
Dukungannya jangan lupa, like dan rate bintang lima.
***
Cheval yang sudah kembali ke rumah menatap tas besar milik Emillia, apa sih isinya kenapa ia membawakan hadiah tersebut.
"Buat orang penasaran saja, apa sih isinya. Kalau buruk aku kembalikan saja." Cheval membuka bungkusan tersebut dan dia terkejut isinya ternyata pakaian transparan milik wanita.
Sindy yang baru menyambut Cheval juga ikut terkejut.
"Aa, buat apa beli pakaian itu?" menunjuk pakaian yang di buka lebar oleh Cheval.
"Aa tidak membelinya, ini kan tas milik Emillia. Apa kamu lupa saat Emillia menelpon tadi bahkan dia menunjukkan sang sopir becak!" Cheval melipat kembali pakaian tersebut.
"Oh iya, sama persis. Coba Aa telpon deh minta penjelasan darinya maksud benda tersebut untuk siapa dan di berikan pada siapa." Sindy duduk dan membuka yang lainnya dari dalam tas tersebut.
Emillia yang masih menggoda Nadia di dalam mobil terkejut saat ada telpon masuk dan vidio call. Mau tidak mau Emillia mengangkatnya.
"Iya ada apa." Emillia tersenyum.
"Ini maksudnya apa?" Cheval membuka lebar lingerie dan Nadia menatap melalui ekor matanya.
"Cih... benar-benar laki-laki mesum." Nadia sedikit kurang fokus dengan kemudinya sampai melewati kubangan yang lumayan dalam dan membuat ponsel Emillia menggetok jidatnya.
"Aww...." Mengusap dahinya.
"Maaf tidak sengaja tuan," Nadia segera membelokkan kemudinya ke jalan yang lumayan sempit hanya satu mobil dan satu sepeda motor yang bisa masuk bersamaan.
Emillia bingung harus menjawab apa dan sementara itu di sampingnya ada Nadia, calon pacarnya.
"Em itu hadiah untuk ulang tahun istrimu. Katanya kemarin Sindy ulang tahun," jawab Emillia kebingungan.
"Dasar sialan lo, lo pikir gue suka dengan pakaian seperti ini." Cheval marah-marah. Nyali Emillia menciut seketika.
"Aa tenang Aa, sabar mungkin teman Aa masih labil," mengusap dada bidang Cheval.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak datang kesini dan mengambilnya langsung, kamu jangan harap bisa tidur dengan tenang di malam hari. Aku tunggu sampai jam delapan malam nanti." Cheval mengertakkan giginya. Sementara sekarang sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima menit.
"What, Cheval aku mohon ya jangan sekarang apa kamu tidak tau aku sedang meraih hati karyawanmu sekarang," sambil memelas menatap Nadia yang sedang berada tidak jauh dari Emillia.
"Iisshh bucin jadi budak cinta, baiklah besok pagi kesini dan ambil lingerie itu dan yang lain aku sita." Cheval mematikan telponnya.
Emillia yang di perbolehkan mendekati Nadia sangat bahagia.
"Aa, apa Aa tidak ingin aku mengenakannya?" goda Sindy dengan mengedipkan sebelah matanya.
Cheval yang sebagai laki-laki biasa nyalinya merasa tertantang dengan ucapan Sindy.
"Pakailah kalau begitu untuk nanti malam dan kamu yang memimpin permainan." Mencium bibir Sindy dengan rakus sampai-sampai tidak peduli dengan kedatangan para jomblo yaitu Sacha dan Momo.
Niatnya menggoda saja namun malah terkena masalah.
"Aa, tapi malu Aa." Sindy tersipu-sipu.
"Ayo, mumpung ini sudah malam ayo kunci pintu dengan rapat tanpa mematikan lampu kamar lagi," genggaman lembut Cheval sangatlah nyaman sekali.
"Dulu kita juga seperti itu ya pa." Ucap Daysi menyandarkan kepalanya di bahu Ksatria.
"Iya ma, bahkan tidak terlalu parah. Apa jaman sekarang seperti itu?" Ksatria membayangkan yang tidak-tidak.
