ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
210. Buktikan


__ADS_3

Momo semakin di buat penasaran dengan Lais yang terus saja menggantungkan ucapannya.


Lais masih tersenyum-senyum sambil menikmati minumannya.


"Bener-bener boss ngeselin ternyata, dasar benar-benar licik sikapnya. Hhah... aku penasaran sekali tetapi jika aku menyetujui ucapannya bukannya aku menjadi istri keduanya, astaga aku jadi madu untuk ibu kandungnya Princess, seorang anak kecil polos tanpa dosa itu." Gumam Momo sambil memukul kepalanya berkali-kali.


"Yakin tidak penasaran, aku takut sampai akhir hayatmu kamu jadi hantu penasaran dengan cerita ini." Lais masih saja memancing.


"Baiklah aku menyerah, tetapi bukan berarti aku mau jadi istri keduamu," jawab Momo asal berbicara dan memang itu keluh kesah hatinya selama ini.


"AA... HAA... HAA..., ucapan mu semakin merancau kemana-mana, siapa yang akan menjadikanmu istri keduaku. Kamu akan menjadi satu-satunya istriku Momo." Lais masih terus menertawai Momo dengan kencang.


Para asisten yang berkerja di kediaman ini di buat tercengang dengan suara tawa Lais, boss dingin yang suka memerintah dan tegas tanpa senyum kini tertawa lepas. Mereka semua sangat bersyukur dengan kehadiran Momo di kediaman ini.


"Apa buktinya, aku tanya boss yang super ngeselin sok berkuasa dimana-mana ini," ucap Momo sambil berdecak kesal.


"Eehh... aku memang berkuasa dimana-mana, di pasaran dalam negeri dan luar negeri." Lais tidak mau mengalah.


"Tuhkan sombong dia sekarang, tambah tenggelam ke dasar lautan deh aku tidak terlihat lagi, serasa tidak pantas saja bagaikan langit dan bumi jauh... di pandang mata. Ingat Momo jangan menghayal di pagi hari biar rejeki tidak di patok ayam."


TTAAKK.


"Aww...," Momo mengusap dahinya yang baru saja di sentil Lais dengan keras.


"Jadi orang jangan menghayal yang bukan-bukan."


"Iya, aku tau dan sadar diri ko," Momo rasanya ingin sekali pulang ke rumah, huuaa... dia sudah tidak sanggup lagi.


"Sadar diri apa coba?" Lais menatap Momo penuh tanda tanya.


"Aku tidak pantas di rumah ini, aku mau pulang!" sambil mainkan jari jemarinya.


Momo melihat Lais beranjak dari duduknya dan langsung menarik tubuh Momo ke dalam pelukannya. Momo yang sedari tadi diam dan bersedih akhirnya menangis juga di dalam pelukan Lais.


"Maafkan aku oke, maaf sayang." Lais menghujani Momo dengan banyak ciuman di ubun-ubun.


Rasanya campur aduk tubuh Momo saat ini gembira, sedih bersatu. Usai meluapkan kesedihannya Momo mengusap sisa air matanya di baju Lais.


"Maaf, tentang apa?" Momo menatap wajah Lais yang kian bertambah umur dan semakin memikat saja. Sangat menggoda sekali dia.


"Tidak jujur denganmu, sebenarnya waktu kuliah semester akhir S2 aku sudah magang di salah satu perusahaan jam yang cukup terkenal di Indonesia, namun itu hanya berlangsung sebentar saat aku tiba-tiba di tuduh menghamili ibunya Princess yang pekerjaannya sebagai model majalah dewasa." Lais menggantungkan ucapannya dan menatap Momo yang sudah penasaran sekali dengan kisah kelanjutannya.


"Lanjutannya apa, apa cuma segitu saja kisahnya? Kamu benar-benar hanya di fitnah saja atau melakukannya juga. Tapi sepertinya kamu melakukannya," Momo penasaran tapi dia juga kesal sendiri.


"Tidak, dengarkan aku dulu. Ayo duduk di sini." Lais menggenggam erat tangan Momo dan mengajak dirinya untuk duduk di pangkuannya, apa-apaan ini bahkan Momo tidak bisa menolaknya dan tubuhnya otomatis mendekat dan mau duduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Jangan macam-macam tapi jika kamu memintaku untuk duduk di pangkuan kamu," ancam Momo sambil menunjuk wajah Lais yang masih tersenyum lebar.


"Tidak akan macam-macam ko paling cuma satu macam yaitu menikmati mu saja." Mencium pipi Momo dengan gemasnya.


