ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
175 S2


__ADS_3

Dukungannya ya.


***


Lais yang sedang berkerja, semangatnya naik dan tidak ada rasa lelah sedikit pun. Bahkan ia dengan senyum tampannya menyambut pembeli dengan ramah, berasa baru mendapatkan asupan vitamin cinta. Bahkan rekan kerjanya sampai geleng-geleng kepala melihat kekonyolan Lais.


"Hey Lais, seperti baru saja di kunjungi belahan jiwa saja."


"Sok tau kamu, memang benar baru saja pujaan hatiku membeli ponsel," masih saja tersenyum-senyum.


"Wanita tadi?" Nando mengingat ada wanita cantik dengan kulit halus dan seputih susu tadi.


"Iya, namanya Monique. Dia Momo tercintaku, meski kita sekarang berjauhan tetapi tetap bisa bersama nanti!" Lais menghela nafas.


"Baru saja bahagia kenapa mendadak suram."


"Gara-gara perjodohan sialan itu, mengacaukan persahabatan kami," Lais mulai emosi. Kemudian segera menetralkan perasaan emosinya, mengigat ini sedang di tempat kerja.


Sedangkan Nando hanya menepuk-nepuk pundak Lais.


"Sudahlah, ayo lanjut berkerja lagi." Lais segera tersenyum dan menyambut para pembeli di toko tersebut.


Setelah berkerja paruh waktu Lais pergi ke kampus, lantaran sore hari ia bisa ikut belajar sesuai dengan jadwal yang sudah ada. Beruntung teman-temannya tau dan pengertian, Lais sungguh beruntung berkerja di tempat yang sekarang ini.


Momo yang berada di kampus kini memainkan ponsel barunya. Lidia yang berada di sebelah Momo terheran-heran, kenapa dari tadi Momo menatap ponselnya padahal juga tidak ada pesan yang masuk apalagi layar ponselnya yang mati dan tidak menyala.


"Momo." Lidia memanggil Momo tiba-tiba dan hampir saja membuat ponsel barunya jatuh ke lantai.


"Apaan sih buat kaget orang, untung ponselku tidak kenapa-kenapa," ketus Momo menciumi ponselnya.


"What, ada apa dengan Momo ini. Masa ponsel di cium seperti itu apa dia baru putus cinta kemudian berbuah haluan ke benda mati itu. Iihh kasihan sekali nasib kamu Momo, ternyata orang cantik tak selamanya mulus dalam percintaan. Masih mendingan aku, ternyata putus cinta jadi gila seperti ini kehidupannya, apa semua orang seperti Momo, aku yakin cuma dia seorang yang seperti ini."


"Lagian kamu sih Momo, kenapa ponsel baru mu itu kamu cium dari tadi. Apa dia sangat tampan sampai-sampai kamu menyukainya?" Lidia menatap heran ekspresi yang di tampilkan oleh Momo.

__ADS_1


"Iya, dia sangat tampan dan susah untuk di lupakan!" jawab Momo masih saja tersenyum.


"???!!!" Lidia sedikit menggeser tempat duduknya, dia masih jomblo dan tidak mau tertular penyakit anehnya ini.


Ekor mata Momo menatap Lidia yang sedang menggeserkan tempat duduknya.


"Kenapa menjauh, lebih dekat sini kenapa. Serasa aku baru saja menyakiti kamu." Ucap Momo yang terdengar aneh untuk Lidia.


"Tidak, sebelum kamu kembali ke diri kamu Momo, kembali seperti Momo yang masih waras dan tidak gila seperti ini, apalagi tuh... ponsel yang kamu ciummi sedari tadi," Lidia masih berada jauh dari Momo.


"Eh maksudnya apa sih Lidia, aku baik-baik saja. Aku tidak gila atau depresi terus aku berubah haluan, aku masih waras Lidia. Aku menciumi dia lantaran tadi aku membelinya di tempat pujaan hatiku dan kebetulan dia yang melayaniku tadi, aku sangat senang Lidia." Mencium ponselnya kembali.


"Hhaahh... aku kira kamu sedikit kurang waras Momo, buat orang ketakutan saja tadi itu," Lidia bernafas lega dan langsung menggeser duduknya lebih dekat dengan Momo.


