ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
194 S2


__ADS_3

Jangan lupa, like, rate nya.


Terima kasih.


***


Cheval memegang pantatnya yang berdenyut ngilu. Tulangnya serasa mau bercerai satu sama lain, tenaganya hanya tersisa sedikit usai membersihkan diri. Bukannya bahagia kini wajahnya menjadi suram dan masam. Belum juga menunjukkan bakat terbarunya sudah kena encok lebih dulu.


"Kenapa itu, Aa baru jatuh tadi?" menatap sang suami yang tergopoh-gopoh berjalan menuju ke arahnya.


"Iya, apa tidak dengar aku terjatuh tadi. Padahal sangat kencang sekali loh jatuh ku tadi!" Cheval langsung tengkurapan.


"Aku bantu pijatkan ya." Menawari suaminya.


"Tidak usah sayang, aku tengkurapan sebentar pasti segera baikan," tolak Cheval dengan halus.


"Ya sudah, aku buatkan susu hangat sebentar ya Aa." Pamit Sindy berlalu pergi.


Setelah Sindy keluar dari kamar tersebut, Cheval langsung meringis kesakitan di pantatnya dan punggungnya.


"Aduh sakit sekali." Berusaha duduk meski punggung juga merasakan sakitnya.


Sindy membuatkan susu hangat untuk dirinya dan suaminya, sambil menunggu susu sedikit hangat ia mengambil gelas dan nampan.


"Enggak usah pakai nampan deh, daripada nanti kesusahan ke kamar. Di tambah lagi anak tangga yang segitu banyaknya." Ia kembalikan nampan tersebut di dalam almari.


Cheval yang menunggu sang istri mulai gelisah, suara langkah kaki terdengar nyaring di telinga.


Ceklek.


"Apa Aa sudah tidur, kenapa lampunya padam?" Sindy menuju tempat tidur, hanya lampu tempat tidur yang masih menyala.


"Belum sayang, aku disini!" jawabnya yang ternyata baru saja menekan tombol on off yang tertempel di dinding dekat meja rias.


Sindy meletakkan kedua gelas tersebut di atas meja dekat tempat tidur dan segera berlari membantu suaminya.


"Sini aku bantu Aa." Menawarkan dirinya.


"Tidak usah, jangan sayang Aa masih bisa. Lihat Aa sudah baik-baik saja ini, lagian sakitnya cuma sebentar ko," Cheval berjalan cepat.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gak mau di bantu Aa, selamat berjuang sampai tempat tidur." Sindy meminum susu hangatnya.


Ia duduk di ranjang sambil meminum susu yang masih hangat.


"Bagaimana susunya, apa terlalu panas susunya?" menyentuh gelas yang di pegang oleh Cheval dengan jari telunjuknya.


Dahi Sindy mengkerut saat merasakan jari telunjuknya tidak merasakan apa-apa.


"Bukannya ini terlalu dingin untuk di minum?" Cheval meletakkan kembali gelasnya.


"Perasaan tadi hangat deh, gara-gara Aa jalannya lama makanya susunya jadi dingin!" Gumam lirih Sindy.


"Aku tidak mau yang dingin aku mau yang hangat, perutku sakit kalau dingin." Memanyunkan bibirnya.


Sindy yang melihat ekspresi suaminya yang sangat manja dan memanyunkan bibirnya langsung saja melepaskan jedai rambut dan mencubit kan pada bibir Cheval.


"Aww sakit." Segera ia lepaskan jedai rambut tersebut.


"Makannya jangan rewel Aa, jika tidak mau Aa minum yang ini saja milik Sindy," memberikan gelasnya. Dengan senang hati Cheval meminum bekas milik istrinya tersebut.


"Enak sekali milikmu sayang." Menyentuh bibirnya sendiri dengan menggoda. Sindy yang melihat ibu jari milik suaminya yang sedang di jilat langsung malu sendiri.


"Dasar penggoda imanku, pantas saja banyak perempuan yang tergiur denganmu Aa. Kamu sih seperti ini kelakuannya, penggoda."


"Siapa yang tergoda, yang ada itu aku heran kenapa ada orang seperti Aa yang tingkat kepedean nya besarnya melebihi gunung Fuji di Jepang!" Sindy mengambil gelas yang di pegang suaminya dan meletakkannya kembali di meja tersebut.


"Mengaku saja kenapa sih sayang, Aa terima dengan senang hati ko pujiannya." Sakit di pantat dan punggungnya mendadak sembuh.