"Mesum, mencari kesempatan dalam kesempitan saja. Modus," Lais menyentuh pipi Momo yang baru saja di cium olehnya, namun hatinya ia sangat berbunga-bunga.


Lais menceritakan semua yang ia alami, tidak ada satu pun yang tertinggal. Memang ia pernah kenal dengan Aura, selain itu Aura adalah model di perusahaan tempat ia berkerja dulu. Tapi sialnya ia di jebak, kemudian ia di fitnah jika menghamili Aura di salah satu club' malam.


Momo tidak bisa berucap apa-apa, terkejut pastilah. Wanita mana yang tidak terkejut, laki-laki yang ia kenal baik dan tidak pernah berbuat macam-macam ternyata seperti ini.


"Kamu akan mendapatkan lebih jika mau menikah denganku, jadi kapan kamu mau menikahi ku sayang?" Dengan kepedean tingkat tinggi Lais berucap. Dan ucapan Lais membuat Momo terkejut bukan main, ternyata masih saja di bahas tentang ini.


"Haa... tidak salah berucap, bukan seharusnya aku yang berucap." Momo salah berucap dan malah membuat Lais tertawa kegirangan sendiri. Kena jebakan lagi kan kamu.


"Secepatnya sayang, jika perlu besok kita menikah secara resmi," Lais berucap sambil memainkan ujung rambutku yang mulai panjang dan bergelombang.


"Cepat banget, nanti aku di kira menggoda mu dengan tubuhku dan hamil di luar nikah lagi. Aku tidak mau Lais." Momo turun dari pangkuannya.


"Kan ada papanya kenapa bingung sih, lagian kita makan tidak mengemis, kenapa memikirkan ucapan orang lain itu. Jadi bagaimana apa kamu setuju, menjadi istriku ibu untuk anak-anakku di dunia ini dan istriku di Surga nanti," Lais bersimpuh di hadapan Momo.


DAG


DIG


DUG


"Kenapa Momo tidak menjawab dan malah diam saja, ayo dong Momo jawab iya biar aku menjadi laki-laki beruntung itu." Batin Lais menanti.


"Momo, bagaimana mau tidak?" Menatap wanita yang paling ia cintai.


Momo yang baru sadar ada ucapan yang salah langsung memelototi wajah Lais yang masih bersimpuh di depannya dan masih menunggu jawaban. Momo berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa-biasa saja di depan Lais, namun takdir berkata lain.


"Kamu menipu aku barusan, tidak aku tidak mau." Momo berdiri dari duduknya namun gagal saat tubuhnya jatuh dan menimpa Lais yang ada di depannya.


BBUUGGHH.


"Ternyata kamu tidak sabaran ya sayang, oke nanti siang kita berdua ke rumah Papa kamu dan aku akan melamarmu hari ini dan besok kita menikah," Lais masih saja menggoda Momo.


Momo yang berada di atasnya hanya menahan malu.


"Jangan ngerjain orang dong, bikin orang kegeran aja," langsung saja Momo bangkit dari atas tubuh Lais.


"Aku jujur dan tulus tidak sedang mengerjai kamu sayang." Ucap Lais jujur apa adanya.


"Benarkah itu, buktikan kalau begitu?" Momo memalingkan wajahnya dan Lais sontak merasa tertantang karena dia laki-laki normal.

__ADS_1


Lais meraih pinggang Momo dan mencium leher jenjang Momo yang nampak menggoda iman, karena Momo menguncir kuda rambutnya sehingga Lais lebih mudah memberikan tanda kepemilikannya pada Momo, tidak hanya satu bahkan ada 3 yang terakhir di atas dada Momo. Momo menolak dengan ucapan yang tidak enak di dengar hati, tapi percuma tubuhnya menginginkannya bahkan berharap lebih, ada desiran seperti sengatan listrik yang menjalar di tubuh Momo.


Lais melihat Momo yang membeku di tempat dengan tubuh yang menahan dirinya agar dia tidak gerogi di depannya sungguh sangat menggemaskan dan ingin sekali segera menghalalkannya.


"Jangan mengeluarkan suara jika tidak ingin aku melakukan lebih, sekarang kamu milikku saja." Lais melepas ikatan rambut Momo untuk menutupi tanda yang baru saja dia berikan pada Momo.


"Lais, kenapa kamu melakukan ini. Bukannya aku bilang aku tidak mau jadi istri keduamu, bahkan kamu belum menjelaskannya sedari tadi, masalah yang ini." Momo duduk di kursi ayunan.


