
Emillia hanya geleng-geleng kepala, ternyata penjual bakso lebih berarti tanpa dirinya.
"Sepertinya saat pernikahan nanti aku sewa saja jasa pak Iman untuk jadi catering di acara resepsi nanti." Emillia berencana.
Semua bersenda gurau saat menikmati makanan, hanya Dhela yang tidak bisa datang karena pekerjaan dia yang berada di restoran tidak bisa di tinggal, selain itu saat bulan puasa seperti ini pekerjaan dia bertambah dua kali lipat dari bulan sebelum Ramadhan.
"Akhirnya selesai juga pekerjaannya." Dhela mengelap keringatnya di tempat pencucian piring.
Pekerjaannya merangkap jadi dua bahkan tiga sekaligus biasanya, selain pelayan dia buruh cuci piring dan bersih-bersih di restoran besar itu. Pekerjaan ini ia lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan Ksatria dan Daysi yang sekarang keluarganya, semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia. Jika sampai mereka tau, Dhela yakin Ksatria dan Daysi langsung mengeluarkan dirinya dari pekerjaan itu dan langsung memasukkannya di hotel atau apartemen keluarga Malik untuk terlibat dalam bisnis keluarga Malik. Dhela tidak mau seperti itu lagi, ia tidak mau mencolok lagi di kerumunan orang-orang. Ia ingin seperti wanita lainnya yang hidup sederhana, biasa dan bahagia.
"Dhela." Sapa seorang chef restoran. Ia laki-laki baik dan manis sekali, meski tidak tampan tapi dia mempesona jauh lebih menarik dari pada yang tampan dan ganteng saja.
"Chef Putra, ada apa?" Dhela tersenyum.
"Aku hantarkan pulang ya, apa boleh. Sepertinya kamu pulang sendirian, tidak baik seorang wanita pulang sendirian!" Jawabnya menawarkan diri.
Dhela tersenyum. "Justru tidak baik jika aku pulang di hantar laki-laki, pasti nanti jatuhnya fitnah. Lagian aku bisa menjaga diri ko." Dhela mengenakan tas selempang nya dan mulai menaiki kuda besinya.
Motor peninggalan sang Papa ia gunakan, motor besar ini sangat nyaman di pakai Dhela lantaran sudah sejak sekolah menengah atas ia belajar menggunakannya meski di awal Dhela teriak ketakutan.
Putra tidak tinggal diam, ia mengikuti Dhela dari belakang untuk memastikan jika Dhela pulang dalam keadaan selamat dan baik-baik saja.
Dhela hanya tersenyum di balik kaca sepion nya, laki-laki seperti Putra harus di tes dulu ketulusannya. Sebenarnya Putra laki-laki luar biasa, selain ia rajin beribadah ia juga patuh pada Ibunya dan ia baik kepada sesama. Dhela tidak mau salah sangka dulu, mungkin perhatiannya ini bentuk dari pertemanannya selama beberapa bulan ini.
"Lebih baik aku berhenti sebentar saja." Menepikan laju kendaraannya. Putra mengerutkan dahinya kenapa Dhela berhenti dengan segera Putra mendekati motor Dhela.
"Kenapa berhenti Dhela?" Putra membuka kaca helmnya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, kalau kamu kenapa mengikuti ku?" Balik bertanya.
"Aku... aku..., hanya ingin memastikan keselamatan kamu Dhela, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu. Hanya itu saja!" Jawabnya sedikit gugub.
"Ppuufftt..., ada-ada saja. Aku ini bisa bela diri untuk menjaga ku. Jadi kamu tenang saja adik Putra." Goda Dhela pada Putra.
Putra usianya di bawah Dhela yaitu 2 tahun lebih muda dari Dhela.
Kediaman Erdana Khan.
Momo membalikkan majalah, tidak ada baju yang menarik untuk lebaran tahun ini. Ia sangat kesal, padahal tadi ingin beli baju tapi setelah tau modelnya tahun ini yang hanya di modifikasi sedikit di bagian lengan yang bergelembung, membuatnya mengurungkan diri untuk membelinya.
