ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
206 S2


__ADS_3

Tekan like dan rate,


***


Ksatria dan Daysi yang sudah berada di Rumah Sakit langsung memeluk dan memberi semangat pada Dhela, Dhela yang mendapat perilaku sehangat ini hanya menatap dengan penuh tanda tanya, siapa kedua orang ini.


"Bagaimana keadaan kamu Dhela?" tanya Daysi membenarkan surai rambut Dhela.


"Ba... ik...!" Dengan terbata-bata Dhela berucap.


Ia menatap Ksatria dan Daysi bergantian, ia butuh penjelasan siapa dirinya ini.


"Tenang Dhela, kami orang baik dan tidak akan menyakiti kamu. Makan dulu ya." Daysi menawarkan makanan pada Dhela. Dhela mengangguk dan mulai membuka mulutnya.


Suapan dari Daysi terasa nikmat, naluri seorang ibu begitu hangat sekali. Daysi memang hebat dalam memberikan kasih sayang seorang ibu, meski ia sempat gagal mencurahkan kasih sayangnya pada putri kandungnya sendiri.


Sindy dan Cheval yang baru saja datang langsung masuk untuk menjenguk Dhela dan melihat keadaannya sekarang ini.


"Mulai sekarang kamu keluarga kami Dhela." Ucap Daysi tersenyum.


Sindy dan Cheval hanya saling menatap satu sama lain, Ksatria juga ikut terkejut dengan ucapan sang istri. Ternyata jiwa kepeduliannya sudah mendarah daging di tubuh Daysi.


Dhela menggeleng, "tidak, saya tidak mau. Saya mau hidup bebas dan mandiri," jawab lirih Dhela.


Daysi menatap sendu, jika Dhela sudah seperti ini dan mengambil keputusannya mau bagaimana lagi.


"Baiklah, jika itu keputusan kamu Dhela. Nanti jika perlu apa-apa hubungi tante ya." Daysi memberikan ponsel pintar keluaran terbaru pada Dhela. Dhela bingung harus bersikap seperti apa, ia hanya mengangguk dan mengucapkan banyak terimakasih sambil memaksakan tersenyum.


Sindy dan Cheval yang sudah menjenguk pulang lebih dulu lantaran Sindy ingin minum susu ibu hamil, dengan takaran banyak susu bubuknya dari pada airnya.


Saat berada di rumah.


"Yakin segini banyaknya, seperti bubur cair susunya?" Cheval memberikannya pada Sindy.


"Iya Aa, jangan lupa ambilkan sendok. Aku ingin meminumnya sekarang!" Jawab Sindy menunjuk lemari tempat penyimpanan sendok dan teman-temannya.


Cheval yang membuatkannya hanya begidik ngeri dengan apa yang sedang dinikmati sang istri, permintaannya aneh-aneh sekali sekarang. Bahkan susu ibu hamil yang seharusnya habis dalam masa dua minggu kini hanya bertahan sekitar 4 sampai 5 hari saja itu pun jika Sindy jarang meminumnya.

__ADS_1


"Anak Papa, baik-baik di dalam ya." Mengusap lembut perut Sindy.


Ada respon dari sang bayi, ia menendang berkali-kali sampai Sindy mengeluh tidak nyaman di perutnya karena bayinya terus saja bergerak memutar tubuhnya sambil menendang-nendang.


"Kenapa kamu tidak berhenti bergerak sayang dan menendang Mama terus menerus sih." Sindy mengusap lembut perutnya.


Sang bayi yang tadinya bergerak terus kini diam di tempat dan menjadi lebih tenang. Sindy lega dengan ketenangan bayinya. Ia usap usap perutnya seraya berpikir baik dan jernih agar si bayi tidak terus-terusan berpindah tempat dan menendangnya.


"Apakah anak kita sudah diam, sayang bukannya baiknya kita melakukan itu. Supaya nanti pas lahiran tidak kesusahan, agar kamu dapat lahiran dengan normal." Menyentuh anggota tubuh Sindy yang sensitif.


"Aa, tidak mau kalau sekarang. Tapi nanti malam tidak apa-apa," dengan malu-malu Sindy berucap.


"Benarkah, tidak sedang membuat alasan untuk menghindari permintaanku ini." Cheval melanjutkan aksinya tanpa menunggu Sindy siap.


Mala yang tadinya ingin mengambil air putih, buru-buru lari saat mendengar suara Sindy dan Cheval yang sedang memadu kasih di dapur.


Dengan jantung berdegup kencang Mala duduk di kursi dekat taman bunga.


