ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Kecewa


__ADS_3

Dilan mendekat dan memeluk dengan erat.


"Kita sudah sama-sama dewasa sayang, ayo berjuang bersama. Aku hanya mau menua dengan kamu saja, tidak mau dengan yang lain sayang." Dilan memeluk sambil mengusap surai rambut Princess.


Percintaan memang sangatlah rumit, apalagi di tambah masalah dan salah faham antara kedua belah pihak. Mungkin jika tidak di selesaikan dengan kepala dingin pasti hanya kehancuran yang di dapatkan.


"Maka dari itu Ilan, ayo kita akhiri dengan baik-baik. Kita kembali seperti dulu saja, bersahabat tanpa ada cinta dan kita kentalkan tali persaudaraan kita," ucapan Princess sangat menyakiti hati Dilan Malik, bukan ini jawaban yang ia harapkan meluncur dari mulut wanita yang teramat ia cintai.


Kenapa ... kenapa dengan Princess, apa ia sudah tidak mau berjuang lagi dan lagi.


"Kenapa kak, kenapa. Apa aku tidak pantas singgah di hati kamu lagi?" Dilan seakan tidak percaya dengan keputusan yang menyakitkan ini, tega sekali kakaknya membuat keputusan secara sepihak.


"Kamu pantas bahagia Ilan, tapi bukan dengan aku. Melainkan pilihan Grandpa dan Grandma, jangan membantah pilihan mereka Ilan!" Jawabnya sambil menahan tangisan yang mau pecah.


Hati siapa yang tidak luka jika harus menghadapi ini, sakit sekali rasanya. Mencintai tanpa harus memiliki, di tambah lagi hidup satu rumah. Sebagai kakak saja tidak akan lebih dari itu, sebab takdir saudara sama ibulah yang mengikat mereka sejak lahir.


Dilan berfikir, jika ini permintaan Princess kesayangannya. Baiklah ia akan menuruti semua kemauan Princess tanpa terkecuali sedikitpun, jadi jika ada apa-apa ia tidak akan bertanggung jawab.


"Oke... baik..., kalau itu mau kamu." Dilan berucap sambil menggertakkan giginya.


Ia berlalu pergi begitu saja.


Seketika Princess lemas di tempat, akhirnya selesai juga hubungan dirinya dengan Dilan.


"Saat ini dan mulai sekarang, aku sendirian. Siapa yang akan melindungi aku, hu... hu... hu.... Percuma juga melawan grandpa jika hidup akan di cekik perlahan dan secara halus, di tambah lagi grandpa memiliki sifat tidak mau di bantah. Jika iya nyawa jadi taruhan bahkan kebebasan saja tidak punya." Princess menguatkan diri untuk masuk ke dalam rumah.


Rumah semakin sepi tanpa penghuni, andai dan andai saja sekarang. Andai dulu ia tidak di besarkan oleh mamanya yang bernama Momo dan tidak terjebak di rumah ini, pasti ia tidak akan mengalami hal ini. Kenapa cinta datang dan tumbuh tidak tepat sekali, seharusnya dari dulu ia mengontrol perasaannya tanpa ada kelebihan. Sesal itu membawa petaka untuk dirinya kedepannya.


Dilan yang berada di kamar termenung, sungguh menyakitkan perkataan Princess padanya. Kenapa ia tidak mau di ajak berkerja sama melawan papa Ksatria dan Mama Daysi, seharusnya ia berjuang demi cintanya. Atau selama ini ia hanya pura-pura cinta demi balas budhi.


"Sialan... tidak aku biarkan kamu keluar dari rumah ini kak Princess, kamu hanya milikku sampai kapan pun." Dilan mengukuhkan hatinya dan ia pantang kalah sebelum apa pun yang ia capai berada di genggaman tangannya.


Seperti orang yang obsesi bukan cinta lagi jika seperti ini berlanjut terus.


2 minggu kemudian.


Princess dengan gaun putih selututnya sangat cantik, helaan nafas terdengar berat di dengar. Ia berusaha tersenyum terus, padahal itu hanya kepura-puraan. Princess berakting sebaik mungkin ia tidak mau mengecewakan semua orang bahkan ia rela menelan pil pahit ketika melihat orang yang ia cintai akan menikah dengan ya bisa di bilang kakaknya yaitu Inre Malik.


'Kenapa harus Inre yang menjadi pasangannya. Kenapa tidak orang lain saja.' Batin Princess benar-benar kecewa sekali.


"Cantik sekali." Batin Dilan meronta-ronta saat melihat wanita pujaannya mengenakan gaun tersebut, gaun itu pemberian dirinya secara diam-diam tanpa seorang pun yang tau.


