ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
78 Mengingatkan Aurellia


__ADS_3

Kamar Ksatria.


Daysi membaca majalah namun merasa bosah kemudian memainkan game virtualnya lama sekali ia tidak memainkan game tersebut. Ksatria bahkan bersikap cuek lagi setelah menghiburnya tadi, Daysi sedang mencari perhatian pada Ksatria Malik namun Ksatria tidak menggubrisnya karena pekerjaan menumpuk hari ini.


"Sat...," sambil bergelayut manja di pangkuan Ksatria membuat Ksatria tersengat listrik dadakan di aliran darahnya.


"Jangan menggodaku Daysi," melanjutkan pekerjaanya setelah membuat Daysi tidak duduk di pangkuannya lagi.


"Dasar cuek, tumben ia tidak bereaksi sama sekali. Sudahlah dari pada buang-buang tenaga lebih baik aku berjalan-jalan kebawah buat camilan." Daysi menuruni anak tangga sambil berlari kecil.


"Sepi amat ini rumah kayak gak berpenghuni saja, pada kemana sih semua orang bahkan pengantin baru 2 minggu juga tidak ada, apa jangan-jangan buka segel, senangnya hatiku." Daysi berjalan dengan gembira menuju dapur.


Ksatria yang merasa di tinggal Daysi langsung menutup laptopnya dan mencari keberadaan Daysi, saat mencium bau masakan ia yakin betul jika itu masakan Daysi, Ksatria berjalan pelan niatnya mau mengejutkan Daysi namun malah ia terkejut saat Daysi mengagkat spatulan yang hampir mengenai wajah tampannya.


"Eeittsss..., gak kena." Sambil menujulurkan lidahnya.


"Siapa yang mau memukulmu, tiba-tiba dahi ku terasa gatal makannya aku mengangkat spatula," sambil cengegesan lebar.


"Aduh..., aku kira mau memukulku tadi padahal aku sudah sangat lincah menghindar ternyata tidak mau memukul aku salah perkiraan, ee... hee... hee...." Ksatria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sacha ikut bergabung di dapur sementara Aurellia menerima telpon dari karyawannya yang ada di luar kota, Aurellia bahkan kebinggungan harus menangani kedai yang sangat ramai bahkan membutuhkan karyawan baru.


"Sibuk banget kamu, lihat kondisi dong Aurel. Suami kamu butuh perhatian juga itu," Ksatria berucap tajam pada Aurellia.


"Iya... iya... sebentar lagi juga selesai." Ucap Aurellia mematikan ponselnya.


Aurellia bergegas menuju dapur untuk membantu Daysi memasak, dengan telaten Daysi dan Aurellia bahkan sangat kompak dua sahabat sekaligus saudara ini dalam urusan dapur meskipun ada kelurangan satu sama lain tetapi tidak mengurangi pesona performa dua wanita cantik ini.


"Punya istri ko sama-sama tomboy jago masak," ucap Sacha dan Ksatria bebarengan.


"Kamu bisa membaca hati dan pikiran ya Sacha?" tanya ketus Ksatria sambil menyipitkan matannya.


"Kamu mungkin kakak ipar," memalingkan wajahnya dengan segera. Begitu juga Ksatria Malik.

__ADS_1


Sekitar setengah jam masakan selesai, Aurellia menyiapkan semua menu di atas meja sementara Daysi menyiapkan minuman.


"Aurel...," ucap Ksatria memberikan isyarat untuk melayani Sacha sang suami.


"Kamu itu harus mencontoh Daysi, asal kamu tau sejah hari pernikahan dia menyiapkan semua keperluanku dari memasak sampai pakaian kerjaku, apa kamu juga melakukan hal yang sama Aurel?" tanya tegas Ksatria.


"Belum," sambil menudukkan kepalannya.


"Kamu harus mencontoh sahabat sekaligus kakak iparmu itu, ingat Sacha adalah imammu." Ksatria mengunyah risoles kesukaanya.


"Iya kakak saya berusaha menjadi istri yang baik dan patuh dengan suami," Aurellia tersenyum kecut.


"Kalau tidak ikhlas melakukannya jangan di lakukan," tambah ucapan Ksatria.


