ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
243. Bismillah Cinta


__ADS_3

Pukul 04.00 sore.


Lais tersenyum-senyum melihat sang istri yang tengah berolah raga ringan untuk menjaga kesehatan tubuhnya.


"Kenapa sedari tadi tersenyum terus mas, ada yang aneh?" Mengerutkan kedua alisnya, tidak biasanya Lais seperti ini.


"Tidak, aku mau sama kamu terus sama-sama sayang!" Lais memajukan tubuhnya dan meraih tubuh berisi istrinya. "Ajari aku menjadi suami sempurna dengan Bismillah sayang." Bisik nya di telinga sang istri.


"Iya mas, apa kamu tau mas. Jodoh yang baik dan sempurna itu harus kita bentuk bukan kita cari, sampai ujung dunia pun jika kita mencari yang sempurna tidak akan ada dan tidak akan bertemu. Mas, jika kamu ingin sempurna dan baik ayo kita mulai dari sekarang, jangan menunda nanti-nanti," Momo memberi nasehat yang baik untuk suaminya.


"Baiklah sayang, karena hari ini kita baikan dan kamu berlapang dada menerima mas mu ini lagi dengan ikhlas dan tulus. Ayo kita mulai berkencan lagi sayang, kita mulai dengan jalan-jalan." Ajaknya terdengar sangat romantis sekali.


"Tidak akan gagal dan tidak akan ada yang menggangu?" Momo sengaja mempertanyakan hal itu.


"Di jamin seratus persen sayang, kita titipkan Princess di rumah Papa. Lagian kasihan jika Lala terus menjaganya, Princess tadi bicara jika suster Lala sakit!" Jawabnya memeluk erat perut Momo.


"Mbak Lala sakit mas?" Momo terlihat panik.


"Iya!" Menjawab dengan anggukan.


"Di tunda dulu deh mas kencannya, lebih baik kita makan bersama saja di mana gitu. Kita sudah lama loh mas gak makan lesehan di tepi sungai." Momo menyarankan yang terbaik, selain membangun momen romantis di rumah tangganya sekalian mengajak sang putri untuk bermain di area tersebut, selain tempat maka lesehan di sana juga menyediakan permainan untuk anak-anak.


"Baiklah, apapun ucapan istriku ini aku turuti asalkan baik untukku dan kita," mengambil kesempatan mencium pipi istrinya sekilas.


Ternyata bulan puasa tetap sama seperti hari biasanya yaitu mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi dalam tahap normal tidak berlebihan yang akan membatalkan puasa.


"Mas bulan puasa tidak boleh menciumku." Momo menyentuh pipinya yang baru saja di cium sekilas oleh suaminya.

__ADS_1


"Apa tidak boleh mencium sekilas, lagian ya sayang ini juga bisa menambah kekuatan saat berpuasa," sambil mengedipkan matanya bagian kanan.


"Yang ada pahala berkurang mas." Momo tersenyum dan menampilkan sedikit gigi taringnya.


Lais yang terpesona segera banyak-banyak mengucap istighfar, sebelum puasanya batal karena hasratnya yang memuncak sampai ubun-ubun.


"Semakin cantik dan menggoda saja istriku ini." Lais membelokkan tubuhnya ke arah taman tempat Princess bermain.


Momo menatap sekilas kemana suaminya pergi, ternyata secara perlahan ia membuktikan ucapannya semalam. Semoga hubungan yang di bangun dari ketulusan ini bisa terjalin seterusnya dan tidak putus di tengah jalan, seperti beberapa orang yang ia kenal sewaktu berkerja di beberapa perusahaan yang pernah ia jelajahi.


Kenapa jadi berputar seperti ini jalinan kisah asmara, seharusnya berjalan lebih baik lagi dari sebelumnya.


"Hah... lumayan berkeringat, setidaknya olah raga ini masih aman untuk ibu hamil sepertiku ini, nanti coba tanya ke Dokter tentang jadwal yang pas untuk mengikuti senam ibu hamil." Momo menyeka sedikit keringatnya.


Momo yang sudah selesai dengan olah raga ringannya langsung menyusul suami dan putrinya yang ternyata sedang bermain air, Lais mengajak Princess bermain memancing ikan.


