ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
186 S2


__ADS_3

Dukungannya.


***


Lidia yang satu kelas dengan Momo di buat heran lagi dengan tingkah aneh Momo, terkadang senyum-senyum sendiri dan menciumi ponselnya terus berubah lagi jadi pendiam, dan hari ini lebih parah ia terus-terusan mencium tangannya sendiri.


"Nih orang sepertinya kesambet setan dan perlu di Ruqyah."


Lidia membaca beberapa surat-surat pendek mulai dari Al-Fatihah sampai An-Nas.


Momo yang tersadar langsung menatap temannya tersebut.


"Lidia, kenapa membaca doa terus dari tadi, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Momo aneh dan terkesan ngelantur saja, jika ada yang menghafal surat-surat pendek apa salahnya.


"Lagi melindungi diri dan meruqyah kamu!" Lidia menunjukkan ponselnya yang terdapat surat-surat pendek.


"Aku kamu Ruqyah seperti tertempel makhluk halus saja, kamu aneh tau gak." Momo membuka bukunya.


"Bukannya memang tertempel makhluk halus, makanya aku bacakan surat-surat pendek biar kamu sadar dan kembali ke jalan yang benar Momo," Lidia semakin keras saja membaca surat An-Nas.


"Ya terserah kamu saja Lidia, lagian aku bahagia karena tadi malam aku habis berkencan dengannya, meski cuma makan malam saja sih." Momo secara terbuka mengungkap kegembiraannya.


Lidia sangat iri hati dengan keromantisan Momo dan calon imamnya kelak.


"Ciye... huh... aku iri, siapa dia? apa aku mengenalnya?" Lidia semakin penasaran.


"Idola kamu, temanku sejak SMA yang pernah aku katakan perjodohanku yang gagal waktu itu!" Momo tersenyum-senyum.


"Lais, laki-laki mirip orang Chinese tapi ada Amerikanya itu. Beneran tidak berbohong." Lidia tidak percaya begitu saja.


Momo menganggukkan kepala dan Lidia patah hati seketika.


"Selamat, aku doakan semoga jadi pasangan suami istri." Mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Momo.


Momo dengan senang hati menerimanya dengan senyum lebah yang sangat indah.


Tahanan.

__ADS_1


Cheval yang sudah melihat orang yang mengancam keselamatan keluarga Malik, langsung menanyai orang tersebut, tidak ada jawaban yang memuaskan lantaran ia tidak mau berbicara sama sekali di balik masker mulut yang ia gunakan.


"Sudahlah dari pada aku kesal sendiri, lebih baik aku pulang. Ayo sayang." Cheval beranjak dari tempat ia bertemu dengan pelaku kejahatan dan pembunuhan tersebut.


"Sabar Aa, dia sepertinya terkena serangan mental terlihat dari perilaku dan sikapnya tadi yang tidak suka kedatangan kita," menenangkan hati suaminya.


"Sepertinya begitu, ayo kita beli minuman dingin saja sayang untuk meredakan hati dan pikiran yang panas." Cheval membeli es kelapa muda.


Cheval hampir habis dua porsi es degan, selain murah rasanya juga enak. Sindy yang juga tak kalah banyak porsinya dengan suaminya juga merasa kurang dan ingin tambah lagi dan lagi.


"Apa kamu juga masih kurang sayang, kita pesan satu porsi lagi dan di bagi dua saja dari pada tidak habis." Menawari sang istri.


"Boleh Aa, dengan senang hati ayo kita musnahkan makanan lezat ini ke dalam perut kita," Sindy melambaikan tangannya dan meminta pada si penjual untuk memberinya satu porsi lagi.


Si penjual ya tentu saja langsung mengiyakan selagi pembeli mampu dan sanggup menghabiskan jualannya tersebut.


"Sudah kenyang, ayo kita bayar kemudian pulang Aa." Memasukkan ponselnya ke dalam tas kesayangan.


"Berapa Pak?" Cheval memberikan uang seratus ribu kepada si penjual.


"Kembaliannya untuk bapak, itu rejeki bapak." Dengan senyum Cheval permisi keluar dari tempat tersebut.


