ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. 16


__ADS_3

Momo dan Lais menikmati liburan keluarga kecilnya sambil makan di tempat tersebut tentunya, banyak burung berkicau kesana kemari sambil mencari rumput untuk membuat sarang mereka, seekor burung saja bisa membuat sarang untuk keluarga kecilnya sungguh burung pekerja keras.


"Masakannya enak ya mas." Momo dengan lahap memakan lalapan yang ada dari pada lauknya bebek goreng sambal kemangi.


"Iya, tapi jangan lupa makan ini juga penting sayang dan makan banyak ya sayang biar banyak juga isinya ASI untuk anak-anak," memberikan lauk dan nasi pada Momo, Momo melebarkan senyumnya dan menerima makanan dari Lais.


Princess mendengus kesal sekali sambil melipat kedua tangannya, kenapa punya orang tua terlalu romantis tapi anak-anak di biarkan seperti orang mengontrak tempat ini.


"Papa ... Mama ... Princess ngambek nih." Lucu sekali ekspresi Princess yang mode ngambek, seketika Lais dan Momo langsung menatap putrinya dan berhenti bersikap saling romantis dan langsung berhamburan memperebutkan Princess untuk saling memeluk.


"Sini ... sini ... peluk erat." Lais langsung memeluk sang putri duluan sebelum Momo mendahuluinya lagi.


Di tempat lain.


Nisa sedang membuat makanan untuk makan siang namun sedari tadi ada seseorang yang menatap ia sedang melakukan ini dan itu, entah tatapan apa yang jelas pandangan ia tidak lepas dari sosok gadis muda yang sedang memasak.


Tak


Tak


Tak


Sreg


Nisa melirik ke arah seseorang yang menatapnya, ia mendengus kesal saat melihatnya kenapa sedari tadi hanya melihat tidak membantunya sama sekali.


"Kak Day, gak mau bantuin nih ceritanya? cuma mau lihat saja di situ sambil mengagumi aku?" Nisa protes.


Daylon hanya mengangguk saja.


"Lebih nikmat melihat calon istriku memasak, nanti setelah kita makan siang aku saja yang mencuci, kita bagi tugas oke!" jawaban sambil tersenyum-senyum memberikan cinta dengan isyarat tangannya.


Nisa pasrah saja, lagian jika ia jadi istrinya Daylon pasti akan seperti ini. Hitung-hitung latihan sebelum ia menikah, tapi seru juga dan tambah bahagia menikmati setiap tahap bersamanya proses jelas dan pasti yang terpenting ia di cintai tidak mencintai sendirian lagi, cukup masa lalu yang tidak sejalan seperti yang ia harapkan.


Nisa dan Daylon makan siang berdua sedangkan yang lain seperti papa angkat dan Filan mereka sudah makan di tempat masing-masing untuk siang, selain itu Papa Rafi tidak bisa makan-makanan seperti ini sebab kesehatan menurun dan harus makan makanan khusus yang harus di masak oleh juru masak yang di pilih langsung oleh Filan untuk merawat sang Papa.


"Masakan kamu enak Nisa, sampai terlupa jika aku tamu di sini." Tersenyum-senyum seperti tanpa dosa padahal sudah menghabiskan banyak makanan tanpa ragu dan sungkan lagi.


"Tidak apa-apa kak Day, lagian di rumah ini masih banyak ko stok makanan. Di tambah lagi tadi kak Day kesini bawa bahan makanan juga, jadi wajar saja jika Kak Day makan lebih banyak dari Nisa, kan calon imam," Nisa berucap demikian tapi malunya sampai gak bisa di jelaskan lagi dengan kata-kata apapun.


"Tapi tetap saja enggak enak Nisa, gak ikhlas kesannya sebab bawa bahan-bahan makanan tapi menghabiskan juga." Daylon yang biasanya memang malu-maluin hari ini malah tambah catatan malu-maluin dirinya sendiri, ternyata sikap seperti ini sejak kecil sudah mendarah daging.


