ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
163 S2


__ADS_3

Cheval memarkirkan mobilnya, tadi sepanjang perjalanan ke kampus Cheval hanya diam dan tidak banyak bicara.


"Aa aku masuk ke kelas dulu ya." Sindy membuka pintu mobil. Cheval yang kurang berkonsentrasi mengabaikan Sindy bahkan Sindy mengulurkan tangannya tidak di anggap sama sekali oleh Cheval.


Ada sedikit goresan luka melihat perilaku Cheval yang seperti ini.


Satu minggu lebih Sindy melaksanakan ujian dan selama itu pula Cheval tidak memperdulikan keberadaan Sindy yang ada di samping yang selalu menyemangatinya.


Ttaakk


Sindy meletakkan sendok yang berisi sup dengan kasarnya, Cheval sampai terkejut bukan main karena sup hampir tumpah di lengannya.


"SINDY." Bentak Cheval tiba-tiba.


Sindy menatap takut ekspresi Cheval yang baru kali ini membentaknya bahkan tangan Cheval sudah siap untuk menamparnya.


"Maaf... Sindy, maafkan Aa Sindy." Cheval yang baru sadar akan melakukan hal yang akan ia sesali seumur hidupnya, langsung memeluk erat tubuh sang istri yang sudah ketakutan setengah mati.


"Aku takut dengan Aa yang seperti ini, seperti bukan Aa yang selalu ceria dan menampilkan senyum tampannya," Sindy menolak pelukan Cheval dan mulai mengeluarkan air matanya.


Beberapa hari ini dia membaca beberapa surat kabar jika marak sekali suami menyakiti istrinya lantaran hal sepele.


"Maaf sayang maaf, Aa janji Aa tidak akan mengulanginya lagi, apalagi membuat kamu ketakutan berada di dekatku sayang." Pelukan Cheval tetap erat dan membuat Sindy kesulitan bernafas.


"Aa... sesak Aa," mencubit perut Cheval yang rata.


"Aww. Cubit lagi sayang biar Aa tidak mengulangi kesalahan yang sama," Cheval mengangkat tangan kanan Sindy dan meletakkannya di pipi kirinya. "Pukul dan tampar sayang, tampar sini."


Cheval menggila sendiri.


PPLLAAKK

__ADS_1


"Sadar Aa." Tamparan Sindy menyadarkan kegilaan Cheval.


Cheval tertunduk diam.


"Aa, kita boleh tertekan dengan masalah ini itu, tetapi Aa harus ingat Aa punya tanggung jawab Aa sudah dewasa dan menjadi suami dan calon papa untuk anak-anak nanti, apa Aa ingin mereka kecewa dengan papanya?" Sindy mencengkram kuat pundak Cheval.


Cheval mengangguk berkali-kali. "Iya sayang, Aa janji akan berfikir lebih dewasa lagi demi keluarga kita demi masa depan kita, aku tidak mau anak-anak kita nanti kecewa dengan papanya," mencium dahi Sindy dengan sangat lama.


Sindy memainkan jari jemarinya, ia juga merasa bersalah kenapa suaminya ia tampar sekeras itu sampai pipinya merah padam di bagian sebelah kiri saja, apa di tambah tamparan lagi untuk yang kanan biar sama-sama merahnya dan nanti sang papa menjemurnya di luar tanpa ampun.


"Aku juga minta maaf ya Aa, sudah menamparmu sampai seperti ini." Sindy membuka layar kamera ponselnya dan menunjukkan pada Cheval.


"Ini, pantas saja sakit ternyata sampai bengkak seperti ini," mengusap lembut pipinya.


"Aku ambilkan es batu ya Aa." Sindy dengan terburu-buru sampai ia terjatuh lantaran tersandung anak tangga.


BBUUGGHH


Cheval menghampiri sang istri dan langsung menggendongnya ala bridal style tidak seperti biasa ia mengendong sang istri di pundaknya.


"Hati-hati jalannya sayang." Meletakkan tubuh Sindy di kursi panjang sofa dan meluruskan kakinya.


"Sudah hati-hati Aa tadi, tapi aku heran sejak kapan anak tangga itu bertambah bukannya anak-anak tidak di izinkan punya anak," jawab aneh Sindy.


