
Shandy juga satu pesawat dengan Gauri tapi tidak satu baris dengan Gauri, Gauri berada di barisan samping sedangkan dirinya bagian belakang.
'Gauri.. kamu berhak bahagia,aku pikir setelah lepas dariku kamu bakalan bahagia tapi nyatanya kamu justru terluka sedalam ini, meski aku belum tau apa penyebabnya tapi.'
Shandy melihat notifikasi berita trending topik hari ini sebelum ia masuk ke dalam pesawat tadi diam-diam untuk mengantisipasi Gauri tau meski pasti cepat atau lambat Gauri tau juga, seorang pemilik hotel Sam tengah menghamili wanita yang bernama Bella kini berita itu berkembang bukan-bukan bahkan ada yang menyebutnya akan segera ada pernikahan mewah dan lain sebagainya.
"Maksudnya?" masih bingung.
Hendak bertanya pada Gauri tapi perasaan Gauri masih kacau balau, meski saat satu mobil dirinya berdekatan dengan Gauri tapi tidak ada interaksi apa-apa selain membahas pakaian dan tiket pesawat.
Setelah menempuh perjalanan jauh di dalam pesawat kini tiba di salah satu desa bukan pelosok ya tapi suasana desa masih asri dan segar sekali padahal ini sudah menjelang sore.
"Untuk sementara kamu tinggal di sini ya." Shandy membukakan kunci rumah.
Masih berdebu dimana-mana maklum sudah beberapa minggu tidak di huni sebab penghuni sebelumnya pindah ke tempatnya berkerja, ini rumah milik Shandy sendiri tapi ia sewakan takut jika tidak di sewakan terjadi hal-hal lain yang tidak di harapkan datang dan menggangu.
"Ini rumah siapa?" Gauri memberanikan diri bertanya.
"Rumahku sendiri, tapi aku sewakan. Kamu bisa menggunakannya Gauri!" Shandy membantu Gauri bersih-bersih.
Gauri tentu saja tertegun bukan, seorang Shandy mau bersih-bersih. Bukankah selama ini Shandy begitu jijik membersihkan sesuatu yang menurut dirinya adalah pantangan, padahal kebersihan sebagian dari Iman.
"Shandy.. apakah kamu baik-baik saja dan sehat? apa saat di pesawat tadi kepala kamu kejatuhan benda tumpul dengan keras?" pertanyaan apa ini Gauri.
Shandy tersenyum.
"Tuduhan kamu ini seperti menyudutkan aku sih, gini-gini senakal-nakalnya aku begini masih bisa kali bersih-bersih kalau aku tidak bersih bagaimana dengan karyawan ku yang berkerja di beberapa cabang dan utama restoran yang aku dirikan!" jawaban Shandy memang benar sih jika dirinya tidak disiplin bagaimana caranya mendisiplinkan pegawainya.
Di tambah lagi usaha milik Shandy berkerja di bidang kuliner bukan yang lain yang biasanya berada di tempat-tempat terlalu over dengan namanya sampah atau limbah plastik.
"Bukankah kenyataan begitu saat aku masih istri kamu Mas..." Gauri memanggil panggilan yang memang Shandy rindukan selama 2 bulanan ini.
"Iya.. itu benar, tapi saat kamu pergi dan meninggalkan rumah. Aku baru sadar jika aku kehilanganmu, bahkan aku tidak bisa mengembalikan kamu ke dalam pelukan aku lagi," kisah sedih yang seharusnya tidak ia ungkapkan tapi secara tidak sengaja malah terungkap lagi.
"Haduh.. Shandy.. Shandy.. gak usah drama lagi, aku bukan Gauri yang dulu yang mudah begitu gampangnya di bodohi Shandy, dan satu lagi aku bukan tokoh novel yang tertindas di hadapan kamu." Gauri memang berbeda sekarang ia lebih dewasa sekarang.
Dulu sudah dewasa sekarang malah lebih dewasa lagi dan satu menyenangkan hati lebih dari kata-kata menarik.
"Iya.. tidak tertindas di hadapan aku tapi tertindas di hadapan Aldy Samporna, benar tidak," menebak dengan benar.
