ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. 20 tahun sudah berlalu


__ADS_3

20 Tahun kemudian.


Dilan menatap berkas-berkas yang menumpuk di depannya. Sebenarnya ini bukan pekerjaannya melainkan pekerjaan Inre sebab ia ahli waris keluarga Malik selain si kembar Zaire dan Zamil. Mereka bertiga itu sangat-sangat membuat kesal dan darah tinggi naik drastis. Tapi sepertinya mereka masih ingin bersenang-senang sedangkan dirinya jadi pelampiasan untuk mengerjakan tugas-tugas ini.


"Sepertinya kuliahku hari ini harus di tunda, dasar saudara-saudara gak punya hati." Kesalnya Dilan pada mereka.


Princess datang sambil membawakan secangkir kopi, hanya Princess saja yang paham dan perhatian. Padahal Princess lebih tua darinya 5 tahun tapi perhatian dirinya sangat luar biasa. Sebagai kakak ia akan melakukan hal sewajarnya sebagai kakak begitu juga dengan Dilan.


Sore hari.


Suara sepatu yang berbunyi seiring orang berlalu lalang di tepi jalan yaitu di trotoar, Princess berada di area parkir dan duduk di tepi taman, sejenak ia terdiam sambil menatap langit dan bergantian menatap ke arah jalan raya.


Princess sedang menanti seseorang yang dia cintai diam-diam. Namanya Dilan Malik (anak angkat Ksatria Malik) biasa di panggil Ilan ia berumur 20 tahun lebih muda 5 tahun dari Princess, panggilan itu pun hanya Princess yang boleh memanggil itu yang lain adalah pantangan yang tidak boleh di langgar oleh semua orang, jika terjadi akan berakibat buruk kedepannya untuk orang tersebut.


Bukan buruk untuk mereka tapi buruk untuk dirinya sendiri, bakalan kena marah dan jemuran oleh kakak Cheval dan Sindy nanti di tambah lagi mama dan Papa Ksatria dan Daysi.


"Ilan, kenapa lama sekali. Jangan bilang jika kamu berkencan dulu dengan Tiara, bukannya sudah aku bilang dia itu matre Ilan." Princess mulai mengomel lagi ia tidak suka Dilan bermain-main meski yah usianya muda dan masih labil sekali.


Dilan masih berusia 20 tahun lebih sedikit tidak sampai 21 tahun, lebih tepatnya beberapa bulan yang akan datang usianya genap 21 tahun.


"Puft ... ha ... ha ... ha ..., kamu ini ada-ada saja kakak Princess cerewet ku," sambil mengacak-acak rambut Princess seperti biasanya dengan tidak sopan sekali.


"Kebiasaan deh." Menata bagian poni dengan sekali tarik ke belakang.


Princess wanita cantik, mandiri tapi ia lemah dalam urusan cinta. Makanya dari umur muda sampai sekarang menginjak usia 26 tahun ia masih saja betah menjomblo. Padahal Dilan Malik sudah sering berganti pasangan layaknya pakaian yang perlu di perbarui, masa iya kebutuhan tidak di perbarui pasti lama-lama akan membosankan untuk di nikmati.


"Asal kamu tau kakak princess, tubuh dia itu wah dan sungguh menggoda di pandang mata, pinggul yang besar perut kecil. Plus atasnya yang bulat besar, sungguh pas di pegang kedua tanganku ini." Ucap Dilan sangat vulgar dan tidak tau malu, padahal ini masih di luar parkiran dan masih area hotel bukan di dalam mobil.


"Mentang-mentang sekretaris cantik di puji terus sampai berapi-api tuh rambutnya," sindir Princess tidak mau menatap Dilan yang sudah membukakan pintu mobil untuk dirinya.


Princess adalah sahabat sekaligus asisten pribadi Dilan Malik. Sejak kecil cerita tentang masa lalu Princess dan juga Dilan sudah di ceritakan secara terperinci bahwa Princess dan Dilan adalah kakak beradik hanya berbeda Ayah saja.