"Bukannya model ini sama seperti tahun-tahun kemarin hanya di tambah kain tulle berwarna menarik dan bercahaya saja, membosankan sekali. Lebih baik buat sendiri, baju gamis tahun kemarin tinggal potong bagian depan di jadikan baju gamis yang ada talinya, biar bagus seperti gamis kodok yang asli." Momo merancang pakaian lamanya.
Ia langsung menuju ruang pakaian dan mengeluarkan semua gamis yang ia miliki saat di gunakan ke acara-acara penting seperti di Pesantren dan panti asuhan.
Lais yang baru selesai berolah raga mencari sang istri, ia tertawa saat sang istri kebingungan dengan pakaian panjangnya. Sepertinya ibu hamil ini sedang ngidam hal yang aneh lagi. Lais tidak berani masuk dengan keadaan yang bau keringat seperti ini, pasti Momo akan mengomel jika ada bau keringat seperti sekarang ini.
Momo yang sudah selesai memilih pakaian menatap tajam suaminya yang berbaring di sofa.
"Mas... bersih-bersih sana, baunya menyengat mas." Momo mulai cerewet lagi.
"Iya, padahal baru sebentar loh duduk dan merebahkan diri, baru juga keringat kering," Lais berjalan ke arah kamar mandi.
"Kenapa, tidak suka dengan kehamilan aku." Momo berucap dengan ketus kemudian ia mulai berkaca-kaca dan menangis.
Lais memijat kedua pelipis kepalanya yang mendadak pusing, mau mendekat keadaan ia bau. Jika tidak mendekat sang istri menangis tersendu-sendu. Dalam hati Lais berdoa selalu semoga sang anak tidak rewel seperti di saat ia dalam kandungan Mamanya.
__ADS_1
"Sayang, please jangan menangis oke." Berusaha menenagkan sang istri, bukan berhenti justru Momo tersendu-sendu.
"Kamu galak, aku tidak mau melihat kamu," Momo memalingkan wajahnya sambil memegang perutnya.
Lais berhenti di tempat, ia jadi bingung dengan mood ibu hamil yang berubah secepat kilat. Dan selama permen beku yang meleleh di ruangan.
"Sayang aku harus bagaimana, mendekat salah menjauh tambah salah?" Lais bingung dan akhirnya mengungkapkan nya.
"Pergi mandi lalu peluk aku setelah mandi!" Jawab Momo memalingkan wajahnya.
Lais langsung bahagia, ternyata muda meluluhkan ibu hamil yang satu ini. Dengan cepat Lais masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, setelah selesai Lais mengenakan pakaian tidur dan mendekati sang istri.
"Rapinya rambut kamu mas, sini aku mau menyentuhnya." Momo ingin sang suami merebahkan kepalanya di atas pahanya.
"Tapi," hendak menolak tapi Momo sudah mengusap perut ratanya dengan memelas.
Sungguh imut sekali istrinya, dengan otomatis Lais langsung menuruti kemanjaan Momo. Momo yang senang langsung menyentuh rambut, kemudian alis dan yang terakhir hidungnya.
"Laki-laki tampan ini, kenapa bisa jadi suamiku. Rasanya tidak percaya." Momo mengecup dahi Lais. Lais jadi tersipu malu.
"Apa kamu tidak percaya, buktinya sudah nyata di sini," Lais menyentuh perut Momo dan mencium buah hatinya yang ada di dalam sana.
"Percaya, karena ini sangat nyata adanya." Momo kembali menyentuh surai rambut Lais dengan gemasnya.
Rambut rapi dan berjambul yang di tarik kebelakang sangat pas dengan wajah ini, potongan model undercut sangat pas dan mempesona, apalagi jika Lais yang menggunakan model ini. Semakin waw dan menggoda.
"Sangat tampan." Momo menggoda Lais lagi.
__ADS_1