
Hasna masih saja mendekati Daylon tanpa tau namanya malu, mungkin urat malunya terputus tadi saat berangkat ke kampus ini. Entah apa pekerjaannya yang jelas Daylon ogah tanya ini itu baginya gak penting orang dari masa lalu ia tanyai.
"Kamu ko cuek begitu sih Day, masih marah sama aku?" sok manis di depan Daylon.
Nisa yang sudah selesai jam kuliah langsung menuju kantin malah ia melihat tontonan yang kurang menarik ini, terlihat sekali wanita itu keganjenan pada Daylon terlihat caranya terus bertanya ini dan itu.
"Maaf Tante, eh ... maksudnya mbak jangan tanya terus padanya. Kasihan kepala suamiku mbak kamu tanyai terus-menerus seperti itu." Nisa tanpa malu merangkul dan memeluk Daylon, sedangkan Daylon ingin sekali tertawa melihat tingkah Nisa yang bergelayut manja di lengannya.
"Benar kami sepasang dan saling mencintai dan menghargai tentunya, tidak seperti pengalamanku yang sudah-sudah." Mengeratkan pelukannya.
Hasna terlihat bingung dengan pernyataan gadis muda dan cantik yang berada di pelukan Daylon, bahkan Daylon tidak sungkan membalas memeluk Nisa.
"Kalian?" Hasna menunjuk mereka berdua dan bingung harus berkata-kata apalagi di tambah Daylon dan Nisa kompak sekali.
Mereka berdua menunjukkan cincin yang sama pada Hasna secara bersamaan.
Hasna tiba-tiba meneteskan air mata.
"Selamat ya." Berlari meninggalkan area tersebut untung saja kantin yang berada di kampus sepi jadi gak malu-maluin banget kejadian ini.
Nisa menatap kepergian wanita itu dengan perasaan senang dan puas sekali lalu ia menatap Daylon yang ternyata tetap melihat kepergian wanita itu sampai hilang di telan kerumunan mahasiswa dan mahasiswi kampus ini.
"Seneng banget ngerjain orang, kasihan sekali dia." Nisa duduk di salah satu bangku yang ada.
"Biarin, lagian pantas ko orang seperti dia itu di perlakukan seperti ini," Daylon juga ikutan duduk di samping Nisa.
Ada beberapa pasang mata tidak suka melihat adegan ini sebenarnya, kenapa mahasiswi itu bisa mendapatkan laki-laki seperti Daylon.
Mata Nisa melirik kesana kemari untuk mengecek apa benar orang-orang sedang membicarakannya diam-diam ternyata kecurigaannya benar saja terjadi, mereka semua memang sedang membicarakan mengenai dirinya.
"Tenang oke Nisa sayang, anggap saja artis dadakan." Memberikan minuman pada Nisa.
"Iya itu untuk kak Day, kalau aku seperti mau di mangsa Kak rasanya," meminum jus buah tersebut dan langsung habis seketika.
Daylon terkejut dengan cara minum Nisa yang ternyata jika kesal bisa langsung kandas semua satu gelas.
"Kak boleh tanya?" Nisa bertanya saat sudah kembali masuk ke dalam mobil.
"Tanya apa, tentang wanita tadi!" Tebakan Daylon dan langsung di anggukki Nisa.
"Iya kak, kalau boleh tau dia siapa? mantan kakak?" Nisa hanya menerka-nerka saja.
"Benar, mantan kakak dulu waktu masih SMA!"
Nisa hanya diam tidak tau mau bicara apalagi, mau bahas mantannya takut sakit hati mendengar kenyataan dan masa lalu Daylon tapi jika tidak bertanya di hati rasanya penasaran juga, harus bagaimana ini. Nisa meremas kuat jari jemarinya.
"Kamu tenang saja oke." Daylon mengacak-acak rambut Nisa.
