
Momo meremas kuat ujung bajunya.
Kediaman Malik.
Saat ini semua orang berada di ruang tamu, mereka hanya menatap satu objek yaitu Lais Erdana Khan yang baru saja memberikan amplop berisi hasil tes DNA Lais dengan sang putri yaitu Princess.
Ksatria membuka amplop tersebut dan membaca hasil tes DNA tersebut bahwa di nyatakan Lais Erdana Khan dengan Princess Erdana Khan 99,9 persen saling berhubungan darah yang artinya Princess benar-benar anak biologis Lais.
"Jadi benar berita itu, jika kamu menodai model itu sampai dia melahirkan putrimu dan meninggalkan kamu lantaran kamu bukan orang kaya." Ksatria menatap Lais seraya tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar beberapa tahun yang lalu, kini ternyata bukti ada di depan mata dan jelas sekali, jika Lais dan putrinya saling terkait satu sama lain.
Lais hanya terdiam, pikirannya hanya satu apakah Momo mau menerimanya atau tidak saat ini.
[POV Lais]
Aku melihat wajah Momo yang sedari tadi sudah curiga pada hasil tes DNA tersebut kini hanya menahan air matanya yang sepertinya akan tumpah, tetapi Momo dengan tegar menahannya dengan meremas kuat ujung bajunya.
Semua orang hanya menatapku dengan tatapan yang tidak aku mengerti, antara benci, kecewa atau jijik. Mungkin juga semuanya.
"Maaf, saya tidak tau jika saya di jebak waktu itu dengan obat bius oleh Aura." Ucapku sungguh sangat pengecut kali ini, terus terang saja aku bingung harus berucap apa. Aku benar-benar membantu tak berdaya di kursi panas ini.
Ksatria sudah lepas tangan dan menyerahkan semua keputusan pada Momo sang keponakan tercinta.
"Begini Momo, kalau Papa menyerahkan semua padamu nak, semua keputusan ada di kamu. Apa kamu mau melanjutkan atau tidak, pikirkan baik-baik jangan emosi yang di dahulukan. Oke." Ksatria mengacak rambut Momo seraya tersenyum tapi tidak pada Lais. Momo hanya diam tanpa berekspresi apa-apa.
Semua orang tua pasti kecewa dengan kabar dan kenyataan yang ada, tidak mungkin mereka tidak kecewa.
Di dalam mobil.
Momo hanya diam menatap luar jendela, aku tau Momo hatinya pasti hancur lebur saat ini. Scandal masa laluku kini benar-benar nyata dan merusak kebahagiaanku dalam sekejab.
Aku menepikan mobil yang aku kendarai dan mengajak Momo untuk berbicara serius. Tetapi Momo hanya diam tanpa berbicara satu patah katapun, hatiku remuk sekali saat ini aku lebih baik di caci dan diomeli Momo dengan kata-kata yang buruk dari pada di diami seperti ini.
"Momo jika kamu ingin menjelek-jelekkan aku, aku terima. Tapi tolong jangan diam seperti ini Momo aku mohon." Ucapku menggenggam erat jemarinya.
"Buat apa aku menjelek-jelekkan kamu tidak ada untungnya bagiku, antar aku pulang saja. Aku ingin pulang Lais," ucap Momo sangat lirih.
__ADS_1
"Momo aku mohon jangan meminta pulang sayang." Aku menciumi punggung tangan Momo berkali-kali.
"Lais aku bukan istrimu, tidak baik jika seorang wanita tinggal di kediaman laki-laki yang bukan suaminya," Momo menatap mata Lais dengan berkaca-kaca.
"Baiklah. Aku akan mengantar kamu pulang sayang, maafkan aku sayang." Aku memberikan ciuman pada bibir Momo dan menikmatinya.
Momo hanya diam dan tidak membalas ciumanku, aku sangat-sangat takut kehilangan Momo. Aku tidak tau harus berbuat apa lagi untuk meraih hatinya Momo yang baru saja aku dapatkan namun juga aku patahkan.
Aku segera melajukan mobilku dan menuju rumah Momo, beberapa orang yang masih berkerja di kediaman Mahendra ini sangat senang dan bahagia melihat Momo pulang, namun mereka semua terkejut saat melihat wajah suram dan tidak ceria Momo.
Aku berpesan pada para pekerja di rumah ini untuk menjaga Momo dan memperhatikan kesehatan dan pola makannya. Aku sedikit lega karena para asisten rumah ini sangar baik dan setia dengan majikannya.
Aku segera menyusul ke atas aku tidak tau kamar Momo yang mana, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan dan kebetulan pintu kamar tersebut sedikit terbuka.
"Ayah... bunda... hu... hu... hu... Momo rindu kapan Momo ayah sama bunda mengajak Momo." Ucap Momo dengan menangis.
Aku mendengar ucapan Momo seperti itu membuat hatiku teriris-iris belati berribu-ribu kali. Sungguh aku membuat Momo kecewa berat sekarang, tapi tidak sepenuhnya itu kesalahanku kan, kejadiannya bahkan di luar kendaliku. Aku berjanji Momo akan selalu membahagiakan kamu mulai sekarang, meskipun kedepannya ada beberapa yang mungkin menyakiti kamu.
Aku memutuskan pulang dan nanti malam aku kesini lagi, sebenarnya ini sudah sore namun aku tidak membawa pakaian ganti. Lebih baik aku pulang dan membersihkan diri terlebih dahulu saja.