Jika Cheval dan Lay tau Daylon seperti ini pasti di ledekin dan malunya sampai anak cucu tau cerita ini, Daylon berusaha biasa-biasa saja nanti saat bertemu dengan teman-temannya dan semoga mulutnya sendiri gak cerita ke mereka sahabat-sahabat gilanya itu.


"Tidak apa-apa kak Day, lagian aku yang masak jadi wajar saja jika ada yang menghabiskan. Sayang jika bahan-bahannya gak di pakai semua dan masakannya tidak di habiskan juga. Ini kak minum dulu biar lega," Nisa memberikan air putih pada Daylon.


"Terimakasih ya Nisa." Ucapan terimakasih dari Daylon membuat Nisa tambah tersipu.


"Sama-sama kak, apa setelah ini kakak pulang?" Nisa berharap ia tidak pulang dulu.


"Iya, memangnya ada apa?" balik bertanya.


Nisa menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada kak, aku ada kuliah sore nanti!" jawab Nisa duduk di depan Daylon bersebrangan duduknya.


"Mau aku hantar." Menawarkan diri.


Mengangguk. "Boleh Kak,"


Daylon mengepalkan tangannya di bawah meja, 'Yess.' Daylon terus saja tersenyum, setidaknya kali ini ia tidak gagal dalam perjalanan cinta yang akan segera berlabuh di pelaminan, masa iya tidak bisa menikah seperti teman-temannya yang lain bahkan mereka ada yang sudah punya anak.


"Jam berapa berangkatnya Nisa?" Daylon sudah bergegas dulu berangkat, ia jadi rajin dan tepat waktu semenjak ia kuliah.


"Jam dua kak!" Nisa hendak pergi namun pergelangan tangannya tiba-tiba di cekal oleh Daylon.


"Jangan dandan berlebihan Nisa." Mengingatkan Nisa.


"Iya Kak," mengangguk pelan.


Daylon segera ke tempat cuci piring, ternyata kekacauan barusan membuatnya banyak sekali mencuci piring di rumah ini tapi sebagai calon menantu yang baik dan bertanggung jawab ia harus menyelesaikan tugas mudah ini semoga tidak ada satu benda yang jatuh dari tangannya bisa-bisa mendadak gagal jadi mantu.


Pyar


Daylon mengerjabkan matanya seraya tidak percaya, ia benar-benar menjatuhkan piring. Daylon menepuk jidatnya sambil mengusap keringat dingin di wajahnya.


"Mati gue, jatuh lagi piringnya." Daylon menggigit kuku jarinya sambil berpikir.


"Sudahlah, satu piring nanti di ganti lagian aku juga yang salah barusan kurang hati-hati." Menasehati dirinya sendiri dan lanjut mengerjakan pekerjaan mencucinya yang belum selesai, setelah selesai mencuci piring ia membereskan pecahan kaca tersebut karena tidak ingin tangannya terkena pecahan ia mengambil peralatan untuk membersihkan bh bekas piring kaca yang bertaburan dimana-mana.

__ADS_1


Nisa yang kebetulan mendengar ada benda yang pecah langsung buru-buru turun tapi ia menyelesaikan dulu barang-barang yang ia pakai untuk kuliah.


Ia mengerutkan kedua alisnya saat melihat Daylon dengan sigap menyelesaikan cuci piringnya lalu mengambil alat untuk membersikan piring yang ia jatuhkan. Benar-benar laki-laki bertanggung jawab dan tidak pergi usai membuat masalah apalagi ia sama sekali tidak bingung saat harus memberikannya tidak seperti orang yang pernah ia kenal yang gampang lari dari tanggung jawabnya.


Daylon bernafas lega saat semua sudah selesai sekarang tinggal mengelap meja saja.


"Akhirnya selesai juga, bau gak ya badan gue." Mencium baunya tidak bau malah wangi yang keluar.


"Nisa sudah siap Kak." Ucapan Nisa membuat Daylon terperanjat ia terkejut sejak kapan Nisa ada di situ berarti ia lihat saat-saat memalukan barusan yang ia lakukan.


