
Tinggalkan jejak, biar tambah giat up nya.
Terimakasih banyak ya.
***
Momo segera kembali ke posisinya dan mulai menyuapi Lais. Lais yang perutnya sudah kenyang tidak melanjutkan kunyahan nya, meski Momo yang menyuapi tetapi suapan yang Momo berikan seperti sedang memberi ampas tahu pada sapi saja dengan porsi yang banyak.
"Kenapa diam, sudah kenyang perutnya?" ketus Momo.
"Tidak kenapa-kenapa, cuma aku jadi berharap lebih padamu Momo. Andaikan kamu jadi pendampingku!" wajah Lais berubah sendu padahal dalam mulutnya ia ingin sekali membuang suapan terakhir yang di berikan Momo.
"Kalau takdir bersama ya bersama kalau tidak, masa iya memaksakan kehendak." Momo meletakkan mangkuk yang masih tersisa dan berlalu pergi dari kamar tersebut.
Lais sangat kecewa dengan sikap yang Momo berikan, kenapa harus serumit ini perjalanan persahabatan yang terlumuri cinta yang tidak jelas.
"Kenapa sih Momo kamu seperti itu padaku, apa aku kurang tampan atau karena aku orang miskin. Aku sadar diri ko jika aku orang tidak mampu, tapi aku pastikan jika nanti kamu jadi istriku kamu tidak akan kekurangan apapun bahkan cintaku juga untuk kamu semua sayang." Janji Lais pada dirinya.
Momo yang berada di balik pintu mengamininya.
"Semoga takdir kita bisa bersama Lais, selamat malam," Momo bergumam.
Keesokan harinya.
Dengan ceria Momo mengenakan pakaian rapi ke kampus, dengan di iringi tawa yang bahagia.
"Pagi ayah." Mencium pipi Sacha.
Lais yang masih di rumah ini dan ikut sarapan pagi langsung membuang wajahnya saat melihat Momo mencium ayahnya. Cemburu jangan harap tidak, jawabannya iya.
"Pagi juga Momo, ayo sarapan dulu dan nanti berangkat bersamanya," dengan tatapan tajam.
Lais yang di tatap tajam oleh Sacha menganggapnya sebagai ujian jadi mantu.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak asing dengan pakaianmu?" tanya Momo saat di bonceng Lais.
"Ini pakaian ayah, aku pakai. Ini pun aku juga terpaksa pinjam tadi ke ayah!" Lais mengeratkan pelukan Momo di punggungnya.
Lais terus saja mencari kesempatan untuk menyentuh tangan Momo. Momo juga membiarkannya lagian ini sangat langka semenjak perjodohan itu, moments seperti ini sudah lama tidak terjadi.
"Oh ya Momo, kemarin sewaktu aku lewat kelas kamu. Em apa sebegitu tampannya ponsel barumu sampai-sampai kamu terus menciuminya." Lais memberanikan diri bertanya, meski nanti resikonya Momo minta di turunkan dari motor.
"Em soal itu, rahasia," Momo malu berucap.
"Masa iya aku bilang jika itu gara-gara kamu mana enak."
"Benarkah serahasia itu, apa gara-gara aku yang memilihkannya untukmu." Goda Lais di iringi dengan tawa di balik helmnya.
"Jangan terlalu percaya diri deh kamu, bukan karena itu ko," Momo masih saja mengelak.
"Oke lah aku percaya padamu, bukan karena aku juga. Terus kenapa tangan dan tubuh kamu ini menempel padaku, padahal kita sudah sampai kampus loh." Lais tertawa renyah di parkiran.
Momo langsung melepas pelukannya dan helmnya juga. Saat ini malu Momo abaikan yang terpenting bagaimana ia bisa kabur secepat mungkin dari hadapan Lais.
Cheval hari ini sedang ada mata pelajaran jadinya ia tidak ke hotel. Lebih tepatnya ia sedang mengajar di kelas istri tercintanya.
"Wah kakak kamu memang tampan ya Sindy, sampai-sampai menghipnotis para mahasiswi nya." Ucap salah satu teman Sindy.
"Ee... he... he..., bisa aja kalian," Sindy merasa sangat tertekan sekali.
