ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. 8


__ADS_3

Sindy yang sedari tadi kagum pada sahabat-sahabat suaminya, Cheval jadi cemburu mendadak apa unggulnya sahabat-sahabat nya itu sampai-sampai istrinya terpesona aku terpesona memandang-mandang wajahmu yang manis, terpesona.


"Jangan lama-lama melihatnya gak bagus untuk mata dan hati." Cemburunya langsung terus terang.


"Bagus ko Aa untuk mata, biar fresh gitu," langsung ponselnya di ambil dan di simpan, rugi ternyata memberi tahukan tentang sahabat-sahabat nya yang justru bisa membuat Sindy oleng padahal baru juga sekilas ia memperlihatkannya.


"Gak baik untuk hati, apa kamu tidak tau suamimu yang bucin ini sedang dalam mode cemburu?" mengangkat dagu Sindy.


"Tau, makanya Aa jangan pernah memperlihatkan sahabat-sahabatmu yang ini dan ini kasihan mata polos ku ini!" jawabnya cengengesan.


"Aa serius loh ini sayang, jangan menduakan ku ya." Bucin gak ketulungan.


"Iya Aa," memeluk rapat pinggang suaminya.


Kediaman Filan.


Nisa meminum es buah yang ia beli dari warung pinggir jalan sambil menikmati esnya ia tidak segera masuk rumah malah duduk di bawah pohon dengan lampu-lampu yang ada di sekitarnya, ia benar-benar malas sekarang apalagi nanti saat masuk ke dalam rumah dapat bentakan dari Filan lagi.


"Waw ... kenapa ada laki-laki seimut ini, wah bisa-bisa aku belok nih ke dia. Ya ampun ... ingin peluk." Nisa mengusap layar ponselnya dan hendak mencium wajah pria itu namun tiba-tiba ada tangan yang menghalangi layar ponselnya.


"Apaan sih ganggu tau," langsung mengalihkan ponselnya dan menggeser tempat duduknya.


"Bagus ya bagus, sudah pulang gak masuk rumah dulu malah asik-asik kan lihat cowok-cowok dan minum es malam hari." Dengan Menggertakkan giginya Filan marah-marah.


"Apaan sih kamu kak, gangguin orang senang aja," Nisa berjalan sambil menggerutu.


"Hey tunggu, dimana sopan santun kamu Nisa?" sambil teriak dan menunjuk-nunjuk Nisa.


"Hilang!" jawabnya juga tak kalah berteriak, lagian resek banget sih Filan.


Filan mengepalkan tangannya kenapa Nisa jadi seperti ini pasti gara-gara sepeda yang ia gunakan setiap hari dan semakin buruk saja kelakuannya itu.


Filan berlari dan berhasil mencekal pergelangan tangan Nisa.


"Lepas kak, mau apa sih. Udah masuk rumah nih?" memberontak.


"Papa ingin bertemu dengan kamu Nisa!" Filan melepas genggamannya dan berjalan lebih dulu ke kamar sang Papa.


Nisa segera menemui sang Papa.


"Papa angkat." Nisa sedari dulu memanggilnya selalu Papa angkat tidak mau memanggil papa saja tanpa angkat baginya tidak sopan untuknya jika memanggil Papa Rafi lagian ia sengaja memanggilnya seperti itu sebab Papa Rafi penyelamat hidupnya dan membawanya ke masa depan yang lebih baik dan cerah.


"Sini nak," menepuk sebelah tempatnya berbaring.


"Ada apa pa?" Nisa tersenyum manis.


"Papa menjodohkan kamu dengan anak teman Papa, Papa ingin kamu mengenakan baju pengantin dan bahagia bersama suamimu Nisa!"


Bak di sambar petir malam hari, tiba-tiba tidak ada angin dan hujan mendadak ia di jodohkan dengan orang yang ia kenal, jika itu sahabat Papa bukannya ia akan di jodohkan kemungkinan besar dengan orang yang umurnya 2 kali lipat darinya bahkan bisa jadi hampir 3 kali lipatnya, apa calonnya seukuran dengan Papa.


"Tapi Pa." Nisa memelas sambil menatap sang kakak yang sedari tadi diam tanpa mengeluarkan ekspresi sedikit pun.