"Nisa, sejak kapan kamu di situ?" menunjuk sofa yang tidak jauh dari tempatnya mencium bajunya.


"Sejak tadi Kak!" jawaban Nisa membuat Daylon seperti kehilangan hidupnya mendadak, bagaimana acaranya lanjut tidak mengantarnya sedangkan dirinya sudah malu pada diri sendiri.


Nisa melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Daylon tapi tidak ada respon sama sekali darinya, tapi Nisa tetap menyadarkan Daylon sebab ini jam masuk kuliah sebentar lagi ia tidak mau telat meski Universitas tempatnya menimba ilmu dekat dari rumah.


"KAKAK DAYLON." Nisa berteriak dan akhirnya Daylon sadar juga.


"Eh iya Nisa, ada apa?" malah bertanya padahal tadi dirinya mendapatkan diri untuk mengantarnya ke kampus.


"Gak jadi ngantar Nisa ke kampus ya kak Day, kenapa melamun sedari tadi!" Nisa manyun.


"Maaf ... maaf .... Ayo aku antar ke kampus." Mempersilahkan Nisa jalan lebih dulu dan ia segera menyusul di sampingnya.


Rasanya memang berbeda saat berada di samping orang yang mencintai dirinya, hangat dan penuh cinta tidak sedingin dengan orang yang tidak mencintai dirinya yang ada hanya perasaan hawatir tidak di pedulikan oleh pasangan dan di biarkan berjalan sendirian dan merasakan kesunyian dan kehampaan saja.


Saat perjalanan menuju kampus tidak ada henti-hentinya Nisa kagum oleh sosok Daylon, laki-laki tampan yang bahkan ketampanannya melebihi Filan tentunya, untung saja ia tidak jauh terlalu dalam akan pesona Filan Dokter dingin bak es batu itu. Meski perasaan Nisa labil mengingat usianya masih belum ada 20 tahun tapi jika sudah yakin dengan satu orang keputusan akan tetapi seperti itu dan hatinya akan tertuju pada orang itu saja, bukan berarti tidak bisa move on dan mencari yang lain. Mencoba setia dan menjalaninya dengan satu orang saja dulu jika semakin hari semakin tidak cocok di sudahi dengan baik-baik supaya tidak menyakiti pihak lain juga.


Kediaman Malik.


"Ngapain sih Lo kesini lagi, mau curhat atau apa." Cheval mendengus kesal, hari libur kerjanya yang tidak seberapa ini terganggu oleh keluh kesah Filan yang mendadak jadi Dokter galau, kasihan pasien-pasiennya yang berkonsultasi padanya.


"Curhat gue, gak di terima nih ceritanya?" Filan memelas.


"Enggak, lagian gue bukan tempat curhatan Lo Lo pada!" ketus Cheval sambil membuka laptopnya.


"Ya elah Val Val, curhat dikit gak boleh nih. Padahal gue mau curhat ada Dokter perempuan yang godain gue semalam dan hampir saja gue kehilangan benda yang gue jaga selama ini." Curhatan Filan mendapat prasangka buruk dari Cheval.


"Masih perjaka Lo, aa ... ha ... ha .... Gue kira Lo Dokter cabul," Cheval meledek dan tertawa keras sekali.


Tuhkan jadi nyesel cerita ke Cheval, belum apa-apa sudah dapat sambutan tertawaan apalagi jika cerita sesungguhnya jika dirinya semalam di perkosa di apartemennya, hal gila yang pernah terjadi di selama hidupnya ini.


"Lo di perkosa dia dan sekarang Lo sudah gak perjaka lagi, gitu maksudnya?" pertanyaan Cheval langsung di anggukki oleh Filan.


Cheval menepuk jidatnya, bagaimana ceritanya malah laki-laki yang di perkosa oleh perempuan padahal jelas-jelas tenaganya lebih besar, jika bukan cita yang besar tidak mungkin dia mau menyerahkan diri seperti orang tidak tau malu.