Daysi hanya tersenyum. "Suda-sudah, lanjutkan saja nanti ya, sekarang ayo makan dulu." Daysi melerai kakak beradik ini bertengkar di meja makan daripada nanti salah satu dari Ksatria atau Aurellia marah dan meninggalkan meja makan.


Selesai makan Daysi menonton acara kesukaanya dengan Aurellia mereka tertawa bersama bahkan menagis bersama. Ksatria dan Sacha hanya mengangkat bahunya.


"Main golf saja yuk daripada melihat mereka sedang menghayati peran penonton." Ajak Ksatria pada Sacha.


Bughh..., Ksatria memukul pelan badan Sacha untuk menyadarkan dari lamunan malam hari takutnya kesambet sesuatu.


"Aww... untung tidak kena bekas tusukan." Sacha mengusap punggungnya yang terkena pukulan dari Ksatria.


"Maknya jangan melamun, ayo main siap yang paling banyak mencetak bola masuk." Tantang Ksatria.


"Oke, siapa takut." Sacha tak mau kalah dengan tantangan yang di berikan oleh Ksatria padanya.


Daysi yang berada di ruang tv masih meneteskan air mata dan segera ia usap untuk menemui Cheval karena ia tidak menggendong Cheval semejak ia tidak enak badan tadi siang.


"Cheval mana mbak Ria." Daysi mendekat ranjang box, "kenapa Aak tidak ada mbak?"


"Aak lagi sama mbok Yati dan Mala di ruang bermain mbak," jawan Ria.

__ADS_1


Kemudian Daysi bergegas menuju ruang bermain, bahkan Cheval masih aktif bermain dengan mainannya padahal ini waktunya tidur, tetapi belum ada tanda-tanda ia mengantuk.


Daysi tidak jadi menemui Cheval ia mencari keberadaan sang suami, saat berjalan keluar ia mendengar seseorang sedang bermain. Daysi berjalan menuju lapangan golf dan benar saja Sacha juga ada bahkan bermain.


"Kompaknya dua orang ini, tapi kurang satu Dokter Ano jika ada Ano pasti klop tiga orang agak gak waras kalau bercanda." Daysi duduk di kursi tidak jauh dari Ksatria bermain sambil menatap tubuh atletis milik Ksatria.


Ksatria yang sadar dengan kedatangan Daysi langsung mengakhiri permainannya, Sacha yang terbiasa dengan keadaanya tidak mengeluh jika Aurellia tidak memperhatikannya berbeda jauh dengan pasangan yang ada di depannya saat ini.


"Aku kembali dulu," pamit Sacha pada Daysi dan Ksatria yang masih saling berromtisan di kursi.


Aurellia yang baru saja membuat susu hangat dua gelas langsung menghantarkan ke Sacha sang suami. Aurellia mengetuk pintu sebelum masuk.


"Masuk, tidak di kunci." Sacha membuka kaosnya.


Aurellia menatap tubuh Sacha yang atletis, pas sekali dengan wajah tampannya.


"Letakan di meja saja jangan menatapku terus-terusan, lihat air liurmu hampir jatuh." Goda Sacha membuat Aurellia segera mengusap bibirnya yang kering.


"Aa... haa..., lucu sekali." Sacha mendekat dan mengambil susu dan meminumnya. "Kenapa punyamu tidak kamu minum?"


"Iya, sebentar lagi aku minum ko!" Aurellia segera meminum susu buatannya.


"Malam ini tidurlah di sini," Sacha membuka laptopnya kembali.


"Iya," jawab singkat Aurellia.


Sacha hanya menggelengkan kepala dengan jawaban singkat Aurellia tanpa berkelit dengan alasan ini itu seperti biasanya.


"Kamu itu cantik dan pintar tetapi kurang peka saja." Puji Sacha pada Aurellia saat Aurel sudah pergi dari kamarnya.


Dua insan yang masih berada di kursi lapangan golf kini berjalan beriringan dengan senyum merekah, Aurellia yang melihat sang kakak bahagia ikut bahagia, akhirnya sang kakak berubah 180 drajat dari yang dulu.


"Senangnya aku," segera menuju dapur dan mencuci dua gelas tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2