
Sindy berpamitan ke kamar untuk membersihkan dirinya begitu juga dengan Cheval suaminya.
"Sindy sayang." Panggilan mesra dari Cheval yang sudah melingkarkan kedua tangannya di perut Sindy.
"Ada apa Aa?" Sindy merasa bingung saat ada sesuatu yang keras di belakangnya, karena Cheval menempelkan tubuhnya begitu menempel.
"Pingin punya anak kembar seperti mereka!" Jawabnya yang sudah merasakan panas dingin di dalam tubuhnya, apalagi di tambah lekukan badan Sindy yang besar dan bagus.
Untung saja Sindy jarang mengenakan pakaian ketat yang memperlihatkan tubuh bagusnya. Jika iya, bisa jadi ia tidak akan pernah di izinkan sang suami untuk pergi keluar, apalagi sampai berkerja seperti sekarang. Sangat mustahil itu terjadi.
1 jam kemudian.
Ksatria dan Daysi sedang menikmati secangkir teh di gazebo rumah ini, sambil berbincang-bincang ringan membahas masa tua yang bahagia. Meski sekarang sudah tua, tapi anak-anak masih butuh perhatian dan arahan dari mereka berdua.
Momo dan Lais akan pulang karena Princess tiba-tiba demam setelah bermain dengan Inre tadi. Tapi....
"Kamu demam nak?" Momo langsung hawatir dan mengambil kotak obat yang ada di dalam mobil.
Untung saja tadi ia kesini menggunakan mobil jika tidak, pasti saat ini Lais terkena omelan dari Ksatria lagi karena lalai dalam mengurus rumah tangganya.
"Alhamdulillah bawa mobil, jika tidak. Pasti pengalaman horor lagi. Bisa-bisa saat nanti kedua anak kami lahir ada rambu lalu lintas di larang parkir atau tidak boleh di tempat itu." Lais bisa bernafas lega.
Belum juga ia aman, ternyata dari kejauhan terlihat Ksatria yang jalan mendekati keluarga kecil bahagianya ini.
"Ada apa ini? Sepertinya kalian harus menginap saja malam ini." Ksatria menyentuh dahi Princess dan benar ia sedang demam.
"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Princess. Ayo masuk ke rumah lagi, lagian tidak baik jika Princess demam dan harus pulang sekarang. Lagian meski kalian bawa mobil tidak baik juga untuk menurunkan demam, kasihan terlalu banyak kena angin." Ksatria langsung mengendong Princess dan tanpa ijin dari Lais dan Momo sudah membawanya masuk.
Lais dan Momo pasrah dan ikut masuk kembali ke dalam rumah.
Momo menggenggam erat tangan Lais, ia tau betul jika suaminya akan panas dingin tiba-tiba apalagi jika berhadapan dengan Ksatria.
"Kamu takut mas, kenapa tangan kamu sedingin ini?" Momo menatap sang suami yang sudah pucat pasi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa! Em... itu sepertinya mas butuh air hangat, seperti teh campur mandu enak sayang!" Jawabnya terdengar manja sekali.
Momo hanya geleng-geleng kepala melihat keanehan suaminya, ternyata ikatan batin anak dan ayah sangat kuat sekali.
"Baiklah mas, mas tunggu ya." Ucap Momo segera beranjak ke dapur.
Sedangkan Princess sudah di tangani oleh Ksatria dan Daysi. Momo tidak berani menangani karena ada 2 bayi yang juga harus di jaga kesehatannya juga, karena orang hamil juga tidak baik terlalu kontak fisik atau berdekatan dengan orang sakit, bukan bermaksud menjauh tapi untuk berjaga-jaga saja.
Di kamar Tamu.
"Mama." Panggil lirih Princess.
Daysi yang mendengar cucunya merintih memanggil-manggil Mamanya, ia langsung bergegas dan mencari Momo berada. Ternyata Momo sedang membuatkan minuman untuk suaminya Lais yang terlihat pucat sekali wajahnya.
"Momo." Menyentuh pundak Momo.
Momo langsung menoleh dan menatap ke sumber suara.
"Iya Ma, ada apa?" Momo menghentikan kegiatannya itu.
"Baik Ma." Momo bergegas pergi menemui suaminya terlebih dahulu untuk memberikan teh yang baru ia buat.
Momo yang sudah mengantar teh, kini bergegas pergi ke tempat Princess di rawat.
"Sayang." Langsung menyentuh dahi dan leher Princess untuk mengecek apakah masih demam. Ternyata demamnya sudah reda dan turun.
"Mama," Princess menatap Momo dengan sendu.
Sungguh kasihan sekali keadaan Princess, sepertinya besok dan hari seterusnya harus memperhatikan asupan gizi dan saat ia bermain agar Princess tidak demam lagi.
Keesokan harinya.
Princess sangat lengket dan manja pada Momo, Momo sedikit keheranan kenapa sang putri seperti ini. Momo terkejut saat melihat wajah Princess membengkak, lalu ia memeriksa tangan bagian kanan Princess dan benar saja jari-jemarinya bengkak.
__ADS_1
"Mama, jari Princess besar dan keras Mama." Sambil menyentuh jari-jarinya yang keras dengan tangan kirinya.
"Nak, ayo ke Dokter," Momo hawatir sekali, ia langsung pergi dan mengetuk pintu kamar mandi yang masih di pakai oleh Lais.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu terbuka.
Ceklek
"Ada apa sayang? Kenapa kamu panik sekali?" Tanyanya kebingungan sendiri.
"Tangan dan wajah Princess bengkak mas, sepertinya ia alergi mas!" Jawabnya masih panik.
Rumah Sakit Anak.
Sesampainya di Rumah Sakit, Lais langsung mendaftarkan diri sedangkan Momo sudah menunggu di ruang tunggu untuk mengantri periksa Dokter.
"Mas dimasukkan ke IGD saja mas, aku takut kenapa-kenapa mas." Momo hawatir dengan tubuh Princess yang belum reda.
"Tidak apa-apa sayang, lihat putri kita ia kuat melawannya. Demamnya saja sudah turun sayang, coba kamu cek dulu suhunya jika tidak percaya," Lais menempelkan telapak tangan Momo di dahi Princess.
"Iya mas, betul ini sudah turun demamnya. Tapi dia kasihan sekali sampai bengkak tangan dan wajah cantiknya." Momo berusaha kuat dan tenang.
Saat di periksa oleh Dokter, ternyata ia terkena racun dari tumbuhan yang ia sentuh. Mungkin ia memetik daun dan terkena getahnya dari tumbuhan aglonema atau tumbuhan talas-talasan. Momo terkejut dengan apa yang di ungkapkan oleh Princess saat ia memetik daunnya dari tumbuhan itu.
Sebagai pelajaran, Momo akan berhati-hati saat mengawasi putrinya. Ia akan memberi tau masalah ini pada Lala susternya untuk berhati-hati juga saat menjaga Princess, supaya kejadian serupa tidak terjadi lagi.
***
__ADS_1
Pengalaman pribadi anak aku sendiri, tapi Alhamdulillah sudah sembuh.