
Ksatria sangat nyaman saat ini tubuh Daysi seperti candu untuknya, Ksatria membenamkan wajahnya di punggung Daysi. Daysi yang awalnya tidak nyaman kini berusaha mengimbangi keadaanya.
Pagi hari.
"Nak Daysi, hari ini tumben tidak memasak untuk aden?" tanya mbok Yati yang duduk sambil menyentuh tangan mungil Cheval.
"Aku lagi malas mbok, apalagi datang bulanku datang rasanya badan tidak enak buat melakukan aktivitas apapun!" Daysi terlihat letih sekali.
Ksatria yang baru bangun melihat ke arah sampingnya, kenapa Daysi tidak membangunkannya. Tidak seperti biasanya bahkan air dan pakaian tidak ada di kamarnya.
"Kemana sih Daysi tumben tidak menyiapkan apa-apa untukku, apa Aak Cheval semalam rewel tetapi aku tidak mendengar tangisnya semalam?" Ksatria memasang dasi.
Setelah rapi dengan setelan jasnya Ksatria menuruni anak tangga menuju lantai satu. Melihat kesana kemari namun tidak menemukan keberadaan Daysi, bahkan batah hidung Aurellia juga tidak ada.
"Kenapa rumah sebesar ini sangat sepi padahal kemarin masih rame keadaan rumah?" Ksatria heran dengan semua orang yang tiba-tiba hilang seperti di telan bumi.
Saat menelusuri halaman rumah Ksatria terkejut dengan apa yang ia lihat. Daysi pingsan dan sedang di bopong oleh asisten rumah tangganya.
"Ada apa ini kenapa Daysi bisa pingsan?" Ksatria sangat hawatir dan langsung mengambil alih dan mengendong Daysi masuk ke dalam rumah. "Telpon Dokter Ano suruh ia kesini secepatnya." Perintah Ksatria pada salah satu body guardnya.
Sekitar 10 menit Dokter Ano sudah datang karena kebetulan tadi ia ingin mengunjungi kediaman Ksatria Malik. Setelah memeriksa kondisi tubuh Daysi, Dokter Ano menyarankan Daysi untuk istirahat sementara waktu. Daysi mulai sadar dari pingsannya.
"Pelan-pelan," Ksatria membantu Daysi duduk di ranjang dan segera memberi air untuk di minum Daysi.
"Aku permisi dulu kalau begitu." Ano segera bergegas membereskan peralatan yang ia bawa tadi.
Ksatria menggengam erat tangan Daysi. Daysi masih merasakan nyeri di perutnya karena datang bulan. Baru kali ini Daysi merasakan datang bulannya sakit sekali sampai ia tidak bisa menahannya untung saja tadi Cheval berada dalam gendongan mbok Yati. Jika tidak bisa-bisa ia terkena masalah karena tidak bisa merawat Aak Cheval.
"Apa masih sakit perutmu?" Ksatria mengusap lembut perut Daysi. Daysi sangat nyaman dengan sentuhan tangan Ksatria seperti obat saja tangannya Ksatria.
"Tidak, sudah lumayan baikan!"
__ADS_1
"Aku ambilkan makan ya kemudian kamu harus minum obat ini. Tunggu di situ jangan pergi, kalau aku kesini kamu tidak ada awas saja." Ksatria mengancam lagi.
"Hhaahh... apa tidak punya ide lain selain mengancam. Dasar menyebalkan sekali," Daysi mencari-cari ponselnya untuk bermain game, namun ponselnya tidak ada.
Ksatria yang baru saja masuk langsung meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja, Ksatria merogoh saku celanannya dan memberikan ponsel baru untuk Daysi. Daysi heran dengan Ksatria yang tiba-tiba memberinya ponsel seakan tau jika dirinya tengah mencari ponselnya.
"Aku mencari ponselku, ini bukan milikku?" Daysi menyodorkan kembali ponsel Ksatria namun oleh Ksatria tidak di terimanya.
"Kamu pakai ponselku, nanti aku belikan yang baru untukmu!" Ksatria menyuapi Daysi.
Ksatria lupa jika di ponselnya masih banyak foto Arabelle yang belum sempat ia hapus, Ksatria yang baru tersadar hanya menggigit bibirnya berharap Daysi tidak marah.
"Ini apa? kamu masih mencintainya sampai detik ini, terus aku bagaimana di hatimu apa aku tidak berarti bahkan satu fotoku tidak ada, bahkan foto Cheval juga ada di sini?" Daysi mematikan ponsel Ksatria dan mengembalikannya.
"Aku tidak bermakasud menyimpannya Daysi, dulu memang sempat aku berpikir untuk merebut hatinya lagi karena ia di sakiti oleh suaminya, maka dari itu aku tidak menghapus fotonya. Tapi takdir berkata lain ia tiada setelah melahirkan Cheval dan aku di suruh untuk menjaga anaknya, aku mau merawatnya sebagai ganti aku tidak bisa di sampingnya dulu." Ksatria berusaha menjelaskan pada Daysi.
"Oohh... jadi aku pelampiasan karena dia sudah tiada saat ini. PPEERRGGII... jangan pedulikan aku lagi, sana pergi." Daysi sekuat tenaga mendorong tubuh Ksatria Malik.