"Namanya Daylon Nisa, dia sahabat baik Cheval putra sekaligus menantu Ksatria Malik," Rafi berbicara dengan serius.


Nisa berharap Filan sang kakak akan membelanya namun hasilnya nihil, bahkan Filan tersenyum dan mengangguk setuju. Kenapa mereka semua tega seperti ini setelah merawat dan membesarkan anak-anak angkat mereka, mereka akan sesuka hatinya menjodohkan dengan ini atau dengan ini. Kami bukan barang yang bisa di tukarkan sana sini ataupun bukan mata uang.


"Tapi Pa." Hendak protes namun tiba-tiba Filan berbicara.


"Jangan protes, ingat kamu di sini harus menurut dengan Papa. Apa kamu tega membuat Papa kepikiran?" Filan mengingatkan Nisa.


Nisa tertunduk sedih sekali, kenapa harus ada drama di setiap kehidupan apa tidak bisa jalan hidup ini di tentukan lewat tangannya sendiri kenapa harus ada campur tangan orang lain untuk berjalan.


"Pa ...." Nisa merengek.


"Tolong ya Nisa, bertemu dulu saja dan berbicara dengannya pelan-pelan jika cocok kalian boleh lanjut ke tahap selanjutnya nak," Rafi menggenggam tangan putri angkatnya.


Kembali ke kamar Sindy dan Cheval.


Mereka berbincang-bincang sampai ada telpon yang mengejutkan Sindy dan juga Cheval.

__ADS_1


"Ganggu aja nih anak."


📞 Hallo ada apa? ganggu orang sedang bermesraan dengan istri aja.


📞 Pamer nih ceritanya, sesekali gue ganggu apa gak boleh. Atau jangan-jangan kamu mau memutuskan tali persahabatan ya Cheval sampai-sampai kamu ketus begini ke sahabat Lo?


📞 Ya pamer lah, biar tergugah perasaan Lo dan mau menikah.


📞 Malah gue di buat pusing ini Val,


📞 Pusing kenapa? kurang duit Lo mau pinjam. Berapa? (terdengar suara Cheval tertawa nyaring sekali)


📞 Bagsa7 Lo bukannya tanya kenapa, malah bilang gue kekurangan duit aja. Gak, gue gak kekurangan duit malah kelebihan dua ratus ribu. Pusing gue mau di jodohin! (terdengar lemas nada bicara nya)


📞 Aa ... ha ... ha ... ha ..., aduh sampai perutku lemes loh ini. Gue sudah tanya tadi, telinga Lo bermasalah tuh, sana-sana bawa ke Dokter THT. Kamu mau di jodoh in, mampus Lo sudah gue bilang nikah bro nikah cari pacar, malah Lo bilang sibuk ngejar impian lalu nikah kalau jodoh sudah datang. Sudah datangkan sekarang lewat perjodohan, jadi nikmati saja dan jalanin oke.


📞 Sialan Lo bukannya bantu cari solusi kek, malah mendukung plus nyudutin gue, nangis di pojokan kamar dulu deh kalau gitu gue, (melas sekali nasib Daylon)


Sindy yang mendengar percakapan suami dan sahabat kurang akal sehatnya itu membuat senyum di wajahnya terus terpancar.


📞 Sudah-sudah besok kita ketemuan saja dari pada pusing, sudah dulu oke. (menutup telpon sepihak, padahal Daylon masih belum selesai mengeluarkan keluh kesahnya)


Cheval merasakan dirinya di umpat tidak ada habis-habisnya sebab sedari tadi usai bertelepon ia bersin berkali-kali sampai ingusnya keluar.


"Sial, di umpat Daylon ini." Su'udzon tingkat tinggi mentang-mentang baru telpon dengan dirinya.


"Jangan su'udzon dulu Aa, gak baik dosa loh," mengingatkan sambil tangan telunjuknya menunjuk ke arah atas.


"Iya sayangku, tapi siapa lagi yang membicarakan aku kecuali dia?" Cheval memeluk perut Sindy dan mengusap bagian yang di jahit.