"Selamat malam Aa," Sindy segera bersembunyi di balik selimutnya.


Cheval sangat malang, ia terabaikan. Sudah suasananya remang-remang tapi gak jadi bermain ular tangga.


"Ayo sayang bermain ular tangga, yang kalah menuruti kemauan yang menang." Membuka selimut yang menutupi wajah Sindy.


"Tidak mau, lagi malas bermain yang ujung-ujungnya aku kalah dan Aa menghukum ku dengan memimpin permainan yang melelahkan dan menguras tenaga," Sindy tidak peduli lagi.


"Ah sayang kamu hari ini membuatku sedih sekali, sudah Aa tadi jatuh di kamar mandi sekarang di biarkan tidak di pedulikan. Malang sekali kamu Cheval, punya istri berasa singel." Memainkan jarinya dengan berputar-putar.


Sindy yang mendengar keluh kesah suaminya langsung duduk.

__ADS_1


"Aku tanya pada Aa, dengan sikap yang Aa tunjukkan seperti ini apa itu membuat aku merasa kasihan, maaf ya Aa bukannya aku mau membangkang permintaan suami. Tapi Aa lihat ini pukul berapa dan besok aku ada jam kuliah pagi dan tidak dapat libur untuk besok, apa tidak bisa di tahan dulu," Sindy yang kesal langsung menunjukkan jam di atas meja lampu.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam ternyata.


"Sebentar ya, lagian punggung aku sedikit sakit." Cheval langsung menindih istrinya.


Pagi hari.


Alarm berdering keras menunjukkan pukul 5 pagi. Mau tidak mau Sindy bangun, lantaran ini sudah kewajibannya bangun pagi untuk menyiapkan keperluan dirinya dan suaminya. Sindy menuju ruang keluarga dan tidak sengaja bertemu dengan Daysi.


"Pagi Ma." Sapanya dengan malas.


"Pagi sayang, kenapa tubuh kamu lemas seperti itu, lesu tanpa semangat seperti itu?" Daysi menyentuh dahi Sindy yang terasa panas. "Kamu sakit sayang." Daysi sangat hawatir.


"Tidak Ma!" Sindy tersenyum.


Kepala Sindy terasa berputar-putar dan pandangannya mulai menghitam dan ia pingsan di tempat.


"SINDY...." Teriak Daysi.


Ksatria dan Mala langsung menuju sumber suara tersebut. Ksatria langsung mengendong tubuh putrinya dan membawanya ke kamar tamu yang lebih dekat dari ruang keluarga.


"Kenapa bisa sakit Sindy, apa di kampus banyak tugas dan tekanan?" Ksatria mengompres dahi Sindy.


"Sepertinya tidak Pa!" Daysi duduk di dekat putrinya sambil mengoleskan minyak angin untuk menyadarkan putrinya.


Cheval yang baru saja bangun mencari istrinya, matanya tertuju pada satu ruangan yang menyala paling terang yaitu kamar tamu. Cheval memiliki firasat buruk pagi ini.


"Pa... Ma..., Sindy." Ia langsung mendekati istrinya yang masih pingsan.


"Kamu apakan Aa dia semalam, kenapa sampai demam seperti ini. Perasaan waktu membuatkan Aa minum tengah malam masih sehat-sehat saja?" Ksatria menatap putranya yang kebingungan menanyainya.


Tidak mungkin ia berbicara kejadian dini hari tadi, padahal sang istri sudah bicara jika nanti ada kelas pagi.


"Aduh." Sindy siuman. Cheval merasa terselamatkan dengan siuman Sindy.


"Sayang, kamu sudah bangun syukurlah," Cheval menciumi kening Sindy.


Sindy mendorong pelan dada Cheval. Daysi dan Ksatria masih penasaran apa penyebab putrinya pingsan sepagi ini, apa semalam suaminya minta berlebihan sampai demam.

__ADS_1


"Jujur Aa, semalam kamu minta jatah tanpa hentikan sampai-sampai Sindy demam?" Pertanyaan tajam Ksatria langsung menusuk jantungnya.


Sindy yang mulai mendengar interogasi papanya, mulai bosan. Setiap hari itu-itu saja yang di bahas, apa tidak ada bahan yang lain untuk di bicarakan para laki-laki ini. Sebagai wanita iya malu sekali hal pribadi terbahas begitu saja tanpa di tutupi.


__ADS_2