"Maafkan aku Daysi, tetapi aku sungguh-sungguh ingin berumah tangga denganmu, aku mencintaimu," menggengam erat tangan Daysi namun dengan cepat Daysi menariknya.
"Jangan membual dan mencari alasan, jika kamu tidak pergi dari hadapanku saat ini. Aku yang akan pergi." Daysi bangkit dari ranjang entah kekuatan apa yang ia miliki padahal ia baru saja pingsan namun ia mampu berlari dari Ksatria dan masuk ke kamarnya dan mengunci dari dalam.
Ksatria mengejar Daysi namun karena tubuhnya lemas dengan apa yang barusan terjadi membuatnya tidak mampu mengejar Daysi. Saat berada di depan pintu kamar Daysi, Ksatria terus mengetuknya namun tidak di jawab oleh Daysi.
"Please Daysi buka pintunya, aku benar-benar berkata jujur, aku tidak mencintainya lagi di hati dan hidupku hanya kamu saja yang ada Daysi, aku mohon buka pintunya Daysi."
Sebenarnya Ksatria ingin sekali mendobrak pintu kamar Daysi namun tidak jadi karena jika ia melakukannya Daysi pasti akan lebih marah lagi.
"Memang laki-laki play boy tetap saja play boy, seharusnya aku tidak pernah percaya dengan sikap baiknya. Kamu bodoh Daysi kenapa kamu percaya dengan sikap manisnya, seperti ini kan jadinya kalau kamu berani bermain cinta." Daysi merutuki kebodohannya.
Ksatria masih mengetuk pintu kamar Daysi tetapi tetap saja hasilnya nol besar. Aurellia yang baru saja ingin menemui Daysi terkejut dengan apa yang ia lihat, sang Kakak berada di depan pintu kamar Daysi dan tidak di bukakan pintu oleh Daysi.
__ADS_1
"Aurel, kakak mohon tolong kakak bujuk Daysi untuk tidak marah lagi denganku." Ksatria memohon pada Aurellia.
"Iya aku coba bicara sama Daysi, kakak tenang oke." Sambil tersenyum sangat manis.
"Eehhee... aku tidak janji kakak akan membantu kakak, akan aku buat kakak kebinggungan mengejar cinta Daysi sahabatku, salah sendiri kenapa menyakitinya. Setelah bucin jadi kebinggungan sendiri kan." Dalam batin Aurellia tertawa keras.
"Terimakasih ya, kamu memang adik terbaikku," memeluk erat tubuh sang adik.
"Iya... iya..., coba aku ketuk pintu kamar Daysi, kakak pergilah dulu nanti jika Daysi bisa di ajak memgerti baru kakak menemuinya." Aurellia mengetuk pintu kamar Daysi saat Ksatria telah pergi dari hadapannya.
TTOOKK... TTOOKK...
"Daysi ini aku, buka pintunya aku mau bicara." Menunggu jawaban Daysi.
"Jika kamu kesini hanya untuk membujukku untuk baikan dengan Kakakmu maaf Relli aku tidak bisa," Daysi menghapus air matanya yang sedari tadi jatuh.
"Tidak, aku tidak ingin membujukmu tetang itu. Aku ingin membicarakan tentang seseorang waktu aku di luar kota."
CCKKLEEKK... Daysi membuka pintu kamarnya. Daysi memastikan jika Ksatria tidak ada setelah melihat sekeliling arah Daysi menyuruh Aurellia untuk masuk kedalam kamarnya.
"Beneran kamu tidak akan berusaha membujukku kali ini?" Daysi menatap ke arah lain tidak menatap sahabatnya, ia sedikit tidak berani menatap karena wajah Ksatria dan Aurellia mirip bahkan bisa di bilang kembar tapi beda versi saja.
"Iya aku tidak berusaha membujukmu untuk baikan dengan kakakku, bukannya saat di depan pintu aku sudah mengucapkan jika aku ingin membicarakan tentang masalahku selama di luar kota!" Aurellia tersenyum.
"Baiklah kalu begitu kamu bicara dulu, seperti apa orangnya. Aku jadi penasaran seperti apa sosoknya?" Daysi menatap sekilas wajah Aurellia.
"Dia baik dan pekerja keras, aku beberap kali menemuinya. Karena kita juga sama-sama seprofesi bedanya aku ada tempat yang di sewa, sedangkan dia punya mobil yang bisa di bawa kemana-mana. Dan satu lagi Daysi ia memiliki senyum yang sangat manis di lihat oleh mata. Tapi sayangnya satu ia masih menganggapku teman, karena ia baru saja putus cinta karena sang pujaan telah menikah. Kasihan sekali dia." Ucap panjang lebar Aurellia.
"Selain itu, ia memiliki 2 usaha yang sama tapi salah satunya di kota ini. Dan katanya ia baru saja mengundurkan diri dari hotel kakak." Sambung ucapan Aurellia.
DDEEGGHHH... jantung Daysi berdenyut ngilu kenapa ciri-ciri yang di ucapkan Aurellia seperti Abang.
__ADS_1