Saat di dalam mobil.


Banyak mobil dan kendaraan yang lain, saling menyalip satu sama lain. Dilan tidak berani kebut-kebutan di jalan, karena ada seorang wanita yang harus ia jaga kehidupannya sampai menikah nanti. Yaitu kakaknya Princess Erdana Khan.


"Kak." Panggilnya masih fokus menyetir.


"Hem ...," tanpa menatap Dilan yang memanggil-manggil namanya sedari tadi.


"Ko cuma hem, kamu mau makan apa malam ini kak?" Dilan mengarahkan mobilnya di pasar malam.


Kenapa harus pasar malam, bukannya ia akan menjadi pusat perhatian lagi. Apalagi jika ada cewek-cewek yang meminta foto dirinya.


"Dilan, kenapa kesini lagi sih. Kita kesini saat sudah punya pasangan saja, membosankan sekali Ilan." Princess protes dan enggan membuka seat belt yang ia gunakan.


"Kenapa? Kamu sedih kita kesini lagi. Tapi justru di tempat ini aku merasa menjadi diriku sendiri, bukan orang yang sok berkuasa Kak," Dilan segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Princess.


"Oke kalau begitu." Princess diam-diam memperhatikan wajah tampan Dilan adiknya yang terpampang nyata di sampingnya.


Dalam hati Princess berkata. 'Andai kamu bukan adikku beda ayah Ilan, pasti aku jadi wanita satu-satunya di dunia ini yang paling bahagia. Tapi aku sadar jika semakin erat aku menggenggam, semakin jatuh pula yang aku genggam. Apa aku salah jika aku mencintai dan menyayangimu lebih dari seorang kakak ke adiknya?' tanya pada diri sendiri dalam hati.


"Kak Princess, ini untuk kamu." Memberikan sebuah gelang tangan padanya.


Princess tersipu dengan perilaku manis yang Dilan tunjukkan pada dirinya, ia hampir kepedean. Ternyata ia tidak hanya membeli satu tapi ada banyak bahkan hampir satu lusin atau 12 biji gelang yang berbeda-beda warna tapi satu macam.


'Dia sangat manis saat tersipu, aku ingin melihat dia selalu seperti ini tanpa ada kata cinta di hati kita masing-masing. Aku tidak mau kehilangan kamu kak Princess manis ku yang paling cantik.' Batin Dilan bergembira ria.


"Pak Dilan, sedang apa kesini?" Tanya seseorang yang baru datang dan langsung menatap Princess dengan tatapan ketidak sukaannya dengan terang-terangan.


"Bersantai!" Jawab dingin Dilan tanpa menatapnya terlalu lama.


"Aku pinjam dulu Pak Dilan nya, kamu sudah dewasa pasti bisa pulang sendirian kan." Tiara bersikap dan berucap dengan nada sombong yang selalu ia pamerkan, buat apa coba bersikap arogan.


Princess segera membalikkan badannya.


"Terserah," Princess berusaha tenang dan baik-baik saja, padahal dalam hati ia ingin langsung baku hantam dengan cabai rawit itu.


"Dasar cabai rawit, awas saja kalau terjadi sesuatu akan aku bawakan ulekan sambal dan aku haluskan sampai lembut lalu aku buang ke toilet." Gumam lirihnya sambil mengepalkan tangan dan pergi menuju salah satu tempat yang ada di tempat itu untuk bermain sesuatu yang menarik perhatiannya.


Saat berjalan-jalan tanpa sengaja ada seorang pengamen kecil dengan temannya, Princess membisikkan sesuatu pada anak kecil yang sedang memegang mikrofon.


Princess bernyanyi tapi sebelum itu ....