Princess menyalami orang-orang yang ia kenal dengan senyum ramah dan manisnya.


"Harus kuat Princess, jangan lemah. Meski dalam hati hancur lebur, sakit sekali dada ini tapi harus tetap kuat." Bicara sangat pelan dan samar-samar untuk menguatkan dirinya sendiri.


Acara di mulai setengah jam kemudian, acara berjalan dengan lancar bahkan sampai pertukaran cincin.


Calon istri Dilan sangat cantik dan ramah, Princess termenung dengan wajahnya. Sebagai perempuan saja Princess bisa terkagum-kagum dengan wajahnya apalagi para laki-laki. Inre Malik memanglah sangat cantik wajah bule dari Papanya Cheval Malik menurun dengan baik di wajah Inre. Memang sejak kecil Inre sungguh memiliki pesona yang luar biasa.


Dilan berpamitan untuk menemui kakaknya dan ingin berbicara berdua dengan Princess.


Di balkon.


Princess berjalan dengan hati-hati, ia menatap Dilan yang sudah berada di pinggiran balkon.


"Ada apa Ilan?" Princess bertanya dengan hati-hati.


"Apakah kamu sudah puas kak Princess menyakiti hati aku, aku masih memberimu kesempatan. Putus atau terus!" Jawaban Dilan membuat Princess langsung mengalihkan pandangannya. Pilihan apa yang harus di pilih, tidak ada yang harus di pilih bukan.


"Maafkan aku Ilan, aku-- tidak bermaksud membuat kamu tertekan dan terluka Ilan." Princess berusaha meraih pundak Dilan namun dengan cepat tangan Princess di pegang erat olehnya.


Dilan yang sudah dirasuki amarah langsung menyergap bibir Princess dan memberikan sentuhan luar biasanya, bahkan ia sudah tidak bisa mengontrol naf$unya.


Setelah lepas Dilan membersihkan bekas sentuhannya di bibir Princess.


"Sepertinya, aku harus mengikat kamu dengan cara yang buruk. Ayo temani aku tidur hari ini." Dilan bahkan sudah melepas beberapa kancing jas dan juga kemejanya.


PLAK

__ADS_1


Tamparan keras mendarat di pipi kiri Dilan.


"Aku ini kakakmu dan aku tidak mau jadi pelakor." Princess pergi begitu saja dari kamar Dilan.


Princess segera menuruni anak tangga dan pergi keluar dari tempat tersebut tanpa memperdulikan Momo, Lais, Sindy, Cheval bahkan Ksatria dan Daysi juga ikut heran mereka memanggil-manggil namanya tapi tidak satu pun yang ia tanggapi panggilannya.


Princess yang berlari di jalan hanya mengusap air matanya, ia melepas sepatu hak tinggi yang ia kenakan sedari tadi. Ia duduk di pinggiran jalan sambil memijat kakinya yang sakit.


"Pakai ini." Suara lembut dan bagus membuat Princess langsung menatap siapa dia.


Princess tersenyum. Dia adalah Inre Malik putri tunggal keluarga Malik, i yang menyodorkan obat pereda sakit kaki dari kotak obat yang ia bawa kemana-mana. Tapi tentunya di pelayan yang membawakannya bukan dari tangannya sendiri.


"Terimakasih Inre," Princess segera mengenakan salep tersebut.


Rasanya dingin dan enak di pakai, sangat sejuk dan tidak perih sama sekali.


Inre sedikit tersenyum.


"Aku pergi dulu ya, hati-hati di jalan." Inre melambaikan tangannya.


Inre tersenyum di balik senyuman ia menyimpan amarah, kenapa Princess selalu saja merebut hak miliknya satu-satunya bahkan cinta Dilan juga ia miliki. Apa tidak ada rasa terimakasih sedikit sebab ia di besarkan di keluarga Malik meski Papanya juga pengusaha tapi jika bukan bantuan keluarga Malik tidak ada apa-apanya keluarga Erdana Khan.


"Sayang hanya cantik, tapi tidak bisa meluluhkan hati Grandpa dan semua orang." Inre merasa sangat unggul atas apa yang ia dapatkan.


Kediaman Malik.


Sebagai Papa ia kecewa dengan Dilan anak angkatnya, tau begini seharusnya dulu tidak merawatnya dan menolak kehadiran Dilan di tengah-tengah keluarga Malik, ibu dan anak ternyata sama saja. Bahkan tidak sungkan-sungkan lagi Dilan berbicara begitu lantang dan lancang sekaligus, benar-benar tidak tau di untung sama sekali.