"Sepertinya iya sih pa!" Daysi melanjutkan menonton drama China.
Ksatria yang rencananya mau menonton tinju ia urungkan saat sang istri seperti ini, lebih baik buat persiapan nanti dini hari.
Di rumah Nadia.
Ibunya Nadia menyambut tamu Nadia dengan baik dan ramah. Baru kali ini Nadia membawa laki-laki berkunjung ke rumah sederhananya tersebut.
"Tampan sekali kamu, pasti pendidikan kamu sangat tinggi di lihat dari cara kamu makan dan berpakaian." Tiyas memberikan secangkir teh dan beberapa camilan.
Sedangkan Nadia masih asik bermain game onlinenya. Karena ia tidak mengambil kerja terlalu malam meski mempunyai bekal ilmu bela diri, lantaran ia ingin bersama ibunya jika malam seperti ini. Takut kejadian satu tahun yang lalu menimpa ibunya.
__ADS_1
"Maaf tante, apa seperti itu pekerjaan Nadia usai pulang dari pekerjaannya sebagai sopir taksi?" tanya Emillia hanya itu saja, dia sudah berjanji jika mau ke rumahnya harus berucap jika pekerjaannya hanya sopir taksi. Dan untuk berkerja di hotel tidak boleh sampai ibunya tau.
Tadi sewaktu di jalan Emillia dan Nadia bertengkar lantaran hal ini yang harus di sembunyikan. Sebenarnya Emillia mau mengungkapkan jika Nadia berkerja di dua tempat tidak hanya sebagai sopir taksi saja.
Tapi ancaman Nadia sangat merugikan dirinya, lantaran Nadia tidak mau menemuinya dan akan mengundurkan diri dari Royal Malik.
"Iya itulah pekerjaannya nak, padahal ibu sudah menyuruhnya untuk mencari kekasih hati. Kasihan sekali hidupnya, seharusnya ia bisa menempuh pendidikan tinggi namun tidak jadi lantaran bapaknya dia terlilit hutang karena perusahaan bapaknya pailit dan tertipu rekan bisnisnya di bidang parfum, justru parfum hasil curiannya kini sukses dan banyak di nikmati orang-orang." Tiyas mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu.
Saat itu Nadia berumur 18 tahun dan sekarang sudah berumur 28 tahun, seharusnya dia sudah menikah dan memiliki putra atau putri sebagai pelengkapnya.
Emillia sangat tertantang kali ini, wanita tangguh yang usianya 7 tahun lebih tua darinya. Emillia mempunyai otak cerdas di bawah Cheval sedikit. Makanya usia 21 tahun dia sudah lulus S2 nya di New York.
"Apa kamu tetap seperti ini sampai tua dan jelek nantinya." Menunjuk game yang di mainkan oleh Nadia.
"Iya jika perlu," jawab datar Nadia.
Emillia merebut ponsel kesayangan Nadia.
"Kembalikan ponselku aku mau main, kalah nanti game ku. Aku sudah bersiap menyerang itu." Nadia menunjuk-nunjuk ponselnya.
Emillia mematikan ponsel tersebut.
"Sekarang sudah mati game nya jadi kamu tidak mengacuhkan aku lagi," Emillia tersenyum puas membuat Nadia marah dan ngambek seperti moncong lele.
"Malam ini aku tidur dimana?" Emillia masuk ke dalam rumah Nadia.
"Di kursi kayu itu saja, kasihan sofanya jika kami tiduri di atasnya!" jawab asal Nadia.
"Apa kamu mau jadi sofa dan aku tiduri." Goda Emillia bercanda.
BBUUGGHH
Lengan Emillia berdenyut ngilu, sungguh sial lagi ia menamu di rumah orang. Kemarin saat berkunjung di rumah Cheval dapat sambutan bogeman mentah dan sekarang bogeman mentah namun di lengan kokohnya.
"Sakit tau." Mengusap lengannya yang berdenyut sakit.
__ADS_1
"Rasain," Nadia segera masuk ke dalam kamarnya dan mengambil selimut bersih dan bantal. Dengan cepat Nadia memberikannya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.