"Lagu ini aku nyanyikan untuk seseorang yang tidak bisa aku gapai, karena aku tidak memiliki kesempatan untuk memiliki. Dengan judul Risalah Hati milik Dewa19, pasti tau kan lagu ini." Suara petikan gitar terdengar lembut dan menyayat hati.


Hidupku tanpa cintamu


Bagai malam tanpa bintang


Cintaku tanpa sambut mu


Bagai panas tanpa hujan


Jiwaku berbisik lirih


Ku harus miliki mu


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku

__ADS_1


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karena telah terbiasa


Simpan mawar yang kuberi


Mungkin wanginya mengilhami


Sudikah dirimu untuk


Kenali aku dulu


Sebelum kau ludahi aku


Sebelum kau robek hatiku


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karena telah terbiasa.


Princess menyelesaikan bernyanyinya dengan penuh penghayatan. Seseorang dari jauh menatapnya dengan kagum dan terkejut sekali.


Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki yang tertegun dengan suaranya itu, baru kali ini ia melihat Princess bernyanyi secara langsung. Ia memang kerap mendengar suara lembut dan indah miliknya tapi ia tidak menyangka jika ia mendengar langsung suara itu, tapi sayangnya kenapa di tunjukkan di tempat umum. Kenapa tidak ia tunjukkan lebih dulu pada dirinya, yang selaku sahabatnya sejak kecil.


Aku bisa membuatmu


Jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karena terbiasa


"Huft... Lagu ini pas banget untuk orang patah hati karena tidak bisa memiliki orang yang dekat dengannya, karena takut persahabatan atau pertemanan rusak." Ucap salah seorang yang mendengarkan nyanyian Princess sedari tadi.


Princess memberikan 2 lembar uang berwarna biru untuk adik kecil yang mencari nafkah itu.


Rasanya hatinya sedikit tenang setelah memberikan sedikit bantuan pada kedua anak yang sedang mencari nafkah di sini.


"Kak Princess." Tiba-tiba Dilan menggenggam erat tangan Princess yang membuat Princess jadi keheranan sendiri.


"Ilan, kenapa kamu ini?" Princess berusaha melepaskan genggaman darinya, namun seperti biasanya ia sia-sia saja memberontak.


"Kamu harus menjelaskannya di dalam!" jawabnya sambil memasuki area parkir mobil.


'Ada apa sih dengan Dilan, apa aku menyindir seseorang atau aku membuat ia tidak nyaman. Pasti gara-gara aku bernyanyi dan tidak memberi tau ia lebih dulu, dasar Dilan sok penting sendiri saja dalam hidupku ini. Meski tidak dapat ku pungkiri jika dia benar-benar penting dalam hatiku.'


Dalam hati sambil menatap tangannya yang masih di genggam erat oleh Dilan.


Saat di dalam mobil, tapi mobil sudah berjalan meninggalkan tempat tersebut.


"Apa tidak ingin menjelaskan sesuatu, kenapa kamu bisa bernyanyi dan tidak memberi tau aku sebelumnya?" Pertanyaan konyol langsung terlontar begitu saja.


Benar-benar orang aneh dia itu, masa iya bisa bernyanyi harus memberi tau ia dulu, apa Princess tidak boleh memiliki privasi sendiri dalam hidupnya.


"Untuk apa Ilan, tadi cuma sekedar saja!" jawab Princess acuh tak acuh.


Dilan geram dengan jawaban Princess, ia langsung mencengkram erat kedua bahu Princess sampai yang punya bahu meringis kesakitan di bahunya.


"Ssssttt... Aww... sakit Ilan, kamu apa-apa an sih." Princess meringis menahan tangan Dilan yang masih saja mencengkeramnya.


"Maaf," singkat bicara dan langsung kembali fokus menyetir kendaraannya.


Dilan tidak banyak bicara saat di perjalanan, ia lebih diam dari sebelumya yang banyak tanya ini itu. Princess juga sama, ia bingung harus membuka percakapan dulu seperti apa.


