sekilas saat ia baru keluar dari kamar mandi.
Pemakaman Umum.
Lais berjalan di belakang Momo yang membawa bunga untuk di tabur di atas pusaran kedua orang tua Momo, pemakaman yang bersebelahan dengan makam orang lain.
Lais dan Momo mendoakan ayah dan bunda, dulu bundanya Momo sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Sosok hangat dan lembut membuat Lais merasa sangat nyaman, tetapi satu yang tidak membuatnya tidak nyaman yaitu ketika sang Ayah tidak menyukai dirinya lantaran dia kenal dengan Marc William yang tak lain adalah papanya meski bukan papa kandung.
Mungkin karena itulah ayah Momo tidak menyukai keberadaan Lais, tetapi Lais juga terkejut waktu pengumuman kelulusan dulu ternyata ayah Momo meninggal dunia dan sejak itu Momo tidak pernah bertemu, dan terakhir saat wisuda itupun hanya sekejab saat Momo menerima penghargaan salah satu mahasiswi terbaik di kampus, kemudian ia bertemu lagi saat tidak sengaja membeli nasi goreng, itupun mendapat sambutan hangat di perut atau pukulan hangat sampai berdenyut ngilu, setelah itu Momo menghilang bak di telan bumi.
"Sayang, apa kamu lapar?" tanya Lais sambil memegang pundaknya.
"Tidak!" jawabnya datar.
KKRRUUKK...
"Tapi perutmu tidak mungkin berbohong kan." Goda Lais sambil mencium pipi kiri Momo.
"Maagku sedang kambuh, makannya perutku berbunyi," elak Momo sambil berjalan cepat menuju warung yang tak jauh dari pemakaman ini.
Terkesan sedikit mistis ya kenapa ada warung di dekat pemakaman umum, tetapi warung tersebut tidak menakutkan lantaran tidak hanya satu orang yang berjualan melainkan banyak ada sekitar 6 sampai 7 warung yang ada bahkan ada pedagang keliling juga, seperti cilok dan es cincau.
Pemakaman umum yang unik, pantas saja banyak orang yang berjualan sebab pemakaman umum disini ramai pengunjung. Selain itu pemakaman ini ada Imam besar kota ini jadi bisa di maklumi dan juga keturunan Imam besar pendiri pondok Pesantren kota ini. Yang kebetulan pondok Pesantren tepat di sebelah pemakaman umum ini.
Aku melihat Momo sudah memesan makanan, aku bertanya-tanya kenapa hanya satu porsi apa dia mau makan berdua denganku, oh... romantisnya dan aku berjalan menuju bangku di depan Momo. Dengan tatapan bahagia
"Kita makan berdua." Lais duduk di dekat Momo.
__ADS_1
"Tidak, kamu pesan sendiri jika mau. Aku masih marah padamu Lais," jawab Momo ketus pada Lais.
Inilah konsekuensinya jika punya scandal di masa lalu, ribet dan membuat pening kepala. Sudahlah jalani dengan ikhlas dan tabah serta berdoa yang banyak. Lagian memang dirinya sendirilah yang salah untuk apa aku mengeluh ini itu.
Ambil sisi positif dan buang sisi negatif, semangat Lais untuk meraih hati Momo kembali. Yakinlah pada diri sendiri bisa menaklukkan hati Momo yang sekarang berkobar amarah.
Setelah pulang dari pemakaman aku segera mengajak Momo ketempat yang sejuk dan segar untuk di nikmati, dimana lagi kalau bukan pantai. Tempat dimana aku sering menghabiskan waktuku sendiri setelah kehilangan Momo dulu, dan tempat ini saksi bisu aku meluapkan emosiku. Tangis, sedih, bahagia, amarah menjadi satu di tempat ini.
Dan hari ini aku kesini lagi dengan suasana beda, yaitu dengan wanita yang sangat-sangat berarti dalam hidupku setelah mendiang mama.
