ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
95 Hati yang memanas


__ADS_3

Ksatria yang masih di area lapangan golf hanya memutar-mutar kan stik golf nya sambil memikir kan sebuah cara.


"Bisa-bisa terancam ini pernikahan Aurel, aku tidak mau Aurel tersakiti atas pernikahan ini. Jika iya, aku lah yang paling berdosa karena memaksa pernikahan dan berujung menyakitkan untuk adik tersayang ku sendiri."


Ksatria segera menyudahi permainan nya dan kembali ke dalam kamar, sebelum membersih kan diri Ksatria menekan ikon ponsel nya dan menyuruh beberapa body guard nya untuk menyelidiki Sacha secara rapi dan tidak mencuriga kan dan Ksatria menyuruh untuk menggunakan orang lain karena Sacha sudah mengenal semua para body guard kediaman Malik ini.


"Maaf kan aku Aurel," Ksatria segera masuk ke dalam kamar mandi dan meredam kan tubuh nya ke dalam bath tub.


Pagi hari.


Sarapan pagi terasa sangat hening tidak ada suara sendok yang bertarung dengan piring dan teman-teman nya. Ksatria hanya menatap Sacha dan Aurellia secara bergantian.


"Aku sudah selesai makan, aku pergi dulu." Ksatria segera membersih kan mulut nya dan berpamitan pada Daysi.


Daysi segera menghantar kepergian sang suami ke hotel. Dengan senyum merekah Daysi menerima kecupan hangat di dahi nya.


"Jaga anak kita baik-baik," Ksatria mengusap lembut perut Daysi. "Jangan menyusah kan mama mu, oke." Mencium perut buncit Daysi.


Cheval yang tengah bermain dengan Ria sambil sarapan pagi hanya berjalan selangkah demi selangkah menuju mainan nya yang ada di taman. Ksatria menemui Cheval terlebih dahulu sebelum pergi ke hotel. Daysi tambah bahagia melihat Ksatria yang adil dalam memberi kan kasih sayang kepada keluarga kecil nya ini.


Di ruang makan.


Aurellia mencoba menetral kan perasaan nya saat ini, ia begitu terkejut saat Sacha memberitahu perihal tersebut tadi malam. Bahwa Sonya telah kembali ke Indonesia dan ia bertemu sewaktu pergi ke proyek hotel royal malik kedua.


"Sebaik nya kita bicara nanti, saya mau ke proyek." Sacha pergi begitu saja.

__ADS_1


Aurellia menatwp punggung Sacha dengan sendu, di saat cinta hadir tapi luka menghampiri. Akan kah Aurellia sanggup menghadapi ini semua.


Daysi yang berpapasan dengan Sacha yang murung dan tertekan banyak tanya di benak nya, kira-kira ada apa dari kemarin ekspresi Sacha seperti itu datar-datar saja padahal biasa nya ia cerewet sekali, bahkan melebihi ibu-ibu yang sedang mengibah orang lain.


Aurellia mencoba tegar menghadapi ini semua, ia tidak mau terlihat menyedih kan cukup ia dan Tuhan yang tau penderitaan hati nya. Sahabat dan kakak nya tidak perlu tau tentang ini semua.


"Daysi, aku pergi dulu ya." Aurellia tersenyum merekah.


Daysi yang melihat Aurellia seperti itu sangat curiga, apalagi hormon kehamilan nya ini mudah sekali sensitif tentang hal-hal yang ia lihat dan prediksi sekali menatap nya saja, seperti pesikolog dadakan saja.


Daysi mencekal pergelangan tangan Aurellia, Aurellia langsung menatap Daysi, "ada apa Daysi?" berbicara seolah-olah tidak ada apa-apa.


"Kamu ada masalah dengan Sacha. Jawab aku Relli," Daysi melepas genggaman nya saat Aurellia tersenyum dan menggeleng kan kepala nya.


"Tidak, aku pergi dulu ya." Aurellia melambaikan tangan nya seperti biasa nya.


"Apa kamu terluka perasaan kamu Aurel. Tapi apalah hak ku tau itu semua, aku bukan siapa-siapa kamu, aku hanya rekan bisnis saja." Dalam hati Abang ingin mendekat namun kenyataan yang tidak memungkin kan lagi.


Aurellia yang sadar jika diri nya saat ini berada di kedai segera mengubah mood sedih nya menjadi baik agar pelanggan tidak lari dari kedai nya karena masalah pribadi rumah tangga nya.


Abang yang melihat Aurellia dengan cepat mengubah mood nya menjadi lebih baik membuat desiran dalam dada begitu terasa. Apalagi saat Aurellia tersenyum dan menyapa pembeli dengan ramah dan candaan khas milik nya.


Sore hari.


Sacha yang seperti biasa menjembut Aurellia dari kedai, sekilas orang melihat hubungan Aurellia dan Sacha baik-baik saja namun siapa sangka di dalam air yang tenang tapi menghanyut kan dalam nya. Seperti saat ini sedang ada perang dingin di diri Aurellia dan Sacha.

__ADS_1


Sacha mengendarai mobil nya di daerah wisata kuliner, Aurellia hanya menatap nya saja.


"Apakah tempat ini akan menjadi yang terakhir untuk kita bersama-sama, jika ia berikan waktu yang panjang untuk saat ini Sacha," batin Aurellia menatap Sacha yang hanya diam saat ini.


"Ayo kita makan, pilih lah apa yang kamu suka." Sacha menatap dingin wajah Aurellia.


"Iya," Aurellia tidak berani berucap apa pun saat ini, biar lah waktu berhenti untuk sesaat.


Aurellia mengambil semua yang ia suka dan beberapa benda kecil yang bisa di simpan sebagai kenang-kenangan karena telah mengunjungi wisata kuliner dan oleh-oleh tempat ini. Sacha sedari tadi hanya membuntuti Aurellia berjalan.


Setelah lelah dengan acara sore ini Sacha dan Aurellia kembali masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih untuk... untuk..., hadiah yang kamu berikan saat ini. Oh... ya Sacha ini untukmu," memberikan sebuah gantungan yang terbuat dari batok kelapa yang terukir dengan indah dan rapi.


Sacha menerima hadiah tersebut kemudian ia fokus menggendarai mobil nya keluar dari area parkiran menuju jalan raya.


Kediaman Malik.


Ksatria yang sudah mendapat kan info hanya memijat pelipis nya, bagaimana bisa ia dengan bodo* menikah kan adik nya dengan Sacha yang pada akhir nya menyakiti sang adik. Daysi yang sudah mendengar daru mulut salah satu body guard nya yang ia paksa bicara hanya ada kesedihan.


Aurellia dan Sacha yang baru saja sampai di kediaman Malik hanya diam saat Ksatria menyuruh nya duduk dan berhadapan langsung di ruang keluarga, Daysi tidak ikut campur lantaran Cheval menangis dan tidak bisa di berhenti kan saat ini.


"Sekarang aku mau tanya kepada kalian berdua, kalian sudah sama-sama dewasa tidak baik jika berumah tangga dengan keadaan saling panas satu sama lain, jadi apa keputusan kalian?" tanya Ksatria penuh penekanan.


"Kami," jawab serempak Aurellia dan Sacha.

__ADS_1


***


Jangan lupa jaga kesehatan ya, biar gak sakit kayak author.


__ADS_2