"Dasar menyalahkan anak tangga, makanya jika mau kemana pun kamu pergi jangan hanya benda yang di incar tetapi keselamatan kamu juga, misalnya nih ya kamu lihat ada berlian di tengah jalan atau tengah lautan yang ternyata ada bahaya yang mengintai tiba-tiba dan kamu tidak dapat menghindarinya, seperti itu contohnya. Sebentar Aa ambilkan kompres dan obat luar untuk lukamu ini."


Sekarang justru kebalikannya, niatnya mengobati sang suami kini malah dirinya juga ikut terluka.


"Aduh sakit Aa, pelan-pelan jangan kasar seperti itu Aa." Sindy mengeluh kesakitan.


Mala yang mendengar teriakan Sindy tidak berani mendekat pasti nona muda dan tuan mudanya ini sedang bermesraan di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Cepat lari dari tempat ini sebelum gajiku melayang di awan dan aku tidak dapat menggapainya." Mala langsung berlari ke arah taman dekat kolam renang dan melakukan aktivitas lainnya.


Tukang kebun baru di kediaman ini hanya tertawa melihat Mala yang kocar kacir berlarian seperti di kejar hantu siang hari.


"Aa." Panggi lembut Sindy usai menjambak dan mencakar lengan Cheval.


"Hem... apalagi, kurang puas setelah menjambak rambut dan mencakar lengan aku?" Cheval menjadi kesal sendiri.


Sindy menampilkan deretan gigi putihnya.


"Ee... he... he..., tidak Aa. Terimakasih Aa!" sambil mencium bibir Cheval tanpa malu.


Cheval yang tadinya marah langsung luluh seketika melihat kelakuan istrinya. Sungguh di sayangkan momen seperti ini tidak di manfaatkan sekarang juga. Ksatria yang baru pulang hanya tersenyum dan menikmati pemandangan yang jarang ia lihat semenjak menikah dengan Daysi. Ksatria berjalan mendekati sepasang suami istri dia menikmati pemandangan tersebut di sandaran sofa yang di tempatinya.


"Sungguh luar biasa pesona putriku ini, dia begitu sangat luar biasa di lihat dari sudut manapun." Ucap Ksatria yang membuyarkan kegiatan Cheval.


"PAPA." Terkejut secara bersamaan.


Ksatria tersenyum lebar tanpa merasa bersalah. "Sepertinya jika papa tidak pulang kalian akan bermain di situ, lihat tempat dong Aa... Sindy kasihan yang jomblo lewat nanti." Ksatria mengambil minuman dingin dari dalam lemari pendingin.


"Tidak pa, Aa tidak seperti itu. Tadi itu terpancing suasana saja, karena Sindy menggoda sekali," Cheval menatap ke arah lain.


"Lucu sekali anak muda jaman sekarang, tidak cuma sekali ini loh papa melihat kamu seperti ini, bahkan di taman papa sering melihat kalian menikmati satu sama lain. Sindy jangan mau jika Aa seperti itu lagi di tempat umum." Ksatria cepat-cepat pergi sebelum melihat adegan yang lebih dewasa lagi.


Sindy menatap kepergian sang papa, ada benarnya juga sih biar tidak ada yang tau jika dirinya istri sang kakak, meski bukan kakak kandungnya. Dulu sewaktu Sindy baru lahir, Daysi sengaja tidak memberikan air ASI-nya supaya kejadian yang tidak di inginkan terjadi andai waktu itu Cheval di berikan air asi pasti sekarang Sindy dan Cheval menjadi saudara kandung. Dan benar saja sekarang terjadi sang kakak begitu sangat mencintai adiknya sendiri.


Ksatria yang bersantai di tempat olah raga langsung mengangkat alat beratnya untuk berlatih, meski umurnya sudah lima puluh tahun lebih sedikit tidak menyurutkan semangatnya untuk berolah raga berat, baginya ini sudah rutinitas setiap hari begitu juga dengan Cheval yang juga ikut latihan berat untuk membakar lemak di dalam tubuhnya.


***


Kita ambil pelajaran yang baik ya, jika ada masalah apapun di kehidupan kita jangan terlalu berfikir berlebihan kita ambil jalan tengah yang positif tentunya.

__ADS_1


__ADS_2