"Aku sama dia benar-benar tidak pernah melakukan hal-hal yang diluar dugaan kamu, pernah sekali cuma berciuman saja tidak lebih dari itu." Daylon meyakinkan gadis kecil ini agar percaya, memang dulu sering berganti pasangan tapi ya tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan cuma sekedar jalan nongkrong gitu-gitu saja.
"Seperti waktu kita pertama bertemu Kak?" ragu-ragu Nisa bertanya.
"Iya, tapi kalau dengannya itu dia yang sengaja sebab dia yang ingin, sedangkan dengan kamu aku yang ingin dan dari hatiku yang paling terdalam!"
"Bohong, pasti kakak berbohong. Tidak mungkin laki-laki setampan kakak dan sesempurna kakak tidak pernah ti--" Nisa mengeluh dan langsung mendapatkan ciuman hangat dari Daylon.
"Jangan berpikiran macam-macam Nisa, aku dan dia sudah usai lebih dari sepuluh tahun yang lalu bahkan hampir lima belas tahun Nisa, jadi jangan bahas masa lalu oke, tapi bahas masa depan kita saja dan berikan aku anak-anak yang lucu dan menggemaskan oke." Daylon memperdalam ciumannya.
Bugh
Bugh
__ADS_1
Nisa memukul lengan dan perut Daylon untuk menyadarkan jika saat ini di tepi jalan dan masih di parkiran kampus bahkan beberapa orang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam mobil. Mereka berpikir jika mobil ini mogok atau yang lainnya.
Daylon melepas tautannya.
"Maaf Nisa, aku hanya ingin kamu percaya padaku saja. Aku tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar kendali, sekarang coba aku tanya? pernahkan aku mengajakmu tidur?" Daylon secara terang-terangan bertanya tentang hal sensitif.
Nisa menggelengkan kepalanya.
"Nah, kamu tau dan mengalaminya sendirikan. Jadi untuk apa kamu ragu, aku tidak akan menyentuhmu jika kita belum resmi menikah, bagiku menjaga lebih baik dari pada kehilangan yang kita jaga selama ini. Sekarang aku tanya, apa pernah kamu berbuat di luar batas, Nisa?" menatap mata Nisa yang sangat jernih.
"Aku belum pernah juga Kak, sebab orang yang aku cintai tidak membalas cintaku!" jawaban Nisa langsung mendapatkan tatapan tajam dari Daylon.
"Siapa?" penasaran sampai ke ubun-ubun.
"Kak Filan!" jawab Nisa sangat lirih.
Daylon mengerjabkan matanya berkali-kali, mencintai Filan yang artinya mencintai kakaknya yang seorang Dokter itu. Dan sekarang Nisa satu atap dengannya bukannya itu akan berakibat pada kisah cinta ini yang akan di terjang badai asmara yang tanpa sadar akan terjadi, tidak boleh sampai terjadi ia harus segera meresmikan Nisa jadi istrinya dan membawanya kabur ke rumahnya.
"Filan, maksud kamu Filan kakak kamu sendiri?" memastikan benar atau tidak.
Nisa mengangguk.
"Tapi kak, itu dulu kalau sekarang sudah tidak lagi kak!" meraih tangan Daylon dan menggenggamnya.
"Baik ... baik ... aku percaya." Daylon tersenyum ramah.
Di rumah Emillia dan Nadia.
"Mereka tidak jadi datang hari ini, tega bener sama sahabatnya yang sedang kerepotan seperti ini." Emillia mendengus kesal undangannya tidak di hadiri oleh keluarga besar Malik.
Cheval beserta keluarga besarnya datang tapi yang ia dengar malah keluh kesah Emillia.
"Lagian gue kira Lo gak datang, makanya berpikiran yang bukan-bukan," Emillia tersenyum sangat lebar sekali.
"Dasar Lo, usaha-usahain datang nih meski pekerjaan sibuk banget." Cheval kembali fokus pada ponselnya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.
"Sibuk banget Lo, ngerjain apa sih lo?" Emillia penasaran dengan apa yang di kerjakan oleh Cheval.
