ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
233. Nadia di lamar Emillia


__ADS_3

Penjual terang bulan.


Padahal ini sudah sangat malam, tapi pembeli masih saja berdatangan untuk membeli martabak dan terang bulan. Lais melihat Momo sangat ingin di dulukan namun karena antrian ia terpaksa menahan itu.


"Sabar dulu ya nak." Mengusap lembut perutnya.


Setelah menunggu hampir satu setengah jam pada akhirnya Momo dapat merasakan terang bulan itu, Lais tersenyum melihat sang istri yang makan belepotan seperti anak kecil saja. Bahkan Princess saja tidak seperti ini, jika ada sisa makanan di bibir pasti segera ia usap meski mengusapnya tidak benar dan masih menggunakan lengan bajunya sebagai lap bibirnya.


"Kenapa belepotan seperti ini sih sayang makannya." Mengelap dengan sapu tangan.


"Gak romantis banget pakai sapu tangan," Momo melanjutkan makannya.


"Kalau mau romantis di rumah saja." Bisik nya pada sang istri. Lais merasa ada yang aneh dengan istrinya, kenapa mendadak mau yang romantis-romantisan. Jangan-jangan nanti anaknya perempuan lagi plus manja.


"Ya Allah apa pun nanti jenis kelamin anak kami, tolong hindarkan dari kemanjaan. Supaya kedua orang tuanya tidak pusing Ya Allah." Lais berdoa terus-terusan di dalam hati.


"Mas mau?" Momo menyodorkan satu potong pada Lais, Lais segera membuka mulutnya. Lagian semenjak bertengkar waktu itu Momo sama sekali tidak menyuapi dirinya lagi.


Kesempatan emas harus di gunakan sebaik mungkin, jangan di sia-siakan nanti rugi belakangnya.


Makan romantis dengan terang bulan sangat bagus. Rasanya ingin sekali seperti ini tanpa ada pertengkaran yang membuat dua hati jadi satu retak bersamaan.


Di tempat lain.


Emillia memikirkan masa depannya, usianya tidak muda lagi sudah menginjak kepala 3 yaitu 31 tahun. Yang artinya Nadia berumur 38 tahun, jika wanita yang ia cintai tidak segera ia nikahi pasti ibunya akan menjodohkannya lagi dengan laki-laki tua.


"Aku tidak rela jika Nadia menjadi milik orang lain, aku harus kesana lagi besok dan melamarnya. Setelah lebaran baru ke jenjang pernikahan." Emillia berangan-angan sampai ke langit, semoga Nadia mau menerima cinta tulusnya ini.


Sedangkan Nadia menangis dalam diam di kamarnya sambil menatap kotak cincin tersebut, pasti cincin itu untuk Dhela. Secara Dhela cantik dan lebih sempurna selain itu umurnya masih muda dan sangat menarik hati. Pasti laki-laki yang menjadi suaminya adalah laki-laki beruntung sekali.


"Sepertinya aku harus sadar diri, pelan-pelan melupakan kamu. Pasti bisa." Nadia menatap foto Emillia di ponselnya, ia hendak menghapusnya tapi tidak jadi karena fotonya semua tampan dan menawan. Sayang jika di hapus begitu saja dari galeri ponselnya.


"Hapus... tidak ya...? Kalau di hapus tidak ada wajah tampan yang ada di ponselku. Tapi jika tidak di hapus bukannya aku seorang pelakor, hu... hu...." Menangis palsu.

__ADS_1


Satu buah pesan masuk ke ponsel Nadia, ia menatap dan baca.


"Ada pesan masuk, baca tidak ya. Coba aku geser sedikit tulisannya." Nadia terkejut dengan pesan singkat itu.


Kediaman Malik.


Ksatria sedang menikmati secangkir cappucino buatan Daysi, ia rindu dengan minuman ini. Sudah lama sekali ia tidak meminum minuman ini, rasanya sangat nikmat sekali.


"Em... rasanya nikmat sekali cappucino panas ini." Memejamkan mata dan mulai menikmati suara jangkrik malam hari dan angin sejuk.


"Malam Pa. Sedang apa?" Cheval duduk dan meminum susu yang ia bawa dari dapur.


"Sedang menikmati suasana malam ini, sudah lama Papa tidak menikmati malam yang begitu mempesona!" Jawab Ksatria melanjutkan meminum cappucino nya.