Siang ini suasana pantai sangat terik dan panas cocok untuk menikmati hari sambil berduaan dengan pasangan. Aku memeluk tubuh Momo dari belakang aku tidak peduli banyak orang yang melihat tingkahku yang seperti ini.
Yah... benar aku jadi budak cinta setelah sepuluh tahun lebih aku memendam perasaan pada Momo yang tak pernah luntur di makan oleh waktu. Rasa cinta dan sayangku pada Momo tetap abadi, benar-benar seperti bunga abadi saja. Selalu mekar, wangi dan cantik untuk di nikmati, itulah cintaku padanya.
"Lais, lepaskan aku mohon banyak orang di sini." Momo meronta saat aku peluk dan berusaha melepaskannya.
"Kenapa, apa kamu malu aku peluk?" tanyaku sedikit kecewa karena dia memintaku melepaskan pelukanku.
"Tidak, aku capek berdiri sedari tadi apa kamu tidak ingin merasakan air laut dan bermain pasir di pantai ini!" jawab Momo menatapku dengan senyum merekah.
DDEEGHH
Apakah Momo memaafkan aku, senangnya diriku Alhamdulillah jika dia memaafkanku. Setidaknya aku akan membuat Momo bahagia sekarang meskipun aku tau ada goresan luka di hatinya.
Kami berdua menghabiskan waktu bermain dengan air laut dan pasir yang ada di bantai.
"Cantik ya kerangnya, tetapi kenapa tidak ada yang mau mengambil untuk di simpan."
"Kamu mau bawa pulang?" tanyaku menatap Momo yang dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Ayo pulang Lais, aku lapar ingin makan mie instan dengan telur," Momo berjalan lebih dahulu sementara aku dengan secepat kilat aku mengantongi satu kerang yang tadi di sukai Momo, bahkan kerang itu di jadikan mahkota di menara pasir yang ia buat.
Momo sudah duduk di salah satu warung yang ada di tempat ini bahkam sudah memesan mie instant. Tempat ini juga menyediakan pakaian khas pantai ini untuk oleh-oleh orang yang berkunjung di pantai ini.
"Lais aku mandi dulu ya."
"Iya," jawabku tersenyum. Momo meninggalkanku sendiri dan langsung membeli pakaian dan keperluan lainnya.
Sekitar 10 menit Momo sudah membersihkan dirinya dan dia memberikanku pakaian baru untuk ganti pakaian.
"Pink... kenapa harus warna pink." Aku menatap setelan pakaian pemberian Momo.
"Tidak suka, buang aja lagian adanya cuma itu yang paling bagus menerut aku," Momo semakin agresif sekarang kenapa ia marah-marah terus apa dia lagi PMS atau masih mode ngambek ke aku.
"Iya aku pakai, pemberian dari istri tercinta ya harus di pakai." Aku mencium pipi Momo secepat kilat dan bergegas membersihkan diri.
Kali ini aku ke pantai dengan wanita yang paling aku cintai, makan mie instan dengan telur bersama meski tidak satu mangkuk. Tetapi tetap romantis, kesederhanaan yang berkesan.
__ADS_1
Mungkin pengalaman berkesan ini banyak yang mengalaminya tidak cuma diriku saja, aku yakin orang lain juga membahagiakan pasangannya dengan cara-cara seperti ini, sederhana dan tak terlupakan.
Aku segera keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, tubuhku yang lengket kini segar kembali dan nanti setelah pulang aku berendam lagi.
"Bagaimana penampilanku sayang." Aku membuka kedua tanganku dengan lebar seraya berharap Momo berlari kepadaku dan memelukku dengan erat.
"Oke juga," jawab singkat padat Momo padaku.
Dan dia hanya menatapku sekilas kemudian melanjutkan aksi makan mie yang terlihat sangat pedas sebab warna dalam mangkuk mie milik Momo sangat pekat warna merah kehitaman. Apakah mie itu enak di nikmati, kenapa kebiasaan Momo makan seperti itu tidak hilang.