"Ada masalah di hotel, ada yang berbuat curang di hotel!" Cheval kembali mencari informasi mendalam mengenai orang ini, ternyata diam-diam ia memiliki niatan buruk dan ingin menggulingkan kualitas dan kuantitas Royal Malik yang sudah berdiri puluhan tahun itu.
"Apa ada otaknya di balik orang yang ingin menghancurkan usaha mertua lo?" tanyanya sedikit berbisik.
"Ada, sepertinya mantan lo!" Cheval bicara terus terang saja, Emillia mendengar ini langsung mengerutkan dahinya siapa mantannya, perasaan tidak ada yang dari Indonesia mantannya kebanyakan di luar negri asalnya sana.
"Mantan gue siapa, perasaan gue gak punya mantan di sini." Emillia di ajak berpikir keras oleh Cheval, benar-benar tidak tau siapa orang yang di maksud Cheval.
"Dhela," ucapnya lirih sekali.
Tentu saja Emillia melototkan matanya tidak percaya, masa iya dia rasanya gak mungkin deh lagian Dhela orangnya baik ko gak neko-neko pasti ada dalang yang lainnya yang memainkan Dhela sebagai umpannya untuk memancing tanpa memperlihatkan pemilik kail yang sesungguhnya.
"Masa sih dia, gak mungkin dia deh Val. Lagian coba kamu pikir dulu jika benar dia, terus dia dapat suntikan dana dari mana sedangkan orang tuannya lama sudah gak ada di tambah lagi usaha keluarganya juga sudah tidak di tangannya lagi sekarang." Ucapan Emillia memang benar adanya jika Dhela rasanya tidak mungkin tapi semua bukti-bukti mengarah kepadanya jika bukan dia terus siapa lagi coba.
"Benar juga sih, tapi ya sudahlah coba aku selidiki lagi. Lagian sudah lama sekali tidak bertemu dengannya entah pergi dan hilang kemana dia itu," Cheval menepuk pundak Emillia dan beranjak pergi ke tempat lain yang ada di rumah ini.
Sindy dan Nadia sedang berbincang-bincang di kamar Nadia sedangkan Daysi berkumpul dengan ibu-ibu yang lain yang sedang mempersiapkan untuk hajatan 3 bulanan Nadia, sedangkan Ksatria juga membantu yang lain sebisanya pastinya. Meski ia orang berada terlibat dalam acara seperti ini sangat senang untuk mereka berdua, sebab jarang ada orang yang mengundangnya untuk acara-acara seperti hitung-hitung untuk mengeluarkan keringat dan mempererat tali silahturahmi antar sesama.
"Momo gak bisa datang, Sindy?" Nadia mencari keberadaan Momo tapi Momo tidak kunjung datang juga.
"Nanti sore ia datang, anak-anak rewel seperti biasanya. Dari pada nanti tambah pusing di sini ia memilih datang nanti sore menunggu Lais pulang dulu!" Sindy menyentuh perut Nadia.
"Oh ... aku kirain gak mau datang." Nadia hampir berburuk sangka pada Momo dan Lais.
__ADS_1
Sore hari.
Semua orang yang di undang datang ke acara 3 bulanan Nadia, seharusnya acaranya pagi tapi karena banyak yang sibuk dan berhalangan terpaksa jadwalnya di ganti sore hari agar semua tamu undangan bisa datang ke tempatnya.
Momo juga datang dengan anak-anak dan juga Laia suaminya ia membawa beberapa bingkisan tentunya bukan pakaian bayi atau perlengkapan bayi yang di bawa, melainkan gizi untuk si ibu hamil.
"Terimakasih Momo sudah datang kemari." Nadia dan Momo saling cipika cipiki dan Momo mengucapkan selamat pada Nadia atas kehamilannya dan doa menyertai selalu untuk Nadia.
"Iya sama-sama mbak, oh ya mbak aku duduk di sana dulu ya sepertinya si kembar minta di susui ini," Momo berpamitan dan memilih salah satu ruangan yang agak tenang untuk menyusui anak kembarnya.
