ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
157 S2


__ADS_3

Jangan lupa like, komen, favorite dan rate bintang lima. Terimakasih atas dukungan kalian semua.


Selamat membaca.


***


Kediaman Mahendra.


Momo yang sudah tidur sedari sore tidak bangun karena ia begitu lelah dengan tugas kuliahnya, belum lagi harus mencari buku di perpustakaan.


Kkrruukk


Kkrruukk


Momo yang sedang bermimpi lari-lari terbangun saat perutnya berdemo ria di dalam.


"Jam berapa ini, sepertinya sudah malam." Menatap layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.


"Pantas saja perutku berdemo saat aku tidur, ternyata aku melewatkan makan malam lagi. Pasti ayah sedang menunggu di bawah.


Sacha yang sedang menikmati makanannya langsung menatap sang putri yang terlihat acak-acakan penampilannya, bahan baju kuliahnya saja belum berganti dengan pakaian santai.


"Kenapa tidak mandi dulu sih Momo." Sacha mulai mengomel lagi.


"Malas ayah, perutku lapar ayah makanya aku turun ke sini malah ayah suruh mandi, nanti jika aku terkena maag lantaran tidak segera makan bagaimana," Momo segera mengambil makanan dan tidak mau mendengar omelan sang ayah.


Sacha hanya menatap sang putri yang wajahnya sangat datar sekali.


"Sepertinya keputusanku untuk memisahkan mereka berdampak buruk ternyata, sudahlah jika mereka berjodoh pasti bisa bersama kembali." Sacha melanjutkan makan malamnya.


Di tempat lain.


Lais sedang memperbaiki motor kesayangannya, motor hasil kerja kerasnya selama ini.


"Hai jadulku, apa kamu tau hari ini aku bertemu dengannya dia tambah cantik dan menggemaskan saja, apa kamu tau aku tidak bisa menghilangkan rasa sukaku padanya. Apa solusimu." Lais berbicara sendiri seperti orang gila saja apalagi dengan motor kesayangannya tersebut.


Lais yang sudah selesai memperbaiki motornya langsung mengelap dengan penuh cinta apalagi dengan jok bagian belakang ia sentuh dengan lembut, seakan Momo masih duduk di tempat tersebut.


"Hhaahh... bisa gila jika seperti ini terus, siapa sih yang mengirimku pesan terus menerus seperti ini." Sedari tadi ponsel Lais terus saja berdering.


Ia menatap dengan malas ternyata notifikasi jika sang kakek mengirimkannya banyak uang ke dalam rekeningnya.


"Tau seperti ini aku tidak memberi tau nomor rekeningku jika kakek seperti ini, apa dia pikir aku tidak berkerja di sini." Lais membiarkan ponsel tersebut di atas laci.


Lais masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia tidur.


"Cantiknya kamu, bagaimana kabarmu." Lais menatap layar ponsel tanpa sengaja ia menekan telpon lewat vidio call.

__ADS_1


Lais kocar kacir sementara dirinya masih telanjang dada berharap Momo tidak menerima panggilannya, namun salah Momo sudah mengangkatnya.


"Ada apa?" Momo memelototkan matanya, ia sangat terkejut dengan pemandangan langka yang baru saja ia lihat.


"Sorry," Lais langsung menyambar selimut untuk menutupi dadanya yang bagus sekali di pandang.


"Haduh pemandangan langka yang luar biasa, rasanya seperti apa ya jika menyentuhnya, lembut atau ah... sudah jangan berpikiran kotor nanti kamu di kira si mesum lagi. Jaga harga diri dong sebagai cewek masa iya ke ganjenan gini." Momo dalam hati bersorak gembira.


Harusnya tadi di secreen shot.


"Momo, bagaimana kabarmu?" Lais terus terang sangat bingung dan canggung harus bertanya apa. Entah rasanya seperti baru pertama kali bertemu setelah sekian lama kenal.


"Baik, padahal masih pagi tadi ketemu. Masa jam segini sudah tanya kabar!" Momo tersenyum dalam hati.


Andai ini telpon tidak terlihat wajahnya pasti sudah jingkrak-jingkrak tidak karu-karuan.


"Iya juga sih, eemm... besok aku jemput ya." Lais menanti jawaban Momo.