Gauri hanya bisa tersenyum kecut, kenapa membahas orang yang sebentar lagi akan menjadi suami orang. Seperti tidak ada topik lain saja yang hendak di bahas.
Sedangkan di villa terjadi kehebohan karena Gauri kabur tanpa membawa apa-apa kecuali ponselnya, bahkan tas miliknya yang biasanya ia bawa sehari-hari juga masih utuh dan ada di dalam kamar pribadinya.
"Kamu cari sampai dapat." Mencengkram kuat kerah baju salah satu orang kepercayaan lalu menghempaskan nya ke lantai dengan keras.
Aldy jadi uring-uringan sendiri.
"GAURI." Aldy mulai frustasi sendiri.
Ia meremas kuat rambutnya, kenapa Bella harus datang dan menyatakan jika dirinya sedang berbadan dua bahkan saat di bawa ke Rumah Sakit usia kandungannya benar 9 mingguan.
__ADS_1
"Sialan..." Aldy membuang semua barang-barang yang ada di hadapannya.
"Awas.. saja jika Bella berbuat macam-macam pada Gauri, akan aku habisi dia dan aku tidak peduli dengan apa yang berada di kandungannya Bella," Aldy menggepalkan tangannya.
•
Gauri termenung usai membersihkan kamarnya, kamar sederhana dan nyaman tentunya.
"Aku sadar jika aku ini hanya seorang gadis miskin, maafkan aku Aldy yang melanggar janjiku untuk tetap tinggal di sisimu. Ada nyawa kecil yang hidup di rahim wanita itu, aku tidak mungkin memisahkan antara ikatan ayah dan anak begitu juga antara anak dan ibunya. Anak itu tidak bersalah, kamu harus bertanggung jawab Aldy bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat sampai hadirnya seorang anak yang tidak bersalah." Gauri mencatat semua yang ia rasakan.
Biarkan saja buku ini menjadi saksi kegelisahan hatinya selama bersama Aldy, sedangkan bersama dengan Shandy juga ikut masuk ke dalam buku tulis.
Kisah pilunya Gauri dapat menjadikan pelajaran yang baik bahwa berani berbuat haruslah berani bertanggung jawab bukan, jangan lari sebab diri ini bukan orang yang berbuat tapi orang yang tidak bersalah dan orang yang terbelenggu di atara kesalahan 2 insan.
Shandy baru kali ini memasakkan masakan untuk orang lain yang statusnya mantan istrinya sendiri, padahal dulu ogah ribet apalagi berhubungan baik dengan wanita yang bernama Gauri.
Dulu Gauri lusuh dan tidak menarik tapi sekarang jelas-jelas sangat menarik dan cantik usai bercerai dari dirinya.
Gauri mencium aroma masakan yang menggugah selera bahkan ingin menyantapnya sekarang, tapi malu dan gengsi. Eh.. jika makan malu dan gengsi gak bakalan kenyang yang ada perut tambah keroncongan lagi.
"Kamu lapar, kemarilah." Shandy menawari Gauri.
Gauri bersemangat langsung menyantapnya lagi pula yang masak sudah menawarinya. Saat satu suapan masuk ke dalam mulutnya ada yang aneh di masakan Shandy, ia terdiam. Shandy yang sedari tadi melihat gelagat Gauri menelan salivanya dengan kasar, apa masakannya ada yang bermasalah dan tidak enak di lidah.
"Makannya pelan-pelan, seperti anak kecil yang takut makanannya di rebut temannya." Shandy mengusap sudut bibir Gauri sebab ada makanan yang tersisa di sudut bibirnya.
Gauri terkejut, kenapa dengan Shandy benar-benar berbeda sekali dengan yang dulu. Sok bersikap romantis dan peduli lagi, pasti ada maunya ini orang. Gauri jadi lebih waspada terhadap Shandy dari pada kena siasat liciknya dengan perlakuannya yang baik.
"Sudah pelan-pelan, jangan menunjukkan sikap di luar kemampuan kamu dengan misi terpaksa sebab ada maunya," Gauri mengeluarkan unek-uneknya.
