
Lais yang mendengar suara cicit tawa Momo langsung mendekati sang istri dan memeluk pinggangnya dengan posesif. Rasa cinta pada sang istri tidak akan pernah luntur sedikit pun.
"Bolehkah mas mencintaimu lagi dan lagi?" Lais menatap sang istri yang tiba-tiba menghentikan aktifitasnya makan.
"Terserah mas deh, lagian di beri kesempatan seratus kali tetap saja mas seperti itu. Wanita jika di seperti ini kan terus menerus ada titik lelahnya sendiri mas!" Momo menggeser tempat duduknya.
"Aku benar-benar laki-laki pengecut, sayang jangan menjauh dariku. Aku mohon, aku hanya ingin kita bersama selamanya." Lais mendekati Momo.
"Buktikan, jangan cuma pandai berbicara tanpa tindakan yang nyata. Kita itu sekarang orang tua bukan anak-anak mas, pasti kamu bisa kan mas membedakan yang baik dan buruk di kehidupan rumah tangga yang kamu dirikan ini," Momo bersikap dewasa.
Betapa malunya Lais sekarang, sebagai suami tapi kelakuannya seperti anak kecil saja.
"Iya sayang, terimakasih sudah hadir dalam hidup aku ini sayang dan menjadi cahaya untuk menuntun mas ke jalan yang benar." Lais sampai meneteskan air matanya.
Momo yang melihat suaminya menangis langsung mengusap air matanya. Rasanya ia ingin ikut menangis jika orang yang paling ia sayangi dan cintai menangis.
"Sudah mas jangan menangis," menyadarkan Lais, bukannya berhenti sang suami tambah sesenggukan nangisnya.
"Aku... aku...." Lais melanjutkan tangisannya yang seperti anak kecil meminta mainan pada Ibunya.
"Punya suami gini amat, mellow dan sad boy." Momo menatap malas suaminya, bukannya diam dan tegas justru sang suami tambah seperti anak kecil.
"Mas, kalau masih nangis lagi aku tinggalin kamu." Momo beranjak pergi namun dengan cepat Lais menarik tubuh Momo dan memeluknya.
"Aku janji sayang, tidak akan pernah mengecewakan kamu lagi," Momo yang mendengar ucapan janji Lais hanya menanggapi b aja atau biasa-biasa saja.
Sebagai wanita yang berlapang dada, sesekali boleh kan bersikap biasa-biasa saja biar kecewa gak mendarah daging di dalam hati dan diri. Nanti ujung-unungnya kecewa lagi, biar gak terlalu parah ngena ke hati.
"Sudahlah mas, janjimu pasti kamu langgar lagi dan lagi. Capek mas, pulangkan saja aku jika kamu seperti ini terus. Kamu itu sudah menjadi ayah dan sekarang akan menjadi ayah dengan dua anak, harus tegas dengan duri dalam daging." Ketus Momo melepas pelukan Lais.
Lais mengikuti kemana sang istri pergi, ia tidak mau istrinya berbuat nekat.
"Sayang." Panggilnya lembut.
Momo yang capek, membiarkan Lais begitu saja. Ternyata mengandung dengan adanya bayi di dalam perut yang benar-benar berkembang dan hidup di dalamnya, cepat merasa lelah. Apalagi jika naik anak tangga seperti ini, sepertinya rumah ini butuh lift pribadi untuknya.
__ADS_1
"Apa sih mas," Momo sewot dan menatap malas suaminya.
"Ko gitu sih yang jawabannya, sewot dan ketus banget ke mas." Lais terkejut dengan sikap Momo yang terasa dingin sampai tulang terdalamnya.
"Biarin, siap dulu yang buat aku seperti ini. Kan kamu sendiri, buatkan lift di rumah ini. Aku capek," Momo melengos dan beranjak pergi.
Sebagai pembuktian lebih baik segera di laksanakan saja, ia tidak mau mengecewakan Momo lagi dan lagi. Karena sekarang ia tidak memiliki ponsel kesayangan, ia memutuskan pinjam ponsel istrinya.
Saat di dalam kamar.
"Sayang pinjam ponsel." Lais memohon pada sang istri.