Lais segera mendekati dia dan duduk di sampingnya.


"Setelah aku terkena fitnah itu aku kesulitan mencari pekerjaan dan pada akhirnya aku pulang ke New Delhi. Namun sebelum aku pulang aku di beri titipan seorang anak yang sekarang memanggilmu mama, aku belum pernah menikah Momo. Dan kemarin itu ibunya Princess memintaku untuk menjadikan dia istri yang sesungguhnya." Keluh kesah Lais yang terpendam.


"Terus, apa tanggapan kamu. Kamu setuju dengannya," Momo menatap.Lais dengan wajah sedikit sedih.


Lais menggeleng dengan cepat. "Tidak, aku tidak mau. Buat apa lagian dia tidak bertanggung jawab pada Princess dan lebih memilih karirnya dan orang-orang kaya yang memberinya banyak pundi-pundi uang dari pada harta dunia akhiratnya yaitu Princess." Lais mulai tersulut emosi.


"Oh... seperti itu ceritanya, aku kira kamu itu seorang suami yang beristri. Secara sudah punya anak secantik Princess dan juga dia mirip sekali denganmu, apa benar kalau Princess bukan darah dagingmu sendiri yang tidak kamu akui pernah berhubungan dengan ibunya," sambil meledek Lais.


Lais memelototi wajah Momo yang berucap begitu menyakitkan dan meragukan dirinya dan tanpa basa basi Lais langsung menarik tangan Momo dengan kasar untuk masuk ke dalam rumah, para asisten dan orang yang berkerja di kediaman ini terkejut melihat kejadian ini.


"Lais lepas, sakit."


Aku mengunci kamarku dan langsung melempar tubuh Momo di ranjang ku, aku berada di atas tubuh Momo. Momo yang berada di bawahku ketakutan dan wajahnya sudah mulai pucat. Aku melihat Momo memekik kesakitan gara-gara cengkraman ku di kedua lengannya yang aku letakkan di atas kepalanya.


"Maaf Momo aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi aku mohon kamu percaya padaku jika Princess bukan anak kandungku. Aku belum pernah melakukannya dengan wanita manapun Momo." Lais mengusap wajah Momo yang ketakutan itu.


Air mata Momo menetes deras di pipinya, ia menangis sesenggukan. Lais meraih tubuh Momo dan memberikan pelukan terhangat nya hanya untuk Momo saja.


"Berhentilah menangis Momo aku mohon. Maafkan aku Momo." Lais mengusap pipinya dengan lembut.


"Kamu jahat," Momo memukul dada Lais dengan pelan.


"Maaf." Lais menghujani ciuman di seluruh wajah Momo yang masih kemerahan karena menangis, sungguh sangat sangat imut ekspresi wajahnya.


"Eemmm... apa kita jadi ke rumah Papa?" tanya Momo yang sudah lebih tenang dari pada tadi, ia hampir kehilangan barang berharganya jika di lanjutkan.


"Kamu setuju dengan lamaran ku tadi. Syukurlah jika kamu setuju sayang!" jawab Lais dengan kegirangan dan memeluk erat tubuh Momo.


"Iya, lebih cepat lebih baik lagi dari pada hal-hal yang seharusnya tidak di lakukan kamu lakukan kepadaku." Momo bangkit dari ranjang tidur Lais dan membuka kunci kamar yang belum ada kode pintunya dan hanya di kunci biasa saja.


Lais hanya menatap Momo yang terlihat kecewa dengan tindakan yang hampir gegabah tersebut.


Momo masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mencuci wajah dan bersiap-siap dengan menggunakan make up natural andalannya, karena wajahnya sudah bersih ia hanya mengoleskan lipbalm saja sebagai tambahannya. Seperti wanita bodo* saja Momo ini, setelah di perlakukan seperti ini oleh Lais ia menanyakan hal tersebut. Seharusnya ia menolak, tapi Momo punya cara tersendiri untuk mengatasi permasalahan yang sangat rumit ini. Biarkanlah waktu yang menjawab semuanya, jika memang sudah takdir dan akan terjadi maka harus bisa menerima apapun itu.


Lais yang sudah rapi dengan pakaian kemeja merahnya langsung menuruni anak tangga dan mengambil mobil yang ada di garasi, ada dua sopir yang sedang mengobrol dengan satpam rumah ini, namun karena ini hari spesial ia tidak mau ada yang menggangu moment saat ini.

__ADS_1


Lagian demi mencari restu harus berkorban sendiri, apapun yang terjadi tetap berjuang.


__ADS_2