"Gauri.. aku mohon kamu percaya ya sama aku. Aku bukan Shandy yang dulu lagi, aku sudah berubah dan satu lagi Gauri. Em.. sebenarnya aku masih berharap kamu bisa kembali pulang dan menerima aku lagi, tapi aku tidak akan memaksa kamu untuk kembali sebab jika kami kembali sekarang pasti Aldy akan mencari kamu sampai dapat bukan."
Gauri terpaku di tempatnya.
'Apa.. apaan ini maksudnya Shandy, dia gila apa atau jangan-jangan setelah menolong minta imbalan lagi dan imbalannya harus dengan.'
Gauri tidak melanjutkan berprasangka buruk pada Shandy hanya waspada saja, cukup dirinya berbuat dosa dengan Aldy tidak perlu dengan orang lain juga meski dulu pernah ada rasa dengan orang yang berada di hadapannya tersebut.
"Shandy.. tapi maaf sebelumnya, aku tidak akan mengambil satu persen atau secuil harta milik kamu milik kerja keras kamu dengan usaha kamu sendiri, jadi.. jangan lagi berbicara begitu. Berikan kepada orang yang lebih berhak atas harta itu entah orang yang penting bagi kamu kecuali aku dan satu lagi di sumbangkan juga bagus untuk kamu sendiri Shandy," Gauri kembali melanjutkan makannya yang sempat berhenti mendadak sebab terkejut sekali.
Shandy menghela nafas dan pasrah, seperti Gauri benar-benar wanita yang baik dan tidak gila akan harta dunia, bagus sekali bagus.. sekali jika itu adanya. Berarti Gauri memang pantas menyandang status istri idaman bagi kaum Adam.
Shandy jadi bersemangat mengejar mantan istrinya lagi agar Gauri bahagia entah dengan cara apa yang terpenting berperilaku baik di depannya dan memperbaiki diri dulu barulah mengejar cinta mantan istri yang menarik dan baik ini.
"Iya.. tidak apa-apa, tapi untuk sementara waktu kamu tidak menolakkan untuk tinggal di tempat ini dan satu lagi. Kamu.. jangan hawatir oke, aku akan tinggal di rumah sebelah tidak satu rumah dengan kamu. Tempat ini berada di pedesaan takut terjadi fitnah yang bukan-bukan jika kita satu atap." Shandy benar-benar berbeda.
Gauri semakin tersadar jika Shandy memang berbeda seperti ada 2 saja Shandy itu, aneh dan membuat orang hawatir.
"Iya.. asalkan jaga jarak," Gauri menuju ke belakang rumah ini untuk mencuci piringnya.
Shandy menyusul dan memberikan semua peralatan dapur yang ia gunakan dan juga piring bekas ia makan barusan. Gauri menerimanya tapi dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
"Besok-besok jangan menawariku makanan jika gak ikhlas." Kesalnya bukan main, tau begini tadi ia tidak ikut makan.
Bukannya tidak iklas mencuci tapi meletakkan cucian peralatan dapur dan piring secara kasar sampai terdengar bunyi nyaring, siapa yang tidak tersulut emosi jika mendengarnya. Seperti orang marah-marah yang membuang peralatan yang ada di rumah dengan kencang.
"Maaf Gauri bukannya berniat membuat kamu marah, tapi tanganku tergelincir tadi. Lihat," sambil menunjukkan bekas minyak di kedua telapak tangannya.
Gauri hanya mengangguk pelan saja.
Setelah mencuci semuanya Gauri menatanya di rak susun piring serapi mungkin agar Shandy tidak ngomel-ngomel lagi kedepannya jika membuatkan makanan lezat.
Sejenak Gauri lupa akan sosok Aldy yang telah menorehkan luka dalamnya lagi, baru saja sembuh dan move on dari Shandy kini dia menabur luka lagi dengan air jeruk nipis setelah menggunakan garam dapur, sakit.. berkepanjangan tanpa obat.