Mobil Jeep berwarna hitam ini menjadi saksi di mulainya perang dingin antara Dilan Malik dan Princess Erdana Khan.


Sesampainya di rumah. Dilan meninggalkan Princess yang masih di dalam mobil. Ia tinggal bersama dengan Dilan Malik sejak kecil, lantaran Princess ingin dekat dengan adiknya meski berbeda Ayah.


"Ilan, jika ini yang terbaik bagi hubungan kita. Aku siap menderita tapi aku tidak mau kalah begitu saja, jika nanti kamu menikahi wanita yang kamu pilih dan cintai, aku harap...." Princess sudah tidak mampu berbicara lagi.


Ia berjalan seperti orang tanpa jiwa hanya raganya saja yang ada, bahkan pembantu rumah tangga menegurnya sedari tadi tidak ia respon sama sekali keberadaannya.


Di dalam kamar Dilan kehilangan kendali sendiri, siapa orang yang Kak Princess cintai diam-diam. Kenapa dia tidak bicara dulu padanya.


"Kamu menyakiti aku kak." Dilan mengepalkan tangannya.


Benar-benar orang tidak beres dan tidak jelas, mood jelek ulahnya sendiri tanpa kejelasan.


"Sial... Ternyata ada orang yang ia cintai selama ini, aku harus menyelidiki siapa dia. Aku tidak mau kak Princess jatuh di tangan bajingan yang banyak di kelilingi wanita-wanita." Dilan masih emosi.


Emosi, suatu pikiran yang berada di luar kendali. Jadi jika ada sesuatu yang tidak membuatnya senang ia akan mudah marah dan tersinggung, untuk itu sebagai manusia perlu menetralkan pikiran ke arah positif supaya tidak merugikan orang lain.


Princess yang berada di dalam kamar terdiam sejenak dan menghela nafas dalam-dalam.


Ia benar-benar tidak tau apa maksud dari Uang yang bersikap seperti itu pada dirinya. Princess sadar jika Dilan sedang melindunginya, tapi tidak perlu sampai marah tanpa sebab yang jelas dan pasti.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok.


"Kak Princess buka pintunya, aku mau berbicara." Dilan mengetuk beberapa kali pintu kamar Princess.


Ceklek.


"Ada apa?" Princess menyilangkan kedua tangannya sambil duduk melipat kakinya untuk duduk bersila di sofa coklat kesayangannya.


Dilan sangat canggung ketika masuk ke dalam kamar Princess, meski ia satu rumah sejak kecil. Tapi Princess dan dirinya berbeda jenis kelamin, membuatnya sedikit merasa aneh jika berbicara berdua saat di dalam rumah. Di tambah lagi kejadian tadi, menambah kecanggungan yang ada.


"Ada apa kemari?" Pertanyaan ketus Princess, tanpa menatap Dilan yang seperti kena semprot Satpol PP waktu sekolah dulu.


"Eh... itu, maaf yang tadi aku benar-benar. Ah... aku pergi dulu!" Jawaban macam apa ini.


Princess hanya mengerutkan kedua alisnya.


Sedangkan Dilan malu sekali, terlihat jelas wajahnya yang merah padam usai keluar dari kamar Princess.


"Jadi canggung kan, biasanya malu-maluin." Dilan menepuk jidatnya berkali-kali.


Keesokan harinya.


Seperti biasa Princess fokus berkerja, meski terkadang ia menatap ruangan Dilan dari jauh. Sebagai asisten ia di tempatkan di luar ruangan, tidak seperti sekretarisnya sementara saat mendesak yang sengaja di tempatkan satu ruangan oleh dirinya sendiri yaitu atas permintaan Dilan Malik


"Ish... lagi apa sih mereka, bikin orang penasaran aja?" Diam-diam Princess berjalan sambil berjinjit.


Tiba-tiba seseorang menegurnya dan membuat Princess terperanjat.