"Sudahlah Aa, Aa selalu su'udzon nya tingkat tinggi!" Sindy kesal sekali dengan sikap suaminya, kenapa selalu berpikir yang tidak-tidak. Bukannya jika ada orang lain yang membicarakan tentang kita, kita harus menerima dalam artian tidak menggunjingnya juga.


"Baiklah istriku yang cantik, Aa janji tidak akan pernah membicarakan orang lain apalagi sampai su'udzon pada orang lain sekalipun orang itu menjelek-jelekkan Aa." Cheval menautkan jari kelingkingnya ke jari Sindy.


"Nah, seperti ini baru Aa Cheval yang aku kenal dan benar-benar suami aku," mencium pipi Cheval.


"Jangan buat aku tersipu malu dong sayang, main cium-cium seperti masih ABG saja." Memegang pipinya yang baru saja di cium.


"Benar juga ya sayang, oh ya Sindy yuk kita foto flash back saat-saat SMA dulu kayaknya seru deh." Cheval tiba-tiba mengajak foto pakai pakaian lama.


"Enggak lah Aa, nanti banyak yang baper lagi sebab Aa pakai seragam SMA lagian pesona Aa masih banyak loh ditambah lagi Aa sudah mapan," sambil mengerucutkan bibirnya.


"Takut jadi bahan pemandangan orang lain ya." Sambil mencolek-colek dagu Sindy.


"Apaan sih Aa, enggak ya," elaknya manja.


Mereka berdua damai bahagia dan sejahtera.


Keesokan harinya.


Daylon sengaja mengambil cuti untuk beberapa minggu sekitar 1 setengah Minggu saja lagian ini libur terpanjangnya yang pernah ia ambil, pusing sebenarnya pikiran Daylon. Kenapa bisa-bisanya ia harus mengenal anak dari sahabatnya, bukan sahabat tapi saling membantu dan membutuhkan waktu itu. Andai waktu dulu Daylon tidak di tolong oleh Rafi dan berakhir balas Budi untuk meminang anak gadisnya.


"Beneran adik angkatnya Filan? yang mau di jodohkan dengan Lo?" rasanya mulut Cheval mau meledak tawanya namun ia tahan demi sahabatnya supaya tidak tersinggung, kasihan jika tersinggung takutnya gak mau nikah nanti.


"Iya, gila kan. Gue takut jika adiknya agresif dan tidak seperti gadis-gadis yang lemah lembut!" bukan hawatir namun terdengar takut jika dia minta satu macam yaitu di atas ranjang.


"Ya layani saja jika minta di buatkan adik bayi." Sindy menutup mata dan dahinya, saran apa ini? bukannya ini saran yang sesat.


Suaminya ini mengapa vulgar sekali ketika berbicara pada sahabat-sahabatnya.


"Gila kamu Val, masa minta begituan di turuti sih. Gue bukan orang yang mudah nafsuan jadi hal itu gak akan gue lakukan jika bukan karena sadar dan cinta padanya," membenarkan rumor yang hampir menjatuhkan popularitas nya di dunia perkapalan.


"Masih suci?" tanyanya berbisik.


"Ya masih lah!" jawabnya sewot.


"Sabar bro sabar gak usah sewot seperti itu kali Day." Cheval menyeruput kopinya.


Daylon yang kesal langsung meminum jusnya dengan beberapa kali tegukan sekaligus, rasanya benar-benar habis dan tertekan tau begini gak curhat dan gak bicara jujur ternyata bicara jujur dengan Cheval seperti mau taruhan hidup.

__ADS_1


"Bukan sewot, tapi mulai panik ini jam semakin cepat saja berputarnya tau-tau sudah satu jam gue di sini. Bagaimana ini?" sambil mengigit kuku jarinya, iuh ... jorok laki-laki ini ternyata kalau hawatir seperti ini gigit kukunya sendiri.


Puk


Puk


Puk


Menepuk pundak Daylon.


"Sabar bro, gue mendukung Lo di garis depan. Temui dulu kalau cocok angkut Day."


"Benar itu kata Aa, Kak. Lagian gak ada salahnya jika kalian bertemu dulu tatap muka gitu biar nanti ada kemisteri atau tidak."Sindy ikut menyarankan.


