
Banyak typo berterbangan di karya ini.
***
Aurellia menatap seluruh tubuh Daysi apa ada yang terluka saat berada di perjalanan. Sambil memutar-mutarkan tubuh Daysi.
"Relli hentikan, aku pusing apa kamu tidak kasihan melihatku seperti ini?" Daysi mengeluh karena terus terang otaknya yang baru saja jernih kini kembali berputar dan gaduh saling beradu.
"Oke... oke... maaf ya, bagaimana perjalananmu sampai sini apa ada masalah. Oh ya Kakak tadi berpesan agar aku di sini juga untuk sementara waktu Daysi!" Aurellia menarik tangan Daysi agar ia duduk di kursi kayu tersebut.
"Aku baik-baik saja sama Aak sampai sini, emm Relli aku minta maaf ya." Daysi menatap wajah Aurellia.
Aurellia binggung kenapa Daysi meminta maaf pada dirinya, "soal apa?"
"Eemm... aku tidak tau jika Abang masih ada rasa denganku sampai saat ini. Aku... minta maaf ya!" Daysi memegang tangan Aurellia.
"Daysi kamu gak salah, aku yang pengecut kenapa aku tidak jujur saja dengan Abang, malah aku mendiamimu padahal kamu tidak salah yang salah hanya perasaan yang belum tepat, aku mencintainya tapi aku tidak jujur padanya tetapi jika aku mengungkapkannya pasti ia akan mejauhiku lagi pula aku kan wanita, gengsi banget mengungkapkan cinta apalagi ini pengalaman pertama," ucap Aurellia dengan sangat malu.
"Kalau kamu tidak ungkapkan dia tidak akan tau Relli." Memberi susu formula pada Cheval.
"Tidak Daysi, biarkan saja jika dia menyukaiku dan mengungkapnya aku akan menerima jika tidak biarkan persahabatan ini terjadi saja, dari pada aku mengungkapkan perasaanku dan nantinya ia menjauhiku bagaimana, lebih baik seperti ini aku tetap diam-diam menyukainya," Aurellia bernafas panjang dan menyenderkan tubuhnya di dinding bercat biru tersebut.
Daysi menepuk pundak Aurellia, "sabar ya. Aku tidak bisa membantu kamu pahamkan maksudku?"
"Iya aku paham, apa aku kurang baik sih Daysi. Sampai-sampai kadang aku iri denganmu, terkadang aku juga ingin sepertimu. Makanya aku berusaha mandiri biar Abang melihatku tetapi sekeras apa pun Abang belum melihat diriku sedikit pun!"
"Mungkin dengan hati yang tulus tanpa ingin balasan bisa meluluhkannya." Sebuah saran dari Daysi. Aurellia hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Pantas saja Abang selalu menyukaimu sampai saat ini, kamu bak bidadari tak bersayap Daysi," gumam Aurellia dalam hati sambil menatap punggung Daysi yang mengayunkan box bayi Cheval.
Kediaman Malik.
Para body guard Ksatria berjaga-jaga begitu juga dengan Ksatria, sebenarnya Ksatria ada rasa takut dalam misinya ini ia takut tidak bisa melihat istri tercintanya lagi. Dan yang lebih bodohnya mengapa ia tidak pergi dari kota ini dengan istrinya tetapi jika ia pergi bukannya seperti pengecut saja.
Tiba-tiba ada segerombol orang datang dan saling beradu beladiri di area taman. Ksatria tidak tinggal diam ilmu yang ia simpan rapat selama ini kini muncul sudah karena terdesak. Ksatria bahkan berhasil melumpuhkan 5 orang dalam penyerangan ini.
"Ccihh... apa-apaan ini orang-orang seperti ini saja yang di kirim kan. Seret mereka semua ke kantor polisi dan suruh ia buka mulutnya. Aku tidak mau di kediamanku banyak darah yang tumpah di sini." Ksatria segera pergi dari area taman dan memasuki kediamannya.