"Eemm... boleh," Momo memberikan lampu hijaunya.


"Beneran, tidak ingkar kan." Lais menampilkan jari kelingkingnya.


"Iya," Momo juga sama memperlihatkan jari kelingkingnya.


"Kalau begitu, selamat malam. Eemm jangan lupa memimpikan aku. Assalamualaikum calon bidadari Surgaku." Ucap Lais di selingi senyum.


DIG


DUG


Rasanya sungguh melayang ke angkasa.


"Iya, waalaikumsalam calon imamku," jawab Momo malu-malu.


Kkllikk.


Lais langsung menggulingkan tubuhnya kesana kemari.


"Imamku, aahh... Momo aku tambah love love ke kamu, eemmuuaahh...." Lais langsung memejamkan matanya.


Tidak jauh beda dengan Momo yang merasakan getaran hati yang semakin menjadi-jadi saja.


Pagi hari.


Suara burung terdengar nyaring mereka sedang bersahut-sahutan dengan temannya yang lain. Momo sudah duduk di dekat taman sambil menunggu Lais yang datang menjemputnya.


"Kamu yakin nak berangkat dengannya tidak dengan ayah." Sacha menatap ke arah luar jendela mobilnya.

__ADS_1


"Iya ayah," senyum Momo mengembang sedari pagi waktu sarapan sampai sekarang.


"Baiklah, hati-hati dan jangan lupa jaga diri ya sayang." Sacha melambaikan tangannya dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya.


Suara motor yang tidak asing bagi Momo membuatnya jadi salah tingkah dibuatnya.


Universitas Kebangsaan.


Sindy yang terlihat cantik dengan rambut yang di kepang dan kaca mata besarnya yang sebagai hiasan wajahnya.


"Kenapa kamu tambah cantik sih sayang padahal pakai seperti ini aksesorisnya, tau begini aku tidak usah membelikanmu karet gelang dan kaca mata ini." Sambil menciumi rambut Sindy.


"Terus aku harus bagaimana, masa iya aku ke kampus pakai pakaian seperti orang yang mau memanen sarang lebah sih Aa," Sindy melepas seat belt.


"Ya tidak begitu juga, sudah kamu lepas karetnya saja." Cheval membantu Sindy memperbaiki rambutnya.


Rambut Sindy yang terkepang langsung berbentuk sedikit curly.


"Nah seperti ini saja sayang, cantik." Cheval segera turun dari mobil usai memperbaiki rambut istrinya.


Sindy memutar bola matanya dengan malas, suami semakin aneh saja kelakuannya. Iya boleh posesif dengan istrinya tapi jangan berlebihan sangat lebay jika ada orang lain yang tau, seperti ini kehidupan rumah tangganya.


"Jangan lupa belajar dengan rajin." Memberikan kecupan singkat di dahi Sindy.


Ada beberapa orang yang melihat mengira pasangan suami istri, tapi kemudian mereka ingat jika Cheval dan Sindy adalah sepasang kakak beradik.


"Aa, jangan seperti ini." Sindy segera lari dan masuk ke dalam kelasnya.


Cheval tersenyum lebar dengan sikap konyol istrinya.


"Lucu," menuju ruangan dosen.


Beberapa hari kemudian.


Sindy mengajak Momo untuk mengunjungi perkebunan bunga anggrek, meski sang mama banyak merawat berbagai macam bunga.


"Sindy kenapa kita ke sini sih." Momo tidak tau jika yang ia ajak berbicara di belakangnya adalah Lais.


Momo yang merasa tidak ada jawaban dari Sindy, Momo langsung menatap ke arah belakang dan ternyata Lais yang ada di belakangnya.


"Untukmu." Memberikan setangkai bunga anggrek.


"Kamu mengambil dari mana bunga ini?" Momo melihat ke arah sekeliling kebun ini.


"Kenapa tidak terpesona dengan pemberianku, malah justru bertanya aku mengambil dari mana," Lais tersenyum kecut.


Sementara Cheval dan Sindy hanya menahan tawa. Pasangan aneh dan rumit.

__ADS_1


"Aa, ayo tinggalkan saja aku jadi iri dengan keromantisan mereka." Menarik tangan suaminya.


__ADS_2