
Setelah tenang Cheval melepas dekapan nya pada tubuh Sindy. Ia menggam erat jari jemari Sindy.
"Sindy tatap Aa sekali saja. Aa minta maaf Aa tidak ada maksud membuat kamu terpojok atau di asing kan di sini. Aa memberi tau kemarin soal beasiswa Aa pada mama dan papa biar kamu seutuh nya mendapat kasih sayang mama papa saat aku ke Luar Negri nanti, percaya sama aku. Aku janji akan mengembalikan kebahagiaan yang seharus nya punyamu saja." Mengusap dan memberikan ciuman di dahi Sindy.
Sindy hanya diam di cium sang kakak. Cheval kembali memeluk Sindy dengan erat, Sindy yang awal nya tidak membalas pelukan sang kakak kini membalas nya. Cheval sangat bahagia pelukan nya di balas oleh Sindy.
"Aa janji." Melepas pelukan nya, "ayo sekarang kemasi barang-barang kamu yang berantakan seperti ini," menujuk kamar yang persis seperti gempa bumi dadakan.
Cheval membantu membersek kan semua barang-barang yang berceceran di lantai sedang kan Sindy menyalakan alat yang secara otomatis membersih kan setiap sudut ruangan tanpa perlu repot-repot membersih kan nya.
"Dasar pemalas." Cheval mengambil alat tersebut dan langsung mematikan nya.
"Aa kenapa di matikan, kembalikan alat itu," berusaha merebut alat tersebut.
Tubuh tinggi Cheval membuat Sindy tidak bisa meraih barang yang di pegang sang kakak. Sindy melompat-lompat diatas ranjang namun usaha nya terap gagal.
"Aku capek Aa, ya sudah kalau tidak di kembali kan ambil saja Aa lagian aku juga tidak butuh lagi," Sindy turun dari ranjang dan menuju pintu dan keluar dari kamar.
"Eehh... ngambek lagi dia, mood baik nya kenapa hanya sekedip mata saja, sensi banget kayak orang pms aja." Cheval turun dari ranjang milik Sindy.
Sindy mengambil beberapa alat untuk membersih kan lantai dari gudang penyimpan. Daysi yang melihat Sindy langsung menyapa nya.
"Sindy kenapa bawa itu ke dapur?" menujuk sapu dan peralatan yang lain untuk bersih-bersih.
__ADS_1
"Mau bersihin kamar ada kecowa besar dan meresah kan ma, bahkan kemarin saat aku tidur ia hinggap di bibirku!" jawab Sindy tersenyum. Cheval yang baru datang merasa sedikit tersindir dengan ucapan Sindy yang tajam.
Sindy menuji lemari dan mengambil satu saset kopi instan dan menyeduh untuk menenagkan pikiran nya yang mudah buruk. Apalagi datang bulan seperti ini. Cheval juga ikut masuk dapur dan duduk di dekat Sindy yang manyun sambil menyeruput kopi nya. Daysi hanya geleng-geleng melihat sang putra dan putri hanya bertengkar saja padahal umur juga menginjak dewasa untuk Sindy dan Cheval sudah dewasa saat ini.
"Kalian lanjut kan mengobrol nya, Sindy kalau peralatan itu tidak di gunakan kembalikan ya sayang." Menatap mata Sindy seolah mengingat kan sang putri dengan pesan nya sewaktu itu.
Sindy paham dengan maksud sang mama tersebut, Sindy segera membawa cangkir nya dan peralatan kebersihan meninggal kan Cheval yang masih duduk di kursi dapur. Cheval tidak tinggal diam ia segera menyusul Sindy namun saat akan masuk pintu sudah di kunci ganda oleh Sindy dan tidak bisa masuk kecuali di dobrak atau kunci nya di buka dari dalam.
Cheval segera kembali ke kamar nya setelah tidak mendapat kan pintu masuk ke kamar Sindy.
"Mungkin dia butuh waktu, secepat nya aku akan menyelesai kan S1 ku di sini yang tinggal sebentar lagi hanya mengitung bulan saja, selepas skripsi aku akan pergi ke New York untuk mengambil S2 selanjut nya." Cheval merenung sambil memejam kan mata nya.
Pagi hari.
"Kenapa sih makan buru-buru seperti kerasukan makhluk halus." Cheval menatap Sindy yang makan dengan lahap nya.
"Aku lapar lagian tenagaku terkuras banyak semalam," Sindy tetap mengunyah.
Ksatria yang melihat sang putri berucap demikian langsung mengrenyit kan dahi nya.
"Memang semalam ada apa Sindy?" Ksatria menatap sang putri.
"Kamar aku pa, berantakan aku kemas-kemas semalam!" tersenyum sebentar dan kembali dingin seperti biasa nya.
__ADS_1
"Oo... benarkah." Menatap sang istri dan Cheval bergantian dan mereka mengangguk kan kepala sebab semalam ia meligat Sindy membawa peralatan kebersihan saat di dapur. "Ya sudah nanti berangkat sama-sama lagi saja, kemarin papa lihat kalian tidak berangkat bersama. Apa kalian berantem lagi hem."
"Tidak pa, kemarin Aa tidak kuliah karena ada tugas yang mendadak dari Dosen. Kan papa tau sendiri tinggal menghitung bulan Aa skripsi kemudian berangkat ke New York," Cheval melajut kan makan roti nya.
Sindy yang mendengar hal tersebut berhenti makan dan langsung minum.
"Aku kenyang pa... ma... mau berangkat sekarang," menyalami kedua orang tua nya dan langaung mengenakan tas ransel nya.
Cheval juga menyudahi makan nya dan segera menyusul Sindy sang adik.
Ksatria menatap Daysi. "Kamu lihat ma, apa kamu tega membuat putri kita sedih berkepanjangan, lebih baik mama jangan menghasut apapun lagi pada Sindy. Biarkan mereka berdua bahagia bersama, aku tidak mau putri kita bersedih." Ksatria mengingat kan Daysi.
Daysi mengangguk kan kepala, dalam hati ia berjanji tidak akan melarang mereka bersama, asal dengan catatan tidak berbuat macam-macam yang merugikan diri sendiri kelak.
"Ayo ma berangkat." Ksatria mengenakan jas kebesaran nya.
Di dalam mobil.
Sindy yang satu mobil dengan Cheval binggung harus berekspresi seperti apa. Marah apa yang membuat nya marah, mau tanya binggung juga apa yang di bahas pada akhir nya Sindy diam dan memain kan ponsel nya.
"Kenapa diam, lagi sariawan bibir nya. Bukan nya barusan sarapan banyak kamu?"
"Tidak, lagi puasa bicara biar hemat tenaga nya!" jawab aneh Sindy.
__ADS_1
Cheval yang mendapat jawaban tersebut tertawa terbahak-bahak, Sindy yang awal nya kesal kini ikut tertawa setelah banya pembicaraan yang tidak jelas selama perjalanan menuju sekolah.