"Princess besok Papa libur kita pergi memancing yuk, sekalian ajak Mama juga." Lais tiba-tiba mendapat ide spontan begitu saja.


"Di pemancingan saja ya Princess, biar cepat dapat ikannya!" Jawab Lais dengan rencana yang sudah hampir 100 persen.


"Mas, aku tidak setuju. Pamali jika istri sedang mengandung kamu memancing ikan." Tegur Momo yang baru datang.


"Benarkah sayang, tidak boleh mancing kalau begitu. Terus aku harus bagaimana, aku ingin sayang," Lais tiba-tiba seperti orang ngidam saja.


"Kita ajak Aa dan Sindy mas, biar nanti Aa yang mancing kamu lihat saja dari dekat." Momo menyarankan saja.


"Ya sudah deh, karena demi adik bayi yang ada di dalam sini. Mancing ikannya aku tunda dulu, tapi setelah lahir aku mau mancing dan buat pemancingan pribadi biar bebas dan puas aku memancing," Lais menyentuh perut Momo.

__ADS_1


"Terserah mas, asalkan tidak lupa keluarga kamu mas." Momo duduk di dekat Princess.


"Tidak akan sayang, aku tidak mau kehilangan kalian," mengacak-acak rambut Momo dan Princess.


Buka puasa.


Lais bermanja-manja meminta sang istri untuk menyuapi makanan, sedangkan Princess yang sudah bisa makan sendiri hanya menatap heran Papanya yang sangat manja.


"Papa manja sekali, nanti kalau adik bayi tau Papanya seperti ini pasti tidak mau punya Papa yang seperti Papa." Princess meledek Papanya.


"Ha..., kamu kenapa bilang seperti itu sih nak, apa Papa tidak boleh bermesraan dengan Mama kamu?" Lais mulai tidak terima dengan putrinya, ia tidak mau mengalah sekarang ini.


"Nanti saat adikku lahir aku bilangin saja, biar Papa nangis!" Jawab Princess tetap melanjutkan makannya.


Tatapan tajam Lais kepada Princess terasa menusuk tulangnya.


"Sepertinya aku salah bicara pada Papa, pura-pura tidak lihat saja." Ucap lirih Princess.


Lais cemberut, niatannya bermanja-manja gagal begitu saja oleh anak kecil. Satu anak saja seperti ini dan sebentar lagi anaknya akan segera lahir dan sepertinya ia benar-benar tidak akan ada kesempatan bermesraan lagi.


"Sabar-sabar ini ujian dalam cinta, punya anak ya resikonya berbagi kasih sayang dari istrinya. Aku ikhlas sayang jika nanti anak-anak mendapatkan kasih sayang darimu saat siang hari, tapi malamnya kamu milik aku seorang." Lais menggenggam erat tangan Momo.


"Eh... kenapa begitu mas, bukannya setiap malam anak butuh dampingan orang tua, aku tidak mau mas. Bukannya mas tadi bilang ikhlas jadi ikhlas nya mas cuma sedikit?" Momo berhenti menyuapi suaminya.


"Iya kamu benar sayang, dulu sewaktu aku merawat Princess sendirian tanpa ada suster Lala maupun pembantu aku kesulitan di awal-awal merawatnya, tapi setelah usaha yang aku dirikan stabil barulah Princess mendapat kenyamanan dan kenikmatan, aku banyak waktu dan Princess selalu ada di dekat aku saat di kantor. Aku senang sayang, apalagi sekarang ada wanita yang paling aku cintai dalam hidup ini, lengkap sudah kebahagiaanku sayang. Aku harap kamu juga bahagia bersama aku dan anak-anak kita, ya." Mencium dahi Momo.


Momo terharu dengan cerita ini, sebab selama ini ia tidak cerita sebegitu menderitanya sewaktu ia harus banting tulang dan sekaligus merawat putrinya. Jadi sekarang Momo tidak akan ragu lagi dengan suaminya ini, pantang mundur sebelum menang. Selagi ada waktu dan kesempatan, memaafkan lebih baik.

__ADS_1


***


Aku doakan semoga langgeng dan bahagia. Buat Momo dan Lais.


__ADS_2