ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
111 S2 Mencuri ciuman


__ADS_3

Restoran.


Cheval mengajak makan bersama terlebih dahulu untuk menenagkan pikiran Sindy yang sedang galau.


"Mikirin apa sih galau banget." Menyuapi mie pada Sindy. Sindy yang mendapati sodoran mie langsung membuka mulut nya. Cheval tersenyum akhir nya satu sumpit berdua senang nya.


Sindy hanya menggeleng kan kepala nya. Cheval langsung melajut kan makan nya dengan lahap dan cepat serasa dapat vitamin. Yess dalam hati Cheval bersorak-sorak mengibar kan bendera cinta.


Usai makan bersama Cheval mengajak Sindy jalan-jalan keliling taman dan tetap seperti tadi menggengam erat tangan Sindy, bukan nya ini sama dengan modus mencari kesempatan di saat seperti ini, sedari tadi alasan yang di pakai tetap sama biar diri nya tidak di goda gadis-gadis di luaran sana.


"Aa aku capek pulang yuk." Mengeluh sambil menatap wajah Cheval yang terkena sorot lampu taman.


"Ayo, aku juga. Mau aku gendong di punggung?" menawarkan sambil berjongkok.


Sindy yang mendapat perilaku seperti ini langsung saja naik, lumayan untuk mengurangi tenaga jalan nya sampai parkiran mobil.


"Senang nya hatiku, kenapa tidak dari kemarin-kemarin aku seperti ini ke dia. Kan tidak usah perlu repot-repot possessiv pada nya," gumam dalam hati.


Kediaman Malik.


Cheval terkejut saat Sindy sudah tertidur di dalam mobil, dengan sekali gendong saja Sindy sudah berada di pelukan nya. Daysi yang melihat sang putra mengendong putri nya hanya tersenyum.


"Semoga kalian bahagia nak." Ucap Daysi mengambil air minum terus terang saja ia sangat lelah menghadapi keganasan Ksatria. Meski umur sudah setengah abad namun soal ranjang ia masih muda.


Sesampai nya di kamar Sindy, Cheval membaring kan nya ke ranjang dengan hati-hati sebelum keluar Cheval melepas sepatu kets yang di gunakan tadi dan menyelimuti tubuh Sindy.


"Maaf kan Aa, Sindy." Mengusap surai rambut Sindy dan mencuri ciuman pertama milik Sindy. "Cup...," memberikan sedikit tekanan di bibir mungil Sindy.


Cklek..., pintu kamar terturup rapat. Cheval kembali ke kamar nya sendiri.


DAG...


DIG...


DUG...

__ADS_1


Sindy terbangun dari tidur nya, sebenar nya ia tidak tidur sedari tadi. Namun kepura-puraan nya saat ini membuat sang kakak mendapat keuntungan.


"Dasar mencuri ciumanku," mengusap lembut bekas ciuman Cheval barusan. "Seperti nya jika aku pingsan bisa-bisa aku kehilangan hartaku." Sindy menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Beberapa kali ia menarap wajah nya di cermin yang masih penuh dengan air.


Pagi hari.


Sindy sendang menikmati sarapan nya, sementara Daysi dan Ksatria masih lari pagi. Cheval yang baru saja kembali tersenyum melihat sang adik sarapan sendirian. Sindy terpesona sesaat melihat sang kakak yang begitu menawan apalagi selepas lari pagi.


"Jangan di liat terus, aku tetap tampan dan mempesona ko." Ucap Cheval dengan pede nya.


"Jangan ke geeran kamu Aa, siapa yang terpesona," melajutkan makan nya.


"Yakin tidak terpesona, hemm...." Cheval menyenderkan dagu nya di pundak Sindy.


"Bau... pergi ngak," mengayun kan garpu nya.


"Oke... oke... aku pergi, jangan rindu ya aku cuma sebentar mandi nya." Cheval berjalan menaiki anak tangga dengan senyum kemenagan karena berhasil mengombali Sindy.


"Kenapa Aa aneh banget dari kemarin???"