"Kamu cinta ya sama dia? kenapa begitu bodo4 dan langsung menyerahkan begitu saja." Cheval lepas tangan terus terang saja ia memang tidak bisa menyelesaikan permasalahan pribadi Filan ini bagaimana tidak, dia yang menjalankan dan mengalaminya lagian Cheval juga bukan psikolog atau sejenisnya dia hanya mantan Dosen yang banting stir jadi pengusaha meneruskan usaha keluarga itu saja.


"Ya mau bagaimana lagi, sudah terjadi juga. Dia juga masih gadis ko," Filan malu sekali bercerita seperti ini di tambah lagi Cheval malah setia menanti kelanjutan ceritanya lagi, Filan hanya bisa gigit jari gimana solusinya masa iya dirinya menikahi dia sementara dirinya yang jadi korban pemerkosaan olehnya.


"Sana ... sana .... nikahi dia, sama-sama buka segel pertama juga. Gak ada ruginya Filan." Cheval meminum kopinya sedangkan Filan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Masalahnya gak cinta," mengelak terus saja pekerjaan Filan dari dulu sampai sekarang, apa sebegitu hebatnya Momo sampai-sampai membuat seorang Filan gagal move-on terus menerus seperti ini di tambah lagi Filan selalu rutin memeriksa kesehatan keluarga Malik. Entahlah yang jelas Momo tidak pernah menggoda siapa pun yang ada para laki-laki lah yang tergoda akan pesonanya itu.


"Cinta bisa datang kapan saja, apalagi jika setiap hari bertemu. Contohnya gak usah jauh-jauh Mama dan Papaku juga begitu nikah dadakan jatuh cintanya juga dadakan kayak tahu bulat." Cheval bicara memang kenyataannya benar seperti ini, benar juga ucapan Cheval cinta bisa datang kapan saja yang penting tanggung jawab lebih dulu, apalagi sudah sama-sama dewasa sekarang.


"Benar juga sih, ya sudah deh selagi aku yang jadi korban pemerkosaan aku akan tanggung jawab sebagai laki-laki yang bertanggung jawab," Filan berbicara dengan nada yang sangat meyakinkan sekali di dengar, Cheval senang jika temannya ini sudah dapat jodoh dadakan setidaknya tidak akan jomblo ngenes lagi seperti kemarin-kemarin kasian saat ada acara dia tetap sendirian seperti gak laku saja.


Filan beranjak pergi.


"Hey ... mau kemana lo?" Cheval meneriaki Filan.


Justru Filan tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Mau meminta pertanggung jawabannya, makasih ya sarannya barusan!" tetap melanjutkan langkahnya.


Cheval mengangkat kedua bahunya, lagian bukan mau mencegah ia pergi justru ia mau meminum kopi milik Filan yang belum terminum sama sekali, jarang-jarang ada tamu yang tidak meminum minumannya jadi sayang jika mubasir minumannya.


Filan yang hendak membuka pintu mobil teringat jika ia tadi mau minum kopi, tapi saat mau kembali ia urungkan pasti sudah di minum oleh Cheval, sudahlah lanjut mencari gadis yang merampas keperjakaannya tadi malam.


Ssrruupp


"Ah ... enak banget kopinya, sayang juga kalau tidak di minum lagian buatan Mama tiada tanding dari pada buatan Sindy yang kurang pas di lidah." Terkagum-kagum dengan kopi buatan Daysi padahal sang istri berada di belakangnya dan siap-siap menerkamnya hidup-hidup.


"Kenapa rasanya cuaca jadi dingin sih, musim panca roba sih pasti mau sore ini? coba ku cek jam berapa sekarang." Ia menatap jam yang menunjukkan pukul 3 sore ya pantas saja cuaca berubah dingin.


"Aa ...." Sambil menjewer kuat-kuat telinga Cheval. "Tega ya Aa bilang kopi buatan ku tidak enak di belakangku Aa." Menarik telinganya sampai ke atas dan rasanya sungguh panas.


"Ampun sayang, Aa tidak bermaksud begitu. Punya kamu enak juga sayang tapi kalau untuk sekarang ini dan detik ini enak punya Mama sebab kamu tadi tidak membuatkan Aa kopi," alasan yang langsung mendapatkan jeweran terpanas lagi tapi hanya sebentar saja.