"Hiks... kenapa tidak peduli denganku kalau aku di culik tante-tante nakal bagaimana. Apa kamu rela aku di kerumuni wanita lain." Aku duduk di samping Momo setelah ia mematahkan bayanganku yang sangat istimewa.
"Mau di sentuh tante-tante, aku sentil ginjal kamu," ucap Momo mengarahkan garpunya padaku.
"Kamu cemburu ya... ngaku dong Momo biar aku senang saat ini." Godaku pada Momo sambil berharap lebih.
"Biasa aja, siapa yang cemburu. Mana ada aku cemburu, cuma kesel aja sudah punya istri masih saja mau di goda orang lain, mengharap banget ya kamu di goda orang, dasar laki-laki keganjenan," Momo berucap sambil memasukkan mie dengan banyak dalam mulutnya.
Momo gak peka, aku marah. Aku silangkan kedua tanganku di depan dada biar dia sadar jika aku sedang marah dan butuh perhatian, untung Princess tidak ikut jika ikut aku pasti di duakan dan di biarkan suami rasa jomblo lagi.
"Kenapa tidak makan, apa mienya tidak suka. Kamu tidak mau makan mie instan lagi setelah sukses Lais." Sindir Momo dengan tajam.
"Kenapa sekarang bicaramu pedas sekali sih Momo, apa kamu hobi makan cabai sekarang sampai-sampai pedas berucap," aku segera memakan mieku dengan cepat.
UUHHUKK
UUHHUKK
"Minum dulu." Momo memberikan air putih dalam kemasan.
Aku segera minum air tersebut, haduh... rasanya tenggorokan dan hidungku panas dan pengar. Lain kali aku tidak akan mau berdebat lagi soal cabai, kena karma secara instan ternyata. SSIAALL.
"Terimakasih sayang," ucapku sambil cengegesan.
"Lain kali ngak usah jelek-jelikin ucapanku yang pedas kena karmakan kamunya, tadi kalau saja kamu tidak berucap seperti itu mungkin kamu tidak akan kesedak mie pedas itu, jika ingin mengulangi silahkan dan aku pastikan tidak menolongmu untuk yang kedua kalinya." Momo melanjutkan makannya.
Sementara diriku merenungi nasib, ohh... nasib-nasib kapan akan berpihak padaku. Momo marah-marah padaku, aku sadar aku salah tapi, hiks... sabar-sabar.
Momo yang melihat tingkah Lais yang sangat menderita dengan ucapan dan tingkahnya seharian ingin sekali tertawa, tetapi karena terlanjur berakting dari pagi, nanggung jika tidak di lanjutkan. Sesekali suami ngeselinnya di kerjai biar luluh nantinya, semoga berjalan baik dan lancar sampai nanti pulang ke rumah.
"Ayo pulang dan jangan lupa bayar semuannya tidak sampai 200 ribu totalnya dengan baju yang kamu kenakan. Sayang." Momo mengedipkan satu matanya dengan nakal.
Apa yang barusan aku lihat, apa itu kode untukku nanti di rumah, aahh... senangnya hatiku.
Setelah membayar semua Lais segera menyusul Momo yang sudah berjalan lebih dulu ke parkiran mobil.
"Momo, apa kamu sudah memaafkan aku sepenuhnya?" aku menatap wajah Momo sambil mengerutkan kedua alisku.
__ADS_1
"Belum, kata siapa sudah. Lagian tadi aku tidak sengaja mengedipkan satu mataku lantaran ada debu yang masuk!" jawab Momo berbohong.
Di dalam mobil hanya ada suara musik lembut yang terdengar dan suara mesin mobil, aku hanya diam sambil menatap Momo yang asik menikmati pemandangan sekitar perbukitan ini, banyak orang berlalu lalang melewati jalan ini. Karena hanya jalan ini yang menghubungkan untuk langsung ke ibu kota.