Ternyata memberikan sedekah untuk orang lain, membuat hati dan pikiran tenang seketika tanpa ada beban satu pun yang tertinggal.


"Apa Aa sudah merasa baikan sekarang, aku lihat wajah Aa lebih bahagia dan fresh." Sindy mencubit gemas pipi Cheval.


"Sakit sayang, iya sudah baikan. Lagian dengan bersedekah sedikit membuat beban dalam diriku sedikit ringan," Cheval melajukan mobilnya dengan santai.


Di kampus.


Lais menunggu sang pujaan dalam hati di depan kelas, banyak yang bertanya-tanya sedang menunggu siapa mahasiswa tampan itu. Banyak senior-senior yang mencari perhatian pada Lais terutama bagi kaum hawa.


Momo yang tidak sadar di nanti oleh Lais berlalu saja, lagian mereka berdua hanya teman dekat.


"Momo." Lais mendekati Momo.


Jantung Momo rasanya mau lepas saat melihat betapa tampannya Lais saat mengenakan jas almamater Universitas Kebangsaan, di tambah lagi celana dan sepatu yang ia padukan dengan sempurna di tubuhnya.

__ADS_1


Lais melambaikan tangannya berkali-kali di wajah Momo untuk menyadarkan lamunannya. Tetapi bukannya sadar justru Momo tambah menggila dengan tersenyum-senyum sendiri.


"MOMO." Teriak Lais tepat di depan wajahnya. Momo yang terkejut hampir saja mencium hidung Lais.


"Eh sorry Lais, maaf ya hampir saja hidungmu kecium," Momo menahan malu saat berucap demikian.


"Terkena juga tidak kenapa-kenapa lagian tidak sakit kalau cuma bersentuhan bibir kamu saja." Lais juga tak kalah malunya.


"Ciye... ciye..., pajak jadian jangan lupa ya. Traktir aku ya." Lidia langsung pergi. "JANGAN LUPA YA BESOK." Teriaknya sambil melambaikan tangan dan tanda love.


"Tapi kita, ah sudahlah dari pada pusing memikirkannya," Momo pasrah jika Lidia mengira berpacaran, padahal belum. Cuma teman dekat saja tidak lebih.


"Mau jadi kekasih hatiku Momo sayang." Lais membisikkan tepat di telinga Momo.


"Jangan berbicara ngelantur deh, gak lucu," Momo berjalan lebih dulu dan meninggalkan Lais yang masih tertawa di depan kelasnya.


Kediaman Malik.


Budi yang sudah melewati masa kritisnya kini sudah sadar dan bisa di ajak berbicara kembali, Budi kembali ke kediaman Malik bukan karena terpaksa lantaran keluarganya datang menjemput ke pulangan Budi untuk beberapa minggu saja.


"Bos saya izin pulang dulu ya bos." Budi berpamitan.


"Baiklah, jangan lupa segera kembali kalau keadaan di keluarga kamu mengizinkan berkerja kembali. Ini gajian kamu dan ada bonus juga untuk kamu, gunakan dengan baik-baik uangnya," Ksatria memberikan amplop coklat tersebut pada Budi.


Ksatria memejamkan mata sebentar, dengan terpaksa ia menyuruh salah satu body guard nya untuk menjadi satpam kediamannya.


Daysi membuatkan makanan ringan dan minuman hangat untuk suaminya. Daysi melihat sang suami yang sangat gelisah, meski orang yang menyebabkan kekacauan sudah masuk ke sel tahanan, namun masih saja ada yang mengganjal di pikirannya.


Cheval dan Sindy yang baru saja pulang langsung bergegas bersih-bersih dan berganti pakaian.


"Sindy."


"Iya Aa, ada apa?" Sindy melangkahkan kakinya menuju anak tangga.


"Tidak apa-apa, ayo kita ke kamar!" Cheval mengurungkan niatnya.


Dalam hati Cheval ingin sekali memberi tau jika tadi di jalan ia bertemu dengan seseorang yang ia kenal, tetapi dia benar orangnya atau tidak. Sebenarnya itu bukan urusannya lantaran juga bukan orang terdekat Cheval yang hampir setiap hari bertemu atau beberapa kali ia temui.

__ADS_1


__ADS_2