Ternyata teman satu jurusannya ini mata keranjang, lihat yang bening plus tampan langsung tergoda. Sindy menatap sang suami yang tengah menerangkan di papan white board merasa ada yang ingin membunuhnya dari belakang.
"Ternyata mengajar di depan istri seperti ini, melebihi di kejar-kejar hantu. Bahkan jantungku ini serasa mau lepas dari tempatnya dan bergeser ke lambung kiri ku." Cheval segera menuntaskan mengajarnya pagi ini.
"Leganya usai mengajar, ternyata mengajar di tempat istri sehoror ini." Menebah dadanya berkali-kali.
Seseorang memanggil namanya dengan lembut yaitu mahasiswinya yang cantik jelita, lemah lembut dan murah senyum.
__ADS_1
"Pak Cheval." Panggilnya sangat lembut. Cheval tidak langsung menatap siapa yang memanggilnya seperti itu, jika sang istri bukan dia lantaran Sindy memanggilnya dengan sebutan Aa.
Terus ini siapa yang memanggil dengan suara lembut khas milik istrinya.
Cheval memberanikan diri untuk menatap mahasiswi dari ujung kaki dahulu, ia tersadar dari kakinya siapa dia dan kemudian ia beranikan diri menatap wajahnya. Ternyata sang istri tercinta yang memanggilnya.
Senyum Cheval mengembang seketika, ia tidak pernah menyangka sang istri akan memanggilnya seperti itu.
"Sayang." Ucap lirih Cheval. Mata Sindy langsung melotot saat Cheval menyebutnya demikian dan berjalan mendekati Cheval dan membisikkan sesuatu pada kakaknya tersebut.
"Aa, ingat ini bukan rumah ini tempat belajar. Mereka hanya tau jika kita saudara bukan suami istri," bisikkan Sindy sangat tajam. Cheval mengangguk paham.
"Mau pulang bersama, tadi aku sengaja tidak memberikan tugas untuk kali ini biar kamu tidak kesusahan nanti saat di rumah." Cheval memperbaiki jas yang ia gunakan karena merasa risih ia lepas.
Kemeja lengan panjang yang di gunakan Cheval pas body dan terlihat lekukan tubuhnya menonjol sempurna, betapa indahnya tubuh atletis Cheval.
"Aa."
"Hem ada apa?" Cheval tidak peduli dengan tatapan buas para mahasiswinya, tetapi tidak untuk Sindy ia tidak rela tubuh suaminya di nikmati kaum hawa di Universitas Kebangsaan ini.
"Suka sekali memamerkan tubuh Aa, aku masuk mobil dulu kalau begitu Aa dan lanjutkan jalannya Aa seperti model baru menetas itu!" Sindy berlari meninggalkan suaminya.
"Memamerkan tubuh yang mana, perasaan masih lengkap tidak telanjang seperti saat mandi atau berenang." Cheval kebingungan sendiri sambil ia tatap tubuhnya, yang nampak tercetak jelas di balik kemejanya ada tubuh yang sangat menggoda.
Perjalanan kali ini sangat hening sekali, tidak ada pembicaraan tentang makanan atau cubitan di perut ataupun lengan. Tidak ada suara mesin mobil yang ngebut yang ada hanya diam dan suara musik lembut yang sengaja Cheval hidupkan untuk menghilangkan kesunyian.
"Kenapa lagi sih sayang, Aa salah apa lagi. Masa iya gara-gara Aa lepas kemeja Aa kamu cuekin seperti ini. Tidak baik loh mendiami suami sampai lebih dari tiga hari."
"Ini kan belum tiga hari Aa jadi kenapa berbicara seolah-olah kita bertengkar lebih dari dua hari menjelang tiga hari sih Aa," Sindy mencubit lengan Cheval dengan lembut.
Sejak kapan namanya mencubit ada yang lembut, yang ada itu sakit bukan main apalagi jika cubitannya kecil. Pasti akan membiru bekasnya.
"Ya ada, buktinya sekarang ini. Kamu marah ke aku sudah lebih dari tiga menit yang lalu loh, bukannya itu hampir sama dengan tiga hari cuma beda belakangnya saja." Cheval tertawa nyaring.
__ADS_1
"Aneh, tiga hari jadi tiga menit. Gak nyambung Aa," Sindy membiarkan ucapan suaminya yang aneh untuk di dengar.