Lais beserta lainnya sedang berada di sebuah ruangan untuk mendoakan si jabang bayi.
Acara hari ini di lewati dengan baik tanpa ada hambatan sedikit pun, usai acara selesai semua tamu undangan berpamitan pulang tak terkecuali keluarga Malik yang harus pulang.
"Gak mau nginep nih kalian?" tanya Nadia pada Sindy dan juga Momo.
"Tidak dulu ya mbak, kasihan si kembar juga!" jawab Momo tersenyum ramah.
Sindy juga sama ia harus pulang besok juga Inre harus sekolah. Nadia mau tidak mau melepas mereka untuk pulang ke rumah masing-masing.
Saat berada di rumah.
Sindy membersihkan diri sebab badannya sudah terasa sangat lengket dan harus segera di bersihkan supaya tidak ada kotoran yang menempel pada tubuhnya.
"Sayang, apa masih lama mandinya?" Cheval juga ingin membersihkan diri sebab sudah biasa sebelum tidur ia juga mandi.
"Sebentar Aa, nanggung ini!" jawabnya di dalam kamar mandi.
Cheval sudah tidak tahan sebab ia ingin buang air kecil segera mungkin tapi menunggu istrinya keluar seperti menunggu gajian awal bulan lamanya. Cheval keluar dari kamar dan menuju ke kamar lain untuk buang air kecil, Sindy yang baru selesai mandi menatap kesana kemari mencari sosok suaminya namun tidak ada tanda-tanda suaminya ada.
"Kemana sih Aa, barusan gedor-gedor pintu tapi setelah aku buru-buru, nyatanya Aa tidak ada di luar. Tau begini berlama-lama tadi jadi nyesel keluar buru-buru di tambah lagi busa sabun sudah terlanjur aku buang lagi." Meratapi bath tub yang tadi isinya penuh sabun yang menyegarkan badan dan pikiran.
Sindy melanjutkan langkah kakinya menuju meja rias dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer. Cheval yang baru kembali masuk ke dalam kamar segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri sebelum sang istri tidur duluan seperti kemarin-kemarin.
"Sudah wangi saatnya peluk-peluk istri untuk tidur." Cheval yang menggosok rambutnya dengan handuk kecil tersenyum kecut saat melihat Sindy yang sudah berada di balik selimut besarnya dan sepertinya sudah tidur duluan.
"Yah ... sudah tidur duluan dianya." Cheval jadi tidak bersemangat malam ini, lagian mau ngapain juga jika baru saja pulang dari acara tadi.
Inre malam ini tidur dengan Daysi dan Ksatria, ia berada di tengah-tengah antara grandpa dan grandma nya untuk menganggu keromantisannya.
"Ma, Inre tidur sama kita lagi malam ini?" Ksatria mendengus kesal.
"Iya Pa, lagian tidak ada salahnya kan jika ia tidur dengan kita!" Daysi memperbaiki selimut yang di pakai Inre.
"Ya sudah kalau begitu, enggak apa-apa sih jika tidur satu tempat tapi asalkan tidak seperti kemarin-kemarin yang tendang sana sini, sakit tau Ma di tendang Inre." Ksatria mengeluhkan kejadian kemarin-kemarin yang berakibat sedikit sulit jalan saat pagi hari terutama punggungnya yang rasanya mau berdemo.
Pagi hari.
Cit
Cit
Suara kicauan burung terdengar di mana-mana dan seperti biasa rumah ini terdengar ramai dengan para pembantu yang mengerjakan pekerjaannya masing-masing, mereka berkerja sangat cepat sebab mereka tidak mengerjakan pekerjaan yang di luar kemampuannya. Setiap pembantu punya kesibukan sendiri-sendiri termasuk Nona yang sedang memandikan Dilan bayi laki-laki yang baru saja menangis sebab ia kedinginan.
Oek
Oek
Oek
Nona segera memakaikan baju pada tubuh Dilan dengan hati-hati dan juga cepat agar tubuhnya terasa hangat dan tidak kedinginan lagi.
__ADS_1