Tidak banyak yang di obrolkan Ksatria dan Cheval, hari ini hari paling melelahkan. Namun juga membahagiakan untuk keluarga ini, banyak yang mendoakan keluarga Malik.


Seperti ini kegiatan keluarga Malik setiap harinya, tentram dan damai tanpa ada ketegangan seperti dulu saat Cheval dan Sindy saling perang dingin.


 ***


✉️ Kenapa hanya di baca tidak di balas? (Emillia), mengirimkan pesan.


✉️ Tidak apa-apa. Tadi pesan mu itu maksudnya apa, jangan memberi harapan palsu padaku Emil. Usiaku tidak muda lagi, aku tidak mau main-main jika masalah ini! (Nadia)


✉️ Aku tidak memberi harapan palsu, aku benar-benar ingin menjadi suami dan imam kamu Nadia. (Emilia)


Dengan degup jantung yang berdetak cepat Emillia beranikan untuk mengungkapkan perasaannya.


Nadia membeku di tempat, rasanya seperti mimpi di malam hari ketika pagi ternyata bunga tidur. Ia mencubit dan menggigit lengannya memastikan ini nyata bukan hayalan semata.


"Aww... sakit, ini benar-benar nyata. Aduh dia telpon, bagaimana ini." Nadia mulai panik sendiri ia gerogi dan takut secara bersamaan.


Emillia yang menunggu jawaban dari Nadia terus saja menelpon sampai Nadia mau menjawab telponnya itu.

__ADS_1


"Kenapa tidak di angkat sih, apa dia menolak ku. Karena aku terlalu lama melamar dia sampai tahunan. Bukannya ia tau aku berjuang demi dia demi masa depan kita berdua?" Emillia juga ikutan panik.


Keesokan harinya.


Setelah berbuka puasa, Emillia berkunjung ke rumah Nadia. Nadia yang sudah berdandan sedikit ia malu sekali, baru kali ini ia berdandan meski dengan polesan sedikit.


Emillia tertegun saat melihat Nadia yang rapi dengan jilbabnya, sangat cantik dan seperti bidadari dari surga.


"Masyaallah sungguh indah CiptaanMu Ya Allah." Emillia bahkan tidak berkedip sedikit pun.


Tapi ia segera mengucap istighfar dan mengingat nama Allah. Nadia tersenyum mendengar Emil mengaguminya. Saat ini hanya ada mereka berdua di rumah ini tentunya mereka berbicara di teras rumah, takut terjadi fitnah.


"Nadia, aku datang kesini ingin melamar dan meminangmu untuk menjadi istriku, ibu dari anak-anakku. Apakah kamu bersedia?" Emillia menunjukkan sepasang cincin pada Nadia.


Nadia tersipu malu dan mengangguk ia setuju dengan lamaran Emil.


"SELAMAT MBAK NADIA." Ucap semua orang yang datang tiba-tiba di rumah Nadia.


Semua keluarga Malik dan Mahendra datang untuk mengucap selamat, sang ibu yang berada di pesantren juga pulang untuk menyelamati sang putri. Tiyas sang ibunda Nadia terharu, di usia senjanya sang putri benar-benar akan menikah dan tidak jadi perawan tua seperti para tetangga yang mengolok-olok dirinya dan putri semata wayangnya.


Maklum saja umurnya hampir 40 tahun dan belum juga menikah.


"Ibu." Nadia yang bahagia langsung memeluk sang ibu seraya menangis bahagia. Tiyas menenangkan sang putri dan memberi semangat.


Bulan ini bulan yang penuh berkah untuk semua orang.


"Jangan lupa bukber nya besok." Cheval mengingatkan Emillia.


"Iya tenang saja ada ko, jika perlu aku sewa chef terkenal di kota ini. Bagaimana?" Emillia tersenyum sombong.


"Setuju!" Nadia tersenyum pada calon suaminya. Emillia kena batunya, ternyata tawarannya langsung di setujui sang pujaan hati.


"Baiklah, karena hari ini acaranya dadakan jadi aku pesan bakso paling enak di desa ini." Emillia menunjuk penjual bakso daging yang tidak jauh dari rumah Nadia.

__ADS_1


Semua langsung menyerbu makanan tersebut tanpa sungkan lagi.


__ADS_2