ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
137 S2 Kasihan


__ADS_3

Terimakasih sudah berkenan mampir dan dukung karya aku.


***


Cheval dan Sindy mengunjungi kedai kopi milik bunda Aurellia yang kian tahun semakin sepi saja, dulu sewaktu kecil kedai ini masih ramai. Mungkin selera orang berbeda sesuai dengan zamannya.


"Sindy."


"Iya Aa, ada apa," Sindy menerima tautan jari jemari Cheval.


"Apa kamu rindu bunda." Cheval menatap wajah Sindy yang tadinya ceria kini berubah suram.


"Iya, bahkan aku sangat rindu Aa. Aku benar-benar tidak percaya Aa jika bunda pergi secepat itu, seperti baru kemarin aku bermanja-manja dengan bunda, sudah hampir dua tahun bunda pergi meninggalkan kami," Sindy mengusap air matanya yang hampir tumpah.


Cheval segera memeluk erat tubuh Sindy dan menghujani ciuman kasih sayang padannya.


"Kita mengunjungi makam bunda bagaimana?"


"Iya Aa, ayo," Sindy mengikuti Cheval yang sudah lebih dahulu berjalan, namun tautan tangan mereka tetap bersama.


Pemakaman Umum.


Sindy dan Cheval membacakan doa untuk almarhumah Aurellia Malik. Makam yang sudah di bersihkan dan di rapikan serta nisan yang seragam dengan makam orang lain. Meskipun keluarga Malik keluarga berada tetapi sesuai tradisi tetap di makamkan di tempat umum.

__ADS_1


Bahkan grandpa dan grandma nya juga di makamkan di tempat umum meski bukan di daerah sini.


"Ayo kita pulang sayang." Cheval membantu Sindy berjalan dari area pemakaman.


Bayang-bayang Aurellia ketika menyambutnya kian terlihat jelas di memori, betapa lemah lembutnya sosok Aurellia. Dari mulai membuatkan kue, mengajari bercocok tanam di kebun dan lain sebagainya.


"Sayang, sepertinya kamu sangat lelah. Bagaimana jika minggu depan saja kita ke panti?" Cheval membukakan pintu mobil. Sungguh suami pengertian dan romantis.


"Terimakasih Aa!" tersenyum dengan sedikit paksaan.


Cheval sudah hafal jika istrinya akan bad mood setelah mengunjungi makam Aurellia sang bunda. Sindy selalu berusaha ikhlas melepas kepergian orang yang ia sayangi dan cintai, akan tetapi tidak bisa di pungkiri jika ia terus merindukan sosok bundannya. Bundannya berperan sangat banyak di hidupnya bahkan kasih sayang yang ia dapatkan melebihi dari mama kandungnya sendiri.


"Kita pulang oke, hapus dulu kesedihanmu sayang." Cheval mengusap lembut pipi Sindy.


Kediaman Malik.


Cheval yang baru saja selesai mandi langsung di tantang sang papa untuk bermain catur, Cheval yang sudah biasa di tantang seperti ini langsung meladeni sang papa. Bagaimanapun ia pernah menang lomba sewaktu SMA dulu.


"Yeess papa skak." Cheval tersenyum sangat lebar.


Benar-benar seperti anak kecil saja dua orang laki-laki ini, yang satu sudah ubanan yang satunnya lagi masih muda.


"Aahh... kamu curang lagi Aa, papa akan lapor ke Sindy biar nanti kamu tidur di sofa lantai satu," Ksatria melempar bidak caturnya.

__ADS_1


"Mau lapor apa sih pa?" Sindy membawakan dua cangkir teh hangat dan beberapa pisang goreng keju.


"Itu... tuh... suami kamu, dia ini nih curang ke papa!" sambil mengunyah pisang goreng.


"Habiskan dulu pa makan pisangnya, baru lanjut bicara. Kasihan kejunya keluar semua." Ledek Cheval dengan sedikit tertawa.


"Iya... iya...," Ksatria dengan cepat langsung menelan kemudian meminum teh hangatnya. "Sindy, beri dia nih bocah cecunguk ini hukuman malam ini. Dia tuh main curang tadi, masak bermain sampai 3 kali papa kalah terus sih," lapornya pada Sindy.


"??!!" Sindy hanya menahan tawa dengan sikap konyol sang papa.


"Papa bohong sayang, masa iya suamimu yang sempurna dalam segala hal main curang." Cheval mencari kebenaran untuk dirinya sendiri.


Sindy hanya mengangguk-anggukkan kepalannya, seraya memilih siapa yang bersikap jujur atau berbohong. Tiba-tiba ide melintas di otak Sindy.


Malam hari.


Ksatria menggendong bantal dan selimut sambil memelas pada sang istri, begitu juga dengan Cheval yang tidak jauh beda dengan Ksatria.


"Kalian menghukum kami." Tanya Cheval dan Ksatria bersamaan.


"Iya," jawab kompak Daysi dan Sindy bersamaan dan meninggalkan para suami di lantai bawah, lebih tepatnya di ruang tamu.


"Nasib-nasib, gara-gara papa." Cheval berjalan menuju ruang televisi.

__ADS_1


Sementara Ksatria menuju kamar tamu, ia tidak mau satu ruangan dengan Cheval. Yang ada beban hukuman tambah meninggi.


__ADS_2