
Lais dan Momo merasa sangat canggung sekali. Binggung bercampur aduk.
Sekitar 15 menit kemudian semua siswa dan siswi masuk, hari ini ada pembagian kartu identitas untuk ujian yang akan terlaksana beberapa hari yang akan datang.
"Momo, ayo ikut aku." Lais menarik lembut tangan Momo yang berada dalam genggamannya, semua orang tertuju kepada dua insan yang sangat dekat ini.
Yang mereka tau Lais dan Momo sedang berpacaran, tapi pada kenyataannya hanya teman saja. Bahkan Cheval dan Sindy juga sependapat dengan siswa siswi yang menjadi saksi kedekatan mereka berdua.
"Aa, aku rasa mereka berdua sedang pacaran deh." Ucap Sindy pada Cheval.
"Iya betul sepertinya ia, tapi kasihan sekali Momo, dia tidak bisa meraih kebahagiaannya lantaran restu sang ayah yang tidak bisa ia raih. Ayah begitu sangat tidak menyukai Lais, entah dosa apa Lais pada ayah, padahal jelas-jelas Lais tidak ada hubungan darah dengan papa kandungku," Cheval memeluk Sindy dan tidak peduli dengan tatapan ganas penghuni Kebangsaan yang sudah merasakan panas dan sesak di dalam dada lantaran iri dan cemburu pada Sindy.
Hotel Royal Malik 2.
Sacha yang sibuk dengan pekerjaannya hanya memeriksa bagaimana perkembangan hotel ini sambil mencari inovasi baru untuk hotel ini. Mulai dari fasilitas baru dan pelayanan yang lebih maksimal lagi dari sebelumnya.
Meeting terjadi sekitar 2 jam kurang lebih, Ksatria yang masih ada di ruangan yang sama langsung mengintrogasi Sacha dengan terang-terangan.
__ADS_1
"Jadi tekat kamu benar-benar bulat Sacha, apa kamu tidak kasihan dengan Momo?" Ksatria memainkan ponselnya seraya menatap foto adik yang ia rindukan.
"Iya, semoga orang itu cocok dengan putriku jika aku tidak cocok aku tidak peduli dengan balas budiku dulu!" Sacha berlalu pergi dari ruang rapat tersebut.
"Hhhaahhh gara-gara balas budi lagi, jaman apa sih sekarang di paksa seperti itu, mentang-mentang dulu aku menjodohkannya dengan Aurel dan sekarang putrinya mau di paksa menikah, ada-ada saja pikiran Sacha yang aneh ini." Ksatria segera memasukkan ponselnya dan membereskan beberapa berkas di tangannya.
Biasanya Daysi akan ikut meeting namun siang ini dia tidak ikut lantaran badannya kurang sehat karena ulah Ksatria semalam.
Restoran.
Sacha bertemu dengan seseorang dari keluarga Erdana Khan lebih tepatnya orang kepercayaan, kenapa tidak ada satu orang yang datang lantaran keluarga Erdana Khan hanya tinggal satu orang yang selamat dari kecelakaan yang menimpa keluarga Erdana dalam kecelakaan kapal pesiar milik pribadi dan kemungkinan besar itu ulah orang yang ingin merebut usaha keluarga tersebut.
"Selamat siang bapak Sacha Mahendra," jawab orang kepercayaan Erdana Khan.
"Iya, langsung ke topik saja." Sacha tidak mau berbasa basi.
Usai pembicaraan serius dengan orang tersebut yang bernama Sony, Sacha langsung menyetujuinnya tetapi setelah ujian akhir sekolah saja pertemuannya, sebab biar mereka berkonsentrasi untuk ujian. Sony menyetujui hal itu, ia juga berucap jika tuan mudannya juga masih sekolah dan akan ujian beberapa hari yang akan datang.
__ADS_1
Di tempat lain.
Lais dan Momo berada dalam satu sepeda motor Honda CB 100, motor yang di gunakan sebagai saksi bisu perjalanan persahabatan mereka berdua.
"Lais."
"Hemm... ada apa Momo," Lais menepikan laju sepeda motornya.
"Tidak ada, kenapa kamu menepikan sepeda motormu. Sebenarnya kita mau kemana sih Lais?" Momo menatap wajah Lais yang penuh dengan karisma, apalagi saat Lais tersenyum.
"Ya... kita jalan-jalan saja keliling kota ini, jika nanti kita lapar atau haus kita bisa mampir ke warung pinggir jalan, mumpung aku libur kerja hari ini. Apa kamu mau." Momo langsung menganggukkan kepalannya.
Di dalam hati ia sangat bahagia, seperti ini rasannya diam-diam mulai menganggumi seseorang. Takut tidak di anggap juga menyelimuti diri Momo.
Saat berada di perjalanan Momo bercerita jika dirinya akan di jodohkan dengan seseorang. Lais langsung menepikan sepeda motornya dan mengajak Momo untuk berbicara di area taman.
"Bicaralah Momo."
__ADS_1
"Aku di jodohkan Lais dan aku tidak tau siapa dia, seperti apa dirinnya aku takut," jawab Momo tertunduk lesu.
Lais tidak berani berucap juga, jika dirinnya saat ini sedang di jodohkan dengan seseorang. Takut Momo tambah bersedih dan dia terluka, karena teman baiknya akan pergi meninggalkannya.