"Apa sudah di tata piring dan peralatan dapur lainnya?" menatap ke arah rak piring yang ternyata sudah tersusun rapi di tempatnya.
Shandy mengulas senyum, baru kali ini ia melihat bidadari cantik seperti Gauri. Andai waktu dapat di putar kembali tidak akan ia sia-siakan Gauri, tapi semua sudah terjadi dan tidak mungkin kembali meski kemungkinan bisa kembali pasti salah satu tidak ada rasanya cinta bukan, dulu diri ini yang tidak merasakan cinta tapi sekarang yang ia peroleh adalah karma, mencintai tanpa di cintai memang saki apalagi tidak di anggap keberadaannya.
"Sudah, lihat.. rapi kembali bukan." Gauri beranjak pergi dan ia segera menyapu halaman depan.
Ada beberapa tetangga yang melintas dan menyapa Gauri.
"Mbak.. warga baru?" tanya salah seorang ibu-ibu yang menenteng tas belanjaan.
"Iya Bu!" Gauri seperti biasa tersenyum ramah pada orang yang menyapanya atau sebaliknya.
"Cantik sekali.. pasti calon istrinya mas Shandy ya atau sudah jadi istrinya jangan-jangan." Senggak ibu-ibu yang membawa belanjaan tadi
Gauri tersenyum kikuk.
Bukan istrinya tapi mantan istri statusnya sekarang.
"E.. he.. he.., saya tamu Bu, bukan siapa-siapanya mas Shandy," Gauri memang benar begitu ucapannya.
Lagi pula status mantan hanya akan jadi mantan saja kecuali antara orang tua dan anak tidak ada istilah mantan.
"O.. saya kira kamu istrinya atau calonnya. Asal mbak tau ya.. mas Shandy itu gak pernah loh membawa wanita satu pun di rumahnya ini."
Ibu-ibu penggosip ini jika di ladeni malah semakin menjadi-jadi, bisa-bisa tambah dosa kebanyakan ghibah in orang yang bukan-bukan meski kenyataannya orang yang di bicarakan tidak sealim kedok depannya.
Gauri berpamitan masuk dengan alasan mengerjakan tugas lain padahal malas dengerin gosip tentang Shandy.
'Shandy.. ko di puji sampai sundul langit, kepedean yang ada lagi pula tuh ibu-ibu matanya buram atau gimana. Orang mesum yang suka mengumbar naf$u di depan istrinya ko di bilang gitu, kesetan kali gara-gara tampang Shandy ya.. tampan sih tapi minus banget orangnya.'
Gauri mengolok-olok Shandy dalam hati sebab tidak suka jika ibu-ibu di luaran sana memuji baik padahal dalam kenyataannya ada udang dibalik balik bakwan eh salah batu maksudnya.
Villa milik Aldy.
1 bulan kemudian.
Aldy murung bahkan selera hidupnya saja sudah nol besar tidak ada lagi, meski tidak melampiaskannya ke minuman beralkohol tapi ia tidak mau makan, selang infus sudah bertengger di punggung tangannya dan dalam sehari bisa habis beberapa kantong sebab satu suapan saja tidak masuk ke dalam perut.
Bella juga sering berkunjung di villa namun bukan perhatian yang diperoleh melainkan caci maki dari Aldy calon ayah dari anaknya. Bella sering menangis ketika Aldy berkata-kata tajam bahkan enggan untuk melihat wajah Bella lagi jika terus-menerus muncul di hadapannya.
__ADS_1
Bella sebenarnya wanita baik dan ia tidak akan merebut jika bukan punya dirinya, tapi mau bagaimana lagi di luaran sana tidak ada laki-laki yang mau menerima dirinya yang tengah berbadan dua apalagi yang di kandung adalah anak kandung milik Aldy Samporna pemilik hotel terbesar di kota tersebut, tidak dapat melawan kekuatan yang di miliki oleh Aldy Samporna jika sudah menunjukkan jarinya ke arah yang di tuju.
"Pergi.. gara-gara kamu Gauri meninggalkan aku. Puas kamu." Kata-kata yang terlontar sama seperti yang terjadi kemarin-kemarin.