"Apa yang aku lihat barusan, astaga... kenapa di dapur sih melakukannya. Aku kasihan sekali dengan peralatan yang ada di dapur." Mala menarik nafas berkali-kali dan menghempaskan nya.


Sindy tidak membalas kelakuan suaminya, ia kesal dengan suaminya yang langsung masuk begitu saja, mentang-mentang dirinya sedang memakai rok selutut, seenaknya langsung membuka dan masuk tanpa aba-aba.


"Gak mau, sakit Aa. Masa langsung masuk tanpa pemanasan dulu!" Mengerucutkan bibirnya.


"Maaf sayang, kamu sangat cantik dan menggoda saat mengandung seperti ini. Bukannya kamu menikmati sentuhan ku barusan." Cheval menyatukan dahinya pada Sindy.


"Siapa yang menikmatinya," elak Sindy dengan wajah yang sangat malu.


"Benarkah, apa Aa salah lihat tadi. Sepertinya tidak mungkin deh kalau Aa salah lihat." Menunjuk wajah Sindy yang sudah bersemu merah.


"AA... AA..., jangan menggoda aku lagi," menutupi wajahnya.


Cheval membenarkan celana miliknya begitu juga dengan rok milik Sindy.


"Aku ke kamar mandi dulu Aa." Pamitnya segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan bagian yang tidak nyaman itu.


"Aa ini benar-benar nafsuan, seperti orang hamil yang ngidam saja. Nafsu... terus-terusan sampai aku tidak ada waktu untuk istirahat." Sindy segera membuka bajunya dan membersihkan diri.

__ADS_1


Mala yang sudah menghitung waktu kini memberanikan diri masuk, ia mendengar suara air dari dalam kamar mandi, pasti Sindy yang sedang mandi karena terlihat Cheval yang masih duduk bersantai di tempatnya.


Rumah Sakit.


Dhela yang baru saja mendapatkan ponsel pintar ia segera menekan tombol dan menggeser layar tersebut, karena ini ponsel baru dan keluaran terbaru, cara kinerja ponsel pun juga sangat cepat. Ia tidak mengingat nama lengkap dan tidak tau terlahir tahun dan bulan berapa.


"Untung saja sudah di daftarkan, jika belum aku harus bagaimana. Tidak mungkin aku menggunakan identitas palsu." Dhela menciumi ponsel itu.


Baginya sekarang ponsel itu sangat berarti, karena yang memberikan ponsel itu orang baik yang menyelamatkan kehidupannya.


"Aku haru mandiri dan tidak mau merepotkan Tante Daysi dan Om Ksatria." Dhela berusaha bangun dari ranjang dan berjalan untuk membuka tirai yang menutupi sinar matahari yang masuk.


Ksatria yang tadinya ingin menghantar makanan untuk Dhela ia urungkan saat mendengar Dhela berbicara seperti itu.


"Dhela." Sapa Ksatria dengan lembut.


"Om Ksatria," Dhela berjalan dengan hati-hati untuk menyambut kedatangan Ksatria.


"Kamu tetap di situ dan diam oke, Paman yang akan kesitu." Ksatria berjalan cepat.


Dhela segera duduk di ranjangnya dan tersenyum.


"Kemana Tante Daysi Om?" Dhela membuka penutup makanan tersebut.


"Masih si toilet, pasti sebentar lagi datang!" Jawab Ksatria.


Daysi langsung masuk dan menyapa Dhela.


"Dhela, bagaimana keadaanmu sekarang. Apa sudah lebih baik dari pada tadi pagi?" Daysi menarik kursi dan duduk di samping Dhela.


Dhela mengangguk, ia tidak banyak berbicara dan lebih memilih segera menghabiskan makanannya. Makanan kali ini terasa nikmat dari pada yang ia makan tadi pagi dan siang tadi. Rasanya gurih dan enak, ia bahkan tidak menawari Ksatria dan Daysi yang berada di dekatnya, seolah-olah ia tersihir dengan makanan tersebut.


"Maaf Tante Om, Dhela sampai lupa menawari kalian. Masakan ini sangat enak, aku menyukainya." Dhela meminum air putih.


"Benarkah enak, kalau begitu besok Tante bawakan lagi ya," menawarinya.


"Eh... tidak usah Tante, nanti merepotkan Tante jika Dhela semanja ini." Melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, lagian Tante memasak selalu banyak, menyisakan satu untuk kamu itu tidak apa-apa. Lagian jika bukan Tante yang memasakkan makanan enak ini, apa kamu akan makan," Daysi tertawa kecil.


"Siap Tante, jika Tante memaksa aku untuk makan masakan Tante, dengan senang hati Dhela terima." Menutup rantang yang baru saja ia gunakan untuk makan.


__ADS_2