"Aduh... kutu kupret, Astaghfirullah." Menebah dadanya sambil menetralkan jantungnya yang berdegup kencang lantaran terkejut.


"Ngapain kamu berjinjit-jinjit, mau menguping bos Dilan yang sedang berkerja ya. Biasa aja kali, langsung masuk ke ruangannya seperti biasa, pakai acara mengendap-endap seperti maling saja." Sindir Friska sambil berdecak pinggang.


"Enggak ah. Takut kena semprot seperti karyawan yang barusan keluar itu," tunjuk nya pada seorang karyawan magang di hotel Royal Malik.


"Aku kembali saja deh, sepertinya menggangu." Gumam lirih Princess.


Tanpa Princess sadari, sedari tadi seseorang di dalam ruangan menanti kehadirannya untuk melihat reaksi Princess seperti apa, saat melihat pandangan mesra Tiara yang sedang duduk di meja Dilan dengan sengaja.


'Kemana sih Kak Princess, kenapa tidak jadi masuk sih. Biasanya main nyelonong begitu saja, apa jangan-jangan benar, ia ada seseorang yang ia cintai lagi di perusahaan ini. Tidak boleh harus aku selidiki siapa pria itu.' Batin Dilan merasa kecewa.


Dilan langsung kecewa begitu saja, ia langsung menatap tajam Tiara untuk segera kembali berkerja dan pergi dari hadapannya.


"Pergi." Ucap dingin Dilan tidak menyukainya sama sekali.


Tiara segera pergi dari ruangan itu dan membawa beberapa berkas untuk ia foto kopi.


10 menit kemudian.


Princess yang hendak duduk mendapat panggilan dan harus ke ruangan Dilan sekarang juga.


Tok


Tok


Tok


"Permisi Pak Dilan, boleh saya masuk." Princess berbicara sangat formal sekali hari ini dan juga lembut pastinya.


"Masuk," Dilan Malik menatap Princess dari atas sampai bawah, tumben-tumbenan nih anak sopan banget seperti bertemu Ibu Guru. Dalam pikiran Dilan ia tersentuh dengan


"Ada apa?" Princess berbicara ketus lagi, apa tidak lelah ia berbicara dengan nada tinggi seperti itu, Dilan saja yang mendengar mulai lelah sendiri.


"Ketus banget sih bicaranya, apa tidak bisa sedikit lembut untukku!" Dilan pura-pura tertindas dengan menampilkan wajah lucu dan imutnya.


"Tidak ada orang, buat apa bicara lembut." Princess benar-benar sensi sekali.


Pasti karena kejadian semalam, hatinya tidak nyaman jika di perlakukan seperti itu. Bagaimana jika suatu hari terjadi hal yang lebih.


Tiba-tiba Dilan berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Princess begitu saja.


Dag


Dig


Dug.


Jantung berpacu dengan keras dan ada rona di wajah masing-masing.


Sedangkan Princess terkejut dengan perilaku Dilan, ia mendengar detak jantung Dilan yang seperti mau melompat dari tempatnya.


Tiara yang baru saja kembali memfoto kopi beberapa berkas terkejut melihat pemandangan ini, ia tidak menyangka jika bosnya bisa memiliki wajah semerah itu. Apalagi yang di peluk adalah asisten pribadinya.


"Ehem... permisi bos." Ucap Tiara menggangu momen terlangka Dilan memeluk Princess kakak kesayangannya.


Dilan segera bersikap normal dan biasa-biasa saja, padahal jantungnya masih saja berdegup tidak karuan.


*

__ADS_1


Cerita kali ini tidak aku masukkan banyak-banyak tokoh sebelum-sebelumnya, ini hanya fokus ke anak-anak saja sebab season nya sudah yang ke tiga.


Terimakasih banyak sudah membaca dan menyemangati aku, love love untuk kalian semua.


__ADS_2