"Capek pa, aku selonjoran dulu ya." Melurus kan kedua kaki nya.


Hari libur yang paling panjang menurut Sindy apalagi harus melihat pemandangan yang sama. Tiba-tiba Cheval duduk di sebelah nya sambil tersenyum lebar. Apa maksud nya sudah semalam rugi besar sekarang malah satu tempat duduk di kursi panjang.


"Eeitss... mau kemana, baru saja aku sampai mau main pergi ninggalin aku begitu saja." Menatap Sindy penuh keheranan.


"Suka-suka aku, mau kemana tidak ada hubungan nya dengan Aa," melajutkan jalannya.


DDREET...


DDREET....


Sindy merogoh ponsel nya yang ada di celana sambil menatap siapa yang menelpon nya. Nomor tidak di kenal, Sindy mengeser ikon menolak panggilan dan mengubah nya nada dering menjadi diam biar tidak ada gangguan sama sekali. Namun nomor tersebut terus saja menelpon hingga 10 kali pada akhir nya Sindy mengangkat panggilan tersebut.


"Siapa sih ganggu." Ucap ketus Sindy.

__ADS_1


"Sindy tidak sopan sekali, ini saya pak Beni guru pembimbing kamu." Ucap pak Beni tidak kalah tinggi nya.


"Ee... hee... hee... maaf pak saya kira orang yang menggangu saya kemarin yang telpon," Sindy cenggegesan sendiri sambil menggaruk kepala nya, "ada apa ya pak?"


"Begini Sindy," Beni menjelas kan perihal lomba yang di majukan menjadi besok dan saat ini Sindy di minta untuk datang ke sekolah dan latihan untuk persiapan besok.


"Baiklah pak, saya akan kesana sekarang." Sindy menutup telpon dengan sopan dan bernafas lega.


Tiba-tiba ia mendengar suara tawa dari luar pintu yang sedikit terbuka yang tak lain adalah Cheval. Ia menyilangkan tangan nya sambil bersandar di tembok. Sindy mendengus kesal karena di tertawa kan oleh sang kakak.


BBRRUUGHH...


Sindy menutup pintu dengan kasar dan mengunci nya takut sang kakak main nylonong saja waktu masuk ke kamar. Cheval yang mendapati Sindy menutup pintu dengan keras ingin sekali menggoda nya.


Tookk...


Tookk...


"Sindy apa masih lama nanti guru pembimbing mu ngomel-ngomel lagi loh, bukan nya saat ino jadwal latihan untuk lomba besok." Terus saja mengetuk pintu.


"Iya... iya... bawel banget kaya aku punya hutang tunggakan kos-kos an," berjalan melewati Cheval.


"Sindy, Aa hantar ya." Berjalan mendahului Sindy.


"Terserah, kerjai sedikit aja deh nanti di jalan. Ee... hee... hee...." Ide-ide bermunclan mendadak di otak nya.


Dan benar saja sewaktu di jalan Cheval mengeluhkan ini itu, secara tidak sengaja Sindy mencubit perut nya karena melewati jalan berkubang kemudian Sindy dengan sengaja membentur kan helmnya dan yang lebih parah menyentuh perut rata Cheval dengan manja.


"Tahan Cheval tahan oke... jangan tergoda ini di jalan, sabar-sabar." Menebah dada dalam hati.


Sindy yang melihat sang kakak mulai gelisah dan tidak nyaman ingin sekali tertawa, namun karena ini masih di jalan ia mencoba melihat pemandangan sekitar untuk mengalihkan diri dari tertawa. Cheval tidak tinggal diam ia menarik tangan Sindy dan secara otomatis tubuh Sindy menempel di punggung nya.


"Aa dilawan mana bisa, rugi lagi kan kamu dan untung buat aku," dalam hati sambil senyum licik di sudut bibir nya.


Sindy sangat kesal niat nya mengerjai sang kakak, malah diri nya lagi yang rugi. Apalagi saat ini ia bahkan tidak bisa menggeser tubuh nya kebelakang sedikit saja.

__ADS_1


__ADS_2