
Daysi berpikir keras saat ini. Kemudian ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik nafas panjang-panjang.
"Mustahil..." dalam pikiran Daysi.
Ria akhirnya pergi setelah mengucapkan perkataan barusan. Karena melihat Daysi yang sudah menguap beberapa kali.
Pagi hari.
Daysi bagun sangat pagi hari ini entah dorongan apa hari ini Daysi begitu rajinnya memasak bahkan mencuci pakaiannya, biasanya ia agak malas jika pagi-pagi buta seperti ini menyentuh air cucian. Karena rasa dingin air pagi hari sebelum subuh ia tidak kuat pasti tubuhnya akan gemeterean hebat jika menyentuh air di jam segitu.
Mbok Yati yang mendengar suara mesin cuci yang dinyalakan bahkan suara microwave di tekan sangat terdengar di indera pendengaran. Panci dan teman yang lainnya juga terdengar nyaring. Mau tidak mau mbok Yati yang baru saja melakukan Sholat di jam sepertiga malam langsung membereskan kegiatannya.
Mbok Yati berjalan menuju dapur melihat Daysi yang cekatan melakukan ini itu membuatnya tersenyum sangat lebar di pagi buta ini.
"Masak apa nak Daysi?" tanya mbok Yati tiba-tiba. Daysi sedikit melompat saking terkejutnya dengan pertanyaan mbok Yati.
"Masak seadannya mbok. Oh ya mbok aku mau joging pagi ini. Makanya aku sudah membuat kekacauan di dapur sepagi ini maaf ya mbok." Daysi tersenyum lebar.
Mbok Yati yang melihat senyum bahagia Daysi menggangguk bertanda ia paham dengan Daysi maksudkan.
"Aku merasa kamu sedang bahagia. Apa nak Daysi jatuh cinta?" tanya mbok Yati yang sukses membuat Daysi tersipu malu.
"Tidak mbok, lagian mau jatuh cinta dengan siapa. Aku tidak ingin jatuh cinta untuk saat ini mbok!" Daysi menyudahi kegiatannya karena adzan Subuh sudah berkumandang.
"Baiklah mbok percaya..." mbok Yati segera menuntaskan pekerjaan yang lainnya.
__ADS_1
20 menit kemudian Daysi keluar dengan pakaian olah raga pakaian sederhanya yang ia kenakan begitu juga dengan sepatu yang ia beli di pasar juga. Tapi meskipun hanya mengenakan pakain sesederhana ini tidak membuat seorang Daysi minder justru dengan dirinya yang apa adanya adalah sebuah kelebihan yang patut ia banggakan.
Suara sepatu terdengar di sekeliling taman kediaman Ksatria Malik. Bahkan satpam rumah Ksatria Malik menjadi saksi jika Daysi berlari santai mengelilingi taman.
"Mbak Daysi pagi-pagi sudah berlari pagi, apa si boss tau mbak?" tanya Aan.
"Eehh mang Aan, biasa mang aku bangun kepagian jadi dari pada tidak ada kesibukan bukannya lebih baik berjoging seperti ini. Dan satu lagi mang si boss tidak tau aku yakin di jam segini si boss belum bangun!" jawab percaya diri Daysi. Mang Aan yang tadinya asik mengajak bicara Daysi kini berpamitan setelah melihat Ksatria yang berdiri gagah di belakang Daysi.
"Eehh... mang Aan mau kemana???" Daysi kebinggungan saat mang Aan berlari ketakutan. "Jangan-jangan ada penampakan di belakang, kalau binatang buas bagaimana. Ya Tuhan selamatkan aku." Gumam lirih Daysi.
"Aku manusia, seenaknya sendiri membicarakan orang ini itu. Aku juga bukan pemalas sepertimu yang bangun kesiangan." Ksatria berlari melewati Daysi setelah mengucapkan sindiran kepada Daysi.
"Iisshh... menyebalkan sekali ucapannya." Daysi berlari kecil setelah merasa cukup dan memperoleh keringat di pagi hari Daysi segera menyapu bersih keringatnya dengan handuk kecil.
Ksatria Malik masih lanjut lari paginya. Setelah melihat sekeliling ia tidak menemukan Daysi kemudian Ksatria masuk kedalam rumah dan segera mengistirahtkan tubuhnya sebentar kemudian membersihkan diri.