Lais yang tidak sengaja melewati kelas Momo tersenyum saat melihat Momo menciumi ponsel pilihannya tadi. Lucu dan menggemaskan sekali dia.


Di dalam mobil Jeep Wrangler.


Sindy sedang membenarkan anak rambutnya yang berterbangan lantaran kaca mobil di buka jadi angin langsung masuk tanpa aba-aba.


"Bukannya itu sudah bisa kamu cubit sayang, bahkan sering loh aku kamu cubit padahal aku tidak buat kesalahan apa-apa," Cheval menghentikan laju mobilnya di sebuah warung pinggir jalan.


"Aa sih hobi buat aku kesal saat di jalan, terkadang ngebut terkadang pelannya kebangetan sampai aku bosan." Sindy menguncir kuda rambutnya.


Leher Sindy yang terlihat cantik dengan gaya seperti itu. Untung ada kerah yang menutupi setengah leher Sindy, jika tidak pasti Cheval langsung mengalungkan syal di leher istrinya.


"Ayo makan mie ayam ini." Cheval memberikan semangkuk mie ayam pada Sindy.


"Wah enak ini," langsung berdoa dan menyantapnya begitu juga dengan Cheval yang perutnya sudah kelaparan sedari tadi.


"Si cantik hobi makan yang badannya tidak gendut-gendut, apa tidak sesak perut ini menerima banyak sekali asupan makan." Menyentuh perut Sindy yang membuncit.


"Lumayan sesak sih Aa untuk sekarang, tapi nanti sampai rumah pasti tidak sesak lagi," dengan percaya diri Sindy berucap.

__ADS_1


"Sudah kalau begitu makannya, aku tidak mau sakit perut kamunya." Merebut mangkuk mie milik Sindy.


Sindy menatap mie yang masih banyak ayam nya yang belum sempat ia makan lantaran sang suami sudah melarangnya untuk melanjutkan makan, ada rasa kecewa di dalam dada.


"Ayo pulang." Sambil menunjukkan satu plastik yang penuh dengan ayam tanpa ada mienya sedikit pun.


"Baiklah ayo," menggenggam erat tangan Cheval.


Malam hari ini mendung tidak seperti biasanya yang cerah dan menampilkan bintang dan planet yang bercahaya kemilau di langit malam.


BBLLEEDDEERR.


Momo terperanjat dari tidurnya, ia lupa tidak menutup gordennya, tanpa sengaja ia melihat seseorang yang teramat ia rindukan padahal masih siang tadi bertemunya. Momo menuruni anak tangga dan menemui Lais yang duduk di kursi taman kediamannya.


"Momo." Lais terlihat pucat dan tidak lama setelah itu dia pingsan.


Dengan kesulitan Momo menolong Lais dengan bantuan satpam di depan rumahnya. Lais demam tinggi, sedangkan Sacha yang melihat ke konyolan Lais ingin sekali memukul wajahnya yang menawan itu.


"Dasar modus." Sacha segera menuju ruang istirahat dan menikmati secangkir susu hangat.


Momo terus mengganti kompres di dahi Lais dan mengusap keringatnya yang keluar.


"Kenapa kamu ceroboh sekali sih Lais, kenapa tidak mengetuk pintu dan bertamu ke rumah sih." Mengusap dengan penuh cinta.


Bubur buatan Momo sudah jadi, siapa tau Lais akan segera siuman dari pingsannya.


"Apa tidak ada keinginan untuk bangun, ya sudah kalau masih betah memejamkan mata. Aku tinggal sendiri ya." Momo yang tau sedari tadi Lais hanya pura-pura memejamkan matanya.


"Iya aku bangun ini, aku sengaja biar kamu perhatian lebih untukku malam ini," Lais berusaha duduk dan di bantu oleh Momo.


Jarak di antara keduanya membuat Lais mencari kesempatan untuk mencium leher Momo.


"Maaf tidak sengaja." Lais meminta maaf dengan menagkupkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa lagian kamu tidak sengaja kan," hati Momo berdetak sangat keras.


__ADS_2