ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Bukti


__ADS_3

Aldy akhirnya tertawa juga, baru kali ini Gauri mendengar langsung suara tawa Aldy yang nyaring tapi lepas juga.


Terkadang diri ini juga penasaran seperti apa sih jika Aldy itu banyak tersenyum dan tawa, pasti seperti ini wajahnya. Tampan iya.. mempesona juga iya.. dan kaya tentunya.


'Hih.. orang kaya kenapa selalu identik dengan tampan dan mempesona apalagi wajahnya yang bening dan glowing bahkan semut saja sampai terpeleset di wajahnya, di tambah lagi tubuhnya yang atletis menggoda mata. Istighfar Gauri... istighfar jangan berpikiran yang macam-macam nanti kamu bertambah dosa kecilmu yang akan menjadi dosa besar. Sabar.. sabar... jangan sampai terlena kembali, harus bisa mengontrol diri dan tidak membuat kekacauan lagi oke.'


Tetap saja Gauri mencuri-curi pandang menatap wajah Aldy, Aldy sedari tadi sudah sadar jika dirinya di tatap Gauri diam-diam.


"Kenapa?"


Gauri terkejut bukan main.


"Tidak kenapa-kenapa, makanannya enak!" elaknya padahal sedari tadi mencuri-curi pandang.


Aldy tersenyum lagi.


'Eh.. ada apa orang ini, kenapa jadi banyak senyum ke aku. Apa jangan-jangan ia ingin melakukan itu lagi, tidak... aku harus mencegahnya, jika ingin harus di nikahi dulu baru boleh sentuh sana sini.'


Gauri memundurkan badannya dan menutupi dada agar Aldy tidak lancang lagi.


"Bohong.. pasti kamu berpikiran liarkan tentang saya,saya tidak akan menyentuh kamu tapi jika saya ingin makan tidak ada kata penolakan seperti sekarang."


Aldy langsung membopong tubuh Gauri dan melemparkannya di atas tempat tidur.


"Aku mohon.. hu.. hu..." Gauri menangis, mungkin dengan menangis Aldy akan melepaskan dirinya namun sayang seribu sayang Aldy tidak mau melepasnya.


Ha$rat terlanjur memuncak dan harus segera di selesaikan dengan cara penyatuan lagi dengan Gauri. Gauri merasa sangat jijik jika mengingat kejadian pagi tadi di area kolam renang.


"Maafkan saya Gauri, tapi saya mohon kamu percayalah ke saya. Saya tidak melakukan itu tadi dengan Bella, tubuh saya tidak merespon jika bukan dengan kamu seorang Gauri." Aldy memberikan kecupan-kecupan kecil di pipi, hidung, kedua mata Gauri yang basah, dahi, dagu dan leher jenjangnya.


"Lepaskan saya Aldy.. saya mohon," dengan suara yang sudah habis sebab ia seharian ini menangis di tambah lagi sekarang ia juga menangis.


Menangis nasibnya yang malang sekali, kapan kebahagiaan akan datang.


Aldy menyudahinya.


"Kenapa?"


Tanpa menoleh sedikitpun Aldy bertanya, ia sibuk membersihkan miliknya dengan tisu.


"Bebaskan saya Aldy, saya mohon.. kamu sudah berhasil melukai saya baik hati dan tubuh saya. Apa salah saya ke kamu Aldy sampai-sampai kamu melampiaskan amarah dan naf$u kamu ke saya, apa salah saya..?" tergugu di depan Aldy sambil mengguncang kedua bahu milik Aldy.


Aldy diam, sepertinya harus di ungkapkan sekarang juga agar tidak berbelit-belit kisah yang saling melukai tersebut.


"Apa kamu ingat Gauri, saat kamu masih duduk di bangku SMA?" tanya Aldy dengan wajah yang mulai suram.


"Tentu saja ingat saat saya duduk di bangku SMA, memang ... ada apa?" balik bertanya.


"Apa kamu pernah tidak sengaja melempar bola ke jalan raya?" Aldy muak dan ingin segera menuntaskan ini.


Gauri menggelengkan kepalanya.


"BOHONG." Aldy membentaknya.