Jika di biarkan saja pasti banyak orang yang terluka, harus segera di batalkan saja biar Inre bebas dari masalah ini. Niatnya mau mempererat tali keluarga malah jadi penyebab utama hancurnya keluarga besar Malik.


"Dimana Princess, apa yang kamu perbuat padanya Dilan. Sampai-sampai ia enggan pulang?" Momo menanyai putranya sambil mencengkram kuat kerah baju Dilan.


Sebab setelah berbicara berdua dengannya tadi, Princess pergi begitu saja dan belum kembali sampai sekarang.


"Maafkan aku Mama!" Permintaan maaf sang putra sudah bisa di tebak oleh Mamanya.


"Kamu mau menodainya lagi Dilan? Kamu benar-benar sudah gila Dilan. Kehilangan akal sehat ya kamu." Momo menunjuk-nunjuk wajah putranya.


"Mama akan berbicara berdua pada Papa, kamu harus bersikap baik dan cari Princess sampai ketemu. Jika tidak ketemu jangan harap Mama mau berbicara masalah kamu menolak pernikahan ini." Momo keluar dari kamar putranya.


Dilan segera keluar dari rumah untuk mencari sang pujaan hati, yang tadi ia buat ketakutan setengah mati.


"Kamu dimana kakak sayang, please maafkan aku." Dilan mencari kesana kemari.


"Kenapa harus main kabur-kaburan sih." Dilan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia mau lebih teliti mencari Princess.


Apalagi dia anak gadis, tidak baik keluar sendirian. Selain itu dia ada dimana, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Belum terlalu malam tapi Princess sudah pergi dari acara sejak pukul 03.00 WIB tadi sore.


Princess duduk termenung di tepi sungai, pakaiannya bahkan masih sama mengenakan gaun putihnya, sesekali ia mengusap air matanya yang masih saja menetes di pipi cantiknya.


"Aku harus bagaimana dan kemana. Aku tidak punya tempat tinggal." Gumam Princess.


Seseorang menepuk pundaknya.


Princess terperanjat kaget.


"Eh... sorry sorry gak sengaja, kenapa sendirian dengan pakaian seperti itu. Apa sedang menunggu kekasih datang?" Tanya seorang perempuan yang berkerja satu hotel di Royal Malik dengan Princess.


"Tidak Tami!" Jawab Princess tersenyum ceria seperti biasanya di hotel.


"Lantas, kenapa kamu mengenakan gaun bagus seperti itu?" Tami ingin menggali lebih privasi Princess, sebab selama ini Princess begitu dekat dengan Dilan calon bosnya di hotel.


"Tidak ada, sudahlah Tami. Kita tidak saling kenal bukan jangan sok dekat dengan aku, nanti kamu terluka!" Jawaban Princess terdengar sangat sombong sekali.


Tami berdecak kesal, baru juga mendekati tapi di tolak mentah-mentah.


Princess kembali termenung.


Sekitar 10 menitan Princess di kejutkan lagi dengan pelukan erat dari belakang tubuhnya, wangi ini mengingatkan dirinya pada sang pujaan yang ia tolak ajakan berjuang bersama demi cinta dan kebahagiaan.

__ADS_1


"Please jangan seperti ini, lupakan dia Princess dia adik kamu sendiri." Gumam lirih Princess dan membuat Dilan tersenyum sangat lebar.


"Aku mencintaimu kak, sangat-sangat mencintaimu." Dilan berbisik tepat di telinga Princess.


"Aku juga," ucap Princess tanpa sadar, ia pikir ini hanyalah mimpi yang ada di hayalannya saja.


"Benarkah?" Dilan langsung membalikkan tubuh Princess untuk menghadap dirinya.


Saat sadar Princess membulatkan matanya. Ternyata bukan hayalan melainkan kenyataan yang ada.


"U...." Princess tidak bisa bicara apa-apa saat jari telunjuk Dilan menutup mulutnya.


"Kita mulai hubungan ini dari awal ya, aku mohon kak Princess," sambil menggenggam erat tangan Princess.


Dilan tidak sabaran dengan jawaban apa yang di lontarkan Princess, apakah dia setuju atau tidak.


"Bagaimana? Apakah setuju?" Dilan mengerutkan alisnya.


"Beri aku waktu Ilan, asalkan kamu tidak ceroboh kepadaku. Kamu pasti tau dan faham apa yang aku maksudkan!" Jawaban Princess beranjak pergi dari tempat tersebut.


Dilan menganggukkan kepala dengan cepat.


Saat pulang Princess masih sama seperti beberapa hari ini yaitu dingin dan banyak diam tanpa bicara.