"Buat apa sih mas, jika untuk telpon ibunya Princess tidak aku kasih mas, enak saja mau telponan pakai kuota aku," Momo menyimpan rapat-rapat ponselnya di antara kakinya.
"Eh... untuk apa menghubunginya, tidak penting sayang. Mas pinjam mau menyuruh Arman belikan ponsel sekarang, selain itu juga untuk menyuruhnya untuk mencari jasa orang memasang lift di rumah kita." Lais masih saja tersenyum.
"Hah... senyum basi dan palsu lagi, tidak akan jika ada keperluan. Bukannya besok dia kesini dan mengantarnya ke kantor, maaf mas aku tega malam ini."
"Tidak akan aku pinjamkan, baru saja meminta maaf kini bingung dengan ponsel," Momo masih bersikukuh tidak memberikan ponselnya pada Lais.
Jujur saja, Momo sangat nyaman dengan pelukan sang suami. Apalagi semenjak berbadan dua, ia selalu rindu dengan pelukannya.
"Iya," dengan anggukan kecil. Lais langsung gembira dengan jawaban Momo.
Ia memeluk Momo yang membelakangi tubuhnya, tidak apa-apa seperti ini. Asalkan sang istri tidak menolak kehadirannya lagi di sisinya.
Malam ini malam yang istimewa untuk sepasang suami istri ini, meski tidak ada sentuhan yang berkelana kemana-mana, tapi dengan hal seperti ini saja rasanya sangat luar biasa. Bahkan melebihi orang yang tengah bercinta di malam harinya.
Sahur.
Momo tetap membangunkan suaminya untuk makan sahur, tapi Lais tidak segera bangun. Kemudian Momo menyentuh dahi Lais ternyata suaminya demam.
"Kamu ini mas, ada-ada saja sampai demam. Ko jadi ingat Aa sih, kalau kena hukuman langsung demam. Kalau kamu bedanya aku buat nangis baru demam, besok-besok jika kamu seperti ini aku buat masuk Rumah Sakit saja." Momo merinci angan-angannya jika sang suami teledor lagi.
Momo memberikan plester penurun demam untuk dewasa.
__ADS_1
"Cepat sembuh." Kecupan di dahi Lais yang tertutup plester.
Lais yang merasa sedikit baikan dengan adanya plester yang menempel di dahinya ia tersenyum. Ternyata demamnya Lais sampai membuatnya pingsan di tempat tidur.
"Uh...." Lais perlahan membuka matanya, ia merasakan ada rasa dingin di dahinya. Lalu ia sentuh dan ternyata benar ada plester penurun demam.
Lais menatap ke arah samping yaitu Momo, Momo ternyata tidak ada tapi suara percikan di kamar mandi terdengar jelas.
Cklek.
"Mas, sudah bangun?" Momo duduk di tempat tidurnya.
"Iya sayang!" Lais mengangguk.
"Apa mas nanti puasa?" Momo bersiap-siap turun dari tempat tidur.
"Iya sayang, lagian cuma demam ringan. Harus puasa jika mampu!" Lais beranjak dari tempat tidur.
Saur pagi ini sedikit ada keterpaksaan untuk berjalan ke meja makan yang ada di lantai satu, Lais tidak mau istrinya naik turun tangga sendirian karena demamnya ini. Sebisa mungkin Lais harus bisa sendiri, ingat masa lalu yang terbiasa hidup sendiri setelah Mamanya tiada, sampai sesukses sekarang ini.
"Apakah pusing mas?" Saat sudah sampai di dapur.
"Sedikit sayang, mungkin karena mas baru bangun!" Menampilkan giginya yang putih.
"Ya sudah, aku buatkan teh madu ya mas. Biar tambah enakan badannya." Momo memegang panci kecil yang biasa ia gunakan untuk merebus jamu buatannya sendiri.
"Iya sayang," Lais mengiyakan
Sahur yang penuh berkah, dengan senyum dan kepatuhan sang istri. Seharusnya ia lebih pandai lagi menjaga istri yang seperti Momo ini.
"Aku janji tidak akan pernah buat kamu menangis dan sedih lagi."
***
Jejaknya jangan lupa dan terimakasih sudah mampir dan membacanya.
__ADS_1