"Sumpah ... saya tidak pernah membuang bola ke jalan baik secara sengaja atau tidak, saya tidak pernah bermain dengan benda yang namanya bola itu sebab saya alergi dengan bola," jawab Gauri jujur.


Aldy langsung menatap wajah Gauri dengan tatapan tidak percaya. Aneh sekali ucapan Gauri dia ini kenapa pandai sekali membolak-balikkan fakta agar dirinya tidak terjerat di dalam masalah.


"Saya tidak percaya dengan alasan kamu. Ikut saya dan rapikan baju kamu." Aldy segera beranjak pergi.


Gauri segera merapikan pakaiannya kembali.


Saat ini Gauri berada di salah satu ruangan olah raga. Ia melihat sekeliling dan memastikan tidak ada benda yang membuat alerginya kumat mendadak tapi Aldy dengan sengaja membuka lemari yang penuh dengan bola, bola berwarna-warni.


"PEGANG." Lagi-lagi Aldy berteriak.


Gauri menggelengkan kepalanya.


"Tidak," samar-samar ia berbicara.

__ADS_1


Tapi Aldy buta tidak mau mendengar apa-apa dari mulut Gauri dan memaksanya untuk memegang benda itu, setelah melihat bola yang begitu banyak Gauri merasakan suhu badannya panas sekali dan gejala pusing juga ikut serta.


Jika orang tidak percaya dengan apa yang di katakan orang tersebut pasti selalu minta bukti secara nyata bukan. Padahal bukti secara nyata terkadang membuat korban terluka dan kita tidak tau seberapa berat lukanya itu bisa mengenai sang korban.


"Saya." Gauri berusaha kuat memegang bola itu semampunya.


Aldy berbicara dengan nada mengejek lagi.


"Kamu ini pandai bersandiwara ya, lihat.. tidak terjadi apa-apa di tubuh kamu. Mana alerginya? tidak ada sama sekali bahkan ka..,"


BRUGH


Tubuh Gauri pingsan di depan Aldy, Aldy tidak sempat menolongnya dan Gauri terjatuh di lantai dengan keras.


"Gauri.. bangun Gauri.." Menepuk kedua pipi Gauri secara bergantian tapi sayang Gauri sudah pingsan lantaran alerginya mendadak kambuh.


Aldy langsung memanggil salah satu sopir dan juga Mimi untuk mengantarkan Gauri ke rumah sakit setempat.


Sesampainya di rumah sakit tubuh Gauri sesudah memerah dan terdapat benjolan-benjolan kecil di seluruh lengan dan wajahnya pasti benar yang di katakan Gauri jika dirinya alergi terhadap bola.


Segera Gauri di tangani oleh Dokter dan di suntikkan obat ke dalam tubuh Gauri setelah mengetahui alergi yang di derita Gauri setelah Aldy berbicara terus terang.


Pikiran Aldy kacau kemana-mana bahkan ia tidak habis pikir dengan pikirannya selama ini tentang Gauri, apakah dirinya salah sasaran tapi kenapa wajahnya hampir sama dengan perempuan yang menyebabkan Risma kecelakaan dulu. Aldy langsung mencari tau kejadian beberapa tahun yang lalu dengan menyuruh seorang hacker yang handal dalam bidangnya.


Gauri masih belum sadarkan diri di tambah lagi dengan obat yang baru saja di suntikkan di lengan kirinya, Aldy terus mendampingi Gauri. Rasa bersalahnya mendadak muncul satu persatu jika orang suruhannya berhasil menemukan bukti jika Gauri benar-benar tidak bersalah harus dengan apa dirinya membalas Gauri, tidak mungkin ia mampu mengembalikan kesucian Gauri bahkan luka fisik dan hatinya bagaimana cara mengobatinya.


Jika di dunia ada obat itu semua betapapun harganya ia akan beli agar Gauri tidak terkikis agar dirinya yang bersalah ini tidak di hantui lagi dengan rasa bersalahnya.


Satu jam kemudian.


Gauri sadar dan di sampingnya ada seorang laki-laki yang terus memandanginya tanpa jeda.


"Kenapa menatap saya seperti itu, masih tidak percaya kamu jika saya alergi? bahkan sampai saya pingsan." Gauri kesal sekali dengan Aldy yang tidak percaya.