Sesampai di rumah, aku langsung membanting pintu mobil yang aku buka dengan keras. Rasanya kesal sekali kenapa harus cocok tes DNA itu dan membuat Momo terluka perasaannya sekarang.
"Maafkan papa Princess." Ucapku menciumi putri kandungku.
Pantas saja selama ini aku begitu terikat dengannya ternyata dia anak biologis ku. Aku hanya merutuki kebodohan ku di masa lalu.
Pikiranku saat itu kalut saat berada di club malam dan sialnya aku menerima minuman yang sudah di beri obat bius untuk menjebak ku, kemudian aku menatap tubuhku bagian bawah.
"Dasar bodoh kenapa kamu membiarkan benihku jatuh di tempat yang tidak tepat, seharusnya Momo yang berhak. Sekarang bagaimana lagi, apa mau mu." Omelku pada benda kehidupanku yang sedari tadi berdiri tegak, karena ada getaran dari Momo sewaktu di dalam mobil.
Malam pun tiba dengan cepat, aku menuju rumah Momo dan ternyata Momo mengunci diri di dalam kamarnya. Aku tidak kehilangan akal aku menyuruh satpam rumah ini untuk menyiapkan tangga dan memanjat kamar Momo sesuai dengan petunjuk dari asisten rumah ini.
Aku masuk ke dalam balkon dan ternyata pintu kaca kamar Momo tidak di kunci. Momo sedang menatap dirinya di pantulan kaca, sehingga pandangan kami bertemu. Aku melangkah mendekati Momo, Momo sangat acuh tak acuh padaku sekarang hatiku terluka sekali, kemarin tidak seperti ini saat Momo belum tau kenyataannya jika aku Papa kandung Princess, yang ternyata putri kandungku sesungguhnya.
"Sayang, maafkan aku sayang." Aku memeluk erat tubuh Momo kemudian Momo pingsan di pelukanku, aku segera merebahkan tubuh Momo di ranjang tidurnya dan aku memberikan kecupan di keningnya dan mengucap maaf berkali-kali.
__ADS_1
Sekitar 30 menit Momo sadar dari pingsannya. Ia begitu malas menatap Lais yang berada di sampingnya sekarang.
"Pergilah, aku sudah baik-baik saja." Usir Momo tanpa melihat wajahku.
Oh... sungguh sakit sekali ketika di campa kan seperti ini. Aku tidak pernah membayangkan jika akan seperti ini, takdir apa ini. Apa ini karma yang aku peroleh karena melukainya.
Takdir memang kita tidak tau seperti apa kedepannya, mungkin dengan cobaan seperti ini akan membuahkan hasil yang lebih baik lagi.
"Makanlah dulu sayang, baru setelah kamu selesai makan aku akan pergi." Aku mencoba menyuapinya, namun dengan cepat Momo merebut mangkuk yang aku pegang dan secepat kilat ia menghabiskan makanannya.
"Ini sudah habis, pergilah. Aku mau istirahat Lais," begitu dingin Momo berucap padaku.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik." Ucapku seraya mengulurkan tangan ingin mencium dahi Momo, namun secepat kilat Momo menarik tubuhnya menjauh dari ku.
"Tanpamu aku sudah baik-baik saja," ketusnya padaku.
"Sayangku Momo, maaf." Aku benar-benar pasrah dan hanya bisa menangis dalam hati. Momo memilih membalikkan badannya dan enggan untuk menatapku dengan penuh ceria seperti hari-hari biasanya.
Momo yang masih kesal hanya diam sambil merenungkan diri, andai ia memberi tau setelah mengambil tes DNA dari Rumah Sakit, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Momo tidak terlalu kecewa berat dengan apa yang ia dengan dan terima.
"Aku memang bodoh, bukannya kejujuran adalah landasan dari cinta dan kekuatan hubungan kedepannya. Percuma saja jika cinta tidak di landasi kejujuran dan kepercayaan dari pasangan masing-masing." Lais merutuki kebodohannya sendiri.
Andai waktu dapat di putar beberapa jam yang lalu ia lebih baik memberi tau Momo lebih dulu dari pada keluarganya Momo. Dan alhasil dari kecerobohannya yaitu ini, Momo marah dan kecewa.
Pagi hari.
Momo mengambil sepeda untuk jalan-jalan di sekitar kota ini, hanya membawa bekal air putih, ponsel dan uang jika nanti ingin membeli sesuatu yang di perlukan.
"Ini saja sepertinya sudah cukup, nanti jika di perjalanan aku ingin sesuatu bisa beli. Selain itu aku juga tidak ada selera untuk makan lagi." Momo mengunakan masker, lantaran udara pagi yang masuk ke hidung terlalu banyak dan menyebabkan kepalanya pusing dan sakit.
Saat di perjalanan ia berusaha melupakan semua yang terjadi dan membuka lembaran baru, tapi apa daya ingatan itu terus membayangi mata dan pikirannya.
"Kenapa aku harus kecewa dengan Lais, bukannya ia sudah meminta maaf padaku berkali-kali. Tapi kenapa dia tidak jujur padaku terlebih dahulu, mungkin dengan jujur lebih dulu pasti aku bisa menerima ini semua."
Momo melanjutkan jalan-jalan menggunakan sepeda pagi ini.
__ADS_1