Ksatria melepas semua pakaian yang ia kenakan karena berlumuran darah, tetapi bukan darahnya yang menempel di bajunya melainkan orang yang ia hajar habis-habisan di taman barusan. Setelah membersihkan diri Ksatria menatap dirinya di pantulan cermin.
"Untungnya aku tidak kegabah tadi jika ia, pasti orang itu tewas di tanganku." Ksatria merutuki kecerobohannya tadi.
Hampir saja ia melenyapkan nyawa orang jika sampai terjadia ia tidak tau apa Daysi masih mau menerima seorang pembunuh atau tidak. Setelah menatap pantulan dirinya di cermin, ia mengambil kunci mobil.
Saat berada di mobil ia curiga dengan mobil yang ia kendarai, tanpa pikir panjang ia segera keluar karena alarm mobil yang sengaja ia pasang membunyikan alaram bahaya yang artinya ada sesuatu yang tidak beres dengan mobilnya.
2 orang body guard Ksatria yang mengikuti dari belakan shock mobil bosnya meledak tepat tidak jauh darinya. Kedua body guard Ksatria meneteskan air mata.
"Boss... mobil si bos." Sambil menatap nanar mobil yang sudah hancur.
TTOKK... TTOKK...
"Buka pintunya, kalian menyumpahiku tiada." Ucap keras Ksatria. Salah satu body guard Ksatria keluar dan membukakan pintu mobil.
"Bos... boss selamat, syukurlah hampir saja kami pikir bos tiada," membukakan pintu mobil.
__ADS_1
"Jalan, aku mau menemui istriku saat ini." Ucap Ksatria dingin.
Untung saja ia tadi jatuh di tempat jerami-jerami jadi ia tidak terluka banyak hanya sedikit lecet saja. Karena ada beberapa yang tajam batang jeraminya. Ksatria segera melepas pakaiannya dan berganti dengan kaos polos yang sudah di siapkan.
2 jam perjalanan.
Daysi binggung di jam segini siapa yang menamu, saat membukakan pintu ia terperanga dengan kedatangan Ksatria tanpa pikir panjang Daysi langsung memeluk dan mencium bibir Ksatria. Rasa malunya kini hilang berganti rasa hawatir, Daysi kemudian menatap tubuh Ksatria banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Daysi.
"Masuk, ayo kalian masuk aku buatkan minum." Menarik tangan Ksatria dan menatap dua body guard Ksatria.
Namun karena mereka bedua tidak enak hati akhirnya menunggu di luar, selain itu ia hanya bawahan tidak pantas bersanding dengan bosnya.
Setelah membuatkan minum untuk Ksatria dan dua body guard Ksatria, Daysi duduk dan ingin menanyakan ada apa. Karena sedari tadi Ksatria diam seribu bahasa.
"Sat... Ksatria, heyy... sadar Sat. Kamu mendengarku tidak?" menepuk-nepuk punggung tangan Ksatria sambil melambaikan tangannya di depan wajah Ksatria.
"Sat..., apa yang terjadi?" Daysi mengulangi pertanyaanya tetapi tidak di jawab oleh Ksatria.
Aurellia yang baru saja keluar dari kamar Daysi langsung menatap sang kakak, karena melihat kakaknya seperti orang linglung langsung bertanya kepada 2 body guar yang ada di luar.
"Sebenarnya ada apa Salam Salim?" tanya Aurellia kepada 2 body guard kembar Ksatria.
"Tadi mobil si bos meledak di tengah jalan!" jawab Salim merunduk ketakutan.
Daysi yang mendengar langsung memeluk Ksatria Malik dengan erat dan mengusap-usap surai rambut Ksatria dengan lembut.
"Kamu harus kuat Ksatria, aku akan selalu menemanimu Sat." Daysi berusaha menenagkan Ksatria.
__ADS_1
Saat ini Ksatria terkena batinnya lagi, puluhan tahun kejadian itu terulang lagi.
***