Ksatria Malik memakan makanan yang tertata rapi di meja makan ia sudah hafal dengan rasa masakan buatan Daysi setiap hari entah dorongan apa yang membuatnya sekarang lebih sering makan pagi tidak seperti dulu. Kalau dulu dia sering makan di hotelnya kalau sekarang sesekali makan pagi di hotel.
Daysi yang sudah rapi dengan pakaian kerja yang ditutupi oleh jaketnya kini sudah siap-siap menuju garasi mobil. Daysi meletakkan motornya di ujung parkiran dan menjauh dari mobil pribadi Ksatria Malik.
"Hari ini akhir pekan lebih baik aku nanti ke toko beli sesuatu yang habis. Juga untuk berhemat apalagi sekarang aku menumpang di tempat yang mewah ini. Takutnya kayak ibu kos yang menagih uang kontrakan tiba-tiba tanpa pemberitahuan." Daysi membayangkan Ksatria yang membawa buku catatan kemana-mana seperti ibu-ibu pemilik kos.
"Aku tidak sejahat itu menindas orang. Kamu pikir aku kekurangan uang hari ini?" Ksatria Malik langsung menuju mobilnya setelah menyerobot hayalan Daysi yang kemana-mana.
"Siapa tau jika kepepet," sundir Daysi. Ksatria yang mendengar samar-samar ucapan Daysi langsung menatap tajam. Namun berbeda dengan Daysi yang langsung mengenakan helmnya dan membuang muka ke lain arah.
__ADS_1
Suara knalpot sepeda motor Daysi terdengar walaupun tidak berisik. Ksatria menatap jelas punggung Daysi dari kejauhan dan mulai menyuruh sopir pribadinya untuk mengikuti arah Daysi berangkat ke hotel. Ksatria Malik terkejut saat Daysi membelokkan ke arah lain yaitu ke tempat warung kecil pinggir jalan.
"Apa yang ia beli, bukannya di rumah banyak stok makanan???" Gumam Ksatria dalam hati dan sambil terus menatap Daysi dari kejauhan.
"Boss apa perlu saya turun dari mobil?" tanya Asep mematikan mesin mobil.
"Tidak perlu mang, ayo jalan lagi." Ksatria Malik segera menekan icon ponselnya untuk menyuruh salah satu body guardnya mengikuti Daysi dari jauh.
Daysi yang sudah membeli satu lauk untuk makan siang membawa lauk tersebut dengan gembira berharap ketika makan siang bisa menikmatinya.
HOTEL ROYAL MALIK.
Abang hari ini sedag libur berkerja jadi Daysi hanya diam tanpa berbicara seperti biasanya.
"Aaiissh... hari ini aku berpuasa bicara karena si cerewet libur berkerja." Daysi segera mengenakan atribut pekerjaannya.
Ksatria Malik yang sudah lebih dulu datang hanya menatap sekilas memastikan jika Daysi sudah sampai disini setelah melihat Daysi berkerja Ksatria Malik tersenyum lega. Rasa penasaran akan sosok Daysi membuatnya sering ingin melihat semua kegiatannya bahkan sekecil apa pun di hotel ini.
Daysi yang merasa di awasi segera pergi ke tempat lain rasanya tidak nyaman sekali di selidiki seperti buronan saja. Saat akan pergi tanpa sengaja salah satu kekasih Ksatria datang ke hotel ini.
"Pacarnya datang lagi. Cepat pergi dari pada nanti jadi lalat penggangu hubungan." Daysi segera mendorong peralatan bersih-bersihnya. Daysi segera menuju taman untuk mengemas bunga-bunga yang sudah layu.
Ksatria terkejut saat ada tangan bergelayut manja di legannya. Ksatria merasa risih dengan wanita seperti ini di dekatnya.
"Lepaskan tanganmu kalau tidak jangan salahkan aku menghempaskanmu dengan kasar." Ksatria menyorot tajam wajah Lily sang mantan kekasihnya dulu.
__ADS_1
"Aku rindu pengen balikan sama kamu lagi Ksatria, apa aku bisa mendapatkan kesempatan itu?" dengan nada manjanya.
"Tidak...," Ksatria segera pergi dari tempat tersebut setelah Lily melepaskan pelukan di tangan.