Momo yang melihat sang putri sudah kembali langsung memeluk dan menghujani banyak ciuman.


"Kamu kemana saja sih nak, apa kamu tidak kasihan dengan Mama?" Momo membenarkan anak rambut Princess yang berantakan.


"Jalan-jalan Mama, aku ingin menyegarkan pikiran. Maafkan Princess ya Mama jika membuat Mama hawatir!" Princess merasa bersalah sekali, pergi tanpa pamit bahkan mematikan ponselnya.


"Tidak sayang, seharusnya yang meminta maaf itu Dilan bukan kamu sayang." Momo menatap tidak suka pada putranya.


"Maaf Mama, Dilan janji tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang akan membuat kakak pergi lagi dari Mama," Dilan menundukkan wajahnya, ia tidak mampu menatap Mamanya.


Ksatria Malik berjalan mendekati keluarganya langsung duduk.


"Tapi sebagai papa dan Grandpa, aku harus menjaga cucu perempuanku dari orang yang hanya mementingkan nafsu saja, contohnya kamu anak nakal." Menunjuk Dilan dengan tongkatnya.


Dilan membulatkan pandangannya, hampir ia tidak percaya jika Princess lebih penting. Terus perasaan anak angkatnya ini bagaimana, apakah tidak memberi solusi atau apa begitu.


"Papa tidak peduli dengan perasanku?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Tidak!" Jawab Ksatria merasa bangga.


"Ma...." Dilan merengek kepada Mamanya.


"Sudahlah Dilan, jika berjodoh pasti bersama ko tapi karena kalian saudara seibu maka dari itu percaya dengan Mama pasti kalian tidak berjodoh," sambil mengusap surai rambut Dilan. Dilan menggerutu di doakan seperti itu oleh Momo mama angkatnya.


Momo sudah berbicara dengan Papa nya perihal ini. Ksatria terkejut bukan main saat cucu laki-lakinya ini mencintai kakak kandungnya, meski bukan dari ayah yang sama tapi keluar satu rahim yang sama. Bahkan yang lebih parahnya sang Dilan hampir menodai Princess untuk yang kedua kalinya. Benar-benar gila anak angkatnya ini, sepertinya jika ini di biarkan maka keselamatan Princess yang akan menjadi taruhannya nanti.


Ksatria Malik sudah membuat keputusan yang baik untuk mereka berdua kedepannya.


"Princess, bukannya kamu ingin pergi ke luar kota, bagaimana jika kamu melanjutkan S2 di Singapura, Grandpa akan segera mengurus semua kebutuhan kamu untuk berangkat dalam minggu-minggu ini?" Ksatria menanyai sang cucu lagi pula semua keluarga Malik memiliki pasport.


Princess terkejut dengan pertanyaan ini, bukan hanya Princess tapi semua orang yang ada di tempat.


Dilan tidak habis pikir, ia kira tidak bakal di pisahkan dengan kakaknya namun kini malah nyata di pisahkan dengan cara terang-terangan.


"Pa ... aku tidak setuju dengan ini, aku tidak mengizinkan kakak pergi dari kota ini bahkan luar negeri." Dilan menarik pergelangan tangan Princess dan memeluknya dengan erat sekali tubuh kecil kakak tersayang.


Ksatria Malik tersenyum.


"Terus, dengan apa kamu bisa membuat papa dan semua serta Mama kamu percaya jika kamu tidak setuju dengan keputusan ini, bukannya kamu sendiri selalu membahayakan keselamatan kakak kamu. Bukannya ini yang terbaik untuk Princess menjaga kehormatannya, untuk sang suami nanti?" Pertanyaan sang Kakek membuat Di lan sangat kecewa pada dirinya sendiri.


"Bukannya jika di luaran sana keselamatan Kakak Princess lebih tidak terjamin. Biarkan aku menjaganya sepenuh hati jiwa dan raga aku pa ...!" Jawaban Dilan dengan penuh keyakinan seperti seorang suami sejati.


"Sudahlah, berusaha saja membuat Papa ini luluh. Jika tidak, jangan harap bisa bertemu cucu perempuanku Princess." Ksatria melangkahkan kakinya ke arah ruang keluarga di mana terpampang foto keluarga besar Malik.


Ksatria sangat sedih, ia hampir gagal mendidik sang anak angkat laki-lakinya. Andai itu benar-benar terjadi, bukankah ia akan berdosa sebab dapat amanah seorang anak yang harusnya bisa di didik dengan baik sesuai ajaran yang ada dan di anut selama ini.

__ADS_1


Dilan meratapi nasib buruknya ini, inilah akibat dari benih yang ia tabur.


Nasib .. nasib ...


__ADS_2