ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
112 S2 Cari perhatian


__ADS_3

Sekolah Kebangsaan.


Sindy melepas helm yang ia gunakan dan meletak kan nya ke spion motor sebelum ia menuju lapangan. Cheval juga ikut turun dari motor dan melepas helm nya.


"Kenapa Aa ikut turun sih?" tanya Sindy dengan ketus.


"Mau menemani adik ku tersayang, lagian papa mama tadi menyuruhku untuk menjagamu jika tidak masa depanku kandas di tangan papa!" dengan senyum super tampan nya.


Sindy menatap sekilas dan berlalu pergi tanpa menghiraukan sang kakak yang sudah tebar pesona kepada orang-orang yang ada di lapangan ini.


Cheval semakin terpesona dengan sosok adik cantik nya ini, pintar dan cekatan. Cheval teringat jika sang adik tidak pandai memasak dalam pikiran Cheval kalut membayang kan yang bukan-bukan bahkan jika nanti menikah ia akan menjadi bapak rumah tangga bukan bapak kepala rumah tangga.


Sindy yang sudah selesai latihan 10 menit yang lalu menatap heran kepada sang kakak kenapa ia melamun tanpa berkedip apa mata nya tidak pedih seperti itu.


"Aa...," melambaikan tangan nya di depan wajah Cheval.


"Eeh... iya Sindy ada apa?"


"Ayo pulang aku capek!" meninggal kan Cheval yang baru sadar dari lamunan nya.


Kediaman Malik.


Sindy dengan segera masuk ke dalam kamar dan membersih kan diri nya karena hari sudah menjelang sore. Latihan tadi sangat menguras tenaga membuat tubuh Sindy letih, satu kotak susu habis ia minum dalam sekejab.


"Lapar banget perutku," berjalan menuruni anak tangga menuju dapur.


Sindy mencium sesuatu yang sangat harum, siapa yang memasak apa mbk Mala atau mama tetapi kenapa bau nya berbeda. Sindy terkejut saat melihat seseorang perawakan tinggi dan tampan sedang mengenakan clemek sambil tersenyum saat memasak.


"Papa." Sindy menatap sang papa yang kini tersenyum melihat sang putri mau menyapa nya. Jarang sekali ada percakapan antara ayah dan anak ini.

__ADS_1


"Sindy, duduk dulu nak. Papa akan buat kan makanan untuk kamu," melanjut kan masak nya.


Cheval yang baru kembali membeli beberapa bahan yang di perlu kan untuk memasak terkejut melihat Sindy yang sudah duduk di meja makan dapur sambil tersenyum cantik.


"Haduh keadaan ku saat ini kenapa aku merasa seperti akan memasak dengan mertuaku sementara kekasih ku menyemangati ku," gumam dalam hati Cheval sambil menghayal yang bukan-bukan.


"Aa lagi apa, kenapa potongan sayur itu aneh?" tanya Sindy yang berhasil membuat lamunan Cheval buyar.


"Eehh... kenapa bisa begini potongan nya."


Ksatria yang melihat tingkah konyol Cheval hanya tertawa, kenapa putra nya bisa bertingkah seperti itu. Apalagi di depan orang yang diam-diam ia kagumi, Ksatria yakin Cheval saat ini malu sekali. Semua hidangan sudah siap di ruang makan, masakan seperti ayam kecap juga tidak tertinggal, sudah sering makanan favorit ini menguasai meja makan. Sindy yang sudah biasa makan ayam kecap tidak heran lagi.


Hari Senin.


"Haduh hari nya cepat sekali, rasa nya baru kemarin hari Sabtu sekarang sudah Senin." Sindy memasuk kan semua keperluan nya hari ini, mulai dari sepatu.


"Berangkat bareng ya."


"Iya," jawab dingin Sindy saat masuk ke dalam mobil.


Sekolah Kebangsaan ini sekolah paling favorit di kota ini bahkan paling populer di masyarakat, banyak prestasi yang bisa di raih sekolah ini baik akademik dan non akademik, bahkan prestasi perkampusan juga sama.


Daylon dan Lay langsung merangkul pundak Cheval dan memberi nya semangat ketika Cheval sedang termenung dan sedih melihat sang adik begitu dekat dengan laki-laki dari sekolah lain.


"Sabar bro, redamkan amarahmu oke. Ya seperti ini jika punya adik super cantik dan populer." Lay menepuk-nepuk pundak Cheval.


"Sudah tau," jawab ketus Cheval.


Di tempat Sindy sedang mengobrol tiba-tiba Dhela datang dan langsung mendorong Sindy yang sedang berdiri dengan Filan. Dengan sigap Filan langsung menangkap tubuh Sindy yang terhuyun karena dorongan dari Dhela barusan.

__ADS_1


"Dasar ganjen kecentilan, semua cowok di embat." Sindir Dhela berlalu pergi.


Tatapan tajam Filan membuat Dhela begidik ngeri sendiri. Secepat kilat Dhela berlari terbirit-birit.


Cheval yang melihat sang adik jatuh di pelukan Filan langsung menghampiri dan merebut tubuh Sindy dalam dekapan nya. Filand sontak terkejut dengan tingkah Cheval yang main seenak nya merebut Sindy dari pelukan nya.


"Ehh... siapa lo, berani-berani nya merebut Sindy dari pelukan gue." Menatap tajam Cheval.


Cheval mengimbangi tatapan tajam Filan. Sindy yang melihat sang kakak dan Filan akan bertengkar langsung menghenti kan nya.


"SSTTOOPP..., apa-apaan sih kalian berdua kayak anak kecil saja. Oh ya Aa nanti aku gak mau pulang sama Aa dan kamu Filan jangan temui aku lagi." Ucap tegas Sindy berlalu pergi.


Selepas kepergian Sindy, Filan langsung menonjok pipi Cheval.


"Bajinga* gara-gara lo Sindy marah dan gak mau nemuin gue, brengse* lo." Filan memukul wajah tampan Cheval.


"Cih... asal lo tau, jika Sindy sampai lihat lo mukul gue mampus lo." Cheval berjalan meninggal kan Filan yang masih marah-marah kemudian Cheval berhenti dan menoleh, "dan satu lagi sampai kapan pun aku tidak akan merestui kamu mendekati adikku."


Filan bagai tersambar petir siang bolong, habis sudah harapan nya pada Sindy belum apa-apa ia sudah memukul abang nya. Kedepan nya pasti akan ada kesialan saja untuk nya.


"Kakaknya Sindy, berarti ia.... aduh Filan mampus lo kalau sampai bokap nya tau anak tampan nya gue tonjok barusan, bisa-bisa kerja sama antara bokap gue dan bokap nya gagal ini. Apalagi proyek pembangunan apartemen papa proyek terbesar nya tahun ini, mampus gue." Filan mengusap kasar wajah nya.


Cheval yang berada di ruang kesehatan hanya menahan perih di sudut bibir nya. Sindy mengolesi obat di bagian terkena tonjokan dari Filan.


"Awww... pelan-pelan kenapa." Protes nya pada Sindy.


"Aa sekarang menjadi bodo* ya bukan nya Aa bisa taekwondo kenapa gak di bales aja," Sindy menyudahi mengoles krim di wajah Cheval, "sudah selesai Aa, aku ke kelas dulu sebentar lagi ada pelajaran."


"Sindy, terimakasih nanti setelah pulang sekolah ikut Aa ya sebagai ganti nya Aa ajak makan ke restoran," Cheval tersenyum. Sindy mengangguk mengiyakan permintaan Cheval.

__ADS_1


__ADS_2