"Baiklah, karena ini saran dari kalian. Semoga dia gak bar-bar orangnya," helaan nafas terdengar jelas.


Sindy mengacungkan kedua jempol tangannya.


"MAMA." Teriak Inre dengan membawa tas sekolahnya sambil berlarian.


"Iya nak," Sindy meraih tangan suaminya dan berpamitan, Cheval memberikan ciuman di dahi dan bibir Sindy.


Daylon tersenyum kecut melihat pemandangan romantis dari dulu sampai sekarang masih langgeng terus, patut di contoh rumah tangga Sindy dan Cheval itu.


"Lay gak datang hari ini?" Daylon menatap ke sana kemari tapi sosoknya gak berwujud.


"Semalam gue kabarin katanya sibuk gak ada waktu kalau pagi, tapi kalau nanti malam bisa!" Cheval menatap layar ponselnya.


Meski di rumah tapi ia tetap berkerja lewat ponselnya, sebab banyak sekali yang harus ia urus.


"Ck sok sibuk sekali dia itu, padahal dulu paling bandel. Apalagi saat di luar jam sekolah, ngajak main ini dan itu eh ... ternyata saat tua jadi pekerja keras." Daylon menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya.


"Iya ... ya ..., padahal dia paling bandel di antara kita ini tapi kenapa sekarang malah paling sibuk,"


Sore hari.


Pertemuan pertama Daylon dan Nisa di sebuah cafe bunga.


Daylon ternyata sudah datang lebih dulu setengah jam sebelumnya ia sudah datang, Nisa baru saja datang dengan di hantarkan sopir.


"Selamat sore." Tiba-tiba Daylon di sapa oleh bidadari secantik ini sore-sore, mimpi apa semalam bahkan Daylon yang tidak pernah terpesona kecuali dengan orang-orang tertentu kini ia terpesona dengan sosok Nisa.


"Iya selamat sore," jawabnya terdengar gugub sekali.


"Kamu kak Daylon ya?" sambil duduk di depan Daylon.


"Iya, kamu Nisa adiknya Filan kan?" balik bertanya.


"Iya Kak!" jawabnya malu-malu.


Nisa tadi hampir tidak mau datang sebab takut jika Daylon tidak sesuai dengan ekspektasinya tapi usai tau jika Daylon setampan ini dari foto yang ia terima dari sang Papa angkat ia jadi mau menemui Daylon


Awalnya pembicaraan Daylon dan Nisa biasa-biasa saja namun kini mulai terdengar suara gelak tawa, mereka ternyata saling nyambung saat berbicara satu sama lain.


"Oh ya Nisa, jalan-jalan yuk ke bioskop." Mengajaknya ke tempat-tempat yang terdengar romantis seperti Drama-drama yang pernah ia tonton.


"Boleh kak," Nisa tersenyum, senyumannya ini sungguh menyejukkan mata dan hati bagi yang melihatnya termasuk Daylon sendiri.


Saat jalan-jalan ada seorang perempuan tiba-tiba datang dan memeluk tubuh Daylon, Nisa terkejut dengan pemandangan ini jangan bilang ini pacar Daylon sesungguhnya. Hem ... beruntung sekali wanita yang jadi kekasihnya Daylon.


Nisa tiba-tiba merasakan seperti pelakor saja, datang sebagai calon tunangan dan ini adalah kekasih sejatinya Daylon bahkan Daylon tidak menolak pelukan dari wanita ini.


"Lepas, kamu siapa sih?" Daylon terheran-heran.


"Kak Day, enggak kenal dia. Lalu siapa kamu?" pertanyaan Nisa menatap tajam wanita itu sambil menggertakkan giginya.


"Maaf mbak, dia tampan jadi langsung saya peluk. Lumayan di buat jadi kenang-kenangan kan mbaknya gak mau peluk pacarnya jadi sayang kalau di angurin, maaf ya ganteng." Mencolek dagu Daylon dan memeluknya lagi.


Nisa menarik baju belakang wanita itu.

__ADS_1


"Gak sopan, dia suami saya." Langsung menarik dan menghempaskan nya lalu memeluk Daylon secara posesif.


Senyum Daylon tiba-tiba terbit.


__ADS_2