Jika tadi terlambat di bawa ke rumah sakit pasti lain cerita sekarang, bisa jadi dirinya sudah di bacakan surat Yasin gara-gara kecerobohan satu orang yang terobsesi akan balas dendam dengan orang yang salah.


"Saya percaya, maafkan saya Gauri." Matanya berkaca-kaca.


"Iya," singkat dan Gauri langsung membalikkan badannya membelakangi Aldy.


"Gauri, kenapa kamu membelakangi saya?"


Katanya di maafkan tapi kenapa malah memunggungi, apa seperti ini sekarang meminta maaf setelah di maafkan orang yang memberi maaf memunggungi begitu.


Aldy berusaha menahan gejolak di dadanya, kecewa sih lebih tepatnya jika di maafkan kenapa masih di abaikan. Memang diri ini salah sebab menuduh Gauri yang bukan-bukan bahkan yang lebih parahnya ia menyiksa Gauri agar Gauri tidak bisa bahagia di dunia ini dan hanya kedukaan yang ia peroleh.


Orang suruhan Aldy sudah melacak dan mendapatkan informasi secara detail tanpa ada satupun yang cacat.


Aldy melihat semua video dan bukti-bukti jika Gauri bersih dan sama sekali tidak terlibat kecelakaan bola menggelinding di jalan raya, sungguh tepat sekali kejadiannya di dekat cctv dan saksi-saksi juga banyak yang melihat waktu itu, kenapa dirinya bodo* lagi seharusnya cctv itu ia periksa dengan teliti.


Jadi sekarang namanya salah sasaran ibarat ingin menembak burung malah tembakannya mengenai pohon dan berbalik arah ke dirinya sendiri.


Kalau Gauri tau kenyataan ini pasti ia akan membenci dan dendam teramat dalam bukan, tidak.. ini harus di rahasiakan baik-baik jangan sampai Gauri tau.


"Gauri.. makanlah sedikit, saya suapi oke." Menyodorkan sendok ke arah Gauri tapi percuma Gauri membelakangi dirinya.


Aldy tidak tinggal diam ia langsung menggeser tempat duduknya jadi menghadap lagi ke arah Gauri.


Gauri yang kebetulan lapar langsung membuka mulutnya, lagian makan gratis sayang jika di buang. Bukankah begitu teman-teman. Tapi sayangnya harus membayar mahal sepertinya dengan cara menyenangkan selangkang4n milik Aldy yang senantiasa berdiri sendiri.


"Apa kamu akan meminta ganti rugi?" menyipitkan matanya.


Aldy menggeleng.


"Benarkah?" rasanya Gauri tidak percaya sama sekali, mustahil bin ajaib tau gak sih.


"Iya, saya tidak akan minta ganti rugi!"


Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu Aldy tambah perhatian pada Gauri.

__ADS_1


Gauri tidak nyaman di kekang seperti ini.


"Aldy..." Rengeknya tidak di tanggapi sama sekali oleh Aldy.


Bagaimana tidak semua baju di pilihkan oleh Aldy dan Aldy sendiri yang memakaikan dan melepaskan baju di tubuh Gauri.


"Hust.. kamu diam sebentar calon istriku," tidak mau di bantah tidak mau di tolak.


Gauri memanyunkan bibirnya.


Kenapa tubuhnya merasa seperti boneka hidup yang di dandani pemiliknya.


"Apa aku boneka Aldy?" pertanyaan konyol apa ini yang terlontar dari mulut Gauri.


"Bukan, kamu calon istriku bukan boneka ku. Jadi.. sebagai calon suami kamu Gauri aku akan mempersiapkan semua kebutuhan kamu apapun itu!" jawabnya masih bersemangat membantu memakaikan baju bahkan tangan Aldy tidak dapat lagi di kondisikan sentuh sana sini.


Pasrah sudah pasrah.


Setelah selesai memilihkan pakaian yang pas dan cocok di tubuh Gauri barulah Aldy menyamakan pakaian Gauri dengan jas miliknya, hari ini mau jalan-jalan dan memilih baju pernikahan yang cocok semoga cocok dengan salah satu desainer terkenal di kota.


