
Momo berpikiran positif saja, ia tidak mau puasanya menjadi sia-sia lantaran su'udzon pada suaminya. Lagian liontin itu pasti untuk desain contoh di perusahaannya.
Lais menatap sang istri yang mulai gelisah.
"Sayang." Memegang tangan Momo.
"Iya mas," menatap Lais.
Cheval dan Sindy segera berpamitan saja menyusul anak-anak yang sedang bermain dari pada nanti ikut kebawa perasaan. Lebih baik pergi sebelum terkena efeknya, lagi puasa pula.
"Ayo main sama Papa Cheval, Princess, Inre." Cheval melemparkan bola kecil ke arah mereka berdua secara bergantian.
Dua putri kecil yang seumuran itu gembira ria sambil bermain dan belajar berhitung serta warna.
Lais menggenggam erat jari jemari Momo.
"Desain itu aku buat khusus untuk kamu sayang. Ayo ikut mas," ajaknya menarik lembut tangan Momo.
Momo mengikut saja lagian dia juga penasaran, sejak kapan ia merancangnya bahkan setiap hari sibuk dengan urusan perusahaan jamnya. Lais mengajak Momo masuk ke dalam salah satu ruang kerja dan ternyata ada ruang rahasia.
"Lemari buku ini ternyata di baliknya ada ruang rahasia, sungguh banyak rahasia yang di sembunyikan Lais. Kejutan apa lagi setelah ini, aku sebagai istri saja benar-benar tidak tau apa-apa tentang suamiku." Dalam hati Momo mulai gelisah.
"Ayo masuk, kenapa melamun di situ." Lais masuk lebih dulu dan Momo juga masuk. Lais segera menutup lemari besar itu, secara otomatis ruangan itu menyala lampunya.
Kenapa mendesain ruangan seperti ini, bukannya sangat berbahaya mendesain ruangan yang pencahayaannya otomatis seperti ini.
"Mas, ruangan ini?" Momo bingung harus memulai percakapan dari mana, mendadak rasa canggung itu muncul.
"Ya... seperti yang kamu lihat sayang, ruang rahasia. Tapi sekarang bukan rahasia lagi, karena istriku sudah tau." Memeluk Momo dan hendak mencium leher jenjang Momo.
"Mas," mendorong wajah Lais untuk menjauh dari nafsu yang akan membatalkan puasanya.
"Astaghfirullah Al Adzim." Lais segera mengucap istighfar berkali-kali. Hampir saja ia kelepasan barusan, ia lupa jika dirinya berpuasa yang artinya menahan nafsu.
__ADS_1
"Mas, katanya mau menunjukkan liontin. Mana?" Momo menatap kesana kemari.
"Ini sayang!" jawab Lais menunjuk benda cantik yang berada di kaca yang khusus Lais desain. Dari luar kaca saja sudah sangat mewah desainnya, pasti dalamnya tidak dapat di perkirakan seperti apa mewahnya.
"Cantik sekali kaca ini." Momo bertanya-tanya, ini kaca namun dalamnya tidak terlihat sama sekali. Jangan-jangan ini palsu dan suaminya sedang prank, mengingat ini bulan April yang artinya bulan April mop atau boleh mengerjai atau berbohong, tapi itu khusus tanggal 1 saja sebenarnya dan sekarang sudah lewat jauh dari tanggal 1 April.
Tidak mungkin suaminya berbohong, bulan suci Ramadhan. Bukankah dosa jika berbohong.
"Bukalah sayang," Lais menanti sang istri yang masih saja diam tanpa penasaran untuk membukanya, "ada apa? Kenapa tidak di buka sayang." Lais jadi bingung sendiri.
"Mas, sedang berbohong atau mengerjai ku. Kenapa kaca ini tidak tembus pandang," Momo sedikit curiga.
"Bulan puasa, jangan su'udzon pada suami. Dosa." Lais tersenyum.
Momo langsung membukanya tanpa basa basi lagi, ia terkejut bukan main. Desain liontin sama persis dengan apa yang ia lihat tadi, bahkan lebih cantik dan menawan.
"Masyaallah, sungguh indah ini mas." Momo sangat terkagum-kagum dengan benda yang ia lihat.
