
Sindy yang bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa barusan. Sementara Cheval masih mengobrol dengan Aurellia bahkan membahas tentang memasak juga, beda dengan Sindy yang langsung membuka buku nya dan mengerjakan beberapa soal. Momo belum kembali ke rumah mungkin ada tugas kalau tidak jalan-jalan dengan teman nya satu kelas.
"Sindy...," sapa laki-laki yang baru saja masuk ke dalam rumah, yaitu Sacha Mahendra sang ayah.
"Ayah," langsung memberi salam.
Sacha mengelus surai rambut sang keponakan tercantik nya. Sindy yang mendapat perlakuan hangat seperti ini sangat bahagia bahkan ia tersipu. Berbeda dengan sang papa yang selalu tegas tanpa ke hangatan seperti ini, yang hanya ia tujuk kan pada Cheval saja tidak untuk nya. Tetapi saat berada di rumah ini Sindy merasa kan jika diri nya sangat di hargai bahkan rasa nya nyaman untuk tinggal di tempat ini tanpa ada tekanan karena ayah dan bunda selalu memberikan kehangatan yang adil.
"Sudah makan nak." Duduk di samping Sindy.
"Sudah ayah, sama bunda dan Aa juga," tersenyum dan meletak kan buku nya kembali ke dalam tas ransel nya.
"Bagus, kamu harus banyak makan ayah lihat kamu kurusan. Lagi jaga badan ya." sambil meledek sang ponakan.
"Apaan sih ayah, siapa yang jaga badan Sindy aja makan nya kaya kerbau banyak," Sindy tertawa.
"Benarkah, tetapi kenapa tidak gemuk apa setelah makan langsung lewat begitu saja."
"Mungkin," masih tertawa.
Setelah berbicara panjang lebar, Sacha berpamitan pergi untuk membersih kan diri dan menemui sang istri. Sindy yang melihat ke harmonisan keluarga ini dalam bayangan nya ia ingin sekali jika menikah dan memiliki pasangan yang baik dan setia tidak perlu kaya yang penting pekerja keras itu saja sudah cukup.
__ADS_1
"Mikirin apa?" tanya Cheval di dekat telinga Sindy. Untung nya Sindy tidak menoleh jika ia pasti saat ini diri nya akan merasakan sesuatu yang ia jaga untuk orang yang ia cintai nanti nya.
"Tidak ada, jika sudah selesai aku mau pulang," Sindy memasuk kan semua barang-barang yang masih ada di luar tas ransel nya.
"Baiklah, aku cari bunda dan ayah dulu." Menuju taman belakang.
Setelah berpamitan pulang ia berpapasan dengan Momo yang membawa banyak paper bag dari dalam mobil. Momo yang melihat Cheval dan Sindy mau pulang langsung menghenti kan nya.
"Aa..., Sindy... tunggu sebentar." Momo memberikan paper bag pada Cheval dan Sindy.
"Terimakasin Momo, aku pulang dulu ya," Sindy tersenyum lalu masuk ke dalam mobil Cheval dan meletak kan paper bag tersebut di jok bagin balakang kemudi.
Monique masih mengobrol ria dengan Cheval entah apa yang di bicara kan nampak sekali Cheval tertawa bahkan mengusap surai rambut Momo bahkan momo memegang erat tangan nya selayak nya sepasang kekasih yang teramat romantis. Sindy yang melihat pemandangan tersebut langsung mengambil ponsel nya dan memotret kedua insan yang masih saja bersenda gurau di dekat taman kecil. Kemudian Sindy mengirim kan nya pada Momo, mungkin dengan ini Momo tambah bahagia dan senang.
Sindy berjalan terburu-buru sampai ia tidak melihat ada tanjakan sampai badan nya condong ke depan untung nya Cheval dengan sigap menagkap nya tapi justru ya di pegang Cheval tidak tepat yaitu bagian salah satu titik sensitif bagian dada Sindy. Seketika warna merah padam terlihat jelas di wajah Cheval dan Sindy.
"Maaf Sindy, Aa tidak sengaja." Menagkup kan kedua tangan nya.
"Iya," berlalu pergi tanpa berucap terima kasih.
"Tadi yang aku pegang secara tidak sengaja, astaga sejak kapan ia tumbuh begitu cepat dan pesat, haduh... hilang kan pikiran kotor kamu Cheval sadar oke sadar." Menepuk-nepuk kedua pipi nya.
__ADS_1
Cheval langsung masuk ke dalam kamar dan melepas pakaian dan membersih kan diri, bau maskulin semerbak di dalam kamar. Cheval memilih beberapa baju yang ingin ia kenakan saat ini kemudian salah satu kaos ia ambil sambil tersenyum. Setelah berpakaian rapi Cheval menuruni anak tangga wajah tampan nya sangat terpancar jelas apalagi saat keadaan bahagia seperti sekarang.
Daysi yang melihat sang putra bahagia langsung menghampiri, "apa yang membuat kamu bahagia, apa gara-gara berangkat dan pulang barengan dengan Sindy?" sambil mengangkat alis nya.
"Tidak, bukan gara-gara itu ko ma!" jawab Cheval sepontan untuk menutupi ke guguban hati nya.
Daysi tersenyum melihat sang putra salah tingkah seperti ini. Sudah lama sebenar nya Daysi dan Ksatria menaruh curiga dengan gelagat sang putra nya ini, seperti nya memang ada rasa lebih untuk Sindy. Contoh nya kemarin ia segitu hawatir nya dengan Sindy sampai ingin menggantikan ke inginan Sindy yang mau sekolah di Luar Negri dan satu lagi ia tidak rela jika ada laki-laki lain bersama nya. Tetapi baik Daysi dan Ksatria tidak menanyakan langsung perihal ini biar kan waktu yang menjawab nya untuk sekarang menerka-nerka saja biar penasaran dulu.
Sindy yang baru turun niat nya ingin mengambil minum ia urung kan saat sang mama dan kakak nya mengobrol penuh dengan canda, Sindy menghela nafas berkali-kali untuk menetral kan persaan sedih nya namun sial nya saat ia mau melangkah dirinya terpeleset dan dahi nya terbentur lantai.
Cheval langsung menatap arah anak tangga dan langsung berlari menuju sumber suara, ia begitu terkejut saat tau ternyata Sindy yang jatuh dan dahi nya terbentur lantai. Dengan sigap Cheval mengendong tubuh Sindy yang jauh lebih kecil dari badan nya dan masuk ke dalam kamar. Daysi yang melihat langsung mengambil kotak obat dan mengantar kan nya ke kamar Sindy.
"Ma, biar aku saja yang obatin luka Sindy." Cheval mengambil obat dan mulai mengoleskan di dahi Sindy.
"Baiklah, mama akan siapkan makanan dulu," Daysi berjalan sambil tersenyum. Putranya sangat peduli dengan Sindy sang putri.
Cheval mengobati dahi Sindy dengan telaten, sambil meniup takut rasa sakit di dahi nya terasa, memang sakit dahi Sindy saat ini jelas terlihat beberapa kali ia meringis kesakitan.
"Apa masih sakit?"
"Tidak, terimakasih sudah menolongku barusan!" Sindy mengalih kan pandangan nya dari mata Cheval.
__ADS_1
Cheval sangat sedih melihat Sindy yang selalu menolak untuk bertatapan dengan diri nya.