"Mau langsung ke butik?" Gauri tersenyum manis.


"Iya, kamu nanti coba bajunya dulu kalau cocok kita ambil kalau tidak kita pesan bajunya dulu agar cocok dengan angan-angan kita berdua!" menggenggam tangan Gauri.


Gauri membalasnya, pada akhirnya cintanya dengan Aldy tidak bertepuk sebelah tangan meski suka duka selalu ada, tapi itu semua sudah berhasil di lewati meski dalam kenyataannya Aldy memang punya masalahku yang tidak baik senang bergonta-ganti pasangan dan senang sekali membawa wanita lain di villa meski ada Gauri di sana.


"Aldy?" panggilnya lagi.


"Kenapa sayang!" fokus di jalan padahal di villa juga ada sopir pribadi.


Bukannya menyetirkan malah sopirnya di suruh mengikuti dari belakang bersama dengan pengikut lainnya termasuk Mimi satu mobil dengan orang-orang kepercayaannya.


"Keringetan tangan aku, apa bisa di lepas dulu " Sedikit memberontak tapi percuma bukannya melonggar tapi malah semakin erat.


"Tidak bisa,"


Gauri mengembuskan nafasnya keras melalui bibirnya.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu pada kamu Aldy?"


"Tanya apa coba, jangan bilang kamu ingin tau tentang mantan kamu yang dulu memberikan kamu cinta tapi juga memberikan kamu duka dengan kenyataan jika kamu jadi korban 10M begitu." Tebakan Aldy seolah-olah memang benar adanya.


Bagaimana tidak benar lah skenario yang mengatur Aldy sendiri bukan orang lain makanya tau secara detail.


Gauri memohon tapi Aldy tidak luluh, bisa-bisa gagal nikah lagi padahal sebentar lagi akan menikah, sepertinya harus secepatnya mengucapkan ijab Kabul ke Gauri agar wanita ini tidak lari darinya setelah mengetahui kenyataan bahwa dirinya di balik skenario antara Gauri dan Shandy.


"Kamu ini kenapa sih, tapi kenyataannya bukan kalau aku memang di jadikan ajang balas dendam. Padahal jelas-jelas aku tidak salah dan tidak tau apa-apa, yang paling aneh tuh siapa ya orangnya. Aku penasaran dan ingin tanya langsung buat apa aku di jadikan taruhan sebesar itu uangnya, kenapa tidak 100 juta saja sudah cukup. Orang itu benar-benar pemborosan demi orang yang tidak penting seperti aku ini, buang-buang waktu dan uang saja." Gauri sebenarnya tidak ada niatan apa-apa untuk menyinggung siap saja tapi resah juga hatinya.


Uhuk


Uhuk


Aldy tersedak mendadak.


Gauri sudah lama curiga pada Aldy dan menunggu Aldy jujur, saat di suruh jujur malah ngajak nikah. Gimana sih ceritanya jadi gak karu-karuan sekali, di tambah lagi akan cerita ketika sudah sah menjadi suami istri beberapa minggu yang akan datang. Apa tidak bisa di percepat secepat mungkin meski terdengar sangat gegabah mengambil keputusan.


"Kita ijab Kabul yuk besok." Ajak Gauri mendadak.


"APA," panik gak panik gak ya.. panik lah masa enggak.


"Kenapa terkejut sih, bukannya kamu ingin cepat-cepat kita menikah dan resmi menjadi suami istri. Bukankah lebih baik secepatnya menikah dan tidak menambahkan dosa lagi?" Gauri menyarankan begitu semoga pahamlah apa yang dimaksudkan.


"Iya, aku pengen kita cepat menikah tapi kenapa harus besok. Masih banyak waktu yang harus kita persiapkan dulu bukan!" terkesan tidak mau buru-buru.


Gauri sedikit mengancam.


"Jika tidak ingin menikah besok, ya sudah.. jujur dan harus cerita hari ini atau kita tidak usah menikah sama sekali. Lagi pula bukannya wanita mu banyak dan ada dimana-mana." Gauri melipat kedua tangannya di depan perut.


Aldy membantu di tempat, harus cerita dan juga jujur pada Gauri bukankah ini namanya bunuh diri di atas kaki sendiri.

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2