
Sindy dan Daysi tos untuk kemenangan mereka berdua, sesekali para suami di kasih pelajaran sedikit, supaya pikiran mereka saat bermain tidak seperti anak kecil yang saling menyalahkan dan tidak mau mengalah sama sekali.
Saat berada di dalam kamar.
Sindy memeluk erat guling dan bantalnya dengan erat, tubuhnya ternyata merindukan sosok Cheval yang memeluknya setiap hari.
"Tuhkan rindu, apa-apaan sih kamu." Omel Sindy pada dirinya sendiri.
Sindy yang tidak bisa memejamkan matanya, pada akhirnya menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Ia bingung harus membuat apa untuk menetralkan rasa rindu yang menusuk hati, padahal ia tidak terpisah jarak yang jauh cuma lantai saja. Ia di lantai dua sementara sang suami di lantai satu, dan sekarang dirinya berada di lantai satu sama dengan sang suami.
Tidak jauh beda ternyata, Cheval juga sangat merindukan sang istri. Benar-benar terikat kontak batin pasangan suami istri ini, bagaimana tidak secara alami Cheval menuju dapur.
Senyum Cheval mengembang pesat. "Sayang." Langsung memeluk tubuh Sindy dan memberikan tanda kepemilikan di leher Sindy.
Sindy yang terkejut menahan suara nya yang hampir meledak di dapur, sang suami tidak hanya memeluk tubuhnya tapi tangannya sudah masuk di balik piama tidurnya.
"Aa." Sindy menahan tangan Cheval yang sudah bermain.
__ADS_1
"Kenapa?" Cheval tidak peduli dengan Sindy yang menolak tangannya. Cheval tetap melanjutkan aksinya di dapur.
"Aa, jangan disini," Sindy juga tidak bisa menahannya lagi, sentuhan demi sentuhan yang Cheval lakukan membuatnya aliran listrik di dalam tubuhnya on.
Cheval langsung melepas pelukannya dan menarik tangan Sindy dengan lembut, Cheval sengaja tidak menggendong tubuh Sindy, bosan jika setiap adegan harus mengendong ala bridal style, lebih baik seperti ini menggenggam tangan sambil menautkan jari jemari, sungguh sangat-sangat romantis dan menggemaskan.
Sesampainya di kamar, pintu langsung di kunci supaya saat pelepasan nanti tidak ada yang tau apalagi mendengar, untung kamar ada peredam suara. Cheval yang sudah tidak tahan langsung memberikan ciuman luar biasa pada Sindy.
"Aku sungguh-sungguh menginginkannya sayang." Disela-sela ciumannya.
"Tahan Aa, aku masih datang bulan," jawab Sindy yang sukses membuat nafsu Cheval seketika lenyap tanpa bekas.
"Pupus sudah senjataku, maaf sayang aku lupa. Kamu sih penyebabnya kenapa aroma tubuhmu ini menggoda nafsuku." Cheval merebahkan dirinya di samping tubuh Sindy.
Ulah Cheval membuat aliran darah Sindy begitu penuh dan harus segera di ganti, jika tidak pasti besok akan ada banyak tanda merah di spray dan selimut.
Cheval menarik pergelangan tangan Sindy, "mau kemana sayang?" Cheval tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Ke kamar mandi Aa, sudah penuh ini!" jawab Sindy menunjuk area bawah.
Cheval yang melihat area bawah milik Sindy langsung begidik ngeri membayangkannya, pasti banyak darah yang memenuhi kantonganya.
"Cepat pergi dan bersihkan, iish... aku membayangkan banyak darah begitu mual di perutku." Seraya mengibaskan tangannya.
"Awas saja kalau nanti tidur memelukku," menatap tajam wajah sang suami yang sudah seperti mati di tempat.
Cheval membeku seketika dengan ucapan dingin Sindy.
"Pasrah deh jika nanti tidur satu ranjang berasa pindah kota." Cheval merutuki ucapannya tadi, ia lupa jika istrinya sedang datang bulan dan moodnya gampang sekali jelek dan selalu terbawa perasaan.
Sekitar 10 menit Sindy baru keluar dari kamar mandi, perutnya yang agak sakit ia raba supaya berukurang sedikit sakitnya.
"Apakah sakit sayang perutnya, sini aku bantu." Sindy yang tadinya ingin dalam mode ngambek kini langsung musnah dengan perlakuan lembut sang suami.
Benar-benar suami idaman para wanita, "terimakasih ya Aa," memberikan kecupan singkat di pipi kanan Cheval.
__ADS_1
"Modus ya, aduh... senangnya aku sekarang istriku semakin agresif saja jadi tambah betah berdekatan seperti ini." Cheval menyentuh perut Sindy yang sakit sambil menyadarkan kepala Sindy di dada bidangnya.