"Alhamdulillah jika kamu suka sayang, ini hadiah yang mas persiapkan untuk kedatangan anak kita sayang, ayo kenakan." Lais membantu mengenakan di leher Momo.
"Cantik sekali." Mencium kalung tersebut.
"Mas ayo keluar," ajaknya yang masih malu dengan perilaku lembut suaminya yang super romantis.
Lais mengangguk dan keluar dari ruangan tersebut. Benar-benar pasangan romantis, meski tidak berpegangan tangan lagi tetapi terlihat jelas di wajah masing-masing.
Princess yang baru selesai bermain dengan Inre, menatap kedua orang tuanya.
"Papa... Mama..., kenapa wajah kalian berwarna merah. Apa kalian demam?" Princess merentangkan tangannya pada Lais dan minta di gendong.
"Tidak apa-apa nak!" Lais mengendong putri kecilnya. "Apa Papa Cheval dan Mama Sindy dan Inre sudah pulang nak?" Lais menanyai putrinya.
"Sudah Papa, Papa apa nanti sore kita berbuka puasa bersama. Tadi Mama Sindy menitipkan pesan, jika di rumah Grandpa akan mengadakan buka bersama. Princess mau kesana!" Princess berbicara dengan sangat lucu dan imut.
__ADS_1
"Iya boleh sayang, ayo tidur siang dulu nak." Lais mengajak sang putri masuk kamar untuk tidur siang. Tapi sebelum itu Lais mencuci tangan dan kaki Princess terlebih dahulu.
Princess sudah menempatkan dirinya dengan banyak sekali guling dan boneka di dekatnya. Lais sampai bingung sendiri mau menidurkan putrinya, apa sudah tidak perlu di temani lagi tidur siang sekarang.
"Princess anak Papa, tidur sendiri ya mulai sekarang. Kenapa banyak sekali boneka dan guling nak?" Lais masih keheranan dengan putrinya.
"Tidak apa-apa Papa, Princess mau jadi kakak dan seorang kakak harus berani tidur sendiri jika tidak nanti adik lahir gak mau sama Princess karena Princess masih manja!" jawabnya memejamkan mata.
Lais beruntung lagi, selain memiliki istri yang baik ia di berikan gadis cantik yang pintar dan tau semua hal yang belum tentu anak seusianya tau. Memang bibit unggul Lais Erdana Khan.
"Pintarnya anak Papa." Lais mencium keningnya sebelum beranjak dari kamar Princess.
Momo yang berada di dapur tiba-tiba ingin makan ini itu.
"Menggoda sekali, aku ingin mencicipinya. Tapi aku berpuasa, tapi... aku mau." Momo langsung berdoa dan membatalkan puasanya.
Ia menyantap semua makanan yang ada. Lais yang mendengar istrinya sedang menikmati makanan di dapur membiarkan saja dari pada nanti ia ngidam ingin makan yang aneh-aneh lebih baik di biarkan dan tidak di ganggu kesenangannya.
"Alhamdulillah enak, akhirnya gak berpuasa. Berlubang deh." Habis kenyang Momo menyesal, tapi penyesalannya terbayar dengan nikmatnya masakan asisten rumah ini.
Setelah itu Momo menyentuh perutnya yang terasa kenyang, kemudian ia berjalan ke arah taman. Taman yang penuh dengan bunga berbagai macam warna.
"Cantik." Momo mencium satu persatu.
"Seperti kamu sayang cantiknya, cantik luar dalam," Lais memberikan satu tangkai bunga mawar tanpa duri.
"Benarkah aku cantik luar dalam." Momo mengedipkan matanya, benar-benar pandai merayu.
Pikiran Lais mulai traveling kemana-mana. Lais mencoba bertahan mengingat bulan puasa hanya satu bulan dalam satu tahun. Bulan yang penuh keberkahan jangan sampai menyia-nyiakan nya.
"Jangan menggoda, jika nanti malam boleh." Lais melipat kedua tangannya di dada sambil duduk menatap istrinya.
"Siapa yang menggoda, perasaan aku biasa aja tuh mas sikapku. Bukan wanita yang seperti itu," Momo langsung pergi.
__ADS_1
Sekarang Momo benar-benar tidak dapat di ajak bergurau, ia selalu serius menanggapi segala macam hal kecil.