__ADS_1


Cheval bernafas lega dan memegang telinganya yang sedikit berdengung dan juga merasakan panas di telinganya.


Sindy duduk di samping suaminya dan tersenyum puas usai menjewer telinganya, lagian salah sendiri membicarakan kejelekan istrinya meski ia sendirian, ya kali ini dia bicara tentang istrinya sendiri lah nanti bisa-bisa bicara kesana sini bahkan ke teman-temannya bukannya ini namanya aib dalam rumah tangga yang harusnya tidak di umbar dimana-mana.


"Sayang, sekali lagi maafkan Aa ya, please." Memohon seperti anak kucing yang butuh susu dan sedang kelaparan.


Sindy jadi di buat tidak bisa apa-apa jika suaminya sudah bertingkah seimut ini ia akan luluh dengan mudahnya seperti es batu yang mencair di bawah terik matahari.


Sindy menghela nafas.


"Baiklah Aa, asal komplennan Aa yang barusan tidak Aa bicarakan kemana-mana," Sindy pasrah saja yang penting ia sudah berpesan demikian pada suaminya semoga Cheval orangnya amanah dan tidak ingkar janji.


"Iya Aa tidak akan mengulanginya lagi janji, asal gak kebawa emosi saja sayang." Janji ko modelan nya seperti ini jadi ragu dadakan ini namanya.


Sindy menyudahi saja pembicaraan ini daripada ia pusing dan tambah emosi saja, ternyata suaminya ini semakin mirip dengan sang Papa yang semakin tua semakin banyak bicara dan kompelen ini dan itu saja kerjaannya kurang bersyukur jadinya jika nilai orang lain.


"Terserah Aa deh, yang terpenting Sindy tidak kompelen tentang sikap atau pun yang ada di dalam diri Aa," Sindy beranjak pergi meninggalkan Cheval.


Cheval hanya menatap kepergian sang istri, pasti dia menemui sang putrinya dan bermain bersamanya sekarang.


Kembali ke Momo dan Lais.


"Sesak Papa, tau begini aku peluk Mama saja yang lemah lembut tidak seperti Papa yang main peluk seperti peluk boneka kecil saja." Princess menjauh dari Lais.


"Ko gitu sih ke Papa sayang, Papa sayang loh sama Princess tapi Papa juga gemas dengan Princess," mencubit pipinya Princess yang sedikit tembam.


"Gak mau, sakit Papa." Sambil memegang kedua pipinya yang sedari tadi mendapatkan ciuman kanan kiri dari Lais bahkan sampai memerah pipinya.


"Kamu nih mas, gak kasihan apa sama anak sendiri. Boleh gemas sama anak tapi jangan sampai nangis juga lah mas, kasihan mereka." Momo yang sedari tadi diam kini mulai mengomel juga.


Nyali Lais mendadak menciut dan hilang jika sudah menyangkut ibunya anak-anak yang ikut serta bicara dan mengomel. Bukan mengomel tapi menasehati sang suami agar tidak ceroboh dan terulang lagi takutnya si kecil tidak mau di cium lagi sebab merasakan sakit dan takut jika dia di uyel-uyel seperti itu.


"Iya sayang iya, mas masih gemas dengannya dan sebentar lagi pada si kembar selanjutnya. Lagian kasihan jika Princess terus yang aku uyel-uyel tubuhnya," melas sekali jawabannya tapi niatannya juga sama seperti sebelum-sebelumnya ia sudah berencana menghabiskan pipi anak-anaknya.


"Terserah mas deh kalau begitu." Momo lebih milih diam saja dari pada berdebat lagi.


"Pulang atau lanjut jalan-jalan nih." Menawari anak dan istrinya.


"Pulang," jawab kompak Momo dan Princess.


"Baiklah ... ayo." Padahal Lais masih ingin mengajak mereka semua untuk jalan-jalan tapi apa boleh buat, kasihan juga sama anak-anak yang masih kecil terutama si kembar meski berada di dalam mobil tapi terlalu berlebihan pergi juga tidak baik.


Lais yang capek menyuruh salah satu orang kepercayaannya untuk memegang kendali saat perjalanan pulang, rasa kantuk merasuki Lais ia tertidur di jok belakang sedangkan Momo repot dengan bayi kembarnya sedangkan Princess pilih duduk di depan dengan suster Lala tentunya.


"Mas, bangun dulu kenapa sih mas bantu nenangin si kembar dulu. Masa seberisik ini mas betah molor sih." Sambil mengguncangkan pundak Lais.


Lais yang ngantuk berat terpaksa bangun dan mengendong Zaire dan menenangkannya, tidak berapa lama Zaire diam di gendongan Lais Papanya sambil tersenyum ia tidur di pelukannya.


"Anteng nih kakak, maunya di gendong Papa ya nak?" sambil menciumi kedua pipinya dan juga dahinya dengan penuh cinta.


Momo bisa menebak pasti suaminya ini akan terus menerus menciumi putrinya yang sedang tidur nyenyak di pangkuannya, padahal di dalam mobil juga ada tempat tidur khusus di kembar. Memang benar kata orang, anak perempuan pasti lebih lengket pada Papanya sedangkan yang laki-laki pasti dengan Mamanya lebih akrabnya.


"Kalau begitu, Zamil minum susu dulu ya." Membuka sedikit bajunya bagian atas beberapa kancing saja tapi tentunya di tutupi lebih dulu oleh jarik lebar supaya tidak ada yang lihat baik sang sopir maupun suaminya sendiri takut minta suaminya.


*


Daylon yang mengantar Nisa melambaikan tangan, sedangkan mahasiswi yang melihat Daylon begitu terpesona dengan ketampanannya kulit sawo matang tapi bersih membuat Daylon tambah berkarisma saja, wajah tampan hidung mancung mata elang dan juga bibir bagian atas yang berbentuk huruf M membuatnya terlihat sangat sempurna di mata orang lain.


Ada salah seorang menghampirinya dan meminta nomor telponnya.


"Kak minta kontaknya dong." Menyodorkan ponselnya namun di tolak Daylon.


"Sorry sudah nikah," menunjukkan cincin yang bersemat di jari manisnya.


"Maaf kakak." Si gadis patah hati dadakan.


Nisa tidak terlalu hawatir dengan calon suaminya itu ia percaya jika hati Daylon hanya untuk dirinya seorang tidak ada yang lain, tapi ia juga tawakal berserah diri Kepada Yang Maha Kuasa tentang rejeki dan juga jodoh, jika memang ia yang terbaik untuk dirinya pasti akan berjodoh padanya.


"Tidak apa-apa lah nunggu di kantin, lagian butuh minuman dingin sepertinya." Daylon berjalan ke salah satu kantin.


Dan semua orang menatap Daylon dengan tatapan suka padanya bahkan ada yang terang-terangan mengungkapkan rasa cintanya yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun lagi-lagi Daylon menunjukkan cincin yang ia kenakan pada orang-orang yang mendadak mendekatinya, mereka langsung mundur dan tidak berani mendekatinya namun saat ia memesan salah satu menu minuman yang ada seseorang memanggil namanya.


"Daylon." Dengan nada lembut ia memanggil.


Daylon langsung menatap ke sumber suara, siapa yang memanggilnya barusan dan ternyata teman masa lalunya.


"Hasna," Daylon menatap sekilas lalu ia mengalihkan pandangannya.


"Gimana kabarmu Daylon?" Hasna hanya sekedar basa-basi saja, sudah lama tidak bertemu Daylon terakhir waktu SMA dulu dan sekarang Daylon tambah mempesona saja.

__ADS_1


"Baik!" jawabnya sangat cuek sekali pada Hasna, ia adalah mantan Daylon salah satunya saat ia masih SMA setelah kuliah ia berhenti jadi playboy dan baru sekarang ia menjalin kasih dengan Nisa.


__ADS_2